
Keesokan harinya Ipek sangat berantusias karena akan menjenguk baby boy anak Ody. "Abang, ayo dong buruan, lama banget sih," beo Ipek. Biasanya laki-laki yang akan menunggu dengan tidak sabar pasangan perempuanya, tetapi kalo Ipek justru yang harus menunggu Clovis si perfeksionis. Ipek baru tahu ternyata suaminya benar-benar sangat memperhatikan sekali penampilanya. Bahkan untuk mandi Clovis akan membutuhkan waktu satu jam. Pakaian harus rapih tanpa lipatan atau kucel yang terlihat jelas. Dan segala pernak-penik penunjang pakaian harus benar-benar macing dengan apa yang ia pakai.
Sangat berbeda dengan Ipek, mandi bahkan ia tidak akan mau berlama-lama. Yang terpenting, sampo, sabun dan gosok gigi terakhir cuci muka dengan pembersih wajah. Itu pun paling lama setengah jam. Pakai baju wajah di poles seadanya dan terakhir lipstik dengan warna yang natural. Tapi wajah ayunya sudah sangat nyaman di pandangin.
"Astagah, Abang... Kamu mandi atau ngapain sih," dengus Ipek kembali meneriaki suaminya yang dari satu jam lalu udah masuk kamar mandi.
"Iya sayang, ini sebentar lagi nih," ucap Clovis dari dalam kamar mandi dan itu dari tadi sebentar lagi dan sebentar lagi belum juga selesai.
"Kalo emang Abang, masih lama Ipek jalan sendiri ajah deh," ucap Ipek kesal.
"Jangan sayang, ini Abang udah selsai," pekik Clovis dari kamar mandi. Di mana tubuh penuh busa setelah berendam di bathtab ia guyur dengan air hangat.
Brakk... Suara pintu tertutup kencang. Clovis dari dalam kamar mandi sudah mulai panik. Ia buru-buru mengeringkan tubuhnya dan juga tanganya dengan lihat menggosok-gosok rambutnya. Begitu keluar dari kamar mandi. Clovis sudah tidak melihat Ipek lagi.
"Baby... Baby..." Clovis memanggil Ipek yang di depan kamar tengah terkekeh. Kalau tidak bergitu dijamin Clovis akan keluar dari kamar mandi dua jam kemudian. Sangat-sangat membosankan apabila menunggu suaminya selesai mandi.
Clovis yang panik kalo Ipek benar-benar akan berangkat lebih dulu pun segera memakai pakaian yang ada di atas kasur, Ipek yang sudah mempersiapkanya. Hanya butuh waktu sepuluh menit Clovis bersiap. Waktu yang sangat singkat apabila dibandingkan dengan biasa-biasanya. Setengah jam hanya dibutuhkan untuk bersiap. Ipek harus membiasakan kebiasaan Clovis, sebenarnya itu tidak masalah hanya saja kalau ada acara seperti ini, janji dengan yang lain rasanya akan bikin orang lain kecewa dengan janji mereka yang ngaret.
Clovis buru-buru keluar dari kamarnya dan hendak segera turun dari tangga. "Ya ampun, Baby ternyata kamu masih di sini, kirain kamu marah dan sudah berangkat lebih dulu," oceh Clovis dengan sangat lega, setidaknya ia tidak berangkat seorang diri. Apalagi harus ke rumah sakit sendiri-sendiri rasanya terlalu aneh. Yang ada nanti bakal diledekin oleh teman-temanya. Masa pengantin baru tapi sudah marahan.
Ipek yang sejak tadi melipat tanganya pun, langsung berekting marah. "Seharusnya tadi Ipek sudah pergi, tapi di luar ada Abi, nanti Abang di omelin, Ipek masih tidak tega, kalo harus lihat Abang kena omel sama Abi, tapi kalo cara Abang kaya gini terus, Ipek enggak mau pergi-pergi sama Abang lagi. Waktunya habis hanya untuk nunggu Abang yang mandinya lama banget," ancam Ipek, dengan wajah dibikin se BT mungkin dan tentu hal itu membuat Clovis merasa sangat bersalah.
"Baby, maafkan Abang, lain kali Abang akan berusaha merubah sifat buruk Abang. Udah kebiasaan dari dulu kalo mandi lama terus jadi suka kelupaan kalo di kamar mandi," ucap Clovis wajahnya yang sangat merasa bersalah ia tunjukan, niatnya tadi juga hanya mandi biasa tapi lagi-lagi ia berendam dulu dan akhirnya ketiduran. Yah, seolah sudah menjadi kebiasaan kalo di kamar mandi ia akan ketiduran di bathtab. Tempat itu seolah tempat ternyaman untuk merilekskan tubuh lelahnya. Apalagi pengantin baru setiap malam lembur dan tidak cukup satu kali pula. Ketika pagi menyapa ia akan mulai bangun lagi dan bersiap sholat Subuh, setelahnya akan pergi berolahraga keliling komplek.
"Janji loh Bang, jangan di ulang lagi! Kali ini Ipek maafin Abang, tapi tidak buat besok-besok. Ipek nggak mau mentolerin Abang pokoknya Ipek akan pergi sendiri. Biarin Abi marah sama Abang juga," dengus Ipek dengan kesal, tapi dihatinya masih bisa tertawa renyah melihat penyesalan Clovis.
Memang ini bukan hal yang tidak harus dipermasalahkan, tetapi kalo tidak Ipek tegur Clovis akan mengulangnya lagi. Contohnya hari ini Ipek dan Clovis janjian dengan Zawa jam sembilan pagi. Gara-gara Clovis bahkan jam setengah sepuluh masih di rumah, sementara Zawa dan Arzen entah sudah berapa kali menghubungi Ipek dan akhirnya mereka berangkat lebih dulu ke rumah sakit. Teman-temanya juga sudah pada menunggu di rumah sakit, hanya Ipek dan Clovis yang masih di rumah.
Andai sifat Clovis tidak di rumah pasti akan ada yang kecewa lagi kedepanya. Sehingga Ipek memilih berpura-pura marah dan membuat Clovis disiplin waktu, terutama mandi yang sangat lama.
Setelah ibu negara tidak marah-marah lagi, Ipek dan Clovis pun pergi ke rumah sakit menyusul Zawa dan Arzen. Tentu di sana juga nanti akan ada Intan dan yang lainya.
****
"No... No... No... Tante kalo mau pegang dede bayi halus cuci tangan. Tangan tante kotol." Meyra ternyata sejak tadi ada di samping bok adiknya tengah menjaga kalo ada yang pegang dede bayi harus cuci tangan pakai sabun, sebab kalo dari luar kotor dan itu membuat adik bayinya bisa sakit.
Zawa pun kaget, diingatkan oleh anak usia empat tahun. Sementara Ody terkekeh dengan kelakuan anak pertamanya yang super protektif. Dia benar-benar calon kakak yang galak dan menjaga adiknya.
Zawa pun mengikuti apa kata satpam kecil pergi mencuci tangan padahal dia sudah enggak sabar pengin mencium anak Rio dan Ody yang sangat tampan itu. Tapi sepertinya satpam kecil memang sangat galak.
"Bu satpam, ini saya sudah cuci tangan lalu apa lagi?" tanya Zawa sembari menunjukan tanganya yang wangi nan bersih itu.
Meyra pun mengambil masker agar Zawa dan Arzen memakainya. Dan setelah itu baru boleh memegang adik bayinya.
"Oh astaga Ody, kayaknya Mey legih protektif dari emak, bapaknya," bisik Zawa di balik telinga Ody dan Ody pun membenarkanya. Bahkan Ody bercerita di mana Rio juga sama kena marah Meyra karena menggendong anaknya tidak menggunakan masker. Zawa pun terkekeh.
Belum juga Zawa benar-benar menggendong baby boy. Ipek dan Clovis datang.
"Mba Ody... Mana si ganteng, aku mau gendong." Ipek yang baru datang langsung menyelonong mencari ponakanya dan dengan percaya diri langsung mencium si boy.
Hua... Hua... Hua... Suara tangis Meyra memenuhi ruangan dan semuanya pun bingung ada apa dengan anak itu, apa keinjak atau kenapa? Pasalnya dari tadi bolak balik terus.
"Kenapa kakak nangis?" tanya Ody dengan lembut.
"Tante jangan pegang adik bayi tanganya belum dicuci, dan belum pake maskel," celoteh Meyra dengan wajah masih sedih dan isakan tangis masih tersisa.
Semua yang ada di ruangan itu pun serentak tertawa. Kebahagiaan yang simpel tetapi tidak akan bisa diulang kembali.
...****************...
Hai... Hai... Hai... Othor bawa rekomendasi novel yang sangat bagus nih, kalian wajib mampir k karya temen othor yah...
Yuk ramaika...