Beauty Clouds

Beauty Clouds
Salam Pertemuan



Rio dengan kaki yang masih terasa lemas, mata berat karena sejujurnya ia juga mengantuk, tetapi tidak berani meninggalkan tidur karena ia takut terjadi sesuatu dengan putrinya dan semua orang tengah terbuai di alam mimpinya.


"Ada apa ini?" tanya Rio, dengan wajah kaget karena ternyata yang membuat kegaduhan adalah matan calon besanya.


"Om, kenapa ini ribut-ribut apa Anda tidak tau ini rumah sakit dan di dalam sana istri dan anak saya sedang istirahat," ujar Rio, wajahnya yang merah padam sebagi tanda bahwa ia sangat dibikin kesal oleh orang yang ada di hadapanya. Bukan karena kesal dengan kegaduhan yang mereka timbulkan. Ada satu yang memancing emosi lebih dari pada kegaduhan tadi. Emly, penyebab emosi utamanya. Rio setiap melihat apapun yang berhubungan dengan mantan tunanganya itu tidak mau tau bawaanya langsung emosi. Bahkan untuk mendengar namanya saja sudah naik darah.


"Kami ingin ketemu cucu kami," ulang Erwin suaranya tidak keras tetapi masih bisa didengar oleh Rio dan kedua orang tuanya.


"Jaga omongan yah! Tidak ada cucu Anda di sini. Lebih baik Anda pergi! Sebelum aku panggil satpam untuk menyeret Anda Tuan Erwin." Wajah merah padam yang menahan marah meledak. Nampak jelas di wajah lelah Rio. Bahkan ia lupa kalo dia sangat lelah dan badanya perlu istirahat. Ketakutan langsung singgah di pikiran Rio, laki-laki itu tentu tahu bahwa yang di maksud dari cucunya adalah Meyra. Mengingat Meyra adalah anak angkatnya.


"Meyra... Meyra adalah cucu saya Rio, dia darah daging Emly, anak kami. Berati dia cucu saya," jelas Erwin dengan suara yang meninggi karena mengimbangi Rio yang tengah emosi.


Brug... Rio melayangkan tinjuan pada Erwin, emosinya sudah melewati batas. Tidak peduli lagi laki-laki yang ia hajar sudah berumur lima puluh tahun. Emosi mengalahkan nuraninya, ia sudah berusaha menahan perbuatanya itu. Tetapi karena kejujuran Erwin kemarahanya pun tidak bisa di hindari lagi, dia lampiaskan semuanya pada laki-laki setengah baya yang berdiri dihadapanya. Rasa asin dari darah yang keluar dari suduh bibir Erwin pun, menandakan bahwa pukulan yang Rio layangkan memang sangat kuat.


Matanya yang penuh dengan kemarahan masih mengobarkan api kebencian. "Rio, stop! Jangan gila kamu, yang ada masalah makin rumit." Tuan Hartono berusaha melerai. Kepanikan seketika memecah seiring dengan pukulan yang Rio hadiahkan untuk Erwin. (salam pertemuan)


Ody yang sedang bermimpi indah pun di tarik paksa jiwanya, agar segera bangun dari mimpi itu. Dengan kesadaran yang masih belum terkumpul sepenuhnya, Ody berusaha bangun dan menghampiri yang membuat ia terbangun. Kecemasan terjadi, ketika Ody bangun pasalnya suara gaduh itu kembali terdengar. Ia takut kalo Meyra bangun dan menangis lagi.


Langkahnya yang tiba-tiba terasa berat Ody seret paksa kakinya agar segera sampai di depan ruangan anaknya. Yah, di tempat itu sumber kegaduhanya.


"Jangan pernah bilang kalo Meyra cucu kamu! Karena Meyra anak aku dan istriku maka itu berati anakku bukan cucu kalian, melainkan cucu kedua orang tuaku," bentak Rio, gigi-giginya saling beradu sehingga suaranya tertahan dan seperti sebuah ancaman yang mematikan.


"Sekeras apapun kamu menolak, dan menutup telinga. Faktanya Meyra cucu kami, anak Emly." Erwin membalas ucapan Rio, sementara Liana memegangi tubuh suaminya dan tangan satunya ia gunakan untuk mengusap-usap punggungnya. Mungkin saja dengan usapan itu suaminya akan menahan emosinya. Di mana laki-laki paruh baya itu dari sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah. Karena ton-jokan dari Rio.


Rio kembali akan memberikan bonus ton-jokan agar laki-laki paruh baya itu berhenti mengakui anaknya sebagai cucunya.


Mereka terus bersitegang dengan memperebutkan Meyra, tanpa sadar ada ibu hamil yang sedang bersandar di dinding. Menangis dalam kebisuanya mengetahui apa yang mereka bicarakan. Ketakutan yang sama dengan anaknya semenjak pagi menyapa, Ody juga kini rasakan. "Tidak, itu bukan anak Emly, itu anakku," batinya, air mata jatuh tidak dapat terbendung, kecemasan kalo-kalo Meyra akan di ambil oleh keluarga sesunggunya mendominasi pikiranya.


"Ba-ji-ngan, kamu Erwin, biarpun itu anak Emly atau anak siap pun aku tidak akan pernah mengembalikan pada kalian. Anak itu sampai kapanpun akan menjadi anak aku dan istriku," Maki Rio suaranya yang meninggi bahkan bisa terdengar lebih membengkakan telinga sekitarnya.


"Sabar Rio, semuanya akan baik-baik saja. Papih tidak akan biarkan siap pun rebut Meyra, anak itu sudah jadi cucu papih maka tidak ada yang boleh mengambilnya." Hartono menenangkan anaknya yang benar-benar sudah di kuasai gelombang api amarah.


"Jangan pernah sentuh anakku! Karena aku akan membuat hidup kalian menyesal telah mengakui anak itu sebagai darah daging dari kalian," acam Rio tatapqn matanya yang tajam sudah membuktikan bahwa ucapanya bukan sembarang isapan jempol semata. Tapi sebagai alarm berbahaya apabila melanggarnya berati dia sudah bosan hidup.


"Setidaknya biarkan kami merasakan bermain dengan cucu kami, terutama Ibunya sangat menginginkan sentuhan anak yang dilahirkanya Rio. Aku mohon padamu, izinkan kami bertemu dengan cucu kami." Erwin akan terus berusaha agar bisa bertemu dengan anak yang sudah di buangnya. Tidak peduli semarah apa Rio, rasa kangenya sudah sampai di puncak, jadi ketika sudah selangkah lagi mendapat rintangan yang berat untuk bertemu dengan cucunya makan ia akan berusaha menyinkirkan rintangan itu.


" Enyah kau ke neraha Erwin!!! Bawa keluargamu yang bawa sial bagi keluarga kami terus!! Anak kalian bunuh Angel dari kami, sekarang anak aku mau kalian minta juga? Tidah akan pernah kami izinkan, karena punyaku ya punyaku tidak pernah akan aku bagi-bagi sama siapa pun." Rio bingung harus berkata apa lagi dengan orang keras kepala yang berdiri di depanya.


Pikiran Ody kembali mengenang masa duka di empat tahun silam, bayangan-bayangan kesulitanya. Buah hati yang yang dia tunggu-tunggu harus meninggal karena anak dari pasangan yang berdiri di depan suaminya. Dan kini bayangan buruk itu kembali menguasai emosi di jiwa Ody. Sebagai seorang ibu dia tidak mau dan tidak akah rela anaknya diambil orang lain. Meyra bukan sekedar anak angkat, tetapi sudah ia anggap sebagai anak yang lahir dari rahimnya. Gigi-giginya dieratkan sehingga menimbulkan bunyi gemelutuk. Naluri seorang ibu yang ketakutan bahwa anaknya akan di ambil lebih mendominasi. Sampai-sampai ia lupa bahwa di dalam perutnya ada buah hatinya yang bisa merasakan emosi yang mengusai Bundanya.


Auw...auw... Jeritan sekaligus ringisan mengagetan dua keluarga yang sedang bersitegang.


Rio yang sangat hafal dengan suara itu tidak perlu membalikan badan untuk tahu siapa yang meringis kesakitan itu. Gerakan secepat kilat membalik badan, betapa kagetnya Rio ketika dua matanya menangkap pemandangan yang tidak diinginkan sama sekali. Istrinya duduk bersender didinding memegangi perut buncit bagian bawahnya.


Cairan lengket bercampur darah sudah terlihat dari sela-sela pahanya. Ringisan kesakitan sudah tergambar di wajah Ody.


Rio mengabaikan orang yang seperkian menit tadi membuat emosinya naik, dan langsung berlari memeluk istrinya yang sedang merasakan kesakitan.


...****************...


Sembari menunggu Kelanjutanya mampir yuk di karya bestie othor, ceritanya keren dan bikin nagih pokoknya. Wajib mampir yah, biar othornya seneng jangan lupa tinggalkan jejak juga yah...


Selamat membaca...