Beauty Clouds

Beauty Clouds
Usaha Dapat Jodoh



Setelah makan siang bersama dan membahas mengenai wasiat Wahid. Keluarga Wahid pun sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini tinggal teman-teman Ipek dan keluarganya.


Teman-teman Ipek yang rencananya hari ini pulang pun berpamitan kesemuanya termasuk Ipek, karena mereka tidak bisa terlalu lama di sini, sebab masih ada kerjaan yang harus mereka kerjakan esok harinya.


"Abah, kami mau sekalian pamit kembali ke Ibukota, karena besok harus mulai kerja lagi. Terima kasih buat sambutanya, dan kami mohon maaf kalo selama di sini salah satu dari kita ada salah sikap atau pun salah kata. Mohon dengan lapang dada di maafkan." Arzen mewakili semuanya. Itu semua karena Arzen memang yang lebih kenal dengan Abah maupun keluarga Ipek. Tiga bulan selama menjadi santri di pondok dan aktif di dapur dan kegiatan yang lainya membuat Arzen mudah bergaul dan banyak kenalan dengan yang lainya.


"Iya, Abah maupun yang lainnya pun minta maaf apabila ada yang kurang berkenan dari ucapan kami maupun sikap kami." Abah mewakili keluarga Ipek saling membuka pintu maaf lebar dan memaafkan juga teman-teman Ipek.


Mereka pun berpamitan dengan Ipek dan keluarganya satu persatu. Masih terlihat dengan jelas baik Abi maupun ke empat abang-abang Ipek yang sangat dingin dengan Clovis. Untung Clovis juga anaknya tidak terlalu ambil pusing ia lebih suka membuktikan kemampuanya, dari pada harus berfikir buruk.


"Ipek, Mba pamit yah, kamu jaga kesehatan dan ikhlaskan semuanya. Insyaallah akan ada jodoh yang lebih baik lagi." Ody adalah orang pertama yang berpamitan dengan Ipek. Dan juga kakak Mayra yang sekarang berumur sudah hampir empat tahun menambah gemas, gembil dan tentunya tambah cerewet.


Ipek berjongkok dan mengendong Mayra yang sejak tadi menatap tante cantiknya dengan heran, mungkin gadis kecil itu bertanya kenapa tante cantiknya sedih. Ipek mencium Mayra dengan gemas baru gadis cantik itu tersenyum dan mencium balik pipi Ipek seolah gadis cantik itu memberikan kekuatan untuk Ipek.


"Iya Mba, Ipek pasti kuat ko, Ipek sudah belajar ikhlas dengan semua yang terjadi di hidup Ipek. Memang mungkin jalan takdirnya harus seperti ini pasti Ipek juga akan berusaha untuk berserah dengan semua takdir Allah." Ipek dan Ody saling berpelukan sebagai dukungan untuk Ipek.


"Tapi kayaknya kalo Mayra ditinggal di sini bareng tante, Ipek akan lebih happy Mba," ujar Ipek sengaja meledek Mayra, betul sajah gadis cantik itu langsung melotot dan kaget dengar ucapan tante cantiknya.


"Enggak mau Tante. Mey kan halus sekolah, iyakan Bunda?" Mayra takaut kalo benaran ditinggal di sini. Ody dan yang lainya pun tertawa melihat tingkah Mayra yang menggemaskan terlebih gadis kecil itu langsung memberontak ingin turun dari gendongan Ipek dan tidak mau digendong lagi karena takut ditinggal sama Bunda dan Papahnya.


"Pek kamu yang kuat yah, di sini jangan lama-lama aku sama Arzen bentar lagi nikah loh. Kamu harus jadi panitia untuk pernikahan aku dan Arzen." Sekarang giliran Zawa yang dapat bagian untuk berpamitan dengan Ipek dan memberikan dukungan agar Ipek tidak bersedih dan cepat kembali ke Ipek yang jahil dan iseng.


Ipek langsung melotot mendengar ucapan Zawa. "Beneran kalian mau langsung nikah?" tanya Ipek seolah tidak percaya baru juga ketemu kemarin udah mau langsung kepenghulu.


"Benar lah, kan kata Abah dan Abi kamu juga makin cepat makin baik. Kalo kelamaan syetan banyak dan nanti malah tergoda rayuan syaiton lagi," kelakar Zawa. Yah, baik Zawa dan Arzen memang sepakat untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Mereka tidak ingin pernikahan yang mewah yang terpenting sah di mata agama dan negara dan hidup berbahagia selamanya. Saling mengingatkan di jalan yang benar. Itu perinsif Zawa maupun Arzen.


"Wah, kalian hebat. Semoga semua persiapanya lancar yah. Rencananya kapan, biar nanti Ipek bisa bantu kecil, kecilan buat mepersiapkan yang ecek-ecek?" tanya Ipek dengan antusias, senang juga pastinya akhirnya Arzen bisa menikah dengan Zawa wanita yang Ipek tahu selalu ada nomor satu di hati sahabatnya itu.


"Untuk pastinya belum tahu Pek, soalya kan aku belum bilang ke keluarga besar dan belum kenalin Arzen juga. Kalau itu udah aman, kami rencananya sih nggak akan nunggu lama langsung di buat sah ajah. Biar pacaranya halal dan dapat berkah." Zawa dengan wajah malu-malu menjawab dengan yakin apa yang Ipek tanyakan.


Ipek pun langsung memeluk Zawa yang bagi Ipek sifatnya sangat halus cocok dengan Arzen yang memang memiliki sifat tidak keras juga.


Kali ini setelah Zawa yang berpamitan. Intan pun dapat giliran, tetapi malah sepertinya wajah Intan lebih murung dari pada wajah Ipek yang tengah berduka. Setelab mendengar kabar bahagia dari Zawa Ipek memang lebih bersemangat lagi, dan ada seburat senyum yang menghiasi wajahnya.


"Aku bingung mau ngomong apa sama kamu, soalnya kayaknya aku malah yang harus lebih di kasih dukungan sama kamu, Pek," ucap Intan tetap dengan wajah masamnya.


Ipek mengernyitkan dahinya heran campur aneh banget. Kenapa bisa Intan yang lebih sedih ada hubungan apa Wahid dan Intan? Itu yang ada di dalam fikiran Ipek "Kok bisa dokter lebih sedih dari Ipek, apa dokter ada hubungan sepesial dengan suami Ipek?" tanya Ipek dengan to the poin.


"Buuukkk...(Intan menepuk bahu Ipek) Hust, sembarangan kamu kalo ngomong. Ketemu ajah waktu udah jadi mayid, bisa ada hubungan di belakang nanti aku jadi hantu dong. Aku lebih sedih dari kamu soalnya aku masih jomblo, dari dulu sampai sekarang jomblo berkarat inih," ucap Intan dengan menunjukan wajah masam.


Hehehe... Ipek pun terkikik mana kala mendengar jawaban Intan yang sangat menyedihkan memang.


"Tuh kan kamu mah seneng banget kalo aku begini, teman sedih malah di ketawain ya itu kelakuan Ipek," sungut Intan, yah walaupun Intan tidak serius dengan ucapanya dia hanya bermaksud menghibur Ipek dengan merosting dirinya sendiri yang memang dari dulu selalu tidak memiliki kekasih. Entah kenapa, lelaki yang mau mendekati Intan selalu gagal dan berbalik. Padahal Intan merasa bahwa dirinya bukan wanita yang galak-galak banget. Tetapi tidak ada laki-laki yang mau menjadi kekasihnya. Wajah juga Intan itu cantik tinggi dan badan pas tidak gemuk dan tidak juga kurus.


"Loh bukanya mau dibikinin perjodohan dengan Tama, nanti deh Ipek makcomblangin Dokter Intan dengan teman Ipek Tama, mau kan?" ledek Ipek yang langsung di balas anggukan semangat dari Intan.


Nah akhirnya kamu sadar juga Pek, maksud ku berpura-pura sedih," Intan, yang niatnya memang minta di jodohkan dengan Tama, yah siapa tau tembus ke penghulu kan lumayan, nggak jadi perawan tua, seperti yang teman-teman Mommynya katakan udah memasuki umur kepala tiga tapi belum punya jodoh juga, jangan kan jodoh kekasih pun belum punya kan miris banget yah.


"Huh... loe mah Tan bisa banget pepet Ipek buat cariin jodoh, hati-hati kamu Pek, dia penjilat," bisik Zawa, yang memang biar meledek Intan.


Bukkk... Intan memukul pundak Zawa. ''Awas yah jangan ganggu lagi usaha cari jodoh," balas Intan ngusir Zawa yang ganggu ajah misi Intan. Seketika itu juga mereka tertawa, lumayan kan tidak terlalu sedih terus karena Intan memang yang usil dan jahil nomor satu selalu bikin suasana rame.


"Hahaha... aku jadi takut nanti Tama tiap hari kalo jadi suami dokter malah di jahilin terus," bisik Ipek ketika mereka mulai berjalan ke palkiran karena mereka semua sudah harus melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta.


"Iya pasti lah Pek aku nggak akan biarkan dia diam melamun, pasti aku jahilin terus, apalagi kalo di kasur sifat jahil aku tidak ada lawan," balas Intan dengan wajah tengil dan alis naik turun.


Yah Ipek memang belum pernah berjahil-jahilan dengan suaminya tetapi Ipek tahu apa maksud Intan, apalagi Intan adalah orang paling jago teori soal begituan. Malah sering memberikan saran yang enak agar cepat dapat debay, tetapi kalo soal praktik Intan adalah orang paling payah.


Mereka pun akhirnya kembali ke Jakarta setelah berpamitan dengan Ipek dan keluarganya. Kini suasana pondok kembali berduka, setelah tadi sempat ada canda tawa sedikit dari keusilan Intan dan yang lainya. Ipek pun setelah mobil teman-temanya tidak terlihat lagi langsung kembali ke kamarnya.


Abi yang ada di situ pun heran, "Apa Ipek marah sama Abi yah, yang tidak setuju putri Abi dinikahi oleh Clovis," batin Abi bingung dengan sikap putrinya, yang sejak tadi Abi perhatikan tidak mau menatap dirinya, seoalah Ipek marah dengan keputusan yang ia buat untuk kebaikan dirinya,


"Perasaan Abi tidak mempermalukan Clovis terlalu parah kan?" Lagi, Abi ada perasaan yang tidak enak takut terlalu keras dengan Clovis, sehingga Ipek merasa malu atau bersalah dengan perkataan orang tua dan Abangnya.