
Ipek berlari kecil, dan berhambur dipelukan Ody. Ia melepaskan rasa kengen yang luar biasa. Ody memang bukan sodara atau pun teman yang sudah kenal lama. Ody hanya teman yang beberapa bulan terakhir ia temui. Namun, karena Ody sudah baik dan selalu perhatian dengan Ipek, kini Ipek menganggap Ody sudah seperti kaka sendiri. Terlebih Ipek tidak memiliki Kakak perempuan. Ipek sesungguhnya adalah anak dari keluarga berada kakeknya pemilik beberapa pesantren besar di provinsi jawa barat. Begitu pun orang tuanya memiliki pesantren besar di kota ini. Tak hanya itu keluarganya adalah pemilik restoran ternama dibeberapa kota besar. Salah satu kakanya justru sudah membuka restoran halal diluar negri. Ipek adalah anak perempuan satu-satunya, dia anak bungsu dari lima bersaudara dan saudaranya semua laki-laki. Sehingga ia diperlakukan seperti ratu di rumahnya. Apa yang Ipek inginkan selalu dituruti sama kedua orang tuanya. Begitupun ke empat kaka laki-lakinya selalu memanjakan Ipek, tidak ada yang boleh menyakiti adik perempuanya. Dia bak ratu yang memiliki bodyguard, ialah ke empat abangnya. Namun, Ipek malah memilih mencoba kerasnya hidup diluaran sana dengan menyamar sebagai OG dan orang biasa. Tentu kedua orang tuanya dan kaka-kanya, awal-awal ketika Ipek menyampaikan keinginanya, Menolah Ipek ide konyol Ipek, tetapi sejak Ipek menjelaskan maksudnya agar bisa merasakan susahnya cari lembaran rupiah. Abi pun mengizinkanya dengan catatan hanya dua tahun Ipek dikasih waktu untuk menikmati kebebasanya dan bisa menjaga diri tentunya.
Waktu yang Abi dan Umi berikan tinggal tersisa tiga bulan lagi, tentu Ipek akan menggunakan waktu itu untuk mengejar cintanya pada Clovis laki-laki kaya pemilik bar dan club besar di Jakarta dan dia terkenal sebagai casanova. Biarpun Ipek tau keburukan Clovis ia tetap mencintai laki-laki itu dan bermaksud untuk merubahnya. Namun, kini Ipek juga pasrah sajah apabila waktunya telah habis ia tentu akan menyerahkan cintanya pada Alloh dan akan mengakhiri perjuangan cintanya. Ia tentu akan kembali kekeluarganya dan mengikuti kemauan Abinya.
Terlebih selama ini Ipek menunjukan cintanya Clovis tak sekali pun membalasnya. Clovis semakin jauh untuk bisa Ipek genggam. Impianya menjadi pasangan Clovis semakin kecil. Sadar, Ipek sadar betul bahwa Clovis tidak mencintainya dan tidak tertarik denganya sedikit pun, terlebih karean badan Ipek yang jauh dari kata ideal buat wanita idaman dimata Clovis, tetapi apa Ipek salah apabila ingin berjuang mendapatkan Clovis setidaknya Clovis tau bahwa Ipek mencintainya.
***
Cukup lama Ody dan Ipek berpelukan, dilihat langsung oleh Rio. Yang merasa bahwa mereka terlalu lebay.
"Mba Ody, Ipek beneran kangen tau. Ipek berasa kehilangan semangat sejak Mba memutuskan keluar dari kerjaan." Rengek Ipek dengan muka dibikin manyun.
"Sama sayang, Mba juga kangen makanya Mab main kesini. Pengin curhat-curhat." bisik Ody agar Rio tidak mendengarnya.
"Ponakan aku gimana kabarnya?" tanya Ipek sembari mengusap-usap perut Ody.
"Dede sehat, tadi abis periksa dan semuanya sehat." balas Ody, dengan suara dibikin menyerupai anak kecil
"Duduk yuk Mba, biar lebih bebas kangen-kangenanya," ajak Ipek, sembari menuntun Ody kesalah satu kursi kosong yang berada di pojok.
"Hem... apa nanti kamu nggak dimarahin kalo malah asik ngobrol dengan aku?" tanya Ody ragu, karena Ody tau Clovis itu sensitif dengan Ipek. Ody takut nanti malah Ipek kena omel Clovis.
" Enggak apa-apa, nanti biar Ipek izin ajah hari ini. Anggap sajah tidak masuk kerja dan Ipek disini hanya tamu." jawab Ipek dengan santai.
"Ya udah gimana kamu ajah deh, Mba cuma takut kamu kena marah sama bosmu yang galak itu." ujar Ody sembari mengikuti Ipek duduk di sova yang empuk.
Mereka pun bercerita dengan seru, bahkan terlihat beberapa kali keduanya terbahak dengan cerita diantara keduanya. Entah membicarakan apa yang jelas sepertinya sangat seru.
"Clovis masih suka datang kesini?" tanya Rio pada Ipek yang merasa jenuh karena hanya ia laki-laki diantara dua wanita yang sedang asik bercurhat. Apabila ada Clovis pasti ia akan ada teman untuk ngobrol, sehingga tidak garing seperti saat ini.
"Masih ko Dok, tapi biasanya aga malaman. Coba dokter Rio hubungin ajah biar Clovis tau bahwa ada dokter disini." usul Ipek.
Rio pun mengikuti saran dari Ipek, ia menghubungi Clovis.
"Hallo, loe di mana?" selidik Rio ketika telpon baru tersambung.
"Wih, sabar bro. Gue lagi di club B. Kenapa?" tanya Clovis heran, tumbenan Rio telpon.
"Loh, kenapa nggak ngabarin dulu sih." cicit Clovis tak kalah kaget, bagai dikasih kejutan. Clovis langsung menututup sambungan teleponya dan menuju tempat Rio berada.
"Dasar anak nggak punya sopan santun. Ngobrol belum selesai udah di putus." runtuk Rio kesal dengan ulah Clovis.
Ody dan Ipek hanya tersenyum geli melihat kelakuan Rio. Kini Ipek tentu sudah tau bahwa Rio sudah menerima pernikahanya. Justru sekarang Ipek udah tau bahwa Rio juga sudah mulai bucin dengan Ody.
Bahagia? Pasti Ipek sangat senang mendengar kabar ini. Terlebih Ipek juga ikut membantu Ody untuk mendapatkan keadilan. Seiring berjalanya waktu akhirnya Rio luluh dan menerima semua perbuatanya dengan ikhlas. Ipek juga sama ia berharap bahwa suatu saat Clovis bisa menerima cintanya.
Tidak sampai lama Clovis sekarang sudah berada di depan bar miliknya. Ia bergegas masuk dan menemuai Rio. Clovis mengedarkan pandanganya mencari sosok sahabat karibnya, dan ia melihat Rio tengah duduk dengan muka ditekuk, kucel pula.
"Temben Yo," sapa Clovis mengagetkan Rio.
"Iya ngikutin kemauan Ibu negara." jawab Rio sembari melirik Ody dan Ipek di sudud sova yang letaknya lumayan berjarak denganya.
Tentu Clovis geram kenapa Ipek malah, bersantai duduk di tempat favorite'nya dengan santai tertawa seolah ia adalah pengunjung bukan pelayan yang ia gajih untuk bekerja. Tentu Clovis tidak tahu bahwa Ipek sebelumnya sudah izin untuk tidak bekerja dan telah membayar ganti rugi dengan tidak hadirnya bekerja.
Rio kini sudah menemukan teman untuk berbagi cerita. Tentu kedua pasangan curhat itu mengobrol dengan topik yang berbeda dan tanpa sadar waktu semakin malam.
"Pek udah dulu yah, lain kali Mba mampir lagi, atau nggak kamu yang mampir ke rumah Mbak kita curhat-curhat lagi." pamit Ody.
"Ok masalah itu bisa diatur, Mba telpon Ipek ajah kalo lagi butuh teman curhat. Ipek akan main ke rumah Mba Ody, tapi apa nanti dokter Rio nggak marah, kalo Ipek main?" tanya ipek dengan setengah berbisik.
"Enggak ko, Rio sekarang sudah berubah." terang Ody dengan senyum kebahagiaan.
Kini Rio dan Ody sudah berada di dalam mobil setelah sebelumnya berpamitan dengan Clovis dan meminta agar Clovis tidak memarahi Ipek. Tentu di depan mereka Clovis mengiyakan permintaan temanya, tetapi Clovis akan tetap memberikan hukuman buat Ipek karena ia mengira Ipek sengaja bersantai dikala jam kerjanya.
"Ayo ikut aku," bentak Clovis ketika mobil Rio tak terlihat lagi di hadapanya. Clovis menarik pergelangan tangan Ipek dengan keras. Bahkan badan Ipek yang gendut dan besar hampir terhuyung tidak kuat mengimbangi tarikan Clovis. Ia menarik Ipek masuk keruangan pribadinya dan mendorong dengan kasar dengan tatapan penuh emosi.
"Apa yang Anda lakuan Tuan, Anda menyakiti saya." Pekik Ipek dengan suara bergetar, tentu ia takut ketika melihat mata Clovis yang memerah. Jelas terlihat kemarahan dibalik mata merah Clovis.
...****************...
#Jangan lupa mampir ke karya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" dijamin ceritanya tidak kalah seru loh.