Beauty Clouds

Beauty Clouds
Meyra Jatuh Sakit



Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu memakan waktu, mamih dan papihnya Emly pun sudah sampai di kediaman Rio. Mereka memang sengaja memilih datang langsung ke rumah Rio di bandingkan ke rumah orang tuanya, karena masalah ini bersitegang langsung dengan Rio dan istrinya.


Sekitar lima menit mamih dan papih menunggu di bukakan pintu rumah mewah itu. Mbok Karti pun datang dengan langkah yah pelan karena umur yang semakin menua. Entah sudah berapa puluh tahun Mbok Karti setia dengan keluarga Rio, diawali dari asisten rumah tangga mamihnya dan di tarik ke rumah Rio sampai sekarang usia pernikahan Rio dan Ody hampir menginjak usia lima tahu.


pertama mereka memberikan obrolah berbasa basi sebagai sapaan dan salam perkenalan, akhirnya papih menyampaikan niatanya untuk bertemu dengan Rio atau mungkin istrinya.


"Mohon maaf Tuan, Tuan dan Nyoyah kami barusan saja pergi kerumah sakit, karena Non Meyra badanya demam," ucap Mbok Karti dengan nada sesopan mungkin.


Kedua pasangan suami istri itu saling melemparkan pandangan. "Kalau boleh tahu siapa Meyra?" tanya mamih tidak kala sopan dan tutur bahasa yang halus. Mamih memang mengetahui bahwa cucunya di rawat oleh Rio dan Ody, tetapi ia tidak mengetahui persis nama cucunya.


"Non Meyra, anak pertama majikan kami nyonyah," balas wanita yang rambutnya sudah ada sebagian yang memutih, mendakan bahwa umurnya memang sudah tidak mudah lagi.


Deg! Jantung keduanya seolah berhenti berdekat kala itu juga. "Kalo yang sakit anak pertama Rio, itu tandanya cucunya juga yang sakit?" batin mamih, kepalanya sudah di penuhi pertanyaan itu.


Hari yang di tunggu untuk bisa menemui cucunya, justru harus kecewa mengetahui kalo kondisi cucunya sedang tidak sehat.


"Kalo boleh tahu, mereka pergi kerumah sakit milik Hartono kan Mbok?" tanya papih, hanya sekedar memastikan. Namun dugaanya sepertinya sangat benar, tidak mungkin rasanya apabila Rio membawa anaknya kerumah sakit lain, sedangkan rumah sakit keluarganya tidak kalah baik dari pesaingnya.


"Iya Tuan."


Papih dan mamih pun tidak berlama-lama lagi mereka langsung berpamitan dengan asisten rumah tangga Rio. Berbeda dengan waktu berangkat tadi, di mana hati dua suami istri itu di penuhi dengan rasa yang berbunga-bunga. Kali ini papih dan Mamih pun di penuhi kecemasan. "Sakit apa kira-kira cucu kita yah Mih?" tanya papih, yang mengagetkan istrinya, yang tengah melamun sembari menatap keluar jendela mobil.


"Mamih enggak tau Pih, dan mamih juga penasaran banget dengan sakit cucu kita, dan bagai mana kondisinya? Semoga ini bukan hukuman buat kita lagi yah Pih, karena sudah menelantarkan Mey." Mamih berbicara penuh dengan kepasrahan. Rasanya ujian enggan beranjak dari keluarganya. Baru kebagaiaan hadir di sekelebat bayanganya, tetapi sudah di patahkan oleh kecemasan karena pada kenyatanya cucunya itu sedang sakit. Doa tidak henti-hentinya mamih rapalkan, agar cucunya diberi kesembuhan.


****


Di rumah sakit, Rio langsung menuju ruang pribadi keluarganya, yang berada di lantai atas bangunan itu. Dokter anak terbaik telah di minta untuk bersiap berjaga dan apabila Rio datang langsung memeriksa Meyra.


Omanya Meyra pun begitu Ody kembali menelepon dan memberikan kabar bahwa cucunya tengah sakit, dan dalam perjalanan ke rumah sakit milik keluarganya, Oma juga langsung panik dan bergegas menyusul cucunya, untuk memastikan bahwa cucunya baik-baik saja.


Papih mengatur semua persiapan untuk perawatan cucunya itu. Kecemasanya ternyata terjadi, di mana pagi tadi ketika papih menemui Meyra, wajah Meyra sudah pucat, sehingga papih takut apabila cucunya itu jatuh sakit. Belum dua belas jam ia meninggalkan Meyra untuk bekerja tetapi sudah ada kabar buruk itu.


Ody berjalan dengan tertatih berusaha tidak tertinggal dari langkah suaminya yang menggendong putri pertamanya. Namun tentu usahanya sia-sia Rio sudah melesat jauh tidak terlihat dan Ody masih di area lobby rumah sakit. Perawat yang melihat Ody berjalan dengan tertatih dan terengah-engah pun, berusaha menghampiri Ody. "Biar saya bantu Bu Ody," ucap perawat dengan ramah. Memang petugas rumah sakit ini sebagian besar kenal Ody baik dari petugas kebersihan sampai dokted semua rata-rata kenal dengan Ody, di mana ibu hamil itu terkenal sangat ramah. Dan juga tidak segan untuk ngobrol dan berbagi cerita dengan mereka-mereka yang dijumpainya tanpa pandang jabatan, ketika Ody datang kerumah sakit dan merasa bisan Ody akan melakukan sapaan-sapaan hangat pada mereka yang dikenalnya.


"Ah, terima kasih Sus, kebetulan saja sedang kesusahan berjalan," balas Ody dengan mengulurkan tanganya agar sang suster mengimbangi tubungya yang berat dan berjalan lambat, seperti kura-kura itu.


"Tadi Mey kenapa Bu?" tanya suster itu dengan ramah dan tentunya agar perjalanan mereka yang pasti akan lama tidak terasa garing.


"Sakit Sus, kaya mimpi buruk gitu dan Mey belum bisa membedakan antara alam mimpi dan kenyataan jadi gelisah dan ketakutan sehingga memicu demam badanya," jawab Ody dengan suara yang sudah tersenggal karena kecapean berjalan.


"Kasian Meyra semoga tidak terjadi apa-apa sama Mey yah Bu."


"Amin Sus, terima kasih untuk doanya, semoga Allah kabulkan doa-doa kita yah," ucap Ody.


Setelah mengucapkan terima kasih pada suster yang mau membantu menuntun Ody bejalan dan, mengobrol singkat sehingga perjalanan merka tidak terasa.


"Mas kondisi Mey gimana?" tanya Ody begitu masuk dan Meyra sudah mendapatkan penanganan. Setelah sebelumnya Meyra kembali histeris, menangis hanya gara-gara ada dokter lain yang memeriksanya. Meyra hanya ingin di periksa oleh papahnya, dan setelah di periksa ternyata Meyra hanya kelelahan. Rio hanya menambahkan pada cairan infus obat penenang dengan dosis pas untuk anak seusia putrinya, agar Mey bisa tertidur. istirahat tanpa ada lagi tangisan dan jeritan dengan pilu ketakutan kalau nanti akan ditinggal oleh orang tuanya. Suara serak nan berat sudah menandakan bahwa Meyra sangat lelah karena sepanjang pagi sampai hampir tengah hari, lebih banyak menangis dan ketakutan.


"Mey tidak apa-apa, hanya kelelahan karena menangis dan tidak istirahat lagi dari jam tiga sehingga badanya demam. Sekarang sudah aman kok, tunggu demamnya turun dan istirahtnya cukup Meyra akan kembali sehat," jelas Rio, sembari tanganya meminta agar Ody duduk dipangkuanya. Tangan kekarnya mengusap-usapa perut buncit istrinya. Menyapa calon buah hatinya yang tidak rewel di dalam perut bundanya, padahal sejak pagi Ody pun belum istirahat sehingga pasti merasa sangat lelah. Rio sempat dilanda rasa takut, kalau anaknya yang nomer dua ikut-ikutan rewel. Untungnya ketakutanya tidak terbukti. Dan semuanya baik-baik saja.


"Bunda jangan panik yah, kakak Mey hanya kecapean, dan dede juga di dalam perut Bunda baik-baik yah, jadi anak yang baik dan bisa menjaga keluarga dan kaka Mey nantinya yah sayang." Rio mengelus perut buncit yang sudah mengeras dan terakhir menciumnya dengan penuh kasih.


Ody pun terharu dengan ucapan suaminya, takdir yang Tuhan gariskan dalam perjalanan hidupnya memang berat berliku dari mulai belum menikah sqmpai ujian kembali menghujami rumah tangga mereka, tetapi semuanya bisa terlewati sampai ditahap ini di mana Rio adalah suami yang siaga dan penuh kasih.


Ody aangat beruntung karena suaminya mau berubah dengan seratus delapan puluh derajat sikapnya dari yang dulu. Dan tentunya sekarang Rio lebih sabar dan tidak mudah terpancing emosinya.