
Ruangan sempit itu (lift) seketika berubah menjadi dingin, seolah kini keempat orang itu tengah berda di dalam kulkas. Tidak ada obrolan diantara mereka. Namun tidak di dalam fikiran mereka, dalam fikiranya saling berlomba kata-kata apa yang sekiranya bisa diucapkan sebagai sapaan atau mungkin memulai obrolan.
Emly menunduk, ia memang tidak memberitahu akan kehamilanya, tetapi Emly yakin bahwa Aarav sudah tau apa yang menimpa dirinya karena perbuatan Aarav. Sehingga Emly merasa janggung apabila menyapa Aarav lebih dulu.
Erwin pun sama walaupun di bibirnya diam, tetapi tidak dengan otaknya. Ia ingin bertanya tentang cucunya tetapi baik Emly maupun Aarav mungkin saja belum tahu kebenaran anak itu ada di mana. Erwin yakin bahwa Hartono belum memberitahu Aarav bahwa Meyra adalah anaknya. Kebisuan terus terjadi di dalam ruangan besi berbentuk kotak itu.
Cengkring... Suara lift yang menandakan bahwa mereka sudah sampai di lantai yang di tuju. Aarav yang berada di hadapan mereka melangkah lebih dulu. Mengayunkan kaki jenjangnya dengan langkah tegas, meninggalkan Emly, tetapi buka ruangan Meyra yang ia tuju, melainkan toiletlah yang menjadi tujuan utamanya.
Aarav duduk di atas kloset tapi bukan ingin membuang hajatnya. Ia berfikir, mencoba mencerna apa yang ia tangkap. "Kenapa Emly duduk di atas korsi roda. Apa yang membuat dia duduk di alat seperti itu?" tanya Aarav di dalam hatinya, ia masih sangat buta akan informasi dengan Emly.
Cukup lama Aarav berada di kamar mandi pria, dia memang sengaja juga ingin memberikan Emly ruang lebih dulu menemui mereka. Ia belum siap melihat Emly yang bisa saja nanti akan di maki dengan ucapan yang kasar atau malah akan ada keributan di sana.
Bahkan untuk sekedar meminta izin agar Aarav bisa berbicara dengan Emly dia pandang mata saja Aarav masih tidak berani. Sangat lemah bukan? Lalu gimana caranya dia ingin menjalin hubungan yang lebih.
Intan, dan Chandra datang bersamaan. Yah karena tututan pekerjaan mereka baru bisa bergabung dengan team rempong. Kalo sudah ngobrol tema apa ajah pasti nyambung. Terlebih Ipek sekarang yang sudah nyambung dengan obrolan mereka.
"Ehemm... Pek kemarin malam pertama berapa ron-de?" tanya si jahil Intan, rasanya kalo enggak kepo akan terasa hambar. Gayanya sih bisik-bisik tapi sayang ucapanya sampai juga di telinga kaun Adam.
"Apaan sih Dok, masa kaya gitu diceritain," jawab Ipek dengan wajah memerah karena malu.
"Tenang kalo Ipek malu cerita ada pawang kita yang tidak tahu malu," ujar Chandra sembari sok Cool. " Vis, malam pertama berapa tarikan?" tanya Chandra kebetulan jarak duduk mereka memang masih berdekatan sehingga orolan sepelan apapun akan kedengeran juga.
Clovis nampak menatap Ipek dulu kira-kira dia malu tidak kalo Clovis jawab. Setidaknya ini adalah hubungan suami istri, sehingga Clovis berfikkr harus izin dulu dengan pasangan agar kesanya jangan merendahkan atau memancing nafsu bagi yang lain, di takutkan akan ada otak kotor teman-temanya yang membayangkan melakukan hubungan dengan istrinya kan lebih berbahaya.
Ipek tampak menganggukan wajahnya dengan lemah, sebagai tanda tidak apa, kalo mau berbagi cerita. Toh Zawa juga sering membagi kisah-kisa malam panasnya. Terlebih Intan yang memang sering jahil, dan profesi yang sama, malahan gaya cuga sering mereka bahas. Terkesan sangat kotor sih, tetapi itu ada ilmunya kok, terlebih buat Zawa yang tengah kejar momongan.
"Sekali ajah, kasian sama yang baru nyoba," ucap Clovis sembari melirik Ipek yang menuduk.
Hampir semua terkaget dengan ucapan Clovis itu. "Loh, kok baru nyoba sih, terus sama yang pertama. Masa sih enggak di pake, sanyang amat," ucap Chandra, yang lebih aktif kepo pasti Chandra, Rio dan Arzen sudah ada pasangan sehingga menjaga pasangan lebih baik, dan juga Rio lagi puasa kalo ikut terlalu membahas itu yang ada nanti puasanya batal.
"Belum sempat pake, tapi udah kena musibah duluan," jawab Clovis tidak mau menjelaskan lebih detail toh mereka pasti udah tahu dengan maksud Clovis itu.
"Doa anak sholeh di jabah dong," jawab Clovis dengan enteng dan bangga. Sontak saja yang mendengar rasanya ingin mencelupkan laki-laki itu ke pinggiran neraka, biar sadar kelakuannya dulu seperti apa.
"Sholeh, sekarang-sekarang ajah dulu mah, ya sebelas dua belas sama Chandra," sela Intan. Mereka kembali mengobrol hal yang ringan sampai pada akhirnya mereka berpamitan pulang satu per satu.
*****
"Kamu mau ngapain lagi Erwin," Hartono yang memang meminta security memberitahukan apabila Erwin dan istrinya datang, langsung meninggalkan pekerjaanya demi menemui Erwin dan menghalau ketika ia sudah di depan ruangan anaknya.
"Om Hartona, Emly yang meminta ingin menemui Rio dan Ody untuk meminta maaf," ucap Emly yang dengan sigap mengambil alih pertanyaan dari mantan calon mertuanya.
"Ikut keruanganku!" Hartono dengan langkah tegas lebih dulu berjalan di depan ketiga orang tersebut.
Erwin, Liana dan Emly saling bertatapan tetapi tidak lama setelahnya mengikuti Hartono. Ruangan yang luas dan harum menyambut Erwin dan Keluarganya.
"Mau kalian apa?" tanya Hartono dengan singkat, ia tidak mau terlalu lama berurusan dengan Erwin dan keluarganya, karena Hartono tidak tahu apa yang bisa saja Emly atau Erwin lakukan. Hartono lebih curiga kepada dua orang itu di bandingkan dengan Liana yang notabenya lebih bisa memilah mana yang baik dan mana yang hanya akan membawa ke masalah yang lebih ruyam lagi.
"Sa... Saya mau meminta maaf Om, rasanya saya belum tenang apabila belum meminta maaf," jawab Emly mengambil alih pertanyaan Hartono. Wajahnya menunjukan keseriusan dan penyesalan memang, tetapi Hartono tidak mau tertipu dengan wajah polos nan memelas itu. Zawa sudah menjadi korban lebih dulu karena wajah itu, dan ia pun harus berhati-hati agar tidak tertipu dengan wajah yang mengerikan itu. Yah mengerikan karena wajah bermuka dua jauh lebih horor dari novel terhoror sekali pun.
"Kalau sudah aku maafkan apa kalian akan pergi dari hadapan dan sekeliling keluargaku?" tanga Hartono dengan melihat ke luar ruangan dari jendela kaca yang ada di ruangan kerjanya, kedua tanganya ia masukan ke saku celananya. Seolah Hartono tidak ingin lagi melihat Emly dan keluarganya.
"Saya akan berusaha pergi dari kehidupan kalian Om." Lagi-lagi Emly yang mengambil alih jawabanya, sementara Erwin sejujurnya berat apabila harus pergi dari keluarga Hartono. Yah, Meyra cucunya masih ingin ia temui, kalo ia harus pergi dari keluarga Hartono berati ia harus merelakan Meyra, tidak akan bisa bertemu Meyra.
"Tunggu, apa tidak ada lagi pilihan selain itu. Bagaimana pun cucuku di asuh oleh keluargamu. Otomatis apabila aku ingin bertemu dengan cucuku kita harus berhubungan dengan keluargamu Hartono. Atau memang kamu mau menyerahkan Meyra? Bukanya Rio dan Ody juga sudah punya keturunan sendiri, jadi tidak harus mengasuh cucuku lagi.
Emly seketika tersentak kaget dengan ucapan papihnya.
Sementara Hartono langsung mengeratkan gigi-giginya.