Beauty Clouds

Beauty Clouds
Pamer Ayang Baru



"Tuan ini masakan spesial dari saya, buat Anda. Sebagai tanda terima kasih, karena kebaikan Anda hari ini, sudah membelikan susu, beberapa cemilan, dan juga Es cream." tutur Ody dengan menunjukan beberapa menu diatas meja makan.


"Serius ini semua kamu yang masak? Kamu nggak pesan dari restoran kan?" tanya Rio heran.


Ody mengangguk dengan semangat menandakan bahwa ia memang yang melakukan semua ini.


"Ok terima kasih buat masakanya, dan soal belanjaan, memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai suami kamu, dan juga calon ayah dari anak kita.


Buzzzz..... sontak sajah wajah Ody langsung memerah bok kepiting rebus, ketika mendengar penuturan Rio.


Dan lagi Rio senang apabila wajah Ody memerah begitu, "Kalo malu mimik muka kamu itu lucu banget sih Ody," gumam Rio gemas sendiri.


Kini Rio dan Ody tengah menikmati makan malam bersama, dengan hidangan spesial yang Ody masakan untuk Rio, sebagai tanda terimakasih untuk semua perubahan Rio hari ini.


Entah mimpi apa, tiba-tiba Alloh gerakan hati Rio sehingga ia secepat ini berubah.


"Tuan, kalo Anda berniat memperkenalkan saya pada keluarga Anda, apakah saya juga boleh memperkenalkan Anda pada keluarga saya?" tanya Ody dia masih ragu.


"Tentu. Kapan?" tanya Rio dengan yakin. Hal itu berhasil membuat Ody kaget, diluar dugaan Ody ternyata Rio mau, apabila ia ajah mengunjungi ibunya.


"Nanti saya kabarin ke keluarga saya dulu tuan." balas Ody, ia akan menelepon Hendra terlebih dahulu untuk mengabarkan bahwa ia sudah menikah dan kini tengah hamil.


Ody sudah mantap bahwa ia akan jujur dan juga akan terbuka dengan keluarganya.


"Ody, mulai sekarang kamu tidur di kamarku yah, kan sudah tidak ada lagi perjanjian ditengah-tengah pernikahan kita, jadi mari kita menjalankan pernikahan ini layaknya pernikahan sesungguhnya." ucap Rio, sembari menatap intens bola mata Ody.


"Maksudnya gimana yah? Rada nggak mudeng," ujar Ody polos.


"Kita jalanin pernikahan kita sesungguhnya. tidur satu ranjang, ada hak dan kewajiban, serta nafkah batin dan lahir terpenuhi." jelas Rio, dengan senyum terkembang di wajahnya.


Wajah Ody langsung bersemu merah, ketika Rio menyinggung nafkan batin, bagi Ody aktifiatas suami istri yang itu masih tabu, sehingga ia akan merasa malu apabila membahasnya.


Sedang bagi Rio kebutuhan diatas ranjang adalah kebutuhan normal kebutuhan yang harus dipenuhi oleh sepasang suami istri.


Kini keduanya sudah selesai menikmati makan malam, dan Ody seperti biasa akan merapihkan lebih dulu semua kekacauan paska makan malam mereka.


Rio memperhatikan Ody yang selalu cekatan walaupun ia tengah hamil. Ody sangat beruntung kehamilanya tidak mabok, sehingga ia dengan bebas melakukan aktifitas seperti biasa.


"Aku tunggu di kamar yah." bisik Rio tepat di belakang teling Ody, sehingga berhasil membuat Ody bergidik. Ody berbalik dan melihat senyum jahil di wajah Rio.


Kini Ody tengah membuat susu untuknya, sengaja dia bikin diperlambat, karena kini ia terlalu gugup apakah ia akan mengulang malam panas seperti waktu tragedi itu. Rasanya masih terbayang sakit dan ngilunya dibagian sensitifnya. Tanpa terasa bagian sensitif Ody berkedut setiap membayangkan pernyatuan antara Rio dan dirinya.


Belum perasaan Ody sebenarnya masih belum tenang. Entah perasaan apa, tetapi Ody merasakan hatinya gelisah tak terhingga setiap mengingat ibunya.


Ody ragu untuk mengetuk kamar Rio, rasanya seperti mimpi, kini ia akan tidur satu ranjang sama Rio, apalagi apabila Rio meminta haknya.


Ody hanya mematung di depan pintu kamar Rio. Mau mengetuk pintunya tetapi ragu.


Sampai tiba-tiba Ody dibuat kaget dengan dibukanya pintu kamar Rio tiba-tiba.


"Kenapa malah bengong," cecar Rio ketika melihat Ody termenung di depan pintu kamarnya.


"E..... ini tadi mau masuk tapi kayaknya kelupaan sesuatu." ucap Ody, merasa gugup, dan dia akan menghindar, mencari alasan untuk jawaban dari pertanyaan Rio.


"Kemana lagi?" lirih Rio dengan suara menggoda.


"E....itu, mau itu..." Ody terbata bingung alasan apa lagi kali ini.


"Udah ayo, buruan udah nggak tahan nih." ledek Rio dengan menarik Ody ke dalam kamarnya.


"E... tuan... apa nggak sebaiknya saya tidur di kamar samping sajah." ucap Ody dengan suara gemetar, takut apabila Rio tersinggung. Tetap usaha menghidar.


"Nggak ada, kamu harus tidur di kamar ini, dan malam ini kamu harus dihukum, karena terlalu lama membuat aku menunggu." cicit Rio tepat di depan wajah Ody.


Ody pun kaget, "Kenapa dihukum? lagian barusan beneran aku ada yang ketinggalan," bela Ody, tidak terima apabila Rio menghukumnya.


Rio mendekat kearah Ody dengan tatapan lapar, Ody pun takut dan perlakan mundur. Namun, nampaknya Rio kali ini beneran marah. Nyatanya ia tetap mendekat dan terus mendekat denga tatapan tidak bisa diartikan padahal Ody sudah mudur dan semakin mundur. dan....


Buuukkkkk.... Ody terjatuh di ranjang empuk Rio, hal itu tidak Rio sia-siakan Rio mendekat dan hendak mencium bibir Ody.


"Tuan bukanya Anda kalo malam biasa dipijit, ayo saya pijit," ujar Ody mencoba mengalihkan perbuatan Rio yang akan menciumnya.


Rio pun pada akhirnya hanya pasrah mengikuti Ody, tidur di pangkuan Ody dan menikmati pijitan Ody, tetapi namanya juga Rio, keusilanya yang dulu melekat kuat dalam keseharianya kini sudah mulai timbul kembali, ia beberapa kali mencuri ciuman dari bibir mungil Ody.


"Tuan udah, Anda jangan cium-cium saya terus nanti malah lama selesainya." ujar Ody dengan gemaz, karena ulah jail Rio.


Rio hanya terkekeh, seperti memiliki mainan baru enggan untuk melepasnya.


****


Di tempat lain kebahagiaan pun tengah menyelimuti pasanan baru Zawa dan Arzen.


Malam ini mereka habiskan untuk nonton dan ngobrol. Arzen merasa sangat bahagia karena ternyata Zawa gadis pemalu, berhati lembut dan penyabar. Bergitu pun Zawa sangat beruntung karena ternyata Arzen, cowok sabar, humoris dan dewasa. Makanya seperti pasangan baru lainya Arzen dan Zawa tengah bahagia karena kebersamaanya. Atau kata lain bucin gitu.....


"Petualangan kita sampai disini sajah yah. Besok kita ketemu lagi, kita pergi ketempat yang baru, ayang besok mau kemana?" tanya Arzen ketika Zawa akan turun dari mobilnya.


"Terserah ajah, aku ikut ajah mau kemana terserah kamu ajah, Beb." ujar Zawa memasrahkan keputusanya sama Arzen, karena Zawa tau pilihan Arzen pasti ok buat menghabiskan kebersamaan mereka.


"Ya udah, besok ayang siap-siap ajah, biar nanti aku yang nentuin kita mau kemana." ucap Arzen, dia sudah memiliki tempat rekomendasi buat hangout bersama ayang baru.


Zawa hanya mengangguk, dengan senyum manis diwajahnya.


Setelah memastikan Zawa masuk kedalam rumahnya, Arzen melajukan mobilnya, tetapi bukan pulang kerumahnya melainkan Arzen akan pemer pada Rio bahwa ia sudah memiliki ayang baru.


Arzen sudah membayangkan wajah kaget Rio, mengetahui dirinya memiliki kekasih. Memang diantara yang lain Arzen adalah laki-laki pemilih. Sehingga ia lebih baik menjomblo dalam waktu lama dari pada harus begonta-ganti dengan wanita. Arzen adalah kebalikan dari Clovis.


*Berhubung bulan puasa udah mau abis, Othor mau kasih yang aga Hot-hot, biar panas lah...


...****************...


Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤


# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤