Beauty Clouds

Beauty Clouds
Tetangga Misterius



"Sayang kamu masak apa?" tanya Rio mesra dan memeluk Ody dari belakang. Padahal disana juga ada Mbok Karti yang sejak tadi membatu Ody memasak.


"Mas malu ih, itu ada Mbok Karti!" balas Ody sembati melepas pelukanya. dan menunjuk ke arah Mbok Karti yang tengah asik merajang sayuran tanpa terusik dengan kegiatan majikanya yang bucin maxsimal.


"Kenapa malu, lagian Mbok Karti juga pasti tau ko kita kan masih pengantin baru, jadi wajar dong kalo bermesraan terus," balas Rio tidak mau kalah.


"Pengantin baru apaan, nih liat nih, perut udah gede begini masih ajah ngaku pengantin baru," oceh Ody sembari menunjukan perutnya yang sudah membuncit. Bahkan sekarang Ody kalo mau ngapa-ngapain sudah semakin sulit karena perutnya yang makin membesar.


"Enggak apa-apa Neng, kalo memang dokter Rio mau manja-manjaan itu bagus tandanya kalian harmonis. Mbok malah seneng liat kalian akur begini," ucap Mbok Karti dengan wajah berbinar bahagia melihat majikanya yang akur.


"Tuh yank, Mbok Karti juga nggak keberatan malahan dia suka liat kita romantis begini," balas Rio semakin mengeratkan pelukanya.


"Iya romantis, tapi nggak kenceng banget juga peluknya Mas, nanti babynya malah nangis di dalam perut gimana?" ledek Ody, kini ia diam sajah ketika Rio menggelayuti terus kemana pun ia melangkah.


"Mas ah... berat," Protes Ody, jang semakin lama menjadi berat beban Rio.


"Aku tuh hari ini lagi seneng banget sayang," ucap Rio sembari mengembangkan senyumanya.


"Seneng kenapa?" tanya Ody dengan kepo.


"Seneng sebentar lagi Mamih, Papih dan adik serta ponakan Mas mau pulang ke Indonesia," jawab Rio dengan antusias.


"Tapi ko Ody malah takut yah dengernya," balas Ody yang justru ketika mendengar kabar itu Ody nampak berubah raut wajahnya.


"Kenapa kamu ngomong begitu?" tanya Rio dengan raut wajah serius.


"Entah lah Mas, aku takut keluargamu menolak aku menjadi menantu dan ipar di tengah-tengah keluarga mereka. Terlebih aku adalah anak orang miskin. Dulunya aku adalah pembantu dan juga cleaning servis di rumah sakit Mas Rio. Sulit untuk aku langsung bisa diterima ditengah-tengah keluarga Mas," lirih Osy dengan wajah sendu.


"Kamu jangan ngomong kaya gitu sayang. Aku suami kamu, yang akan menjelaskan pada mereka. Mungkin diawal-awal kita akan banyak melewati ujian lagi, tapi Mas yakin dengan kebersamaan dan kekuatan cinta kita, semua ujian akan kita lewati bersama." Rio menyakinkan Ody agar tidak berkecil hati dengan setatus sosial yang jelas berbeda antara dirinya dan keluarga Rio.


Tidak hanya berbeda dari segi materi dan kekuasaan. Si kaya dan si miskin. Namun Ody juga insecure keluarga Rio lengkap, sedang ia hanya anak yatim piatu, yang kini hanya memiliki seorang adik. Ody berusaha mengikuti apa kata-kata Rio bahwa ia bisa melewati ujian ini asalkan mereka selalu kompak dan maju bersama.


"Ody akan ikuti apa kata-kata Mas," jawab Ody dengan datar.


"Iya harus gitu dong, meskipun mungkin sajah nanti akan banyak cobaan yang menerpa rumah tangga kita. Berjanjilah kamu nggak akan ninggalin Mas. Kamu akan tetap di samping Mas. Kita kuatkan pondasi rumah tangga kita, agar tidak ada yang bisa menghancurkanya. Sekali pun Papih dan Mamih," ucap Rio dengan sangat lembut. Sehingga membuat Ody terharu dengan ucapanyan.


"Udah ah yuk, makan! Noh masakanya juga udah selesai sama Mbok Karti," ujar Rio sembari menghapus air mata Ody dan memeluknya memberi kekuatan untuk istrinya.


"Loh nggak apa-apa dong kalo pengin, bagus malah. Sebelum kerja olahraga dulu lebih sehat malah sayang," bisik Rio di telinga Ody sembari menggesek-gesekan dagunya yang sudah ditimbuhi rambut halus sehingga membuat Ody merinding, dan menegang.


"Mas!!!" pekik Ody.


"Di kamar yook," bisik Rio, semakin menggoda Ody.


"Mas harus kerja! Mas kan dokter nggak boleh ngulur-ngulur waktu. Masih ingat kan sumpah dokter? Jadi harus prioritasin pasien." Ody menolak dengan halus, padahal sejatinya dia pun ingin bermesraan menyalurkan hasrat'nya, tetapi dia juga tau bahwa suami dokter, yang harus tau kewajiban utamanya.


"Iya-iya nyonyah Rio, hamba ikut sajah. Apa kamu ikut sajah yang, ke rumah sakit, nanti sehabis praktik, kita olahraga kan kalo habis praktik tinggal mengecek laporan rumah sakit," tawar Rio, tetap usaha merayu Ody.


"Apa nanti nggak pada curiga yang lain terutama Om Jakson (asisiten papih Rio) kalo tau aku ke rumah sakit malah makin bahaya," papar Ody mengingatkan suaminya karena setatus pernikahanya yang masih dirahasiakan.


"Iya juga sih, ya udah deh Mas tahan sampe nanti pulang kerja," balas Rio dengan muka masam.


"Jangan kecewa gitu dong wajahnya harus ikhlas dan dan happy. Biar rezekinya banyak dan juga nggak cepet tua," ucap Ody sembari mengecup pucuk kepala Rio, yang mana Rio tengah duduk dan Memeluk Ody yang tengah berdiri hendak mengambilkan sarapan untuk Rio.


Akhirnya mereka pun sarapan dengan damai dan romantis. Selesai sarapan Rio bergegas beranjak dari duduknya dan hendak berangkat ke rumah sakit. Seperti biasa maka Ody akan mengantarkan Rio sampai halaman..


"Mas berangkat dulu yah, kalo ada apa-apa hubungi Mas sajah, Mas pasti akan segera datang," ucap Rio dengan lembut dan mengecup pucuk kepala Ody.


Ody mengangguk tanda paham dengan omongan Rio. Setelah bersalaman dan mencium punggung tangan Rio. Kini Rio bergegas masuk ke mobilnya dan berangkat kerja.


Ody pun segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Di sebrang sanah ada sepasang mata yang menatap tajam dan tersenyum dengan sinis. Meskipun tembok pagar rumah Rio yang tinggi sehingga tidak bisa melihat bagian dalam pagar. Namun, samar kegiatan mereka bisa Emly lihat dari balik tropong rumah sebelah Rio, yang ternyata tanpa sepengetahuan Zawa dan yang lainya. Emly membeli rumah di sebelah Rio agar bisa dengan mudah mengawasi Rio dan istrinya.


"Nikmatilah kebahagiaan kalian sepuasnya. Tunggu sampai rencanaku benar-benar matang. Saat itu tiba kebahagiaanmu akan terenggut sampai keakar-akarnya," gumam Emly dengan menatap tajam penuh dendam ke arah Ody.


Emly tinggal menunggu waktu yang tepat utuk meluncurkan rudal peperanganya. Ia tidak mau gegabah dan terburu-buru. Ia hanya perlu hati-hati dan perhitungan yang pas, sehingga sekali tembak semua dendamnya terbalaskan. Hubungan Rio yang hancur dan juga persahabatan yang tercerai berai saling menyalahkan.


Emly tetawa dengan bangga akan rencananya, karena ia yakin tidak akan terendus kejahatanya. Otaknya kali ini benar-benar licik.


Bersambung..


Mampir yuk Ke novel Othor yang lain "Jangan Hina Kekuranganku"