Beauty Clouds

Beauty Clouds
Siapa Wanita Itu



Di negara lain Clovis sudah melakukan serangkaian check up, untuk kedua kalinya dengan kesehatanya, karena akhir-akhir ini ia yang sering gelisah, lemas dan tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang. Clovis masih ada rasa takut akan tubuhnya yang bisa saja bermasalah kesehatanya, terkait dengan kebiasaanya yang buruk dahulu.


Namun setelah melakukan check up kedua kali, lagi-lagi hasilnya ok, dia pun dinyatakan sehat seluruh badanya. Clovis sangat aneh sedangkan ia selama beberapa minggu terakhir merasa kesehatanya tidak baik-baik saja tetapi dokter selalu menyatakan bahwa semua check up di nyatakan sehat.


Setelah menyiapkan semuanya Clovis hari ini akan berkunjung lagi ke negara dia dilahirkan yaitu Indonesia itu semua karena ia akan mulai mengembangkan bisnis di pakaian dan pernak penik yang lainya.


Clovis pun memutuskan tidak ingin memberikan kabar pada temanya mengenai kedatanganya, hal itu ia lakukan karena ingin memberikan kejutan kepada teman-temanya. Tidak seperti tahun-tahun yang lalu kali ini Clovis datang ke Indonesia tidak ada perasaan senang dan lain sebagainya. Ia masih merasa tidak menentu, terlebih ketika ia membayangkan kelakuanya pada Ipek dulu. Rasanya hatinya kembali teriris.


Clovis melakukan perjalanan memilih pagi hari, karena ia fikir di pagi hari udara yang masih segar belum terlalu panas pula


****


Di tempat lain...


Ipek dan Wahid pun pagi ini akan melakukan perjalanan ke Jakarta setelah sholat Subuh Ipek dan Wahid langsung melakukan perjalanan ke Bandara di Jakarta, karena setelah Wahid melakukan penerbangan Ipek akan menginap di rumah Abinya untuk mengobati rasa kangenya dengan keluarga dan semuanya.


Sepanjang perjalanan Ipek kini sangat manja dengan suaminya. Bahkan sedari tadi naik mobil Ipek tidak mau lepas dari tangan Wahid seolah ia dan suaminya, hari ini adalah hari terakhirnya ia bertemu dengan Wahid.


Pukul sepuluh Ipek dan Wahid sudah ada di bandara. Ipek bener-bener melow.


Begitu jadwal penerbangan untuk Wahid telah di umumkan Ipek langsung menghambur memeluk suaminya itu. Padahal di hari-hari biasanya Ipek tidak berani melalukan itu semua, hal itu tapi ia lakukan ketika Wahid akan berpamitan untuk menyelesaikam masalah kerjaanya.


"Hay, ini ko jadi manja begini, malu tuh dilihat sama yang lain. Malu juga tuh di lihat sama Ambu dan Abah." ucap Wahid sembari mengelus pucuk kepala Ipek yang di tutup hijab.


"Biarin, mereka nggak tau rasanya jadi Ipek. Tapi Abang janji kan akan langsung pulang begitu kerjaan selesai?" tanya Ipek yang justru kini ia sudah terisak.


"Abang janji, Abang begitu selesai kerjaanya mau langsung pulang kan biar buru-buru bulan madu sama istri tercinta kam." Wahid mencoba menghibur Ipek agar tidak melow lagi.


Wahid pun perlahan melepaskan peluka Ipek yang jelas Ipek sendiri masih enggan melepasnya, tetapi penerbangan nanti malah telat kalo melow-melowan terus, yang ada malah Wahid ikut melow dan tidak jadi berangkat untuk mengurus usahanya yang tengah ada masalah.


Setelah pamit dengan keluarganya Wahid pun langsung pergi meninggalkan Ipek, sementara Ipek memeluk ambu dan kembali bersedih.


Dari kursi tunggu ada yang baper dengan perlakuan Ipek dan Wahid. Yah sejak tadi ada sepasang mata yang terpesona dengan penampilan Ipek yang ia lihat sangat damai.


"Mereka sepertinya saling mencintai. Kasihan sekali mereka harus berpisah untuk beberapa waktu," gumam Clovis, yah laki-laki yang tengah duduk menunggu jemputan di ruang tunggu sejak tadi memperhatikan pasangan suami istri baru itu adalah Clovis.


Clovis di pandangan pertama bertemu Ipek sudah ada desiran di dadanya. Clovis sangat senang melihat wajah Ipek dan penampilan Ipek yang sangat menyejukan hati. Terlebih ketika Wahid sudah pergi semakin jauh Ipek pun duduk di kursi yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan Clovis.


Ipek menyeka sisa air matanya dan ia mencoba menetralkan perasaanya. Entah mengapa Clovis merasa sakit ketika melihat wanita itu bersedih, ada rasa yang tidak biasa yang Clovis rasakan. Namun Clovis tidak bisa berbuat apa-apa sebab mereka tidak saling mengenal.


Ipek sempat memberika senyuman untuk Clovis sekilas, ia tidak menyadari yang di beri senyuman itu siapa pasalnya Clovis menggunakan kaca mata hitam dan juga masker wajah. Sehingga Ipek tidak sadar bahwa laki-laki yang barusan ia beri senyuman adalah laki-laki yang lebih dari tiga tahun mati-matian ia coba lupakan.


Clovis yang melihat senyuman Ipek pun memegangi dadanya, pasalnya ia seolah tahu siapa pemilik senyuman itu.


"Tidak... tidak mungkin itu Ipek, sudah jelas dari wajah, penampilan, warna kulit dan bentuk badan. Sudah jelas itu bukan Ipek." Clovis mencoba menepis isi kepalanya. "Mungkin saja yang memiliki senyuman itu orang lain hanya mirip dengan Ipek." Lagi, Clovis mencoba menepis isi otaknya yang kekeh mengatakan bahwa pemilik senyuman itu adalah Ipek.


Namun saking penasaranya yang seolah terus menghantui Clovis. Ia pun mencoba mengikuti Ipek dengan menaiki taxi, ia ingin tahu siapa wanita pemilik senyum itu apakan wanita itu adalah orang yang lebih dari tiga tahun yang lalu menjadi orang yang paling ia benci.


Clovis masih bisa mantau mobil yang Ipek taiki, tetapi ketika diperempatan pas lampu merah Clovis kehilangan jejak Ipek.


"Ah gimana sih Pak, ko bisa kehilangan jejaknya," ucap Clovis, sangat kecewa dengan sopir taxi yang ia tumpangi.


"Maaf Mas, tadi kan ada lampu merah, kalo saya terabas yang ada nanti saya kena tilang Mas." Sopir taxi pun tidak mau disalahkan, karena memang itu prosedur berlalu lintas.


"Ya udah nggak apa-apa Pak. Putar balik ajah kealamat ini!" Clovis menunjukan sebuah Map alamat rumahnya.


Dia sebenarnya sangat penasaran dengan sosok wanita berhijab tadi yang ia temui.


"Siapa laki-laki itu, apa suaminya atau justru anggota keluarganya?" gumam Clovis dalam hatinya, padahal ia tadi mengira itu sepasang suami istri, tetapi ia mencoba menepis lagi mungkin saja mereka itu adalah adik dan kakak.


Sementara Ipek juga sebenarnya dari tadi merasa ada yang mengikutinya.


"Pak coba deh perhatikan mobil yang di belakang kaya ngikutin kita?" ucap Ipek bicara dengan sopir keluarganya. Sang sapir pun mencoba mengetesnya dan setelah beberapa kali berbelok tanpa arah untuk mengetes mobil di belakang, ia pun yakin bahwa mobil itu memang mengikuti mobilnya.


"Iya Neng, kayaknya memang mobil itu ngikutin kita, tuh kan kita belok dia juga ikut belok. Padahal kan lebih cepatan lurus kenapa harus ikut mobil kita terus," ucap sopir pribadi Abi yang sengaja menjemput Ipek.


"Iya benar juga yah Pak, bagaimana kalo kita kecoh ajah Pak, takut juga kan siapa tau mereka berniat jahat." Ipek mulai waspada.


"Baiklah Non, nanti Bapa coba kecoh. Kalo sopir itu masih ngikutin terus lapor polisi ajah kali yah Neng."


"Nanti saja Pak kalo lapor polisi yang terpenting sekarang kecoh ajah dulu sampai kita bisa lolos," balas Ipek sembari berdoa di dalam hatinya agar lolos dari mobil yang ada dibelakangnya.


"Baik Neng."


Setelah beberapa kali melewati lampu merah akhirnya Ipek bisa lolos.


"Alhamdulillah Pak, akhirnya tuh mobil nyangkut di lampu merah belakang. Kita buru-buru cari jalan aman Pak, masuk-masuk gang biar tidak ditemukan lagi!" Ipek kali ini sudah sedikit tenang ketika melihat kebelakang sudah tidak ada mobil yang di tumpangi Clovis mengikutinya lagi.