
Setelah satu jam para team medis terbaik berusaha memberikan petolongan pada Baby Angel, karena kondisi yang sangat lemah akhirnya team medis menyerah. Baby Angel tidak dapat tertolong.
Rio yang menyaksikan detik-detik buah hatinya menyerah untuk bertahan hidup pun langsung menjerit dan memeluk malaikat hatinya. Bayi mungil yang masih hangat itu, Rio peluk, cium dan timang selayaknya bayi yang tengah tidur. Hampir semua yang ada di ruangan itu meneteskan air matanya ketika melihat Rio begitu mengingikan kehadiran anaknya.
"Sayang ikhlaskan anak kamu, biarkan ia menjadi menujuk surga buat kedua orang tuanya. Jangan kamu tangisi terus nanti malah Babynya ikut sedih," Mamih selalu menguatkan Rio, sebenarnya hati Mamih pun sedih manakalah melihat anaknya hancur seperti ini.
"Kenapa harus Angel Mam yang pergi? Kenapa bukan Rio? Padahal yang jahat sama mereka Rio Mam, harusnya Rio yang pergi Mam, bukan Angel." Rio masih mengayun-ayun anaknya dalam gendonganya seolah Angel tengah tertidur.
"Kamu harus percaya takdir. Terlepas dari siapa yang salah. Semua ini sudah digariskan oleh takdir, dan jalan seperti ini mungkin yang sudah Tuhan kehendaki. Jadi ayo ikhlaskan Angel untuk dimandikan dan dikafani disholatkan lalu diazankan dan setelah itu kita makamkan. Mamih sudah telpon Mbok Karti agar mempersiapkan semua keperluan pemakaman." Mamih kembali menyadarkan Rio.
"Biar Rio yang memandikan Angel , Mam. Rio juga pengin memakaikan pakeian terakhir Angel, mensholatkan, mengazankan, dan memakamkan Anjel. Rio harus yang melakukan karena Rio yang sudah membuat Angel jadi seperti ini." Rio terus memandangi anaknya yang seperti bayi tengah tertidur, bukan Meninggal dunia! Yah penglihatan Rio, Angel tengah tidur.
"Kalo Rio mau melakukan itu semua, boleh-boleh sajah. Toh Rio memang Papah yang baik jadi Rio harus kuat demi Baby Angel." Mamih terus mendamingi Rio, karena tau anaknya butuh bahu untuk bersandar.
"Mam gimana kondisi istri Rio?" Rio belum sempat melihat Ody maka dari itu ia menanyakan peekembanganya. Rio takut Ody juga mengalami hal yang sama kaya Angel.
"Ody belum sadar, tetapi kata team medis kondisi Ody menunjukan perkembangan yang bagus. Hanya tinggal menunggu dia sadar saja setelah itu kita bisa pindah istri kamu keruang rawat inap." Mamih dengan sabar menjelaskan setiap perkembangan menantunya.
Rio hanya mengangguk, tandanya ia mengerti lalu ia melakukan kewajibanya sebagai Papah dari jasad mungil bayinya. Ia memandikan tubuh mungil Baby Angel. Dengan menahan kesedihanya Rio dengan sangat telaten memandikan anaknya.
"Ini mandi pertama dan terakhir kamu sayang. Kamu mandi sama Papah. Kamu suka kan sayang?" Rio bergumam sembari menggosok tubuh kaku Angel.
Selanjutnya Rio memakaikan pakaian terakhirnya, dengan sangat hati hati Rio kembali melakukan kewajibanya ia memakaikan pakaian terakhir buat Baby Angel.
Selanjutnya Rio membawa ke Masjid rumah sakit untuk mensholatkan jasad Babynya. Sampai saat ini Rio masih tegar dan bisa mengerjakan semua dengan benar.
Selajutnya membawa ke pemakaman umum di mana keluarga besarnya di makamkan. Di sana juga sudah ada Mbok Karti dengan tangisan halusnya, Ka Luna, dan kedua ponakanya Eza dan Ezen.
Di sana sudah ada satu lubang untuk seorang bayi di samping makam kakek dan nenek mereka, dan Rio kembali menggendong bayinya sepanjang perjalanan Rio masih bisa mencium dan memeluk babynya.
Sampai di proses pemakaman Rio pun ikut turun dan mengazankan di samping telinga buah hatinya, dengan suara bergetar dan menahan tangis.
Rio kembali naik keatas dan gundukan tanah perlaham menutup tubuh putrinya.
"Mam, kenapa mereka menutup Angel dengan tanah? Kasian Mam, Anjel pasti kesepian, Mam. Jangan kubur Anjel, dia kasian sendirian." Rio terus merancau tidak jelas. Mamih dan Papih mencoba menasihati Rio dan menahan Rio agar tidak mendekat ke makam Anjel yang hendak di tutup tanah.
"Kalian jahat!!! Kalian bunuh anak aku!!! Jalian jahat!!!" Rio tekulai lemas, di atas tumpukan tanah yang masih basah.
"Nak udah ikhlaskan Angel, dia pasti lebih bahagia di sana. Kamu harus kuat dan percaya bahwa anak kamu di sana sudah bahagia." Papih selalu mendampingi Rio. Beliau tidak sedikit pun membiarkan anaknya melamun. Beliau sangat tahu mental anaknya sedang tidak sehat sehingga harus mendapatkan perhatian extra.
Setelah melewati bujukan yang panjang akhirnya Rio mau meninggalkan makam anaknya setelah berjam-jam ia tetap memeluk makam anaknya.
Papih membujuk agar Rio mandi dan berganti pakaian lalu istirahat tubuhnya sudah sangat lelah pasti. Namun Rio tidak mau istirahat ia ingin melihat Ody. Gimana kondisi istrinya apakah Ody sudah sadar atau belum? Rio melihat dari kaca di balik kamar Ody.
Kondisi Ody memang sudah lebih baik dari sebelumnya tetapi ia masih belum bisa sadar ia masih terkulai lemah. Rio sebenarnya ingin masuk, tetapi dokter yang berjaga tidak mengizinkan. Sebab mereka tidak ingin Rio merancau tentang kematian anak mereka. Ody memang tidak sadar tapi pendengaranya berfungsi dengan normal. Andai Rio membanwa kabar buruk itu bisa jadi kondisi Ody langsung drop. Maka dari itu dokter tidak mengizinkan Rio untuk masuk menemui Ody.
Rio hanya bisa menatap wanita yang beberapa bulan ini sangat ia cintai bahkan karena kehadiran Ody hidupnya lebih baik lagi.
****
Di kantor polisi Arzen yang mendapat panggilan dari pihak polisi datang untuk memberikan keteran Arzen malah belum tahu bahwa Zawa kekasihnya tengah ditahan.
Rio pun yang dimita datang ke kantor polisi untuk meberikan kesaksian, sehingga diminta datang.
Terlebih kasus ini sudah memakan korban pasti hukumanya tidak main-main. Rio datang tidak lama setelah Arzen datang dan mereka pun dimintain keterangan secara terpisah.
Arzen sangat kaget ketika mendengar bahwa Zawa telibat kasus kriminal dengan kasus yang membelitnya, pembunuhan berencana. Arzen pun dibuat kembali kaget dan terpukul mana kala Zawa mengaku hanya pura-pura mendekatinya karena ingin membantu Emly. Awalnya Arzen yakin Emly yang melakukanya sebab ia tahu Zawa wanita yang baik dan pernyayang. Namun setelah melihat penuturan Zawa pun Arzen jadi meragukan kebaikan Zawa. Bisa sajah Zawa memang pelakunya terlebih niatnya datang masuk kehati Arzen pun hanya pura-pura. Padahal Arzen sudah sangat sayang dan cinta sama Zawa tetapi sepertinya cintanya hanya sebelah tangan. Zawa hanya pura-pura mencintai Arzen. Kebencian, kemarahan menguasai Arzen.
Di ruangan lain Rio pun dimintai keterangan sebagai saksi dan dia pun mengaku meninggalkan Ody karena kemarahanya dan lain sebagainya tetapi ia mengira Ody akan pulang kerumah dengan menaiki taxi.
Ia juga menceritakan kronologi ia marah sampai ia meminta Ody turun dari mobilnya. Rio kaget ketika Arzen ikut menjadi saksi dan polisi pun menjelaskan bahwa karena keteledoran Arzen memasukan Zawa sebagai kekasihnya dan mengambil foto-foto pernikahanya dan dikirimkan ke Emly.
Rio yakin bahwa Emly dalangnya dan dibantu dengan Zawa. Jadi Zawa pun memang terlibat dalam urusan ini.
Kebetulan Rio keluar bersamaan dengan Arzen yang keluar dari ruang pemeriksaan juga. Darah Rio yang mendidih karena kasus ini, ia pun melampiaskanya pada Arzen. Begitu sampai di palkiran Rio memanggil Arzen dan tanpa basa basi Rio menghajar Arzen sampai babak belur.
"Loe memang sahabat tidak tau diri. Gara-gara kecerobohan loe, anak gue mininggal. Nyesel gue punya temen kaya loe!" Rio meninggalkan Arzen seorang diri dengan tergeletak tanah.
Arzen bukan kalah, tetapi ia hanya mengalah. Diposisi Rio pasti sangat sakit kehilangan anaknya karena kecerobohan dirinya.
"Maafkan gue Rio. Gue malu kalo harus menjadi teman loe lagi. Gue yang ngehancurin rumah tangga loe," batin Arzen, sembari mencoba bankit dan kembali masuk kedalam mobilnya. Ia belum siap menemui Zawa, lain kali ia akan menemui kekasihnya, ia juga ingin tahu yang sebenarnya terjadi, dari mulut Zawa.