
Pagi hari di kediaman Dokter Intan...
Pagi hari ini terasa berbeda dirasakan oleh Intan, dibanding hari-hari biasanya.
Yah,.. hari ini lebih rame, terutama Ipek yang baru bangun sajah sudah mengeluh lapar dan lain sebagainya, membuat seisi rumah geleng-geleng dengan kekonyolanya.
"Dok kira-kira punya kenalan nggak yang membutuhkan pekerja paruh waktu?" tanya Ody disela mereka sarapan.
"Mau cari kerja lagi?" tanya balik Intan.
"Iya Dok, soalnya kalo mengandalkan gajih dari rumah sakit masih kurang buat ngirim kekampung." jawab Ody jujur, karena memang kebutuhan di kampung sebagian Ody yang tanggung tentu sajah kalo mengandalkan gajih sajah tidak cukup, belum kebutuhan sehari-hari dirinya, hidup sendiri di ibukota juga butuh biyaya yang besar. Ody juga harus menyisihkan sebagian uangnya untuk membayar utangnya pada Ipek.
"Ya sudah, nanti aku coba tanyakan sama beberapa teman yang memiliki usaha, siapa tau ada yang sedang butuhin karyawan paruh waktu." ujar Intan mengerti dengan kondisi Ody saat ini .
"Makasih yah Dok," ucap Ody tulus.
" Sama-sama," balas Intan singkat. Mereka pun melanjutkan sarapan dan di lanjutkan dengan aktifitas masing-masing.
Ody dan Ipek pergi ke rumah sakit, sedang Intan di lanjutkan dengan aktifitas paginya.
***
Dikediaman Dokter Rio...
Jam menunjukan pukul sembilan, Aarav membangunkan Rio, karena jam praktek pagi di mulai pukul sepuluh.
Rio bangun setelah beberapa kali Aarav menggoyangkan pundaknya.
"Gimana, udah enakan? Tadi Mbok Karti bilang loe meriang?" tanya Aarav untuk memastikan Rio sudah membaik.
" Entah lah, rasanya badan gue lemas sekali, kepala juga tadi tiba-tiba sakit banget. Sekarang kepala sudah mendingan, tapi badan masih lemes. Kamu telpon kerumah sakit ajah buat cari dokter lain gantiin praktek pagi gue, nanti aku ambil praktik sore ajah." Usul Rio, memang badanya masih terasa lemas.
" Baiklah kalo memang maumu begitu, tapi gue jalan duluan ke rumah sakit yah, soalnya banyak kerjaan buat gantiin loe yang masih belum sehat juga, biar nggak terlalu numpuk juga kerjaan loe nantinya. Entar kalo loe mau ke rumah sakit pake sopir ajah, nggak apa- apakan?" tanya Aarav memastikan sebelum dirinya pergi semua aman.
"Pergi lah, urus kerjaan selama gue belum fit betul, masalah nanti gue kerumah sakit urusan gampang, banyak sopir, atau bahkan taxi juga masih bisa angkut gue." ujar Rio santai nggak mau ambil pusing.
"Ya udah gue jalan, kalo ada apa-apa lo minta Mbok Karti buat hubungi gue." imbuh Aarav.
" Iya ,...bawel banget!!!! udah sanah pergi. Gue masih pengin tidur lagi." usir Rio pada Aarav yang masih ajah mengawatirkan dirinya.
Entah kenapa Rio bawaanya pengin tidur terus. Sebenarnya Rio sudah tidak merasa meriang lagi, hanya bawaan pengin tidur terus, mata rasanya berat buat di ajak melek. Pagi hari yang biasanya ia semangat buat melatih otot-ototnya supaya lebih membentuk Roti sobek, justru hari ini benar- benar membuat Rio malas, dan nggak ingin meninggalkan kasur walaupun hanya ke kamar mandi juga rasanya malas sekali.
Selepas dzuhur Rio baru bisa lepas dari nikmatnya dekapan kasur. Rio segera bergegas menyiapkan diri, karena jam dua siang ia harus sudah berada di rumah sakit. Jam praktek sore dimulai dari jam dua, ia tidak ingin mengecewakan para pasien kecilnya.
Rio menikmati makan siang dengan lahap, tadi pagi ia merasa kehilangan nafsu makanya sehingga melewatkan sarapan, tapi justru ketika siang nafsu makanya meningkat.
"Mbok itu di belakang mangganya sedang berbuah?" tanya Rio yang melihat ada buah mangga di pohon mangga ditaman belakang.
"Iya tuan, kenapa tuan mau?" tanya Mbok Karti aneh dengan pertanyaan Rio.
"Dibikin rujak serut enak kayaknya Mbok, siang-siang gini makan rujak seger," ucap Rio sambil membayangkan segarnya rujak serut mangga.
"Kalo dokter Rio mau, nanti Mbok petik, etar dibikinin rujak serutnya." ujar Mbok Karti
"Iya gampang itu Dok," jawab Mbok Karti.
Dokter Rio pergi bekerja setelah sebelumnya memesan Taxi online dari aplikasi ternama. Sementara Rio sudah berangkat, Mbok Karti pergi ketaman belakang untuk memetik mangga yang akan di bikin rujak serut sesuai permintaan Rio.
****
Di kediaman Emly ...
Emly yang baru pulang dari klinik Zawa harap-harap cemas menunggu kepulangan papih dan mamihnya. Ia sudah bertekad bahwa akan menceritakan kehamilanya. Bagaimana pun nanti hasilnya Emly akan terima, meskipun mungkin sajah ia akan diusir dari rumah ini.
Bagai manapun ia menyembunyikan keadaanya, toh lambat laun pasti akan ketahuan juga, maka dari itu Emly memilih untuk mengatakan secepatnya, supaya bisa mengambil solusi bersana.
Menjelang isa kedua orang tua Emly pulang. Emly menunggu momen yang tepat untuk mengatakan semuanya. Setelah makan malam Emly menghampiri kedua orang tuanya yang tengah bersantai diruang keluarga .
Emly adalah putri bungsu dari tiga bersodara, kedua kakanya cowok kini sudah berumah tangga dan tinggal sudah terpisah dengan orang tua Emly. Mereka yang menjalankan bisnis papih dan mamihnya. Sedangkan Emly lebih memilih terjun kedunia Modeling, sesuai dengan cita-cita dan hobynya.
"Mam, Pap, ada yang Emly mau omongin." ujar Emly yang baru datang dan duduk di sova sebelah mereka.
"Mau ngomong apa? biasanya ajah nyerocos ajah kalo mau apa-apa," jawab mamih yang udah tau watak dari putrinya.
"Janji yah Mamih sama Papih nggak akan marah kalo Emly bilang jujur." nampaknya Emly sudah menciut nyalinya ketika berhadapan dengan kedua orang tuanya .
"Ya tergantung kamu mau ngomong apa dulu," balas papih, sudah mulai curiga dengan arah pembicaraan nantinya akan membuatnya naik darah.
Emly diam sejenak ketika mendengar jawaban dari papihnya, ia mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan niatnya. Niat yang awalnya sudah Emly kumpulkan dengan yakin, ketika berhadapan dengan kedua orang tuanya langsung seolah menghilang begitu sajah .
"Jadi nggak ngomongnya nih, Papih sama Mamih udah nungguin loh," goda mamih yang melihat putrinya nampak ragu-ragu.
"Pih, Mih ,....Emly hamil." ucap Emly masih menunduk. Rasanya berat menatap kedua orang tuanya.
"Kamu jangan bercanda sayang, Mamih tau sekarang lagi banyak yang prank sama orang tua. Mengaku hamil kamu jangan ikut-ikut trend itu dong, kalo Mamih atau Papih jantungan gimana?" ucap mamih yang menyangka bahwa pengakuan Emly hanyalan sebuah prenk atau konten semata.
Emly mulai berputus asa, di saat ia jujur malah dikira ngeprank, "Lalu gimana kalo papi atau mamih beneran serangan jantung ketika mengetahui bahwa ucapan Emly barusan adalah kenyataan." batin Emly mulai bergemuruh dengan perasaan cemas tak menentu"
"Mih,....Please Emly seriuz," ucap Emly dengan menatap kedua mata mamih dengan tatapan memelas..
Mamih diam membisu, mamih tau betul bahwa kali ini putri satu-satunya berkata jujur .
Papih yang awalnya juga mengira kalau Emly hanya akan mengeprank mereka, dan bersikap santai sajah, tapi setelah melihat kesungguhan dimata dan raut wajah Emly.
Papih mulai emosi dan berdiri menampar Emly dengan keras sampai pipi Emly merah, karena bekas tamparan Papih .
"Anak siapa yang kamu kandung hah........." ucap Papih dengan nada marah....
**Kebohongan akan tercium kelak nanti. Jadi, jangan sungkan untuk jujur, tumpahkan walaupun itu sedikit membuatmu sakit ***
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir,jangan lupa tinggalkan jejak yah ❤❤❤