
Huhuhu... Meyra kembali menangis sepanjang pagi, ketika papahnya meminta izin untuk bekerja. "Mey papah mau kerja yah, Mey di rumah sama Bunda dan Cus yah. Ada Bibi juga dan nanti Oma juga akan kesini. Papah tadi sudah bilang sama Oma agar main kesini dan temanin Mey main boneka dan nonton cartun. Mey jangan nangis yah...
Hua... Hua... Meyra langsung menangis sejadi-jadinya padahal papahnya belum selesai berbicara, tetapi Meyra sudah menangis histeris. Pokoknya Meyra benar-benar ketakutan kalo dia akan di pisahkan dengan orang tuanya. Rio dan Ody pun semakin di buat heran dengan sikap putrinya.
"Apa ini sikap bawah sadar Mey, kalo ia seolah tidak mau kalo mau punya adik yah Mas?" tanya Ody sembari berbisik.
"Enggak mungkin sayang, Mey selama ini bahagia kok kalo dia mau punya adik, malahan dia yang paling terlihat bahagia. Kamu juga lihat kan bagai mana antusiasnya Mey mempersiapkan semua persiapan untuk adiknya," tepis Rio, yang tidak setuju dengan pendapat istrinya itu.
Ody kembali berfikir kira-kira apa gerangan yang menyebabkan Meyra tiba-tiba berubah seperti itu. Bahkan Ody yang melihat kasihan dengan Meyra yang sepertinya tubuhnya kelelahan sebenarnya terlebih dari jam tiga pagi sampai sekarang pukul delapan Mey tidak kunjung tidur lagi, dan justru menangis dengan sedih dan gelisah terus menerus.
Rio yang melihat Meyra tidak mau di tinggal pun pada akhirnya memutuskan tidak pergi kerumah sakit segala jadwal praktiknya di alihkan dengan dokter lain. Dan pekerjaanya di serahkan pada Aarav untuk sementara waktu.
"Mey kenapa Rio?" tanya papih yang langsung datang kerumah anaknya begitu mendapat telepon mengabarkan kondisi Meyra.
"Tidak tahu Pih, tapi yang jelas Mey seprti ketakutan kalo bakal kita tinggalkan," jawab Rio, dengan wajah lelahnya. Bahkan Meyra kembali histeris menangis ketika oma dan opanya datang. Meyra ternyata juga tidak menginginkan kehadiran oma dan opanya.
Orang tua Rio pun heran dengan sikap cucunya itu. Namun demi kebaikan dan kesehatan Meyra, opa dan omanya kembali ke rumahnya meninggalkan Meyra masih dengan isakan yang sesekali masih terlihat dengan jelas.
Meyra di samping tidak mau dengan siapa-siapa juga tidak mau kembali tertidur sedangkan terlihat dengan jelas wajah lelahnya. Ketika di tanya kenapa Meyra tidak mau tidur? Anak itu akan berkata takut kalo ia tidur, makan Rio atau Ody akan meninggalkanya. Sehingga membuat Ody malah semakin di landa cemas dan takut. Dalam pikiranya sebenarnya ada rasa takut akan terjadi sesuatu diantar mereka.
Pikiranya mengulang kembali ke kejadian empat tahun yang lalu di mana ia kehilangan buah hatinya. Dan kini rasa takut itu kembali menyerang.
"Mas, kenapa Ody jadi takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga kita yah, dan Mey bisa merasakan itu sehingga anak kita jadi rewel kaya gini," ucap Ody dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca. Hal itu justru menambah panik Rio, tidak memungkiri bahwa Rio juga ada fikiran buruk dengan apa yang di alami Meyra. Sifat rewel sangat luar biasa sehingga membuat badan Meyra lemas, karena kurang istirahat.
"Semoga saja seperti itu yah Mas. Bukan mendakan hal buruk seperti yang Ody takutkan," balas Ody, mencoba tetap berfikir positif seperti yang Rio bilang dan memang sangat masuk akal. Usia Meyra yang belum genap empat tahun tentu membuat ia belum begitu paham mana dunia mimpi dan dunia nyatanya. Sehingga ketika anak usia segitu mengalami mimpi buruk akan dia akan menganggapnya bahwa itu akan terjadi dikehidupan nyatanya.
Rio yang di hatinya juga sebenarnya ada perasaan was-was sama seperti Ody. Tetapi dia harus bisa menutupi kecemasan itu agar Ody juga tetap tenang. Terlebih kehamilan Ody yang sudah memasuki sembilan bulan sangat tidak dianjurkan tegang dengan fikiran yang cemas. Walaupun Rio cape karena Meyra yang tidak mau dengan siapa-siapa tapi ia berusaha tidak menunjukanya, dengan kasih sayang yang luar biasa Rio tetap berusaha mengalihkan perhatian Meyra agar lupa dengan mimpinya dan kembali menjadi Meyra yang ceria.
****
Pagi hari di rumah keluarga Emly.
"Mih, papih mau meminta maaf karena sifat papih lagi-lagi membuat mamih kecewa. Papih seolah tidak sadar dengan semua yang papih rasanya. Perasaan papih masih tidak suka dengan laki-laki yang menghamili Emly. Sehingga papih bersikap seperti itu. Papih janji sedikit-sedikit papih akan merubah sifat papih yang tidak baik itu, tapi tolong kerja samanya dari mamih karena merubah sifat itu sulit tidak semudah membalikan telapak tangan," ujar papih yang sejak obrolan terakhir yang menengang itu membuat istrinya mendiamkanya. Dan kini tugasnya agar mamih kembali bersikap hangat terhadapnya. Tidak enak bukan ketika kita tinggal satu atap tetapi saling mendiamnkan?
"Mamih ngerti Pih, dan mamih juga sudah bersyukur bahwa papih yang saat ini juga sudah banyak sekali berubah,bukan lagi papih yang suka menindas, egois, merendahkan. Tapi apa salahnya papih kali ini belajar mengalah. Kalo mamih malah senang ada laki-laki seperti asistenya Rio itu yang mau mempertanggung jawabkan perbuatanya, berati dia mau menerima anak kita. Tapi tidak tahu sekarang apakah laki-laki itu masih mau menerima anak kita yang sekarang kondisi fisiknya saja sudah tidak seperti dulu." Nampak sekali kesedihan dari diri mamih ketika membahas dengan kondisi Emly yang sangat menyedihkan itu.
Waktu tiga tahun lebih tidak bisa membuat mamih menerima dengan ikhlas nasib buruk yang menimpa putrinya itu. Masih ada bongkahan harapan yang besar di hatinya bahwa Emly akan sembuh seperti sedia kala.
Meskipun dokter mengatakan bahwa kesempatan itu tidak akan lebih dari tiga puluh persen, itu artinya sangat kecil kemungkinan Emly untuk sembuh, tetapi setidaknya bisa lepas dari korsi roda dan berjalan menggunkan ke dua kakinya. Kemungkinan memang sangat kecil, tetapi kesempatan itu masih ada sehingga mamih tetap berharap keajaiban dari Sang Pemilik Kehidupan.
Pasangan suami istri itu seketika berhenti membahas obrolannya, ketika putrinya sudah mendekat kearah mereka di mana mereka saat ini berada di ruang makan dan akan makan dengan menu yang sudah mamih siapkan.
"Lagi ngomongin apa sih Pih, Mih kok kayaknya serius amat, udah gitu Emly datang langsung pada diam kenapa? Emly tidak boleh tahu yah kalian ngobrolin apa. Pasti lagi membahas Emly," tebak Emly dengan wajah di bikin seceria mungki, tidak sebanding dengan isi hatinya yang sudah semakin menegang ketika tinggal menghitung hari dirinya akan bertemu dengan keluarga Rio dan Zawa lalu menyerahkan sepenuhnya kepada kebaikan mereka. Dan bukan tidak mungkin Emly akan mendekam di penjara, karena keluarga Rio yang membuka kembali kasus yang Emly sebabkan sampai buah hati Ody dan Rio meninggal dunia.
Sepandai-pandainya Emly berusaha bersikap tenang tetap saja kecemasan masih tergambar jelas di wajahnya. Gerak tubuh Emly pun seolah berbicara bahwa sang pemilik raga sedang tidak baik-baik saja.