
Malam ini sepulang Ipek menghadiri acara Ody, dan melihat kondisi suaminya masih sama, ia pun mencoba menghibur dirinya yang sedikit berharap bahwa suaminya bisa mendengarkan keluh kesahnya.
Ipek bercerita dengan semua yang terjadi di rumah Ody bahkan tentang Clovis pun Ipek ceritakan semuanya, setidaknya ia sedikit lega setelah bercerita. Walaupun teman ceritanya tidur dan tidak mendengar keluh kesah Ipek.
Tanpa Ipek sadari Wahid dialam bawah sadarnya mendengar cerita Ipek, ia memang tidur tapi Wahid masih bisa mendengar cerita Ipek bahkan dengan cerita tentang Clovis. Yang Ipek sangat takutnya cintanya akan tumbuh kembali sedangkan Ipek juga sudah mencintai suaminya.
Keesokan harinya baik clovis dan yang lainya sudah merencanakan akan menjenguk suami Ipek. Yah, hari ini mereka ingin memberikan suntikan semangat untuk Ipek dan juga memberika sedikit sumbangan yang tentu dilainya bukan ecek-ecek. Ternyata tanpa sepengetahuai Ipek pengobatan untuk Wahid pun di gratiskan oleh Rio, tentu sudah memiliki izin dari Tuan Hartono selaku pemilik rumah sakit yang sah.
Ipek entah kenapa hari ini sangat manja dengan Wahid dan juga wahid tiba-tiba sudah bangun. Ipek sangat senang, pasalnya hal seperti ini adalah hal yang jarang terjadi. Ipek berharap bahwa ini adalah perubahan yang baik.
"Abang Ipek bobo di samping Abang boleh nggak?" tanya Ipek dengan sangat hati-hati takut kalo menyinggung perasaan Wahid.
"Umi pun hari ini belum datang karena ada keperluan dan Ipek tidak masalah toh sejak semalam ia juga sudah tidur dengan nyenyak hal itu karena Wahid yang tidur sampe pagi dan Ipek pun ikut pules tidurnya.
"Boleh," jawab Wahid terlebih ranjang Wahid memang besar sehingga tidak akan berhimpitan apabila Ipek tidur di sampingnya pula. Apalagi badan Ipek yang kecil tidak memakan banyak tempat sehingga tidak menyenggol alat-alat medis di tubuhnya.
Ipek pun dengan hati-hati naik keranjang pasien dan merebahkan tubuhnya di sanping Wahid. Rasanya Ipek ingin seperti dulu bisa tidur di samping suaminya. Yah walaupun tidur disamping Wahid tanpa bisa memeluk tetapi bisa mengobati rasa kangen Ipek.
Tidak ada obrolan diantara mereka Ipek hanya menggenggam tangan Wahid dan memejamkan matanya di samping suaminya. Bertepatan dengan itu Rio dan yang lainya pun masuk keruangan Ipek.
Clovis yang melihat pemandangan itu tentu semakin terbakar hatinya. Clovis sadar Ipek sudah sangat menyanyanyi suaminya. Ipek sudah tidak menyayangi dirinya lagi. Clovis sadar diri ini adalah karma buat dirinya. Di saat dia sudah memiliki perasaan sayang sama Ipek tetapi justru Ipek sudah sangat mencintai suaminya.
Rio dan kawan-kawan yang akan masuk pun nggak mungkin mundur lagi sedangkan mereka sudah membuka pintunya dan Wahid juga sudah tau kedatanganya.
"Maaf kayaknya kedatangan kami kurang tepat yah," ucap Rio, yang berhasil mengagetkan Ipek. Ipek pun langsung turun dari ranjang Wahid dan masuk ke kamar mandi. Clovis pun terus memperhatikan Ipek. Tatapan Clovis sudah sangat berbeda. Hal itu memancing keingin tahuan wahid dengan sosok Clovis.
Wahid bisa mengartikan tatapan Clovis, terlebih Ipek juga yang tingkahnya seolah seperti orang yang ketahuan tengah berselingkuh.
Wahid memang merasa Ipek sejak tadi pagi pendiam dan lebih menunjukan sifat manjanya.
Wahid ingat dulu pembahasan dirinya dengan Abah yang menceritakan Ipek dan laki-laki yang dicintainya sampai Ipek sakit-sakitan karena memikirkan laki-laki itu. Wahid juga menginggat dengan cerita Ipek tadi malam. "Apa laki-laki itu yang diceritakan Ipek tadi malam. Apa dia laki-laki yang Ipek cintai, laki-laki yang Abah ceritakan. Sepertinya dia baik. Enggak seperti yang Abah katakan," batin Wahid.
Cukup lama Ipek di kamar mandi sehingga baik Rio dan Chandra belum menyampaikan tujuanya datang ke sini.
"Ya, begini Dok, tidak ada perubahan yang berarti," jawab Wahid dengan suara lirih.
"Semoga semuanya membaik yah Mas, dan ada keajaiban dari Tuhan." Rio yang lebih banyak mengobrol dengan wahid sementara Chandra dan Clovis duduk di sofa yang ada di ujung ruangan di mana di sana biasa Ipek istirahat. Bahkan barang-barang Ipek seperti sajadah, Al Qur'an saku, dan mukena masih tersimpan di sana. Tidak hanya itu, wangi minyak wangi Ipek masih sangat tercium di sofa itu. Wangi yang baru sekali Clovis menghirupnya, tetapi ia sudah hafal dengan aroma mahal minyak wangi itu.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Ipek keluar dengan wajah sedikit sembab. Namun samar karena ternyata Ipek juga sudah mencuci jejak air matanya, tetapi mata merahnya tidak bisa berbohong. Sangat terlihat jelas kalo Ipek habis menangis.
Rio pun meminta Ipek duduk dengan mereka dengan Wahid sebagai saksinya.
"Ipek, Mas Wahid, kami ini teman-teman Ipek yang mau memberikan sedikit bantuan, sebagai tanda solidaritas kita sebagai teman. Maaf juga baru memberikan sekarang. Soalnya kita baru tahu kalo Ipek tahu kalo Ipek tengah di berikan cobaan ini." Chandra yang mewakilkan menyerahkan uang hasil sumbangan dari teman-temanya baik cowok maupun perempuan.
Ipek tidak langsung menerima, melainkan melirik dulu kepada Wahid sebagai persetuan. Wahid pun yang paham lirikan Ipek tentu menganggukan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tidak keberatan dengan sumbangan itu. Bukankah itu tandanya bahwa teman-teman Ipek peduli dengan dirinya.
Ipek pun setelah mendapatkan persetujuan dari wahid, dengan rasa terharu menerima uang uang mereka berikan. Yang Ipek tahu uang itu tidak sedikit jumlahnya.
Setelah Ipek menerima dan mereka sempat berbincang-bincang sejenak. Rio dan yang lainya pun pamit undur diri karena ia tahu Wahid pasti cape dan ingin beristirahat.
Selama mereka berkomunikasi, Wahid tahu bahwa laki-laki yang sejak tadi mencuri pandang pada Ipek adalah Clovis.
Wahid yang penasaran dengan siapa Clovis ingin menyelidiki apa benar laki-laki itu yang ada dihati istrinya dulu.
Cemburu? Tidak Wahid tidak cemburu, tetapi andai laki-laki itu yang mencintai Ipek dan istrinya pun mencintai laki-laki itu maka Wahid tidak masalah apabila Ipek menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Terlebih Wahid tahu kondisinya tidak akan bisa sembuh seratus persen. Mengandalkan mukjisad dari Tuhan rasanya sangat mustahil.
Wahid diam-diam akan mencari tahu siapa itu Clovis. Dan apa laki-laki itu pantas untuk mendapatkan cinta dari Ipek?
"Bang, Ipek boleh bertanya sesuatu?" tanya Ipek setelah membaca pesan dari Zawa, yang ternyata gadis itu masih berusaha mencari tahu di mana Arzen tinggal.
"Boleh, kenapa?" tanya balik Wahid, yang mengetahui Ipek seolah tengah memikirkan sesuatu.
"Ini cewek Arzen. Yang dulu pernah Ipek ceritankan ternyata dia sudah bebas, dan tidak terbukti bersalah. Sekarang Zawa pengin tahu alamat Arzen. Menurut Abang, Ipek kasih tahu atau jangan yah?" tanya Ipek sangat berharap bahwa Wahid bisa memberikan solusi.