
Intan setelah cuci muka dan gosok gigi serta tentu ganti pakaianya ia pun langsung menaiki mobilnya kembali kehotel tempat Zawa dan Arzen mengadakan pesta pernikahan.
Dikarenakan masih pagi jalanan pun belum terlalu padat penggunanya sehingga Intan tidak butuh waktu lama kinia wanita cantik itu sudah ada di lobi hotel. Dengan langkah malas karena masih mengantuk, Intan pun menuju kamar Intan setelah memasukan kode keamanan yang emang Intan sudah ketahu ia langsung masuk ke dalam kamar pengantin baru itu. "Astagah kenapa kamar seperti gudang sih." Itu yang ada di dalam batin Intan.
Di sana masih dengan posisi yang sama yaitu Arzen duduk di samping Zawa dengan mengusap perut istrinya, padahal caranya itu sama sekali tidak membuat rasa sakitnya berkurang.
Intan masuk dengan wajah yang ditekuk, kusut, dan tidak kalah kacau dengan wajah pengantun baru yang semalaman bertempur.
"Emang kalian ngapain ajah sih sampe harus ngerepotin gue pagi-pagi? Kalian nggak tau apa, gue itu juga masih cape, masih sangat ingin istirahat. Tapi kayaknya memang kalian itu diciptain buat ngeganggu gue sehingga tidak tenang banget kalo liat gue happy sedikit ajah," oceh Intan sembari jalan dengan malas ke arah Zawa.
Zawa hanya tersenyum dengan bangga, sememtara Arzen ia justru kebalikanya dari Zawa, Arzen menunduk seolah malu bahwa dirinya sudah membuat istrinya jadi seperti ini.
"Kalo begitu aku keluar dulu yah Tan, Wa, mau cari sarapan. Kamu ada pengin sesuatu Tan? Biar aku belikan." tanya Arzen sebelum pergi.
"Belikan aku makanan yang enak, sebagai bayaran karena sudah menggangguku pagi-pagi dan jangan lupa tagihan kalian memanggil aku siapkan, karena biayanya tidak murah," oceh Intan dengan wajah jutek.
Buuukkk... Zawa menimpuk pundak Intan yang saat ini ada di sampinya. "Buruan periksa, pasienmu udah kesakitan masih ajah ngoceh," ujar Zawa agar Intan tidak terus- terusan mengoceh hal yang tidak penting, karena dirinya sudah ingin buru-buru diobati.
Sementara Arzen sekarang sudah keluar karena memberikan waktu untuk Intan memeriksa area yang sakit, kalau Arzen masih ada di sana yang ada Zawa akan malu dan juga Intan memeriksanya akan tidak nyaman. Sehingga Arzen memilih alasan untuk mencari sarapan. Eh, tapi memang beneran kok buat cari sarapan, karena perutnya sendiri juga sudah lapar.
"Nanti dulu, gue mau marah dulu sama kelakuan loe, lagian loe main gimana sih. Gue mah gemes sama loe, masa iya katanya dokter tapi nggak tahu cara bermain aman. Pelan-pelan Zawa! Pelan-pelan, jangan ada polisi tidur loe malah injek gas kenceng. Mental yang ada loe luka-luka Zawa. Rem, di rem biar aman." Intan bener-bener menasihati Zawa karena pasien yang satu ini bandel dan nyolot lagi.
Hahahaha... Zawa pun justru tertawa dengan renyah, di karenakan nasihat Intan tidak akan mempan kalo sudah tahu enaknya naik-naik ke puncak bukit. Intan bicara seperti itu karena belum tahu gimana enaknya permainan itu, permainan yang orang rela membayar uang lebih bahkan untuk sekedar menggunakan wanita penghibur agar bisa dapat menikmati kenikmatan duniawi. "Loe bisa ngomong begitu karena loe nggak perasakanya, coba kalo loe sudah merasakanya, terus pagi-pagi loe nyari-nyari gue, gue bawain parutan jahe biar langsung anget tuh apem." Zawa tidak kalah melakukan pembelaan diri. Agar Intan tidak mengoceh terus karena pasti dia juga nanti ketika malam pertama bisa-bisa lebih dari Zawa, apa lagi sifat Intan yang lebih bar-bar.
"Hemz... enggak mungkin gue kaya gitu karena gue buka Hypers*k," ejek Intan, dengan percaya diri.
"Ok... ok gue pasti tahu soalnya loe kan nikah nanti sama Dokter yah jadi kalo pun terjadi demam kayak gue, pasti suami loe udah siapin penangkalnya," balas Zawa tidak mau berdebat lagi. Lebih baik Intan buruan obati dia karena rasa sakitnya sudah sangat menyiksa.
"Maksud loe apa, suami gue dokter? Siapa emang, sok-sokan lagi tahu siapa calon suami gue. Lah gue ajah malah nyari-nyari calon suami." tanya Intan kenapa juga Zawa justru seolah tahu betul jalan takdirnya.
"Dokter Chandra, sang DUREN SAWIT duda keren sarang duit hahahaa..." Zawa tertawa dengan renyah lagi.
Sehingga sebuah toyoran berhasil mendarat di kepala Zawa. " Kalo ngomong jangan asal, timbulnya fitnah! Jadi di periksa nggak, apa jangan-jangan ini cuma alasan loe ajah biar gue tau gimana kacaunya kamar loe ini menandakan loe memang ganas banget," ujar Intan sembari menatap seisi kamar Zawa yang memang sangat berantakan sehingga lebih mirip dengan gudang terlebih kelopak mawar berantakan di mana-mana.
"Jadi Bu dokter, sakit banget," renget Zawa seolah seorang pasien yang sangat membutuhkan bantuan dokter.
"Mananya yang sakit?" tanya Intan, yah walaupun ia sudah tahu yang sakit adalah bagian sensitif Zawa.
"Setop!!! Jangan di tunjukin!! Masa gue harus liat peabotan loe yang habis diobrak-abrik sama suami loe," protes Intan.
"Ya gimana atuh Bu dokter kalo nggak diliat, gimana Ibu bisa priksa pasienya dan ngobatin kasih salep itu," ucap Zawa sembari menunjuk salep pereda bengkak dan nyeri yang Intan bawa.
"Ya kalo soal ini loe bisa oles sendiri atau minta bantuan suami loe buat ngolesinya kan bisa. Kenapa mesti gue?" Intan tetap tidak mau menjalankan tugasnya dan tidak mau periksa Zawa, segimana parahnya sakit Zawa.
"Ayo lah Dok, bukanya dokter sudah biasa liat begituan. Kalo bantu lahirin malah di colok-colok tuh benda keramat, belum kalo pasang alat penunda kehamilan juga diintip-intip tuh benda keramat. Sampai loe pasti udah biasa banget sama hal gituan. Jadi apa bedanya dengan punya gue, malahan gue udah ngelakuin perawatan khusus buat malam pertama, dijamin wangi dan bersi no bulu-bulu," ucap Zawa tanpa fifter ngomongnya.
Memang benar sih yang dikatakan Zawa, sehingga sebagai dokter sepesialis perAnuan baik Intan dan Zawa sudah sangat biasa melihat gituan.
Intan pun nampak menimang, apakah dia akan mengoleskan salap ke area yang terluka milik Zawa. Mungkin memang Zawa hanya mengerjai dirinya sajah, tapi juga nanti kalo Zawa hamil juga kemungkinan dia yang memeriksanya.
"Ya udah coba gue liat! tapi awas yah kalo loe ternyata cuma mau ngerjain gue. Gue pastiin loe pasti akan mendapatkan lebih dari ini," ancam Intan tetapi pada akhirnya memeriksa Zawa juga.
"Iya Dok, mana berani sih pasien ngerjain dokter, orang beneran kok sakit, coba deh dokter pegang kening pasienmu ini! Panas Dok," ucap Zawa dengan nada dibikin semanja mungkin dan itu rasanya sangat menjijihkan sekali terutama di telinga Intan.
Memang sebagai dokter kandungan sudah sangat sering sekali sih memeriksa pasien kasus seperti Zawa, di mana biasanya suaminya terlalu bersemangat sehingga membuat istrinya demam karena luka robek dibagian bawah sana. Arzen? tapi kalo Arzen rasanya tidak mungkin berbuat brutal seperti itu apalagi Arzen anak yang sangat pendiam dibanding yang lainya. Andai itu Clovis atau Aarav bahkan Chandra, Intan mungkin ngerti karena dua laki-laki itu termasuk penjahat kelamin handal, kalo Arzen bicara saja lemah lembut. Masa iya sampai tega membuat Zawa meriang begini. Itu yang ada di fikiran Intan.
Zawa pun dengan perlahan dan berhati-hati membuka kedua kakinya dengan lebar, agar Intan memeriksanya. Begitu Intan bisa melihat dan memeriksa bagian sensitifnya.
"Ya ampun Zawa, kalian main pake apa, kenapa bisa sampai bengak begini? Apa ini buat buang air kecil nggak meronta perih?" tanya Intan mungkin dari sekian kasus, luka milik Zawa adalah paling parah. Dan parahnya lagi bu dokter tidak ada persiapan obat pereda nyeri sehingga tubuhnya meriang.
"Main biasa Dok, cuma langsung hajar dua r*nde," bisik Zawa, dan berhasil membuat Intan melotot, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang Zawa dan Arzen ini unik. Di lihat dari luar dua orang ini sangat pendiam dan jarang bercerita seperti Intan yang bar-bar. Namun ketika di atas ranjang mereka adalah pemain yang kasar.
Intan pun dengan pelan mengoleskan salep agar tidak membengkak dan merah seolah tomat yang sudah matang. Tidak hanya itu Intan juga memberikan obat-obatan yang harus Zawa minum. Tentu berbagai pantrangan dan nasihat demi kebaikan Zawa.
"Ingat kalian jangan berhubungan dulu selama satu minggu. Kalo mau cepat sembuh, kalo tidak ya terserah tapi jangan cari-cari aku lagi kalo nanti luka lagi, dan lebih parah dari ini," ucap Intan dengan nada mengancam. Sontak kedua bola mata Zawa langsung melebar.
"Gila loe yah Tan, masa nggak boleh gituan selama seminggu, puasanya lama banget. Mana tahan," protes Zawa yang merasa keberatan dengan pantrangan yang di perintahkan Intan.
"Kan gue bilang terserah, loe habis ini mau enak-enak lagi ya terserah tapi gue jamin salep tidak akan mempan yang ada loe bisa masuk rumah sakit dengan kasus kekerasan s*ksual." Intan terus menakut-nakuti Zawa. Namun Zawa yang profesinya sama seperti Intan tentu merasa bahwa Intan hanya menakut-nakuti dirinya saja.
"Kira-kira yang di bilang Intan benar nggak yah, masa iya seminggu. Kasian Arzen dong baru buka puasa harus puasa lagi," batin Zawa dengan wajah lesu.
#Nah kan, macem-macem sih kalian Arzen, Zawa....