Beauty Clouds

Beauty Clouds
Terkejut



"Hah... kamu udah nikah Pek?" Ody yang tengah mengambil minuman dan beberapa cake dari lemari pendingin justru berlari ke arah Ipek dan duduk disampingnya, serta memukul paha Ipek. Sebagai reaksi kekagetanya.


"Papah... Papah kalo nikah apa?" Si kecil Meyra tidak mau kalah ingin tau juga nikah apa.


"Nikah itu sama kaya Papah dan Bunda boleh pegang-pegang gitu." Rio kali ini yang menjelaskan sama Mayra, tetapi hanya penjelasan asal saja. Namanya anak kecil kepo wajar dong.


"Oh yang kaya Bunda dan Papah kalo lagi bikin dede gitu?" Si kecil mungkin pernah memergoki Bunda dan Papahnya yang tengah membuat dede.


Ody dan Rio pun seketika wajahnya memerah dan Ipek justru tertawa geli. Kali ini Ipek yang gantian mencubit paha Ody. Namun tidak meninggalkan rasa sakit.


"Udah, May main ajah kih di kamar Papah, jangan tanyain Tante terus. Tuh Tantenya jadi malu kan." Ody meminta Mayra untuk pergi bermain, kalo tetap ada disini bisa-bisa si kecil bongkar semua urusan ranjang papah dan bundanya.


Untung Mayra keceplosanya dengan Ipek yang kali ini nggak usil. Coba keceplosanya sama Intan, bisa heboh dia, jadi bahan ejekan selama berabad-abad mana dia kan mahir banget soal teori, tapi giliran praktik nol besar.


"Ngomong-ngomong kamu nikah sama siapa Pek? Udah lama? Udah punya anak? Coba ceritain dong perjalanan kalian kenapa bisa sampai menikah." Ody mencecar Ipek dengan berondongan pertanyaan.


Ipek tertawa geli dengan sikap Ody, yang sangat antusias. Saking keponya tuh minuman dan cake belum di bawa keatas meja.


Akhirnya Rio yang habis mengantarkan Mayra ke kamarnya pun mengambil nampan yang masih di depan kulkas.


"Nyonyah saking keponya sama pernikahan kamu Pek, minuman sampe nggak dibawa. Minum dulu Pek." Rio menyodorkan beberapa minuman ada just kotak, juga susu kotak dan air putih dan beberapa farian cake.


"Terima kasih Dok. Padahal mah nggak usah harus repot-repot."


"Enggak ngerepotin sama sekali ko. Ini memang Azra setiap hari selalu siapkan cemilan apa lagi tadi tahu bahwa Ody dan Mayra mau kesini, jadi dia langsung isi kulkas. Kalo nggak ada isinya bumil bisa manyun nggak mau lagi nemenin kerja. Jadi biar mau nemenin kerja isi kulkas harus full." Rio pun menoel Ody yang kini Ody duduknya di samping Rio, sedangkan Ipek di sofa lain.


Ipek terkekeh mana kala mengingat kebiasaanya dulu suka merampok isi kulkas dokter Intan.


"Iya nggak apa-apa yah Pek. Namanya juga lagi hamil makanya dua nyawa jadi wajar laper terus." Jurus pembelaan pun Ody keluarkan.


Mereka pun akhirnya tertawa bersama ketika bumil mulai merajuk.


Ipek pun sampai lupa bahwa mereka belum bercerita dengan kisah pernikahan mereka.


"Tadi kalo nggak salah kamu di sini sudah satu minggu, dan lagi nungguin suami kamu yang sakit. Ngomong-ngomong suami kamu sakit apa?" Rio bahkan hampir lupa mengenai hal itu.


"Oh... itu Dok...(Ipek menjeda sejenak ucapanya) E... kecelakaan Dok," lirih Ipek dengan wajah seketika berubah sendu.


"Ya Allah, maaf yah kalo pertanyaan saya membuat kamu sedih." Rio yang tahu pertanyaanya yang membuat Ipek sedih pun langsung meminta maaf.


"Tidak apa-apa Dok. Mungkin ini cara Allah mengangkat derajat saya, dengan cara memberika ujian ini. Saya sudah belajar Ikhlas dengan suratan takdir yang Allah telah gariskan untuk hidup saya." Ipek walaupun masih berat untuk menerima ini semua, tetapi ia sudah banyak belajar dari Abi dan Abahnya. Setiap telepon pasti Abah selalu menguatkan Ipek. Arzen juga selalu menasihati Ipek. Bahkan Arzen kali ini sudah sangat jauh perbedaanya, ia selalu lebih legowo dalam hal apa pun. Kadang Ipek juga malu dengan Arzen yang mana ia lebih bisa menerima keadaanya di banding dirinya yang masih banyak mengeluh.


"Di ruang VIP Dok." Ipek pun tidak keberatan apabila anak dari pemilik rumah sakit ini mengunjungi suaminya.


"Tunggu dulu, ruang VIP kasus kecelakaan yang operan dari negara S bukan?" tanya Rio sedikit kaget, dan mencoba mengingatnya.


"Ia betul Dok, dokter tau?" tanya Ipek sedikit kaget juga. Terlebih melihat reaksi Rio yang sepertinya ia kaget juga mengetahui mahwa suami Ipek adalah penghuni ruang VIP pindahan dari negara S.


"Iya soalnya kan yang menerima rekam medis dan surat-surat perpindahanya kebetulan saja saya, jadi pasti tau dan masih ingat juga. Kalo tidak salah berati suami kamu namanya Nur Wahid?" tanya Rio lagi untuk memastikan benar atau tidak, tetapi Rio sudah yakin bahwa hal itu benar adanya.


"Iya betul Dok," jawab Ipek tampak murung.


Rio yang tau ekpresi wajah Ipek tentu tahu bahwa Ipek sangat bersedih.


Rio sebagai dokter yang ikut membaca rekam medis Wahid dari hasil kecelakaanya tentu tahu sangat kecil kemungkinan Wahid untuk sembuh atau normal kembali. Sangat kecil, kecuali keajaiban dari sang pemilik kehidupan. Namun Rio tidak ingin menambah beban Ipek.


Rio pun sama dengan orang tua Ipek membiarkan Ipek percaya bahwa suaminya akan sembuh. Suaminya akan baik-baik saja, dia hanya butuh doa dan dukungan untuk menguatkan dititik terendah ini.


Ody yang tidak tahu apa-apa pun hanya menyimak, tetapi dari simakanya ia tentu tahu bahwa Ipek tengah tidak baik-baik saja. Ody ingin membantu Ipek, pasalnya dulu ketika dirinya di timpa beberapa kali musibah Ipek selalu berada yang paling terdepan sampai-sampai Ody merasa tidak enak atas kebaikan Ipek yang tidak pernah ada pamrihnya.


Ody duduk berpindah ke sambing Ipek untuk menguatkan adik dan sehabatnya itu.


"Mba boleh nengokin suami kamu nggak, pengin kenalan juga kan sama adik ipar," kelakar Ody untuk menghibur Ipek.


Ipek pun ikut tersenyum tipis, dan menutup mulutnya menggunakan hijabnya yang panjang menutupi dadanya. "Boleh dong, malah suatu kehormatan istri dari pemilik rumah sakit mengunjungi pasienya." Ipek pun membalas candaan Ody.


Ody pun menitipkan Mayra pada Rio, pasalnya ia akan mengunjungi adik Iparnya. Rio pun pasrah saja, dan memang ia sudah biasa menjaga Mayra dan mengikut main boneka-bonekaan dan main make up sehingga Rio sering menjadi korban praktik Mayra yang ternyata dia suka dengan dunia dan-dan ala wanita sosialita.


Ody dan Ipek pun sepanjang perjalanan menuju ruang rawat Wahid banyak bertanya sesuatu, terutama teman-temanya dulu satu perjuangan. Ipek juga baru tahu bahwa rata-rata pekerja OG di sini sudah dipindahkan kebagian lain, dan Bu Dewi masih bekerja rumah sakit ini, hanya saja sudah naik jabatan.


Tanpa terasa kini Ipek dan Ody sudah ada di depan ruang VIP. Ipek pun masuk ke dalam sana yang ternyata lagi-lagi Wahid masih tertidur.


Hati Ipek sangat sakit ketika melihat suaminya seperti ini. Wahid sangat lama apabila sudah tidur. Padahal Ipek pengin bercerita banyak hal, agar ia sedikit lega, tetapi Ipek menahanya karena, kondisi suaminya belum memungkinkan untuk mendengarkan keluh kesah darinya.


Ody pun masuk dan menyalami Umi.


"Mi, ini kenalkan Mba Ody. Yang dulu Ipek sering ceritakan." Ipek memeperkenalkan Ody yang sering Ipek ceritakan tetapi umi belum tahu orangnya.


Ody tersenyum dengan ramah begitu pun Umi membalas senyuam Ody dengan pelukan hangat. Mereka pun larut dalam suasana yang haru. Entah lah rasanya yang ada di ruangan itu memendam kesedihan yang sangat dalam.