Beauty Clouds

Beauty Clouds
Ody Sakit



"Aku hanya takut Dok, takut kalo Rio nggak mau menerima anak ini," ujar Ody, dan akhirnya tangisanya pecah.


Ipek yang berada di samping Ody langsung memeluk Ody, menenangka perasaan Ody.


"Kalo Dokter Rio tidak mau menerima anak ini, Mba nggak usah sedih. Biar kita besarkan bersama. Ipek akan Mba buat merawat anak ini. Kita kan bestie." lirih Ipek memberikan suntikan semangat buat Ody. Tanpa sadar Ipek juga ikut terharu dengan kondisi Ody.


Intan yang melihat permandangan di depanya ikut merasakan kesedihan. Bagaimanapun Intan wanita pasti merasakan hal yang sama apabila pasangan kita tidak mengkehendaki sebuah pernikahan.


"Gimana pun reaksi Rio kalo tau kamu hamil, tetapi kita harus tetap memberitahunya kondisi kamu Dy. Semoga sajah dengan adanya anak ini sikap Rio berubah." ujar Intan sembari menatap tajah ke Ody dan Ipek.


"Mudah-mudahan ajah Dok," balas Ipek.


Ody hanya mengangguk lemah, ia terlalu takut buat memberi tahu Rio, Ody takut Rio akan kembali kesikapnya yang dulu, dingin, suka menindas dan cuek.


"Kalo kamu takut bicara sendiri sama Rio, biar aku bantu bicara dengannya." ucap Intan yang seolah tau kecemasan Ody.


Lagi-lagi Ody hanya mengangguk lemah, dan muka yang memucat.


"Kamu kenapa? muka kamu kayak pucat?" tanya Intan yang melihat perubahan Ody.


"Nggak tau Dok, kepalaku sakit, padahal tadi baik-baik ajah," jawab Ody jujur.


"Tuh kan, wanita hamil itu nggak boleh setres Dy, santai ajah jangan terlalu tegang. Yu... coba aku periksa dulu." omel Intan yang gemaz dengan kelakuan Ody, belum juga ketemu Rio tapi udah takut duluan.


Ody mengikuti Intan, kembali berbaring di bed periksa, pastinya dibantu oleh Ipek.


Intan memeriksa Ody dengan teliti, "Di infus yah." ucap Intan sembari memasangkan selang infus ditangan Ody.


"Kenapa harus diinfus Dok?" tanya Ipek penasaran apa yang terjadi dengan Ody.


Ody memejamkan mata rasanya terlalu lelah menghadapi serentetan ujian yang terus menerus mengikutinya. Banyak yang mengganggu pikiran Ody, mulai dari Rio, pekerjaan, yang otomastis kalo ia hamil tidak bisa terlalu cape untuk mengumpulkan rupiah, lalu biaya kuliah Hendra, belum biyaya buat dia dan calon buah hatinya. Mengingat dalam perjanjian nikah, semua kebutuhan Ody dan calon buah hatinya, Ody yang tanggung. Gimana dia memberi tahu ibunya kalo ia hamil dan sudah menikah, bisa-bisa ibu ngamuk dan menambah parah sakit ibu.


"Sesak sekali berada diposisiku," batin Ody, ia kembali meneteskan air mata, dalam kondisi mata terpejam.


Ipek dan Intan yang melihat, semakin cemas dengan kondisi Ody. Mereka tau berada diposisi Ody sangat tertekan pastinya.


Intan menarin Ipek keluar. Membiarkan Ody seorang diri di dalam, biar sajah Ody istirahat agar kondisinya cepat pulih.


"Kenapa?" tanya Ipek dengan berbisik, ketika melihat Intan menarinya keluar.


"Aku harus ngomong sama Rio." jawab Intan dengan muka datar.


"Memang harusnya begitu, pergilah. Dokter pergi nemui Dokter Rio, biar Ipek tunggu Mba Ody disini." ujar Ipek.


Setelah Intan memastikan kondisi Ody udah setabil, dan kini Ody tengah tertidur. Intan memang sengaja memasukan obat tidur kedalam ifusan, agar Ody bisa istirahat dengan nyaman.


"Nitip yah, gue mau keruangan Rio." ujar Intan pada Ody. Tak lupa iya membawa hasil USG yang Intan print agar Rio yakin kalo Ody benaran hamil. "Siapa tau setelah melihat calon anaknya Rio akan tergerak hatinya untuk menerima anaknya." guman Ipek lirih.


"Ish.... nggak usah nitip-nitip, juga pasti aku jagain ko." dengus Ipek kesal.


Intan pergi keruangan Rio. Sementara Ipek menjaga Ody, sebelumnya Ipek sudah meminta izin Bu Dewi, untuk tidak kembali bekerja karena memang Ody yang tengah diinfus.


Tentunya Bu Dewi mengizinkan terlebih setelah Ipek mengirimkan foto Ody yang tengah terbaring dengan selang Infus menggantung ditanganya.


...****************...


#Terimakasih buat yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah..❤❤❤