
Clovis begitu pulang jum'atan tidak langsung kembali ke kamar hotel, melainkan ia COD'an dengan kurir yang ia pesan sebuah buket bunga mawar merah dan boneka beruang berwarna pink. Dan bertemu dengan Intan di mana sebelum sholat jum'at Clovis memberitahukan pada Intan untuk membelikan satu set perhiasan untuk Ipek.
Sebagai teman yang baik Intan pun mengikuti kemauan Clovis lagi-lagi Intan dan Zawa yang mencari kado ulang tahun untuk sahabatnya itu.
"Gimana Tan? Dapat nggak barang yang gue minta?" tanya Clovis bertanya pada Intan dan Zawa yang tengah menunggu Clovis di lestoran.
"Nih, loe lihat dulu ajah kalo kurang cocok loe boleh tuker lagi, tapi tuker sendiri. Gue mau istirahat soalnya. Gara-gara loe, gue belum istirahat ini," rengek Intan dengan manja. Sementara Zawa yang mendengar rengekan Intan rasanya pengin narik ke dalam kamar terus di puk-puk biar cepat tidur dengan nyenyak.
Clovis membuka satu set perhiasan yang Intan dan Zawa pilih dan memang kalo cewek-cewek milih tidak ada yang gagal semuanya sempurna, dan tentu termasuk pilihan kedua sahabatnya itu yang sepertinya sangat cocok dengan Ipek yang tidak suka perhiasan terlalu mencolok, sehingga biar terlihat kecil tetapi berlianya tidak kaleng-kaleng dan harganya sama dengan satu unit mobil mewah.
"Ok, terima kasih yah Tan, Zawa bantuan kalian sangat-sangat berharga ini karena bantuan kalian gue pulang sholat jum'at bisa kasih kejutan buat istri baru gue," kelakar Clovis sembari berjalan menuju kamarnya, dan diikuti Intan dan Zawa yang juga akan menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sebelum nanti, setelah isya akan diadakan resepsi lagi.
Clovis membuka pintu kamarnya di mana di dalam kamar Ipek sudah berganti pakaian santai dan juga sudah membersihkan diri sehingga lebih fresh. Ipek yang tahu bahwa pintu kamarnya di buka pun langsung menoleh ke arah pintu.
Senyum manis terkembang dari wajah istrinya itu, Ipek menghampiri Clovis yang masuk dengan membawa satu buket mawar berukuran besar dan boneka beruang serta paper bag berisi satu set perhiasan berlian.
Ipek meraih punggung tangan Clovis dan menciumnya dengan takzim dan Clovis menarik Ipek kedalam pelikanya dan mendaratkan kecupan mesra di keningnya cukup lama.
"Selamat ulang tahun." Clovis menyodorkan buket bunga yang ia sengaja pesan begitu ia pergi sholat jumat dan langsung CODan ketika selesai sholat jum'at.
"Terima kasih," balas Ipek dengan senyum manisnya dan langsung mencium bunga itu yang sangat harum segar dan boneka beruang berwarna pink pun langsung Ipek buka dan menciumnya dan di peluk cukup lama.
"Nanti malam gantian yah, yang kasih hadiah yang di cium dan di peluk " bisik Clovis sembari menyodorkan paper bag, sebagai kado terakhir.
Ipek pun tidak langsung menerima paper bag tersebut. "Apa lagi ini?" lirih Ipek.
"Buka ajah, maaf baru kasih kadonya sekarang, abisan nggak tahu kalo hari ini ulang tahun," ucap Clovis sembari tetap menyodorkan paper bag, pantang turun sebelum di terima oleh istrinya.
Ipek pun mengambil dan mengintip apa kira-kira yang ada di dalam paper bag tersebut. "Abang ini apaan?" tanya Ipek dengan haru ketika melihat kado yang Clovis berikan.
"Suka nggak?" tanya Clovis sembari duduk di samping tempat tidur.
"Ini benaran buat Ipek?" tanya Ipek ulang, ia masih ragu dengan apa yang Clovis berikan sehingga ia bertanya ulang. "Padahal jangan repot-repot begini Bang."
"Iya sayangnya Abang," ucap Clovis sembari menarik Ipek agar duduk di atas pangkuan Clovis.
Ipek hendak berontak dan akan turun dari pangkuan suaminya itu. "Udah diam sinih coba Abang pasangkan perhiasanya." Clovis meminta Ipek memberika perhiasan yang barusan Intan belikan untuk istrinya itu.
"Tapi nanti Abang berat kalo Ipek duduk di sini," ucap Ipek dengan malu-malu dan tentu posisinya yang duduk di pangkuan suaminya itu membuat ia tidak bebas untuk bergerak karena takut menyenggol benda pusaka milik suaminya itu.
"Mana ada sih sayang kamu berat. Kamu itu enteng banget. Abang malah heran kamu makan tidak sih? Kenapa tubuh kamu bisa ringan sekali sih?" tanya Clovis tetapi bibirnya sudah menelusuri di leher jenjang milik istrinya dan hijab yang tadi masih Ipek pakai kini hijab itu sudah jatuh di atas tempat tidur. Ipek tidak menolak sentuhan hangat sebagai pemanasan itu, tetapi tidak untuk nafkah batin saat ini juga.
"Abang, jangan sekarang yah, nanti malam ajah yah," tolak Ipek, sebenarnya Ipek tidak ingin menolak permintaan suaminya itu. Ia ada rasa trauma ketika dulu ia menolak Wahid malah dia tidak bisa melayani suaminya sampai akhir hayatnya. Namun apabila Ipek memberikan sekarang yang ada nanti malah acara resepsi jadi berantakan.
"Hehehe... Iya sayang Abang cuma suka wangi rambut kamu boleh kan kalo kaya gini?" tanya Clovis dengan wajah menempel di leher istrinya dan tangan melingkar di perut ramping istrinya itu.
Ipek pun pada akhirnya hanya bisa mengangguk dan mengikuti apa yang Clovis lakukan. Membelai rambut panjang Ipek.
Clovis dan Ipek pun akhirnya tidur siang bersama dengan saling berpelukan. Sampai suara Adzan Ashar berkumandang dan Ipek bersama Clovis pun sholat berjamaah bersama untuk pertama kalinya setelah menikah. Setelah sholat mereka pun langsung turun ke bawah untuk di rias kembali mengadakan resepsi.
Sementara Ipek di rias karena memang wanita biasanya akan lebih lama dan Clovis gunakan untuk lebih mengakrabkan diri dengan keluarga besar Ipek. Yah memang Clovis juga orangnya yang memang mudah akrab dengan siapa pun sehingga ketika mencoba mendekatkan diri dengan Abang-abang Ipek Clovis cepat akrab terlebih ternyata Abang Ipek yang kembar juga memiliki usaha di singapura juga. Sehingga obrolan mereka nyambung.
Setelah melewati make up yang cukup lama akhirnya sekitar pukul tujuh semuanya sudah selesai. Perut dari yang kenyang sampai ke lapar lagi nunggu make up istrinya. Itulah kaum hawa ketika di rias akan sangat memakan waktu yang lama.
Ipek pun langsung menggendong Meyra dan mencium pipi anak usia empat tahun itu di mana sudah lama juga Ipek tidak bermain dengan anak sulung Ody. "Mey malam ini bobo sama Tante dan Om Ovis yah?" tanya Ipek ke Meyra.
"Enggak Tante, kata Bunda tidak boleh bobo bareng sama tante dan om kalena. om sama tante mau bikin dede buat Mey, kaya yang ada di pelut Bunda ada dedenya. Nanti Om sama Tante juga mau bikin dede kaya gitu kan?" tanya Meyra dengan polos dan otak polosnya teracuni oleh pengertian dari Bundanya. Ipek dan Clovis pun terkekeh. Bukan hanya Ipek dan Clovis yang terkekeh tetapi juga Ody yang mengajarkan ikut tertawa dengan geli Ody tidak menyangka bahwa Meyra akan dengan polos menceritakan apa yang ia bilang barusan di rumah. Agar Meyra tidak menginap dengan Ipek dan Clovis di mana, mereka pasti akan belah duren di malam ini.
Meyra pun menceritakan dengan detail yang Ody ucapkan sehingga Ody terkekeh mendengar kepolosan putrinya.
"Baiklah-baiklah kalo Mey tidak mau, tapi kalo Mey mau bobo sama Tante juga tidak apa-apa bikin dedenya bisa besok lagi. Toh yang terpenting sekarang ada Meyra yang temanin Tante dan Om kan," rayu Ipek, sebenarnya hanya untuk mengetes apakah Meyra mau menginap dengan dirinya atau tidak.
"Tidak mau Tante, nanti dedenya nangis kalo kaka Mey tidak temanin bobo," ucap Meyra dengan polos sehingga membuat yang ada di sana tertawa renyah dengan kepolosan Meyra yang benar-benar polos.
"Mba bikin anak kaya Mey gimana sih caranya, kok gemes banget sih?" tanya Ipek dengan polos tanpa Ipek sadari di samping suaminya mendengar pertanyaan Ipek, di mana Clovis sudah mahir dengar hal seperti itu sehingga seharusnya tidak usah bertanya pada Ody karena Clovis yang nanti malam akan mengajarkan bagai mana caranya membuat mainan seperti Meyra.
"Vis, tau kode kan?" ucap Rio dengan menaik turunkan alisnya, dan Ipek langsung membekap mulutnya, karena lupa ia keceplosan mulutnya malah bertanya seperti itu sedangkan tadi sing sajah dia duduk dipangkuan Clovis bagian bawah sudah berasa ada yang menusuk-nusuk dan berdenyut. Namun Ipek pura-pura tidak merasakan dan tetap bersikap biasa sajah. Dan Clovis pun yang mengira bahwa Ipek sudah tidak peraw*n tentu mengira karena Ipek sudah biasa dengan benda keras yang menusuk-nusuk dan berdenyut itu.
Padahal tanpa Clovis tahu di dalam dada Ipek berlomba dan tidak berani gerak-gerak karena takut akan menyakiti benda kecil nan bermanfaat itu.
Clovis mendengar ucapan Rio hanya tertawa dengan renyah dan menoel perut rata Ipek. Namun tiba-tiba Intan datang. Vis ingat yah kamu kalo main jangan kayak Arzen sama Zawa yah, saking semangatnya mereka main di malam pertama sampai pagi-pagi jam lima telpon gue dan ternyata Zawa mering karena terlalu semangat dan Mis V nya bengkak badanya demam dan saya seharian jagain Zawa biar nggak kembali demam. Sebagai hukumanya mereka saya hukum puasa selama satu minggu. Rasain kan baru buka puasa langsung puasa lagi selama satu minggu. Kamu jangan kaya gitu yah Vis," ucap Intan memperingatkan Clovis agar mainya jangan kayak Arzen dan Zawa.
Yang lain pun ketika mendengar kelakuan konyol Arzen yang tersimpan rapat selama empat bulan dan baru terbuka aibnya oleh Intan tertawa mengejek kelakuan Arzen dan Zawa tidak ada yang menyangka ketika dua orang pendiam tetapi ternyata ganas sekali ketika diatas pembaringan.
"Loe serius Tan, Arzen dan Zawa seperti itu?" tanya Aarav tidak percaya.
"Serius lah, nih tangan gue yang ngolesin salep ke benda milik Zawa. Noh anaknya di belakang sembunyi. Malu dia," tunjuk Intan, di sambut tawa sok polos Zawa.
"Enggak apa-apa yah Wa jadi bisa buat cerita nanti ke anak cucunya. Nih ibu, nenek dulu malam pertama sama kakek kalian sampe pagi-pagi gedor-gedor dokter karena demam akibat terlalu bersemangat mencangkul terlalu dalam sehingga meninggalkan luka yang teramat dalam." Bumil pun tidak mau kalah meledek Zawa.
Untung Zawa dan Arzen bukan orang yang gampang tersinggung. Mereka malah nampak biasa saja ketika malam pertama mereka menjadi bahan ledekan oleh teman-temanya. Arzen dan Zawa malah ikut tertawa dengan renyah. Seolah pengalaman konyol ini bukan mereka yang mengalaminya.
Itulah enaknya persahabatan diantara mereka mereka tidak merasa marah atau tersenggung ketika rahasianya di bocorkan. Justru ketika rahasia itu bisa menjadi bahan untuk bertukar cerita dan bercanda bersama tidak ada kemarahan, baper atau tersinggung. Nikmatin saja toh itu sebagain dari cerita. Intan pun pasti tidak keberatan melakukanya meskipun harus mengoleskan salep ke tempat sensitif milik sahabatnya itu.
Setelah membuka aib Zawa dan Arzen kini waktunya mereka saling berfoto. Ini akan jadi momen paling membahagiakan di mana kalau tidak ada halangan Ody di bulan depan akan melahirkan dan mungkin setelah pernikahan Ipek dan Clovis akan menunggu waktu lama lagi entah siapa dulu diantara tiga yang belum memiliki calon yaitu Chandra, Aarav dan Intan tentunya.
Pukul sembilan tamu undangan yang jumlahnya entah berapa Abi menyebar undangan sehingga untuk bersalaman seolah tidak ada henti-hentinya dan dan baru di pukul sembilan Ipek dan Clovis bisa duduk.
"Pegel banget yah Pek?" tanya Clovis ketika Ipek nampak memijit betisnya.
"Iya, padahal ini bukan pertama buat Ipek tapi entah mengapa kakinya tetap sakit," balas Ipek.
"Kalo gitu nanti malam Abang pijitin yah, atau mau sekarang di pijit?" tanya Clovis ia hendak berjongkok dan memijit betis istrinya tetapi buru-buru Ipek cegah karena ia tidak mau merepotkan suaminya.
"Abang, jangan!! Ini tidak terlalu menyakitkan sekali kok dan nanti bisa panggil tukang urut. Itu masih ada tamu undangan sedikit lagi kita harus tetap terlihat baik-baik saja," elak Ipek agar Clovis tidak ikut memijit betisnya. Yang memang ketika mengadakan resepsi momen ini adalah hal paling mengasikan sekaligus melelahkan.
Pukul setengah sepuluh Ipek dan Clovis mulai masuk ke kamar mereka. Mereka sudah sangat lelah bahkan Ipek sudah tidak mengenakan high heels, dan sepatu kebanggan kaun hawa itu di jing-jing oleh Clovis dengan tangan kirinya, sedangkan Ipek menggunakan sendal swalow dan tangan kanan Clovis mengangkat ekor gaun milik Ipek yang cukup panjang.
Berjalan saling beriringan seolah kamar hotel menjadi menjauh.
Clovis dan Ipek masuk ke kamar mereka. "Abang, ini emang bener kamar kita? Perasaan kok jadi begini?" tanya Ipek tetapi setelah diamati iya itu ada buket bunga dan boneka beruang warna pink yang barusan siang di belikan oleh Clovis sebagai kado ulang tahun.
"Iya sayang, malam ini kan malam pertama kita," bisik Clovis di balik cuping telinga Ipek dan seketika bulu-bulu halus disekujur tubuh Ipek berdiri.