
Dirumah Emly ...
Setelah papih memberi keputusan agar Emly keluar dari rumah mereka selama ia hamil. Kini mau tak mau Emly harus mengikuti keputusan papih. Sebenarnya Emly berat meninggalkan rumah, apa lagi ia harus tinggal bersembunyi selama hamil. Karirnya yang ia banggakan selama ini akan hancur, cita-cita sebagai model saat ini harus Emly kubur sementara waktu selama ia hamil. Emly bersikeras setelah melahirkan dirinya akan kembali terjun ke dunia modeling. Meninggalkan masa lalunya dan akan memulai hadup yang baru, tentunya Emly akan merahasiakan anak itu dari siapapun, bahkan dari Aarav sekali pun.
Emly dibantu Mbok Zuha membereskan semua barang yang sekiranya Emly perlukan. Atas permintaan mamih akhirnya Mbok Zuha akan menemani dan membantu semua keperluan Emly.
Setelah barang yang penting sudah siap dan sudah di simpan di mobil, Emly berpamitan dengan mamih dan papih. Pastinya kedua orang tua Emly memberikan banyak nasehat terhadap putri kesayanganya.
Kini Emly sudah di dalam mobil setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, ia merenungi nasibnya, tapi Emly juga nggak akan tinggal diam sebab, karena jebakan dari teman-teman Rio kini ia kehilangan karir dan juga masa depannya kini yang nggak pasti.
Emly akan kembali menyusun rencana untuk kembali menghancurkan mereka, tentunya kali ini Emly akan bermain lebih rapih tidak seperti kemarin sembrono, alhasil ia sendiri yang masuk kedalam permainan itu.
"Pa nanti ke Klinik Dokter Zawa dulu yah", ucap Emly memberi tahu supir agar mengantarkanya ketempat Zawa.
"Baik Non."
Setidaknya Emly akan bercerita tentang keputusan papih dan mamihnya, sekaligus meminta solusi untuk masalahnya, apa ia akan tinggal di apartemen atau ditempat lain, ia akan mengikuti saran dari Zawa.
Sebelumnya Emly memang sudah membuat pesan, memberi info pada Zawa, bahwa dirinya akan datang. Emly langsung masuk kerumah Zawa. Kebetulan Klinik dan rumah Zawa menyatu.
Emly berjalan diikuti Mbok Zuha dibelakangnya, pastinya Emly seperti biasa jika datang ke klinik melakukan penyamaran agar tidak ada yang mengenalinya.
Cukup lama Emly menunggu Zawa selesai praktek, waktu menunggu Emly gunakan untuk membaca buku panduan mengenai kehamilan, tetapi sayang rasanya selama membaca Emly tidak merasakan adanya kasih sayang dengan janin yang ia kandung. Perasaanya masih sama ia membenci bayinya.
"Udah lama Mly?" tanya Zawa yang baru seresai praktek.
"Yah, lumayan," jawab Emly singkat.
"Sorry tadi banyak pasien yang kontrol dan konsultasi jadi aga ngaret dari waktu biasanya gue praktek." ucap Zawa, merasa nggak enak karena terlalu lama membuat Emly menunggu.
"Ok, santai ajah, nggak usah merasa tidak enak gitu kan gue sekarang pengangguran jadi punya waktu banyak ko buat bersantai ria seperti sekarang." jawab Emly dengan santai.
" Ya udah, terus rencana Loe gimana?" tanya Zawa langsung membahas ketopik tujuan Emly menemui dirinya.
"Gue masih bingung mau tinggal dimana." jawab Emly dengan jujur.
"Saran gue, loe tinggal disini ajah Mly, di samping lebih aman, nanti kalo ada apa-apa ada aku yang bisa bantu kamu kapanpun, kalo di apartemen itu lumayan jauh dari sini. Kamu mau priksa ajah harus nyamar-nyamar biar nggak ketahuan orang, kalo disini kan aman nggak usah nyamar. Kapan pun kamu butuh, aku akan selalu ada." saran Zawa mejelaskan tujuanya agar Emly tinggal di rumahnya.
"Ya udah terserah loe ajah gimana Enaknya, gue ikut saran loe ajah," jawab Emly pasrah.
Kini Emly tinggal dengan Zawa, atas masukan dari Zawa pastinya, ia takut kalo Emly melakukan hal yang berbahaya buat janinya. Makanya ketika Emly tinggal di rumahnya, ia akan lebih gampang buat mengawasinya.
****
Di ruangan Dokter Rio ...
Begitu Ody keluar dari ruanganyanya, sebenarnya Rio masih pengin memberikan penawaran, agar Ody mau kembali kerumahnya, tetapi sikap gengsinya lebih besar, sehingga Rio membiarkan Ody keluar ruanganya begitu sajah.
Rio membuka bok rujak yang Mbok Karti kirimkan, dari penampilanya sajah sudah membuat Rio menelan ludah berkali-kali.
Rio memakan Rujak serut mangga muda dengan sangat nikmat.
"Ya ampun,...rasanya enak sekali, kayaknya ini Mbok Karti kirim cuma satu box masih kurang." gumam Rio masih dengan mengunyah rujak.
Aarav yang akan mengantarkan laporan rumah sakit, masuk keruangan Rio.
"Wih apan tuh Bos, kayaknya seger banget," ucap Aarav ketika melihat Rio tengah menikmati rujak Serut yang tampak membuat Aarav juga menginginkanya.
"Pelit banget sih bos, kalo nggak kasih gue nyicipin ke tuh rujak satu sendok ajah. Ngiler nih liatnya." pinta Aarav nggak mau nyerah ngerayu Rio.
"Dikit doang yah." ancam Rio .
"Iyeh,... pelit banget deh, beli dimana sih bos, ko nggak sekalian gue dibeliin," ucap Aarav penasaran
"Mbok Karti yang bikin, dari mangga yang di taman belakang rumah dipetik," jawab Rio.
"Ya udah besok Mbok Karti suruh bikin lagi ajah, ini udah jatah gue." Aarav mengambil rujak yang tinggal bebera suap lagi.
Rio yang merasa belum puas makan rujak pun nggak mau ngalah.
"Ya jangan diabisin dong Rav, gue belum puas." ucapa Rio dengan nada kesal.
"Ya gimana nggak diabisin sih orang ini ajah cuma tinggal dua sendok doang." ucap Aarav menyodorkan bok makanan yang udah abis rujaknya.
"Ah,...loe mah nyebelin banget, itukan rujak gue malah loe abisin." sungut Rio dengan nada emosi.
"Besok Mbok Karti suruh bikin lagi deh yang banyak." ujar Aarav mencoba membujuk Rio.
"Ya kalo mangga dibelakang masih ada kalo engga?" tanya Rio.
"Ya elah bos timbang mangga, di pasar kan juga banyak." jawab Aarav sambil tersenyum geli..
"Beda kalo di pasar, rasanya pasti nggak seenak kalo metik langsung." oceh Rio sambil menunjukan muka cemberutnya.
"Hahah...ya udah kalo di belakng abis, entar nyolong ajah punya tetangga yang mangganya berbuah." saran gila Aarav..
Rio yang mendengar saran gila Aarav pun melempar Aarav dengan barang yang ada diatas mejanya..
Azra yang mendengar keributan dari dalam pun masuk.
"Apa-apaan sih ini ko kalian kaya anak kecil," ucap Azra ketika melihat perkelahian antara bos dan asistenya itu
"Noh si Aarav ngabisin Rujak gue." tunjuk Rio masih nggak terima Aarav ngabisin rujaknya.
"Apaan orang gue makan cuma dua sendok, dia kasih sisa doang, di abisin ngabek ,kaya anak kecil, pundungan." bela Aarav nggak mau kalah.
"Sumpah aneh banget deh, kaya orang ngidam ajah, perkara rujak ajah sampe heboh." ucap Azra aneh dengan kelakuan bos dan asistenya.
Rio dan Aarav yang mendengar perkataan Azra bahwa kelakuanya seperti orang mengidam pun saling lirik. Seolah bertanya apa iya kelakuan mereka seperti orang mengidam.
Azra pergi begitu sajah setelah Rio dan Aarav merenungi perkataanya.
"Emang kelakuan gue kaya orang ngidam?" tanya Rio.
"Mana gue tau, kan gue belum tau orang ngidam seperti apa." jawab Aarav jujur .
mereka pun diam dengan fikiran masing-masing. ..
**** Belajarlah dari masa lalu, karna disanalah Tuhan memberikan banyak conetekan untuk ujian dimasa depan.****
...****************...
# Terimakasih buat yang udah mampir , jangan lupan tinggalkan jejak yah .❤