
Arzen masuk keruangan Rio, guna beristirahat. Tubuhnya yang memang belum terlalu kuat untuk berdiri ia akhirnya memutuskan untuk beristirahat di ruangan Rio. Arzen membuka pintu ruangan yang ternyata justru ada Clovis. Arzen juga baru tahu kalo Clovis ada di sini. Di mana ia dan Clovis pernah terlibat perkelahian. Meskipun dulu sebelum Clovis menghilang sempat mencari dirinya untuk mencari keberadaan Ipek, tetapi tetap sajah Arzen masih sedikit kesal dengan Clovis. Karena bagi Arzen Clovis itu super menyebalkan, keras kepala dan egois. Ingin menang sediri cenderung meremehkan orang lain.
Arzen berfikir bahwa Clovis masih memiliki sifat seperti dulu yang sangat menjengkelkan. Ia berjalan dan memilih duduk di ujung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Clovis, baik Clovis maupun Arzen masih diam. Arzen pun masih enggan untuk menyapa lebih dulu. Begitupun Clovis yang bingung mau menyapa apa.
Cukup lama mereka telibat kebisuan. "Kamu udah lama tinggal di Indonesia?" tanya Arzen. Akhirnya Arzen yang lebih dulu bertanya pada Clovis setelah ia mencoba menyiapkan pertanyaan yang sekiranya pantas untuk ia layangkan kepada sahabatnya.
"Belum, aku baru sekitar satu atau dua minggu di negara ini. Kamu apa kabar? Aku dengar kamu akan menikah dengan Zawa. Kapan rencanaya?" tanya Clovis yang sejak tadi ikut mendengar obrolan Arzen selama di rumah Abahnya Ipek. Sehinga Clovis tahu apa yang terjadi antar Arzen dan Zawa.
Arzen pun kaget dengan apa yang ditanyakan Oleh Clovis. Kenapa ia bisa tahu sedangkan ia dan yang lainya tidak atau belum pernah ada yang mengatakan apapun yang terjadi terjadi selama hasil perundingan dirumah Kakeknya Ipek.
"Kenapa kamu bisa tahu apa yang terjadi antara aku dan Zawa?" tanya Arzen yang justru melempar balik pertanyaan pada Clovis.
"Itu nggak penting, aku udah tau semua dengan apa yang menimpa kamu dan apa yang terjadi diantara kamu dan Zawa. Selamat yah akhirnya kamu bisa menikah dengan gadis yang kamu cintai," ucap Clovis yang kini sudah semakin akrab dengan Arzen. Bahkan sepertinya ia lupa kalo pernah bersitegang, bahkan dirinya sempat masuk rumah sakit karena ulah Arzen.
"Ah, terima kasih. Semoga kamu juga segera menyusul," balas Arzen, tidak mau kalah mendoakan Clovis juga.
Clovis hanya membalas senyuman, entah bagaimana nasibnya apalagi kalo semua tahu bahwa Wahid seperti ini karena ia yang menolak kemauan Wahid dan dia jadi syok, dan kondisinya menurun.
Clovis dan Arzen akhirnya bisa mengobrol santay kembali. Dia sudah melupakan kejadian yang dulu-dulu dan juga dia sudah bisa bersikap kembali layaknya seperti sahabat.
Kita tinggalkan Clovis dan Arzen yang masih mengobrol mencoba menyambung kembali persahabatan yang pernah renggang karena ulah satu sama lain.
Ipek dan teman-temanya masih menunggu keajaiban di depan ruangan rawat Wahid. Meskipun Ipek sudah menyiapkan mental apapun yang akan terjadi, ia sudah mencoba untuk Ikhlas. Meskipun berat dan pastinya sangat nyesek.
"Pek, Wahid pengin ngomong," ucap Rio dengan wajah lelahnya. Bahkan dari tadi ia belum sama sekali makan siang, dan rasa cemas masih menjadi nomor satu. Untuk menginfokan semua urusan saja Rio meminta Aarav yang memberi tahu apa yang terjadi di rumah sakit pada Ody. Itu semua karena Rio benar-benar sibuk.
Ipek pun langsung bergegas, dan bersiap untuk menemui Wahid. Karena Ipek sangat kangen juga ingin bicara dengan suaminya. Ipek selalu berharap bahwa keajaiban akan ada untuk suaminya. Orang yang berhasil menerima Ipek apa adanya. Tanpa embel-embel apapun. Bahkan Wahid bisa menjaga cintanya sejak lama.
Ipek masuk hanya ada Ipek dan satu petugas medis yang berjaga memantau Wahid. Ia semakin sedih manakala semakin banyak alat-alat mendis yang menempel di tubuhnya. Baru juga ia tinggal beberapa jam Yang lalu, tetapi justru begitu dia kembali kondisi suaminya sudah separah ini.
"Ka... kamu udah balik?" tanya Wahid dengan terbata dan suara yang sangat lirih bahkan hampir tidak terdengar oleh Ipek.
Ipek mengangguk, sembari menggigit bibir bahwahnya. Ia tengah menahan rasa sesak ditenggorokanya, agar tidak menangis.
Ipek banyak yang ingin di tanyakan pada Wahid, banyak yang ingin ia beritakan dengan suaminya itu, tetapi ketika melihat kondisi suaminya seperti itu, jangankan untuk bertanya, melihat saja sudah ingin menangis sejadi jadinya.
"Ka- lo A-bang ber-pu-lang, ka-mu me-nikah-lah de-ngan Clo-vis," Wahid berkata dengan tersenggal, suaranya sangat-sangat lirih. Ipek yang mendengar permintaan Wahid pun kaget. "Apa aku tidak salah dengar. Kenapa Abang meminta aku menikah dengan Clovis? Apa maksud Abang berkata seperti itu?" batin Ipek semakin tidak karuan.
Ipek tidak menjawab dia belum siap dengan jawaban apa yang harus ia berikan. Di otaknya saja tidak ada jawaban yang apa yang akan ia berikan bahkan justru isi otaknya dipenuhi dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang lain. Tapi Ipek juga tidak bisa langsung bertanya sebab pasti Wahid akan sulit untuk menjawabnya jadi lebih baik Ipek fokus dengan kesembuhanya dulu.
"Abang jangan fikirkan hal semacam itu. Abang fokus saja dulu dengan kesembuhan Abang. Kalo Abang sudah sembuh, Ipek janji akan membicarakan masalah ini. Tapi tolong jangan bahas sekarang, situasinya tidak tepat." Ipek tidak ingin melihat Wahid seperti ini. Sehingga jawaban ini yang Ipek berikan.
Wahid ketika mendengar jawaban Ipek hanya memejamkan matanya, tidak ada lagi ucapan dan respon yang lain. Detak jantunya Ipek lihat di monitor jantung masih bagus. Sehingga Ipek mengira bahwa Wahid hanya perlu istirahat. Ipek mengusap punggung tangan Clovis yang semakin kurus dan urat-uratnya pun terlihat dengan jelas.
Sedih, mungkin dengan Ipek mengusap punggung tangan Clovis dia bisa menghangatkan tubuh suaminya yang dingin. Bahkan sangat dingin seolah tidak ada darah yang mengalir di pembuluh darahnya. Pucat dan dingin.
Ipek mencoba membangunkan Wahid yang justru ia tidur, entah tidur entah apa kenapa suaminya tidak bangun-bangun.
"Dok, ini kenapa suami saya nggak ada repon lagi yah?" tanya Ipek heran. Pasalnya dia juga masih merasakan ada denyut di pergelangan tangan Wahid dan monitor jantung juga masih menunjukan jantung Wahid masih berfungsi dengan normal.
Dokter yang sejak tadi berjaga pun langsung berjalan dengan tergesa mengecek kondisi Wahid. Setelah diperiksa.
"Ibu maaf keluar saja! Tolong panggilkan team medis yang lain. Kita harus segera ambil tindakan untuk Bapak Wahid, kondisinya kembali melemah, dan juga ia kembali tidak sadar." Dokter dengan suara tegas meminta Ipek untuk keluar.
Ipek pun dengan lemas dan kembali tulang-tulangnya seolah hilang. Ipek berjalan dengan terseok dan memanggil Rio dan yang lainya untuk kembali masuk ke dalam.
Yang sabar yah Ipek badai pasti berlalu....