Beauty Clouds

Beauty Clouds
Sakit Kepala



Dirumah Dokter zawa...


Emly memang untuk saat ini ia menjadi sosok yang penurut, semua yang di sarankan Zawa, ia ikuti biar pun dengan terpaksa, seperti saat ini, Emly sudah mau minum susu ibu hamil dan juga meminum vitamin untuk kandunganya.


Namun, didalam pikiran Emly ia sedang menyusun rencana, agar ia bisa membalas dendam buat Rio dan teman-temanya.


Cara kemarin Emly gagal, justru dirinya yang terjebak dalam permainan itu, maka sekarang Emly akan coba menggunakan keluarga Rio.


"Mamih, dan Papihnya Rio sangat sayang denganku, mereka kan juga belum tau kalo hubungan kami sudah berakhir, aku akan cari cara agar Mamih bisa membela aku, dan akan menyalahkan Rio, anaknya." batin Emly berfikir dengan keras gimana caranya ia akan mengambil hati Mamihnya Rio.


Beberapa hari ini Emly sudah menghubungi orang kepercayaanya agar memata-matai Rio dan temannya, Emly Ingin tau apa sajah yang terjadi selama Rio putus denganya. Pastinya kalo sudah tau celah kelemahan Rio, Emly akan gunakan untuk mengambil kepercayaan Mamih Narin.


"Mudah-mudahan ajah orang suruanku bisa cepat menemukan informasi menyangkut apa yang terjadi sama Rio selama aku nggak disampingnya." gumam Emly pelan agar tidak ada yang mendengar.


Untuk rencana kali ini Emly melakukanya dengan sangat hati-hati dan juga teliti, kegagalan untuk kedua kali nggak ingin Emly rasakan, lebih baik pelan tapi pasti, dari pada buru-buru tapi berantakan seperti kemarin.


***


Di rumah Rio...


Pagi hari Rio terbangun, tiba-tiba sajah kepalanya kembali sakit seperti kemarin.


"Aduh ko kepalaku sakit lagih sih, padahal semalam aku tidur cukup awal," batin Rio sambil memijat pelipis kepalanya dengan lembut.


Rio menghubungi Chandra, agar datang kerumahnya, sepertinya ini bukan sakit kepala karena kurang tidur seperti dugaan Rio kemarin.


"Hallo... ada apa Yo?" sapa Chandra dari sebrang telpon.


"Ndra, kamu kerumah yah, akhir-akhir ini gue sakit kepala tolong loe periksa gue," ucap Rio dengan menahan rasa sakit di kepalanya.


"Ya udah gue kesana," jawab Chandra dengan menahan rasa kantuknya.


Rio menutup telpon, lalu ia lanjutkan dengan berbaring di ranjang empuknya...


Tidak sampai tiga puluh menit Chandra sudah ada di rumah Rio.


"Mbok, Rio gimana keadaanya?" tanya Chandra ketika pertama kali masuk, kebetulan yang buka pintu Mbok Karti.


"Loh memang Dokter Rio kenapa?" tanya balik Mbok Karti bingung.


"Emang Mbok nggak tau, tadi Rio telpon katanya pusing dari kemarin." jawab Chandra memberitahu Mbok Karti.


"Kalo kemarin iya dokter Rio ngeluh sakit kepala, kirain sekarang sudah sembuh. Soalnya kemarin siang sampai tadi malam sudah kembali sehat Mbok liat", jelas mbok Karti


Chandra naik kekamar Rio, diikuti Mbok Karti di belakangnya.


Tanpa mengetuk pintu, Chandra masuk kekamar Rio, nampak Rio masih berusaha meredakan sakit kepalanya dengan memijit-mijit kepalanya.


"Sakit banget yah?" tanya Chandra ketika melihat Rio memijat pelipis kepala dan meringis kesakitan.


"Yah, nggak tau udah dua hari ini kalo pagi kebagun tiba-tiba karena sakit kepala ini." jawab Rio dengan muka masih menahan sakit.


"Kenapa Dokter Rio nggam bilang kalo sakit?" tanya Mbok Karti merasa iba melihat kondisi Rio.


"Baru kerasa lagi Mbok, makanya aku langsung telpon Chandra buat periksa." ujar Rio.


Chandra mulai menyiapkan alat-alat buat memeriksa Rio.


"Seluruh pemeriksaan hasilnya bagus ko Yo, Chandra menunjukan hasil pemeriksaanya."


"Iya,... tapi kenapa kepalaku sakit sekali yah?" tanya Rio bingung.


"Coba kamu nanti lanjutin ke rumah sakit, jalani pemeriksaan menyeluruh, takutnya ada pernyakit yang bersarang di kepala loe." ucap Chandra sambil menunjuk kearah kepala Rio.


" Ih, amit-amit jangan sampai deh," ucap Rio.


"Ya makanya kalo udah di cek keseluruhan kan bisa ketahuan ada sakit apa nggaknya." beber Chandra sambil merapihkan alat-alat pemeriksaanya.


Chandra memberikan obat pereda nyeri untuk sementara Rio minum.


Setelah memastikan Rio sudah lebih baik kondisinya. Chandra pun pamitan untuk pulang, karena ia juga akan bekerja.


"Rav, lo buruan kerumah yah" Rio mengirimkan pesan keAarav.


Rio bersiap, pagi ini ia akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui ada atau tidaknya pernyakit di tubuhnya.


Begitu sampai rumah sakit, Rio langsung menuju keruang Dokter spesialis saraf, setelah menjalankan beberapa pemeriksaan di sarankan agar Rio melakukan pemeriksaan lanjutan. Tujuanya untuk menemukan penyebab munculnya sakit kepala tersebut.


Meliputi MRI dan Ct scan. MRI untuk memberikan gambaran detail pembuluh darah dalam otak. Sementara CT scan untuk memberikan gambaran Struktur otak.


Setelah semua prosedur Rio jalani, sambil menunggu hasilnya. Kini Rio akan kembali keruanganya.


Didalam lift Rio hanya sendiri, badan Rio kembali meriang dan kepalanya kembali pusing bahkan lebih sakit dari sebelumnya.


Ody yang akan turun kebawah menunggu di depan lift, tetapi ketika lift terbuka, Ody melihat tubuh Rio yang berjongkok memegangi kepalanya.


"Dok, Anda kenapa?" tanya Ody khawatir.


"Rio hanya mengeram kesakitan."


"Saya bantu Anda keruangan yah?" tanya Ody sebelum memapah Rio.


Rio mengikuti Ody dengan sedikit terbungkuk, karena memang badan Ody yang lebih pendek dari Rio.


Azra yang melihat Ody memapah Rio, langsung memanggil Aarav, agar membantu Ody yang kesusahan.


Rio dibaringkan diranjang yang memang tersedia diruangan Rio.


"Ko bisa gini?" tanya Aarav dengan sedikit panik.


Rio hanya menggeleng lemah.


Ody yang melihat kondisi Rio timbul rasa iba.


"Dok apa boleh saya pijit kepala Anda? agar merileks kan sarafnya?" tanya Ody dengan sedikit sungkan.


"Kamu bisa?" tanya Aarav, soalnya ini kepala salah pijat bisa lebih bahaya, Aarav mengingatkan Ody agar tidak asal-asalan.


"Insyaalloh Pa, saya akan hati-hati. Lagian ini pijatan ringan, hanya untuk meringankan pusingnya." Jelas Ody berhati-hati.


"Ya sudah coba kamu pijit," ucap Rio dengan manis.


"Tumben banget Dokter Rio mau begitu sajah ngikutin perkataanku, biasanya nolak", batin Ody sedikit aneh.


"Maaf sebelumnya saya menyentuh kepala Anda, Dok." Izin Ody sebelum memulai memijat kepala Rio.


"Hemmmm....." jawab Rio dengan deheman halus..


Ody mulai memijat kepala Rio dengan lembut.


Sebenarnya ada rasa sungkan Ody rasakan, mengingat mereka tak sedekat ini sebelumnya, apalagi ini Ody memegang kepala Rio.


Rio yang merasakan pijatan Ody lembut dan sangat nyaman pun sedikit merasakan sakitnya berkurang.


"Kamu pernah khursus memijat?" tanya Rio penasaran.


"Ah,..dulu Tuan, sudah lama sekali, bahkan sebelum saya menjadi pahlawan devisa." jawab Ody dengan jujur.


"Pantas pijatanmu enak sekali, pas tidak sakit dan juga tidak terlalu ringan." puji Rio.


"Makasih Tuan," ucap Ody pelan masih dengan memijat kepala Rio.


"Sebelumnya tadi kamu bilang pernah menjadi pahlawan devisa? kerja kemana?" tanya Rio kepo.


"Cuma ke Jepang Tuan, selama lima tahun." jawab Ody jujur.


"Bukanya kerja di Jepang gajihnya besar, kenapa kamu nggak pake uang hasil kerjamu buat usaha? jadi kamu nggak usah bekerja seperti ini." tanya Rio semakin ingin tau kehidupan Ody.


"Ya penginya gitu Tuan, tapi nasib baik nggak berpihak denganku. Uang hasil kerja kerasku tidak ada, sampai sekarang belum ada kejelasanya." beber Ody dengan wajah sendu dan matanya sedikit memerah menahan tangis.


Rio semakin penasaran apa sebenarnya yang terjadi dengan Ody, kenapa sepertinya kehidupanya sangat keras.


***Belajar dari setiap kesalahan, dan kamu akan menjadi orang yang lebih baik. Ingatlah, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu***


...****************...


#Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤❤❤