Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kebebasan Menanti



"Dy..Ody..." Rio mencoba membangukan istrinya yang masih terletap tidur dan nampaknya sangat telihat cape, tetapi Baby Mayra sudah mulai gelisah, mungkin karena haus dan ngantuk.


"Ody..." Rio masih mencoba membangunkan lagi.


Hemz... Ody mulai membuka matanya, "Eh... maaf ketiduran yah? Mayra..." Ody masih belum sadar betul dari tidurnya.


"Iya ini May, udah mulai rewel mungkin ngantuk, dan haus juga. Maaf Mas jadi gaggu istirahatnya." Rio sangat kasihan dengan Ody, pasti selama kemarin di rumah sakit kurang istirahat dan juga hari ini ia langsung mengurus yang lainya.


"Iya nggak apa-apa. Sudah jadi kewajiban Ody ko." Ody lalu mengambil alih Mayra, dan Rio lalu menyingkir duduk di sofa, sebab ia tahu Ody masih canggung dengan keberadaanya. Sabar hanya itu yang Rio butuhkan kesabaran agar Ody benar-benar mau menerima dia sebagai suami seutuhnya.


"Sayang, May haus yah." Ody langsung memberikan ASI buat putri kecilnya, yang langsung di sambar oleh si kecil yang memang sudah kehausan.


"Kasian banget sih kamu sayang, dari tadi nahan haus yah, karena Bunda bobo. Maaf yah sayang Bunda bobonya kelamaan," bisik Ody di telinga Mayra yang masih terdengar samar oleh Rio. Yah memiliki Bayi memang sedikit membuat sulit mengatur jam tidur, Ody masih belum bisa menyesuaikanya sehingga ia sangat merasa bersalah.


Sementara Rio jadi bingung apakah ia akan tetap menemani Mayra dan Ody di kamar ini atau kembali ke kamar bawah.


"Mas kalo sudah ngantuk tidur lah, biar May sama Ody, dia juga kayaknya bakal tidur." Ody cukup merasa kasian dengan suaminya yang nampak kecapean juga.


"Ya, udah Mas ke kamar dulu. Nanti kalo May rewel kamu panggil Mas ajah yah."


"Iya Mas," lirih Ody sebenarnya dia juga tidak enak apabila jadi merepotkan Rio, tapi memang andai Ody mengurusnya seorang diri sangat kesusahan.


Rio pun keluar kamar Ody dan Mayra. Rio sebenarnya tidak tenang meninggalkam Ody dan Mayra hanya berdua, takut.May bangun malam dan mengajak bergadang. Namun bagai mana lagi perjanjianya memang seperti itu mereka akan tidur terpisah.


Rio memasuki kamarnya, tetapi pikiranya masih memikirkan anak dan istrinya.


Di kamar Ody setelah Mayra kenyang kini ia bobo dengan pulas. Ody yang baru bangun tidur malah nggak bisa tidur dan hanya menatap Mayra dengan kagum, rasanya melihat bayi tidur hatinya sangat damai. Ekpresi bayi tengah terlelap tidur membuat mood Ody jadi baik.


"Ngomong-ngomong aku tidur cukup lama tiga jam, ya ampun untung ada Mas Rio kalo tidak kasian sekali Mayra seorang diri bermain." Ody menimang kembali keputusanya ia, juga takut kalo malah belum bisa menjaga Mayra seorang diri.


Pagi hari menyapa, wajah Ody sedikit sayu, pasalnya memang benar, Mayra tidurnya hanya sebentar. Mau tidak mau Ody harus bergadang dan mengikuti jam tidur Mayra.


Ody turun ke bawah membawa Mayra yang sudah cantik dan wangi. Rio pun kebetulan baru keluar dari kamranya.


"Hay Baby." Rio mendekat kearah Ody dan menyapa Mayra.


"Wangi banget sih ini anak perawan Papah. Gimana semalah tidurnya nyenyak Mayra?" tanya Rio sembari mengambil alih putrinya dari gendongan Ody yang nampak lesu.


"Haha.... cantik, bobonya kenapa sebentar-sebentar? Nyariin Papah yah," Rio mengajak main Mayra. Yang awalnya akan berolahraga, dia urungkan dan memilih mengasuh si cantik.


"Kamu istirahat dulu sajah. Aku masih ada waktu dua jam. Biar aku yang jaga May. Kamu tidur lumayan dua jam buat kembalikan setamina." Rio meminta Ody untuk istirahat pasalnya kasian melihatnya sangat kelelahan.


"Ya udah Ody istirahat dulu deh. Ody langsung naik ke kamarnya akan beristirahat. Sedangkan Mayra di ambil alih oleh Rio. Rio dengan sabar mengasuh May di taman samping sekalian menjemur bayi yang bahkan belum genap satu bulan itu.


"Rio jadi teringat permintaan Ody bahwa ia ingin Rio kembali menjadi dokter anak. "May kira-kira kalo kata May, Papah harus jadi dokter lagi atau gimana? Jujur Papah juga ingin mengapdikan hudup Papah untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan, tapi Papah juga masih ada rasa trauma dengan kejadian kaka kamu namanya Angel, dia udah di surga. Menurut May, Papah harus gimana?" Rio mencurahkan perasaanya pada Mayra, ia mengajak bayi itu curhat lanyaknya seorang manusia yang sudah paham arah pembicaraanya.


Eea..ea..ea.. Mayra bergumam seolah tau apa perkataan Rio.


"Jadi May mau Papah kembali jadi Dokter?" tanya Rio dengan antusias. Mayra pun mengembangkan senyum tipisnya.


Pagi ini Rio berjanji akan mencoba memulai praktek meskipun tidak secara langsung, masih harus dengan bimbingan dokter lain, namun ia berjanji akan menghilangkan rasa traumanya.


Pukul delapan Papih datang kerumah Rio.


"Ody kemana?" tanya Papih yang tidak melihat menantunya.


"Rio minta istirahat Pah, soalnya katanya semalam si cantik ini bobonya sebentar-sebentar jadi dia bergadang. Kasian kelihatanya cape banget," jawab Rio dengan memainkan tangan May yang ingin selalu di kulum oleh anak itu.


"Kalian tidurnya masih terpisah?" tanya Papih untuk memastikan.


"Iya Pap, Ody yang meminta. Jadi gimana lagi. Padahal Rio kasian kalo Ody harus bergadang terus, kalo ada Rio kan bisa saling bergantian gitu. Tapi takut Ody juga tidak nyaman." Rio mencoba menceritakan semuanya dengan papih.


"Biar nanti Papih yang coba bicara pada Ody, tapi juga jangan kesenengan karena Papih membantu usaha kamu terus. Papih bantu kamu karena sayang sama May dan kasian sama Ody takutnya nanti malah sakit." Papih mewanti-wanti anaknya agar tidak mengecewakan Ody.


"Baik Pih, Rio akan selalu ingat kata-kata Papih. Terima kasih mau selalu bantu Rio. Ngomong-ngomong Papih ada perlu apa tumben pagi-pagi kesini?" tanya Rio pasti Papihnya ada maksud lain sehingga menyempatkan waktunya untuk mengunjungi rumah anaknya.


"Papih sudah mencoba menyelidiki kasus penabrakan istri kamu, sepertinya yang Ody bilang memang benar Zawa hanya korban. Jadi nanti kalo kamu tidak sibuk kita sempatkan mengunjungi Zawa dan mencabut tuntutan Papih."


"Alhamdulillah, satu per satu masalah akan segera selesai ," ucap Rio sedikit merasa lega.


"Iya, dan nanti soal urusan Emly Papih juga sedang menyelidikinya, tapi sepertinya untuk menyelidiki keberadaan Emly memakan waktu yang lumayan lama. Pasalnya sepertinya ada salah satu orang yang berkuasa ikut terlibat dengan kaburnya Emly. Entah dari pihak keluarganya atau dari yang lain. Semuanya tengah Papih selidiki." Papih kali ini nampaknya serius dengan kasus Emly walaupun akan berhadapan langsung dengan keluarga Emly.


"Nasib anaknya Emly dan Aarav gimana yah Pih? Kasihan sekali anak itu. Apa masih hidup apa sudah meninggal?" lirih Rio membayangkan nasib anak Emly dan Aarav.