
2 bulan kemudian...
"Pagi sayang," sapa Rio yang kini tengah menyiapkan sarapan untuk Ody. Yah, karena kandunga Ody yang semakin membesar kini ia tidak segesit dulu. Bahkan kini Ody sering kesusahan karena kehamilanya, kadang merasa pusing dan juga untuk berjalan sudah kesusahan. Pagi ini Rio yang meniapkan menu sarapan. Eh... tapi karena kemauan Ody juga yang pengin dibikinian sarapan buatan suaminya....
"Pagi Mas. Lagi bikin apa tuh?" tanya Ody, ia menghapiri Rio dan memberikan kecupan selamat pagi di bibir suaminya.
"Bikin telor omlet sama telor orak arik! Baby dan Momy nggak apa2 kan sarapan ini? Habisan Mas nggak bisa masak, tapi baby aku minta sarapan dari masakan Dadynya." Rio memanyunka bibirnya.
"Enggak apa-apa Mas. Jadi menu sarapan kita pagi ini serba terlor yah?" kekeh Ody yang melihat masakan yang Rio buat adalah menu dari telor semua.
"Hehehe... kamu nggak suka yah?" tanya Rio sembari menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
"Suka ko, suka banget. Semua yang Mas masak Ody dan Baby suka ko. Terima kasih yah udah mau jadi Daddy dan suami yang selalu siaga," ucap Ody sembari memeluk Rio, ia sangat beruntung karena Rio sangat menyayanginya dan juga anak yang dalam kandunganya.
"Sama-sama sayangku," balas Rio.
Mereka pun sarapan dengan menu telor yang Rio buat, tak lupa Rio juga selalu rutin membuatkan susu untuk bumil yang semakin seksi itu.
"Sayang hari ini Mamih, Papih, Kakak dan sepupu Mas akan balik ke Indonesia. Nanti Mas akan jemput mereka di bandara. Kamu nggak masalah kan kalo Mas pulang telat?" tanya Rio dengan hati-hati, takut bumil tersinggung.
"Enggak apa-apa Mas. Lagian kan itu keluarga Mas sudah seharusnya Mas melayani mereka dengan maksimal," balas Ody dengan lembut.
"Kamu jangan ngomong apa-apa dulu yah kalo-kalo Mamih atau Papih suatu saat datang kesini. Biar Mas yang menjelaskan setatus kita. Kamu dian sajah kalo mereka berkata sesuatu. Mas janji secepatnya Mas kenalkan kamu dengan keluarga Mas." ucap Rio dengan mengelus penggung tangan Ody mereka saling menguatkan agar bisa melewati ujian kali ini. Rio pun sudah siap apabila nanti orang tuanya kecewa dengan keputusaanya. Terlebih mereka taunya Rio dan Emly masih berhubungan.
Gimana jadinya apabila keluarganya mengetahui Rio sudah menikah. Belum lagi istri Rio yang berasal dari rakyat biasa. "Apa nanti Mamih dan Papih akan merestui hubungan kita, atau justru Mamih dan Papih marah dan tidak menganggapku anak lagi," batin Rio berkelana entah kemana. Yang jelas ia masih takut untuk mengakui hubunganya dengan Ody dan mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Iya Mas, Ody akan ikuti gimana Mas sajah, toh yang terpentung kan cinta Mas buat Ody. Lagian surga Ody ada di Mas Rio jadi Ody akan ikuti apa kata suami Ody," balasa Ody dengan lembut.
Rio pun senang setidaknya Ody nurut sama dia. Nanti biar dia yang menjelaskan pada kekeluarganya tentang pernikahanya.
"Ngomong-ngomong gimana masakan Mas, diem-diem bae, itu karena enak atau karena nggak enak?" kelakar Rio yang dari tadi justru dia belum mencicipi hasil masakanya sendiri karena sibuk memikirkan gimana cara menjelaskan pernikahanya pada keluarganya.
"Enak dong Mas, ternyata Mas Rio selain ganteng, kaya, pinter juga jago masak loh," puji Ody yang merasa hasil masakan suaminya sangat nikmat, buktinya ia makan banyak pagi ini padahal menunya serba telor semua.
Rio pun memakan hasil masakanya, "Hemz... nggak buruk- banget lah, walaupun aga asin dikit," batin Rio kembali menyuapkan makanan hasil masakanya, hingga tandas.
Setelah sarapan pun Rio berangkat kerja, Ody pun mengantarkan Rio sampai Halaman depan dan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, sementara Rio mencium Kening Ody dan tentunya yang wajib dan hasrus dilakukan adalah mencium baby yang masih di dalam perut Mommy.
"Papah berangkat kerja dulu yah sayang. Baby baik-baik di rumah sama Bunda. Jangan rewel yah Baby kesayangan Papah." Rio mengajak Baby berbicara dan hal itu selalu hal rutin yang Rio lakuka selama beberapa bulan ini.
"Iya Papah, Baby nggak akan lewel kan Baby sayang Bunda," jawab Ody menirukan suara anak-anak yang imut.
"Iya sayang," jawab Ody sembari menarik hidung Rio yang mancung dan tampangnya tidak bikin bosen.
Setelah berpamitan Rio langsung masuk kedalam mobilnya, dan perangkat ke rumah sakit selanjutnya pulang kerja nanti ia akan menjemput keluarganya di bandara.
Seperti biasa diseberang sana satu pasang mata mengawasi pasangan bahagia itu. Rasa iri dan dendam merasuki hati dan fikiranya. Seringai licik tergambar dalam wajah cantiknya.
Rio di rumah sakit disibukan dengan pasien kecilnya, setiap hari hanya pasien-pasien kecil ini yang bisa sedikit menghibur hatinya yang diliputi rasa bersalah, seperti hari ini perasaanya yang tidak tenang karena kepulangan keluarganya. Bukan karena tidak senang keluarganya pulang, tetapi karena ia bingung mau menjelaskan pernikahanya dari mana. Sehingga fikiranya menjadi tidak tenang, tapi karena pasien-pasien kecilnya ia bisa sedikit melupakan kecemasanya.
Pukul tiga Rio sudah bersiap akan menjemput keluarganya di bandara karena kalo tidak ada ketelambatan, pukul empat pesawat yang mereka tumpangi sampai di Jakarta. Tidak memakan waktu lama kini Rio sudah berada diruang tunggu, dengan sabar menunggu keluarganya sampai tanah air.
"Om Iyo." Rio menoleh kesumber suara dan ternyata pangilan itu berasal dari Ezana ponkanya yang nomor dua, kini Ezana berumur lima tahun, dan untuk berbicara masih cedal.
"Hai... ponakan Om yang cantik." Rio menangkap Ezana yang lari kearahnya dan menghambur kedalam pelukan hangat Rio.
"Om, Oma sama Opa jalanya lama, Eza udah sampe duluan, dan Eza udah jadi juala," oceh Ezana dengan logat cedalnya membuat Rio gemas dan menghujani wajahnya dengan ciumi bertubi tubi.
"Ahhh... ahhh.... geli Om, Eza geli," pekik Ezra sebari tertawa karena geli.
"Mam, Pap, Ka dan Sezen. Sehat semua kan?" tanya Rio sembari memebrikan salam dan berpelukan dengan posisi Rio masih menggendong si kecil Eza.
"Sehat sayang, gimana kondisi semuanya disini, pada sehat semua kan?" tanya Mamih sebagi basa basi. Rio tentu tau kan mereka sering bertukar kabar.
"Seperti yang Mamih liat, Rio sehat," balas Rio dengan bangga. "Gimana nggak sehat Ody ngurusnya pinter," gumam Rio dalam hati.
"Ya udah yuk kita pulang ngobrolnya nanti dilanjut di rumah sajah, badan udah cape juga," ajak Papih yang sudah ingin segera beristirahat dirumahnya.
Rio pun mengikuti kemauan papihnya dan mereka pulang menuju kediaman rumah Hartono rumah yang besar megah dan mewah.
Kepulangan mereka pun disabut oleh para pelayan rumah, yang semenjak mereka pergi ke negri jiran para maid lah yang menjaga Rumah mereka.
"Om, malam ini nginep disini kan?" tanya Lunara, kaka perempuan satu-satunya Rio.
"Rio pulang ajah Ka, jawab Rio dengan yakin sebah ia cemas dengan Ody apabila ditinggal sendirian di rumahnya.
"Ngapain sih pulang, emang nggak kangen sama kita-kita," tanya Lunara seolah memaksa agar Rio menginap di rumah orang tuanya..
Rio langsung bingung dengan tawaran sang kaka. Dia dilema antar jujur dengan pernikahanya atau justru ikuti kemauan kakanya, Lunara....