
Setelah melalui waktu yang panjang dan melelahkan akhirnya menu makan malam kali ini lebih di dominasi dengan masakan yang di persembahan dari olahan tangan Clovis.
"Wah, Umi nggak tahu loh, kalo menantu Umi yang ganteng ini ternyata jago masak," ucap Umi memuji Clovis yang bahkan menurut Umi ketampananya semakin bertambah karena jago masak.
"Hehehe... Iseng-iseng Umi, dan memang dari dulu sudah sering tinggal sendiri, jadi kadang-kadang suka meluangkan waktu untuk masak, lagian menu lestoran kadang ada yang tidak cocok di lidah jadi sering masak juga sih dari dulu," balas Clovis merasa tidak nyaman sih ketika di puji seperti itu. Padahal masakan yang ia masak barusan belum tahu rasanya enak atau tidak.
"Uh Abang, Ipek jadi makin sayang deh sama Abang," lirih Ipek yang kebetulan berdiri di samping Clovis. Sementara Clovis yang gemas dengan kelakuan istrinya hampir saja kebablasan mencium istrinya di hadapan mertuanya itu.
"Uh, andai kita enggak di rumah orang tua sudah pasti aku cium kamu habis-habisan sayang," batin Clovis.
Setelah selesai masak Clovis dan Ipek pun pamit lebih dulu ke dalam kamarnya.
"Umi, Abi kami mau ke kamar dulu, gerah udah keburu pengin mandi," pamit Clovis.
"Iya mandilah yang bersih, ini Umi makasih banyak loh di bantu masak, malahan masakanya banyakan Clovis yang masak," ucap Umi yang masih menyiapkan makan malam untuk keluarganya.
"Dengan senang hati Umi, nanti kalo Clovis ada waktu lagi, pasti akan di bantu masak lagi biar kita duet dengan menu-menu andalan Umi. Sekalian biar Clovis makin jago masaknya," balas Clovis dengan antusias.
Dan Ipek pun girang karena ternyata suaminya malah akan sering memasakanya. Entah kenapa ia merasa jadi pengin makan dengan masakan suaminya terus jadinya.
"Abang mau langsung mandi?" tanya Ipek begitu sampai di dalam kamar. Sebenarnya Ipek sejak melihat Clovis memasak tadi ingin meminta penyatuan, tetapi karena Ipek yang pemalu pun tidak berani mengatakanya. Padahal Zawa sudah sering mengajarinya apabila pingin lebih dulu utarakan saja laki-laki pasti akan senang, tetapi malah Ipek tidak ada keberanian juga.
"Boleh deh, kebetulan gerah juga yah masak, kasian pasti umi cape setiap hari masak buat kita," ucap Clovis tanganya hendak membuka kancing bajunya, tetapi buru-buru Ipek tahan.
"E... Kalo Ipek yang bukain kancing bajunya boleh?" ucap Ipek dengan tersipu malu. Clovis pun terkekeh dia bukan anak kemarin sore yang tidak tahu arti dari ucapan Ipek.
Mantan Casanova itu tentu tahu kode-kode yang frontal bahkan kode yang halus.
Clovis tidak menjawab tetapi ia merentangkan tubuhnya, tanganya ia rentangkan sebagai tanda bahwa Ipek bebas mau membuatnya dirinya seperti apa.
Wajah Ipek memerah ketika Clovis menyambut baik permintaanya. Tangan lentik Ipek membuka satu persatu kancing kemeja Clovis sampai bawah tanpa Ipek ketahui, mata Elang Clovis tengah memindai mangsanya dan tentunya ketika mangsa lengah ia akan menerkamnya.
Clovis memajukan langkahnya satu per satu, tanganya masih di biarkan terlentang ke samping. Dan Ipek yang kaget kenapa Clovis maju pun mundur, mengikuti gerakan suaminya, tetapi fokusnya masih membuka kancing kemeja suaminya itu, karena Clovis yang bergerak terus menerus sehingga Ipek kesusahan membuka kancing yang hanya tinggal dua kancing lagi.
Bruk... Tanpa sadar Ipek jatuh ke atas kasur yang empuk.
"Katakan lagi kepenginkan?" tanya Clovis dengan senyum jahil dan bibir bawah digigit agar terkesan menggoda.
Wajah Ipek pun langsung merah padam dan hal itu menandakan bahwa tuduhan Clovis memang benar, ia menginginkan penyatuan tetapi tidak berani mengatakan dengan jujur.
Ipek mengangguk dengan tersipu malu, tetapi justru sifat malu-malu yang Ipek miliki menambah kadar cinta Clovis setiap hari. Sore hari yang panas pun di lalui mereka dengan sempurna.
****/
Arzen meraih ponselnya lalu ia mengangkat ponsel tersebut dan menekan icon berwarna hijau. "Hallo ada apa Rio tumben telepon? Apa ada yang penting?" tanya Arzen begitu sambungan telepon terhubung.
"Arzen Apakah kamu bisa datang ke rumah sakit sekarang! Ada hal penting yang ingin kita bicarakan, sekalian kamu ajak Zawa juga!" titah Rio, tanpa mengucapkan apa gerangan yang akan mereka bahas.
"Lho-lho kok tumben sekali, coba bicarakan apa yang kira-kira kamu ingin sampaikan jangan buat aku penasaran," ujar Arzen, yah rasanya dia dirundung rasa penasaran.
"Nanti saja, nanti juga kamu bakal tahu tidak enak kalau kita bicara di telepon," jawab Rio.
"Oke baiklah nanti aku dan Zawa akan datang ke rumah sakit. Zawa dan Arzen pun melanjutkan makan malam bersama menikmati masakan hasil buatan istri tercinta.
"Aduh Sayang masakan kamu kok makin hari makin enak sih, kalau kayak gini caranya kita bisa gemuk bersama loh," puji Arzen, tetapi kalo di banding dengan masakan dirinya tentu jauh lebih baik masakan Arzen, tetapi demi memberi semangat Arzen membuat pujian semanis mungkin.
"Jangan terlalu memuji sudah jelas masakan kamu lebih lezat," dengus Zawa, yang tahu bahwa itu hanya sebagai ucapan terima kasih yang di balut dengan kata-kata manis saja.
Arzen pun terkekeh renyah mendengar jawaban dari istrinya. Setelah menikmati makan malam bersama Arzen dan Zawa langsung menuju ke rumah sakit. Mereka penasaran dengan apa yang ingin Rio sampaikan, sepertinya ada hal yang penting. Tidak mungkin Rio menginginkan mereka datang kalau tidak ada hal yang penting. Seperti itu kira-kira tebakan Arzen, begitupun Zawa.
"Kamu udah siap sayang?" tanya Arzen, hanya basa basi tentu laki-laki itu sudah tahu kalo Zawa sudah siap mengunjungi Rio di rumah sakit.
"Kira-kira ada apa yah kok tumben banger Rio minta kita datang ke rumah sakit. Mana harus sekarang lagi," rutuk Zawa, sebenarnya badanya sedikit pegal-pegal. Mungkin karena efek dari ia yang cape memasak makanan untuk makan malam mereka. Namun karena Rio yang seolah memaksa sehingga mau tidak mau mereka menuruti permintaan sahabatnya itu.
Di dalam mobil Arzen dan Zawa tidak terlibat obrolan mereka larut dengan fikiran masing-masing, dengan apa yang kira-kira ingin Rio katakan.
Di rumah sakit pun Rio dan Ody sama bingung mau mengatakan pada Zawa dan Arzen bagai mana? Lalu gimana kira-kira reaksi Zawa apabila melihat kondisi Emly saat ini. Di mana Zawa dan Emly dulunya adalah sahat sejak sekolah.