
Clovis yang menyangka bahwa Rio hanya mengerjainyan pun akan meninggalkan Rio, dan kembali ke kantornya.
"Wahid tadi bilang sama gue, dia pengin ngomong sama loe. Dia udah tau bahwa loe adalah cowok yang disukai sama istrinya. Dia pengin ngobrol empat mata sama loe," ucap Rio, yang berhasil menghentukan langkah Clovis seketika itu juga.
"Loe serius? Enggak ngada-ngada ngeprenk gue kan? Kayaknya aneh amat Wahid pengin ngobrol sama gue. Kira-kira dia mau ngomong apa yah?" tanya Clovis yang bingung, panik dan penasaran kira-kira Wahid akan membahas apa denganya.
"Au... loe tanya sendiri ajah sana sama orangnya. Mungkin mau mamperingatin loe kali, biar jangan pepet bininya terus. Gimana pun kan dia suaminya kalo loe pepet terus dia marah lah." Rio malah sengaja membuat Clovis tambah panik, biar makin nggak bisa tidur Clovis.
"Yang bener ajah Yo, loe itu suka nggak bener kalo ngasih informasi. Beneran nggak nih suami Ipek ngajak gue ketemu. Sumpah gue aneh ajah liat tingkah loe." Clovis masih belum seratus persen percaya dengan omongan Rio.
"Ya Allah, aku harus ngomong apa lagi, biar loe percaya, perasaan gue udah ngomong jujur banget, tapi enggak apa-apa kalo loe masih tidak percaya. Paling yang rugi loe karena penasaran," beo Rio, dengan mencoba acuh dan tetap kembali fokus dengan tumpukan laporan-laporanya.
"Kata Wahid kapan mau ngomongnya? Gue percaya deh dengan omongan loe. Udah jangan baper. Kapan mulai ngobrolnya?" tanya Clovis agar Rio memberitahukan jadwal bertemu dengan Clovis.
"Ya, memang harus seperti itu, loe percaya sama gue. Karena kalo sampe nggak percaya dijamin loe juga yang rugi. Kalo soal waktunya Wahid tidak memberi tahu waktunya. Hanya Wahid bilang terserah loe, kan yang sibuk loe, dan kalo bisa pas nggak ada Ipek. Karena Wahid bilang pembicaraan ini khusus dia sama loe." Rio menyampaikan apa yang di bicarakan Wahid.
Clovis semakin dibuat penasaran dengan semua yang dikatakan Rio. "Kalo gitu loe atur ajah Yo, kapan pun waktunya. Gue pasti sempatin."
"Nah, kaya gitu kek, nurut ajah Sama bos, kebanyakan nawar ujung-ujungnya nurut juga," oceh Rio.
"Ya, udah kalo gitu gue mah balik kantor dulu biar kerjaan beres. Jadi nggak dikejar-kejar target. Gue sekarang kan bukan orang kaya lagi. Jadi harus berjuang lagi biar jadi orang berduit kaya dulu," cicit Clovis dengan tujuan merendah untuk meninggi. Gimana nggak meninggi orang duit Clovis ajah tidak berseri.
"Ya udah Sana, dari tadi juga gue udah bilang silahkan pergi. Loenya saja yang nggak mau pergi-pergi. Di kira gue nggak sibuk, gue juga sibuk kali," balas Rio tak mau kalah sok sibuk.
Clovis pun akhirnya kembali ke kantotnya dengan perasaan yang makin dibuat penasaran dengan omongan Rio. Dia jadi tidak sabar ingin buru-buru bertemu Wahid.
****
Sementar clovis pulang untuk bekerja. Ipek baru sampai di ruangan Wahid tetapi suaminya itu malah sudah istirahat.
"Tidak Bu, Pa Wahid tidak ada ngeluh apa-apa ini barusan tidur mungkin karena kecapean dari tadi belum istirahat," ucap perawat yang menjaga Wahid selama tadi Ipek keluar.
"Kalo gitu Terima kasih yah sus," Ipek pun mengambil alih tugasnya dan membiarkan perawat tersebut kembali ke tugasnya yang lain.
Ipek pun sebenarnya ingin sekali tau pembahasan apa antar Rio dan suaminya, tetapi malah Wahid sudah tidur. Ipek pun membiarkan Wahid untuk istirahat dan ia akan membaca ayat suci Al-quran saja, tapi malah ia tergoda dengan ponsel yang terus berdering dan ternyata itu adalah Zawa.
Ipek pun akhirnya menekan tombol berwarna hijau.
[Assalamualaikum, kenapa Wa?] tanya Ipek begitu ponsel terhubung.
[Waalaikumsallam, Ini Pek, besok pagi rencananya aku mau nemuin Arzen bareng sama Intan kira-kira sopir loe bisa nganterin gue nggak?] jawab Zawa, setelah berunding akhirnya hanya Zawa, Intan dan Chandra yang ikut menjemput Arzen. Pasalnya yang lainya pada sibuk semua dengan aktifitasnya.
[Oh, bisa sih Wa, nanti aku atur deh.] Ipek pasti tanpa pikir panjang menyanggupi omongan mereka.
[Kamu nggak mau ikut pek? Biar kita lebih rame gitu, sekali-kali healing lah, biar nggak di rumah sakit terus. Lagian suami kamu juga pasti mengizinkan, apalagi k erumah Abah kamu juga, sudah pasti di perbolehkan.] Bujuk Zawa yang memang, Rio sebelumnya berpesan pada Zawa agar ajak-ajak Ipek. Biar besok Clovis bisa ngobrol bareng dengan Wahid.
[Enggak deh Wa, kasian Abang, nanti nggak ada yang nungguin lagi.] Ipek memang selalu tidak mau jauh dari Wahid ia terlalu parno, takut apabila ia meninggal Wahid sendirian, dengan perawat atau orang lain. Ipek takut terjadi apa-apa dengan Wahid dan dia tidak berada di sampingnya membuat Ipek pasti akan diselimuti dengan rasa penyesalan.
[Yah, padahal aku berharap banget bisa jalan sama kamu sama Intan juga momen dengan para cewek-cewek sebenarnya pengin sama bumil juga ikut, tapi kasian perjalanan jauh takut nanti malah kecapean. Usahain napa Pek sekali saja kita jalan gitu, lagian kalo ada kamu kan bisa saja Arzen nurut. Kalo cuma kita bertiga kayaknya masih kurang deh buat rayunya.] Zawa sebenarnya nggak mau memaksa, tapi kalo Ipek nggak ikut dengan mereka otomatis Clovis pun pasti akan tidak bisa menemui Wahid.
[Aku pikir-pikir dulu deh Wa, besok aku jadi ikut atau nggaknya akan diifokan sama kalian.]
Baik Ipek maupun Zawa akhirnya memutuskan sambungan teleponya. Ipek jadi dilema antar ikut dengan Zawa dan Intan atau tetap di rumah sakit dengan kejenuhanya. Jujur Ipek sangat kangen sama ambu dan abahnya. Semenjak Wahid pergi keluar negri ia hanya beberapa kali mengunjungi ambu dan Abah, ditambah sekarang ia sibuk menjaga suaminya sehingga untuk komunikasi pun hanya sesaat. "Pasti kalo aku tiba-tiba datang untuk memberikan kejutan sama Ambu dan Abah mereka bahagia," batin Ipek dia jadi pengun Ikut dengan Zawa dan Intan untuk menjemput Arzen.
"Kalo gitu aku besok ikut saja deh," gumam Ipek dengan bersemangat. Sedangkan untuk menunggui suaminya Ipek bisa minta tolong umi, perawat yang dibayar khusus untuk menjaga Wahid, atau kalo perlu ia akan meminta asisten rumah tangga di rumah keluarganya ia tarik lagi biar saling ganti-gantian untuk menjaga suaminya, sehingga apabila terjadi apa-apa banyak orang yang sigap menjaganya.
Ipek membayangkan bagaimana reaksinya Arzen nanti apabila ia datang bersama dengan wanita yang masih menjadi orang nomor satu dihatinyan. Ipek membayangkan pasti bakal ada adegan baper dan malu-malu kucing. Ipek pun tersenyum sendiri membayabgkan hal itu. Padahal ia belum tahu bagaimana reaksi sesungguhnya antar Aarav dan Zawa, tetapi Ipek sudah berhalu ria.