
Ok, Zawa paham semua karena keisengan keluarga dan juga calon suaminya, Arzen. Karena waktu yang makin malam, dan ada bumil dan kakak Mayra yang ikut menyaksikan juga sehingga Zawa memutuskan tetap melanjutkan acara pertunanganya dengan baju seadaanya dan entahlah wajahnya segimana horornya. Dia sendiri sampai tidak ingin melihatnya. Itu semua karena kelakuan jahil Arzen.
Zawa di minta duduk diantara kedua orang tuanya sementara Arzen diantara Tuan Hartono dan Nyonyah Hartono, orang tua Rio yang dengan suka rela menggantikan peran orang tua Arzen yang sudah wafat. Tentunya bersama teman-temanya yang mana teman-teman Zawa dan Arzen hadir semua, termasuk janda kembang, Ipek.
Arzen pun setiap kali melihat Zawa ia terkekeh, sungguh calon istrinya itu lucu sekali. Zawa bener-bener menggemaskan di mata Arzen. Namun berbeda dengan Zawa yang menatap tajam kearah Arzen. Zawa kesal sekali karena calon suaminya berhasil mengerjai dirinya.
Zawa melirik ke arah Intan yang ternyata sahabatnya itu juga tengah terkikik karena ulah Arzen. "Ini pasti ide gila Intan. Awas ajah kamu Tan, tunggu pembalasanku," batin Zawa, sebab Zawa tahu Arzen itu nggak mungkin memiliki ide gila sampai seperti ini, dan anehnya bisa mulus tanpa ia curigai sama sekali. Seharusnya Zawa curiga bahwa temanya ada yang memiliki otak kurang satu ons, jadi ia harus waspada dan berhati-hati. Cukup sekali Zawa jadi korban keisengan Intan, yaitu malam ini, malam pertunangan dirinya dan Arzen.
Acara demi acara di lewati dengan sangat khitmat walaupun dengan pakaian yang baru kali ini tunangan dengan pakaian dan make up yang horor, tetapi tidak mengurangi keseriusan dari Arzen yang datang dengan niat yang tulus untuk melamar Zawa.
Keluarga angkat Zawa pun tidak keberatan dengan Arzen yang mau menikahi putrinya. Arzen untuk perwakilan acara di wakilkan oleh Tuan Hartono sebagai walinya. Beliau dengan suka rela mau membatu Arzen untuk melamarkan wanita pujaan hatinya. Yang tiga tahun lalu hubungan Zawa dan Tuan Hartono ada ketegangan tetapi seiring berjalanya waktu semuanya tidak terbukti dan kini Tuan Hartono dan Zawa begitu pun keluarga Zawa menjalin kekeluargaan yang kental, dan saling bantu.
Sehingga begitu Tuan Hartono tahu bahwa Arzen dan Zawa akan bertunangan beliau yang menawarkan diri untuk mewakili Arzen untuk mewakili orang tua Arzen yang mana Arzen sudah tidak memiliki orang tua alias yatim piatu. Kedua orang tua Arzen sudah wafat Terakhir sekitar empat bulan lalu ibunya meninggal menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu berpulang.
Dengan adanya pertunagan Zawa dan Arzen hubungan semuanya semakin harmonis. Acara demi acara di mulai dari sambutan dan perwalian keluarga Arzen yang menyampaikan niatanya datang kerumah keluarga untuk meminta Zawa menikah dengan Arzen dan tentu tidak lupa Tuan Hartono pun meminta maaf atas kejahilan Arzen yang justru harus membuat Zawa menagis dan berpenampilan kacau seperti ini tetapi mereka akui justru lamaran antara Arzen dan Zawa unik dan belum ada yang memakai konsep seperti mereka.
"Nak Zawa gimana mau terima lamaran Mas Arzen nggak?" tanya papih dengan menggoda Zawa.
"Di tungguin tuh sama Arzen sampe kringetnya banyak banget di wajahnya," goda Rio yang memang melihat Arzen itu dari tadi duduknya gelisah dan tidak mau diam, mungkin karena gerogi atau malah perutnya mules.
Zawa tidak langsung menjawab dan dia justru diam saja tidak seperti waktu di tanyai di pesantren Abah ia yang justrub semangat dan yakin ingin menerima Arzen sebagai suaminya.
"Awalnya sih seneng dan penggin terima lamaran Arzen tapi karena tadi yang malah semuanya ngerjain Zawa jadi harus mikir lagi," ucap Zawa dengan menunduk.
Arzen yang mendengar ucapan Zawa pun seketika jadi lemas dan rasanya ingin pingsan.
"Kalo Zawa harus mikir lagi, nikahnya nggak bisa bulan depan sesuai yang ibu dan ayah katakan. Zawa akan terima lamaran Arzen tapi kalo dia mau nikahin Zawa minggu depan. Gimana?" tanya Zawa dengan santai.
"Alhamdulillah...Seketika semua yang hadir mengucapkan hamdalah. padahal Arzen belum menjawab siap atau tidak, dan juga Arzen dari yang tabuhnya lemas tidak bernafsu dan tidak bergairah tiba-tiba bersemangat dan tenaganya langsung full kembali.
"Kalo masalah itu nggak usah di ragukan Wa, biara kami yang kerjakan semuanya kalian terima beres ajah," Aarav dengan percaya diri akan mepersiapkan semuanya, yah teman-teman dari Arzen yang akan mempersiapkan acara yang sangat mepet tersebut.
Zawa pun tercengang merasa bersalah karena niatnya mau kembali mengerjain Arzen, ia kira Arzen akan ciut nyalinya dan akan menyerah dengan semua yang dia ajukan syaratnya. Minimal bernegosiasi gitu, tetapi justru teman-teman Arzen yang lebih semangat dari mereka semua. Arzen pun ternyenyum lagi-lagi kemudahan berpihak pada dia.
Ok Zawa akui dia tidak ahli mengerjai, tetapi ada untungnya penikahan ia dan Arzen setidaknya akan dilakukan lebih cepat.
Setelah semua sepakat dan tidak ada keberatan dari pihak Arzen maupun Zawa kini tiba di acara inti yaitu tukar cincin yah cincin sebagai simbol bahwa Zawa sudah ada yang mengikatnya, sehingga laki-laki lain tidak boleh mendekatinya.
Baik Arzen dan Zawa diminta maju kedepan agar seperti yang di novel-novel lamaran dengan romantis. Dengan konsep yang unik di mana Zawa hanya mengenakan baju tidur panjang, dan penampilan yang acak-acakan, semua karena ulah keluarga dan calon suaminya. Zawa awalnya ingin berganti pakaian dan setidaknya sedikit make up yang layak, ya biar tidak ceremot seperti badut ancol. Namun semua keluarga dan teman-temanya melarang mereka bilang penampilan Zawa tidak sekacau yang ia bayangkan. Alias masih bisa dimaklumi. Ok, Zawa pun akhirnya nurut, dan tidak lagi mempermasalahkan konstum dan wajahnya.
Biarlah toh Arzen tidak keberatan itu yang ada difikiran Zawa. Selagi Arzen tidak protes berati semuanya baik-baik saja. Toh ini bukan kemauan Zawa dengan berpakean seperti itu. Bukan tidak menghormati tamu juga, lagian tamunya juga seneng liat Zawa begitu, ya udah gas ajah.
Zawa dan Arzen pun mengikuti kemauan mereka maju kedepan ditengah-tengah kerumunan keluarga dan teman-temanya. Padahal mereka diantara orang-orang yang sudah kenal tetapi mereka tetap ajah ada rasa deg-degan dan nervous.
"Zawa untuk pertama-tama aku pastinya mau mengucapkan banyak-banyak meminta maaf buat semua waktu yang banyak kita lewati dengan cobaan yang berat, tetapi aku justru meninggalkan kamu dengan segala keruetanmu. Aku tidak ada disamping kamu untuk memberikan dukungan. Aku juga minta maaf karen meninggalkan kamu selama tiga tahun tanpa kepastian. Mungkin dengan alasan itu Allah menegur aku dengan mengirimkan ujian yang teramat berat yang selama ini aku jalani. Sampai pada akhirnya aku dan kamu bisa bertemu lagi." Arzen sebenarnya belum meyiapkan kata-kata yang romantis semua yang keluar dari bibirnya saat ini adalah real yang baru ia pikirkan. Dia tidak berharap bisa romantis seperti orang lain ketika lamaran dan menyatakan cinta, Arzen justru ingin mengenang bagaimana perjuangan cinta mereka sampai bisa berdiri bersama di acara yang sakral ini. Yah sekral karena selangkah lagi mereka berdua akan menyempurnakan agama mereka dengan menikah.
Zawa yang mendengar ucapan Arzen justru menangsi, bukan menangis sedih. Ia sudah ikhlas dengan semua yang pernah menimpanya. Dia menangis bahagia karena pada akhirnya ia dan Arzen bisa melewati rintangan dan ujian yang panjang ini.
#Semoga acaranya lancar bambang Arzen dan Neng Wawa...😂😂😂