
Cup... Clovis begitu melakukan putaran memberikan kecupan di pipi Ipek yang tengah duduk. Clovis kembali lari lagi dan Cup... Ketika ia sampai di putaran istrinya yang tengah duduk itu. Sehingga ketika Clovis mencapai sepuluh putaran maka sepuluh kecupan di dapat Ipek di pipinya.
Ipek hanya tersenyum ketika Clovis melalukan hal semacam itu. Yah Clovis melakukanya untuk memberikan semangat untuk dirinya sendiri agar dia bersemangat larinya.
"Aduh, rasanya olahraga di temanin istri itu beda banget yah. Berasa dapatkan suntikan vitamin ini mah dari tadi berlari-lari padahal sudah sepuluh kali putaran tapi masih kuat ini mah kalo harus olahraga yang lainya lagi," bisik Clovis ketika ia selesai memberikan kecupan yang ke sepuluh, hal itu tandanya ia juga sudah sampai di putaran yang ke sepuluh juga.
"Kalo gitu nanti Ipek temanin deh kalo Abang mau olahraga, lagian Ipek juga takut kalo membiarkan Abang olahraga seorang diri. Di mana banyak cewek-cewek suka suami orang jadi harus benar-benar di jaga suaminya. Apalagi badanya idaman cewek-cewek banget, ucap Ipek dengan bersiap menjadi pawangnya Clovis agar tidak ada cewek-cewek yang menggodain suaminya itu. Di mana cewek-cewek sekarang kebanyakan malah lebih suka dengan suami orang dari pada nyari yang single.
"Bener yah, awas nanti kalo diajak olahraga nggak mau nanti malah suaminya ada yang ambil," goda Clovis agar Ipek mau menemani dirinya untuk berolahraga dan tentunya tampa rayuan dan lain sebagainya. Padahal kalo qda yang mau ambil pun Clovis tidak akan mau, karena ia sudah cinta luar dalam pada istrinya itu.
"Jangan!!! Pokoknya kalo ada cewek yang mau ngerebut Abang, Ipek siap-siap beli racun, biar mereka tahu diamnya Ipek itu langsung membunuh," ucap Ipek tidak mau ambil pusing. Sementara Clovis semakin di buat terkekeh oleh Ipek.
"Ya udah yuk katanya mau beli makanan untuk sarapan, ketoprak atau lontong sayur?" tanya Clovis sembari menggandeng tangan istrinya agar mengikutinya mencari makanan yang diinginkan.
"Tapi Ipek kan nggak ikut olahraga, bukanya tadi akan dibelikan jajan kalo olahraga. Ipek tadi nggak ikut olahraga loh, Ipek hanya duduk dengan santai dan melihat Abang ajah yang cape olahraga," ucap Ipek. Ia masih ingat janjinya bahwa hanya akan dibelikan jajan kalo mau ikut olahraga. Berhubung rasa malas yang sangat luar biasa menguasainya, jadi Ipek tidak mau berolahraga, meskipun taruhanya ia tidak jadi dibelikan jajanan oleh suaminya.
"Hahaha... Tidak apa-apa sayang, kamu tetap boleh kok jajan sepuasnya. Bukan hanya ketoprak sama lontong sayur ajah. Semua yang Ipek mau boleh belanja dengan sepuasnya." Clovis tertawa dengan renyah dan menuntun Ipek agar mengikutinya dan mereka kali ini akan mencari makanan untuk sarapan.
"Ini serius Abang, Ipek boleh jajan sepuasnya?" tanya Ipek dengan antusias, gimana tidak antusias. Biasanya Ipek tidak diizinkan jajan sembarangan oleh Umi dan Abinya. Ipek apabila jajan dan ingin makanan apapun itu harus izin Umi, ataupun Abi, tetapi tetap saja ia tidak diizinkan untuk jajan sembarangan dengan alasan ini dan itu. Padahal Ipek sudah sejak lama ingin merasakan jajan makanan kaki lima lagi dan itu semua terjadi baru sekarang oleh Clovis dibebaskan boleh jajan dengan sepuasnya.
"Boleh, yuk kalo tidak buru-buru mencari makanan apa yang diinginin nanti keburu habis malah, ini udah hampir jam delapan loh nanti malah kehabisan makananya," ucap Clovis.
Ipek pun langsung mengikuti Clovis untuk menyusuri pedagang yang berjajar di pinggir-pinggir jalan untuk menjajakan daganganya. Setelah memilih beberapa makanan Ipek pun membeli telor gulung, pop ice, celok, somay, sotong tidak lupa ketokrak dan juga pecel dan mendoan.
"Udah?" tanya Clovis ketika melihat istrinya sudah banyak menenteng kantong yang berisi jajanan keinginan istrinya itu.
Ipek mengangguk. "Kayaknya udah deh, tapi kalo nanti di jalan ada yang ingin di beli, nggak apa-apa kan Ipek mampir lagi?" tanya Ipek sembari mencari kue pancong yang sejak lama ingin ia beli.
"Boleh, mau mampir ke sepuluh tempat juga bebas," balas Clovis. Sementara Ipek membeli begitu banyak jajanan, Clovis malah tidak membeli apa-apa. Melihat istrinya sudah belanja begitu banyak makanan Clovis sampe lupa bahwa dirinya juga belum membeli sesuatu. Clovis hanya senang membelikan apa yang Ipek mau walaupun ia tahu bahwa semua yang Ipek beli tidak akan habis di makanya. Apalagi Clovis juga tahu bahwa istrinya itu tidak kuat untuk makan-makanan dalam jumlah banyak.
Setelah mendapatkan apa yang Ipek mau, mereka berdua pun kembali ke hotel tempat mereka menginap dan akan sarapan bersama dari jajanan yang mereka beli barusan.
Sementara di hotel tempat mereka menginap.
"Ini pengantin baru belum pada bangun yah?" tanya Chandra niatnya ingin meledek Clovis yang di kira masih istirahat karena kecapean semalaman bercocok tanam.
Di lestoran memang semuanya sarapan bersama, karena mereka semalam pun menginap di hotel yang sama. Abi, Umi Abah, Ambu, Abang-abang Ipek, keluarga mantan mertua Ipek dan tentunya teman-teman Ipek dan Clovis tanpa terkecuali masih menginap di hotel yang sama. Mereka bahkan dengan sengaja melakukan sarapan bersama. Mereka sangat kompak satu sama lain.
"Kamu kayak nggak tau ajah Ndra, kejar setoran dong. Liat Rio udah mau punya dua ekor dan sekarang Clovis juga sedang kejar setoran dan berlomba sama Arzen. Coba siapa kira-kira yang bakal jadi duluan," ucap Aarav tidak mau kalah. Mereka yang hadir pun ikut tertawa dengan candaan teman-teman Clovis dan mereka rata-rata pada tahu pengantin baru jam segini itu masih pagi. Karena mereka mereka pada lembur sampai pagi dan baru istirahat setelah sholat Subuh, itu dugaan mereka.
"Wah kalo kaya gini caranya Abi dan Umi bakal cepat dapat cucu dong, abisan Ipek sama Clovis benar-benar bisa diandalkan. Kerja lembur biar cepat jadi dan memberikan cucu," ucap Abang Ipek, Maher, tidak mau kalah meledek pengantin baru itu. Di mana mereka semua mengira bahwa Clovis dan Ipek memang masih tidur karena kecapean lembur.
"Amin, mudah-mudahan ajah Bang, adik kamu cepat dapat momongan, biar kami juga cepat dapat cucu," jawab Abi, dan Umi hampir bersamaan. Di mana mereka sudah sangat menginginkan cucu dari anaknya. Yah, Ammar kaka pertama Ipek memang sudah menikah, sudah cukup lama malah mereka menikah, tetapi sampai sekarang mereka belum dipercaya mendapatkan momongan, hal itu membuat Umi dan Abi sangat berharap dengan Ipek. Anak bontot mereka.
Ipek memang melangkahi tiga Abangnya, di mana Maher dan dua Abangnya yang kembar Zain dan Zayan. Namun, mereka tidak ada yang masalah atau pun keberatan ketika Ipek menikah duluan. Memangnya sebagai cewek menikah biasanya lebih cepat dari pada cowok di mana mereka semua benar-benar memper timbangkan kemampuan dalam materi dan kesiapan yang lainya.
Ketika mereka semua sedang asik memperolok pengantin baru yang di kira masih asik di dalam kamar karena kecapean. Ipek dan Clovis justru baru sampai di hotel mereka menginap, setelah berolahraga.
"Kita sarapan di lestoran ajah yah sayang. Jadi jajananya tidak di makan di kamar kotor nantinya," tawar Clovis agar memakan buruan jajananya di lestoran.
"Ya udah itu ide bagus," jawab Ipek, sehingga mereka pun menuju lestoran.
"Sayang kayaknya kebetulan banget yang lain juga sedang pada sarapan," ucap Clovis sembari menunjuk keluarga dan teman-temannya.
"Iya sayang yuk buruan kesana," ajak Ipek dengan tidak sabar. Ipek dan Clovis pun mempercepat jalanya.
"Tunggu deh Beb, kok mereka kayaknya lagi ngomongi kita yah?" ujar Clovis sembari menajamkan pendengaranya. Ipek yang penasaran pun ikut menajamkan pendengaranya juga.
"Iya sayang, tapi kayaknya mereka ngomongin kita biar cepat kasih cucu," jawab Ipek sembari mengerutkan keningnya.
"Iya tuh Abi dan Umi pengin cucu, kalo gitu setelah sarapan kita garap ladang lagi yah, biar cepat jadi cucunya," ucap Clovis dengan semangat dan di balas anggukan oleh Ipek tidak kalah bersemangat.