
Katanya tadi nanti sajah, tapi disamber juga," ledek Rio dengan menoel bibir Ody, serta memainkanya sehingga membuat Rio semakin gemas sajah, tidak tahan untuk menaklukan istri kesayanganya itu.
"Lagian siapa yang tahan kalo dikasih yang enak-enak." Ody langsung mengambil alih duduk di atas Rio sembari memaikan benda kesukaanya....
Tentu membuat Rio semakin gemas ingin segera melawannya dan mengajak perang main pedang-pedangan. Dengan sangat lihai Ody memimpin permaina. Ody yang awalnya malu-malu justru sekarang menjadi pe'mau, dimana-mana bawaanya mau terus, dan pengin nambah. Bahkan sering juga Ody mengirimkan pesan singkat atau pun gambar yang membuat Rio ingin segera pulang dan menghukum Ody di bawah kukunganya.
Setelah cukup lama melakukan penyatuan...
Ah.......
Ah........( lengkuhan panjang terdengar bersahutan dari kedua pasangan halal itu.)
keduanya terkulai lemas dengan peluh membasahi tubuh polosnya.
"Kan enak kalo udah keluar, kepala nggak sakit," ujar Rio sembari mendekap tubuh polos istrinya.
"Ya udah sekarang jawab pertanyaan Ody tadi." Rupanya Ody masih mengingat janji Rio sebelum bertempur.
"Yang mana yang, udah lupa." Rio pura-pura lupa karena matanya langsung berat ingin tidur.
"Mas, ah... Ody itu penasaran kenapa Mas itu dulu benci banget sama Ody? Terus penginya bikin nangis terus," cecar Ody nggak mau tau ingin dijawab oleh Rio.
"Itu karena Mas sayang," kelakar Rio, yang justru menjawabnya dengan candaan.
"Bohong! Mas ayo lah, ini dedeknya yang pengin denger jawaban Papahnya loh." Jalan satu-satunya Ody harus menggunakan nama babynya agar Rio mau menjawab.
"Ya udah, iya Papah jawab nih, semuanya demi baby ini," ucap Rio sembari menciumi perut bunci Ody dengan gemas. "Dulu nggak suka ajah sama kamu, abis kamu anaknya terlalu manis jadi Mas takut benar-benar jatuh cinta, dan benar sajah Mas dibikin jatuh cinta duluan sama kamu." Rio mengakui bahwa ia yang jatuh cinta duluan dengan Ody.
"Emang Mas mulai jatuh cinta sama Ody mulai kapan?" tanya Ody penasaran pasalnya Rio selama itu jutek dan selalu ingin menang sendiri jadi Ody menyangka bahwa Rio memang benar-benar benci dengan dirinya.
"Sebenarnya kalo dibilang tertarik sudah dari sebelum menikah Mas udah tertari sama kamu, terlebih kamu itu sederhana dan nggak neko-neko. Kamu juga pekerja keras sayang keluarga dan jujur. Yang terpenting suara kamu itu nggak ada obat terngiang-ngiang terus di pkiran Mas."
Ody tentu dengan bangga tersenyum malu-malu, karena ternyata suaminya mencintainya lebih dulu dan mengakunya jauh sebelum menjadi istrinya.
"Tapi waktu kamu ngotot buat minta pertanggung jawaban Mas sempet kesel dan pengin membuat kamu menyerah dan pergi dari kehidupan Mas." Rio berkata jujur.
"Alasanya?" tanya Ody semakin penasaran.
"Ya enggak tau, tiba-tiba sebel ajah, sama sikap kamu yang sok jutek dan nyebelin lah," ujar Rio sembari mendekap Ody semakin kuat.
"Ih ko ngeselin nggak ada alasanya, berati bohong dong kalo gitu ceritanya," rajuk Ody.
"Bener deh sayang, tapi kan bentar ajah Mas bikin ayang keselnya abis itu Mas langsung dihukum sama si baby ngidam sakit kepala dan sembuhnyan kalo udah dipijit kamu. Memang nih anak kita itu penyatu banget," ucap Rio sembari terus mengusap-usap perut Ody. Rio juga selalu mengajak ngobrol sang baby dan nanti akan dibalas dengan tendangan halus oleh anaknya itu.
"Haha... iya Ody juga ingat waktu Mas kalo sakit kepala pagi-pagi Aarav telfoni Ody buat datang mijat kepala Mas Rio. Memang waktu itu sakit benaran Mas kepalanya." Ody pun mengusap kepala Rio yang dulu setiap pagi ia selalu pijit.
"Nah kalo kamu mulai suka sama Mas kapan?" tanya Rio penasaran juga dengan perasaan Ody.
"E.... sejak kapan yah? (Ody tampak berfikir) Kayaknya sejak penyatuan kita yang di rumah Ody itu Mas. Dari situ Ody kan jadi tidak pernah mau jauh dari Mas," jawab Ody dengan malu-malu.
"Selama itu kamu baru suka sama Mas?" tanya Rio kaget, karena ternyata istrinya susah untuk jatuh cinta.
Ody mengangguk sebagai jawabanya.
Mereka pun mengobrol santai sembari berpelukan dan saling melepaskan rasa sayangnya.
****
Sementara di sebuah rumah kontrakan, sepasang suami istri tengah bersitegang setelah siang tari mereka bertemu dengan Ody dan suaminya. Setelah mendengar ucapan Rio, Doni menyangka bahwa Cindi pasti yang menyembunyikan surat tanah itu. Dari mana Rio tau tentang hal itu? Entah lah yang jelaa Doni pun mulai curiga dengan Cindi.
Selama ini ia selalu berbelanja barang mahal, tetapi pekerjaan Doni yang berpenghasilan sebagai buruh pabrik tentu gajihnya tidak cukup untuk memenuhi semua barang-barang yang Cindi bili. Doni sebenarnya sering bertanya dari mana Cindi mendapatkan uang-uang itu, tetapi Cindi selalu beralasan bahwa ia memiliki uang dari bekerja sebagai reseller produk pakean yang sukses, tetapi Doni juga tau hasilnya kerja tidak sebanyak itu. Bahkan untuk membeli kuota dan kebutuhan rumah yang ringan masih kurang. Masa iya dari reseller pakaian dia bisa berbelanja barang-barang mewah. Sedang yang Doni liat pembelinya tidak terlalu banyak.
"Kenapa aku nggak curiga dari dulu, kenapa baru sadar setelah bertemu dengan Ody," batin Doni mulai menyesali dirinya yang begitu percaya dengan Cindi.
"Aku tanya sekali lagi Cindi, di.mana kamu simpan surat tanah tersebut?" tanya Doni dengan wajah merah menahan kemarahanya, sejak tadi Cindi selalu berkata tidak tau dan menghindari pertanyaan suaminya itu.
"Demi Tuhan Mas, aku nggak tau!" Cindi tidak kalah membentak Doni, suaminya.
"Jangan bohong kamu Cin, aku memang seharusnya waspada sama kamu, tiba-tiba kamu masuk kekehidupanku dan merayuku pasti ada niat buruk dibalik semua." Doni membalas perkataan Cindi dengan geram.
"Tega kamu yah Mas ngomong gitu, kalo kamu setia, gimana pun aku merayu kau pasti tidak akan terpancing. Dasarnya sajah kamu itu playboy, jadi ada yang deketin langsung sikat," balas Cindi dengan sinis.
"Benar kata suami Ody kamu itu perempuan yang berbahaya." Doni semakin membuat Cindi murka.
"Silahkan kamu percaya semua omongan laki-laki itu, tapi kamu bisa buktikan apa bahwa akulah yang telah mengambil surat tanah kamu?" balas Cindi tidak kalah sengit.
"Aku akan buktikan, dan apabila kamu terbukti sudah mengambil surat tanah ini dan menyembunyikanya. Aku pastikan kamu akan menyesalinya. Ternyata aku selama ini percaya sama kamu justru kamu manfaatkan," murka Doni.
"Aku tunggu hari itu, aku apa kamu yang akan malu karena sudah percaya sama mantan tunanganmu dan laki-laki bermulut lemes itu." Cindi selalu sajah ada cara untuk membuat Doni tidak berkutik.
Mereka pun diam dalam kekesalan hati masing-masing.
"Aku harus hati-hati sepertinya Doni sudah mulai curiga dengan aku. Semua itu karena laki-laki itu. Lagian kenapa aku harus ketemu Ody hari ini, membuat masalah sajah si Ody dan suamiya," batin Cindi dalam hatinya selalu mengutuk orang lain.
"Aku harus hati-hati sama Cindi, dan juga mulai sekarang aku harus ngawasin benar-benar pergerakan Cindi, agar aku tau dia melakukan apa sajah." Doni pun tak kalah bergumam dalam hati.
Jalan damai satu-satunya dengan Ody adalah mencari surat tanah itu, tetapi sampai sekarang surat itu belum ketemu, sementara Rio dari cara melihat gelagat Cindi ia sudah tau bahwa Cindi adalah biang dari masalah ini. Namun Doni juga tidak bisa langsung menuduh Cindi, terlebih Cindi tidak mengakui kesalahanya itu.