
Pagi ini setelah menjalankan sholat Subuh, Ipek langsung di minta mempersiapkan diri untuk di rias, untuk mempersiapkan diri di pernikahanya. Sebab acara ijab kabul akan di lakukan jam sembilan pagi setidaknya jam tujuh sudah selesai dengan segala keruwetanya, karena pasti bakal ada acar-acara penyambutan dan acara yang lainya.
Pukul delapan keluarga Wahid (besan) mulai bedatangan dan kebetulan untuk tamu undangan memang di pisahkan begitu pun mantenya tidak di satukan.
Satu persatu acara di mulai dengan sangat sakral. Ajara ijab kabul pun dapat dilewati dengan lancar dan tanpa hambatan. Saat itu juga air mata Ipek mendetes, ketika ia mendengar kata Sah dari para saksi. Entah lah air mata itu tandanya apa, yang jelas ia diantara bahagia dan sedih, tapi andai ditanya apa kesedihanya entah Ipek pun tidak tahu.
Seperti ini kira-kira suasana sakral itu.
Hari ini benar-benar menjadi hari yang paling melelahkan hampir dua belas jam Ipek melayani tamu, yang seolah tidak ada surutnya. Maklum yah Ipek tinggal di desa yang mana tidak ada batasan tamu datang dari jam berapa sampai jam berapa. Berbeda ketika udangan di kota yang mana tamunya datang mengikuti jam yang sudah ditentukan.
Pukul delapan malam Ipek sudah tidak kuat. Ia pun berbisik pada Umi dan Ambu yang sejak tadi pagi menemani dirinya menyambut para tamu.
"Umi Ipek udah cape banget, boleh istirahat duluan ke dalam kamar?" bisik Ipek.
"Ya udah, sana Ipek masuk kamar saja, biar sisa tamu Umi dan Ambu yang sambut." Umi juga tidak tega dengan Ipek yang nampak sekali kelelahanya.
Setelah meminta izin pada umi, Ipek langsung menuju kamarnya dengan kaki sedikit pincang. Ia tidak biasa memakai alat kaki high heels, apa lagi dengan waktu yang lama. Tentu rasanya lumayan nyeri, walaupun yang ia pakai adalah alas kaki dengan merek yang terkenal nyaman sekali pun.
Terlebih sejak tadi perutnya juga ikut-ikutan nyeri dan punggung panas telalu lama berdiri mungkin.
Ipek masuk ke dalam kamar yang sudah dihias sedemikian rupa, sehingga sangat nyaman, dan nuasan pengantin baru tentu mendominasi kamar pribadi Ipek. Di mana di kamar ini mulai malam ini akan ada yang menemani dirinya tidur.
Begitu Ipek masuk ia deg-degan bagai mana ia akan berkata pada suaminya bahwa ia belum siap untuk melakukan hubungan suami istri. Ipek terlalu takut dan belum bisa begitu saja percaya dengan Wahid.
Ipek duduk di pinggir ranjang yang di penuhi dengan kelopak bunga mawar, ia mengistirahatkan punggungnya yang mulai panas, dan perut seolah di remas-remas dan kaki sampai betis pegal semua.
Cukup lama ia duduk untuk mengitirahatkan tubuhnya, sebenarnya Ipek ingin rebahan tetapi segala macam pernak-pernik masih memenuhi di atas mahkotanya.
Ketika Ipek tengah mencoba membuka satu-persatu hiasan diatas hijabnya tiba-tiba pintu terbuka. Dada Ipek bergemuruh seolah akan meledak seisi dadanya. "Ya Allah apa yang terjadi malam ini, apakah suamiku akan meminta haknya malam ini juga?" Ipek bergumam dalam hatinya. Ia benar-benar belum siap menghadapi malam ini.
Benar saja dari balik pintu terlihat suaminya dengan senyum manisnya, sedangkan Ipek justru terpaku, tidak ada sambutan senyum dari wajahnya, bukan karena ia benci Wahid, tetapi karena saking tegangnya ia sampai lupa memberika senyum pada suami barunya.
"Ah... tidak usah, Ipek bisa melepasnya sendiri," ucap Ipek, setelah sedetik yang lalu ia terlonjak kaget dengan pertanyaan Wahid.
Wahid pun berbalik dan hanya duduk di sofa yang ada di kamar Ipek sembari memperhatikan istrinya. "Ya Allah, aku bersyukur sekali akhirnya bisa mendapatkan wanita yang aku cintai dari dulu." Wahid merasa sangat bersyukur dengan pernikahanya dengan Ipek. Sejak tadi ia memperhatikan istri barunya seolah Ipek akan menghilang apabila ia berkedip.
Sementara Ipek yang sadar bahwa Wahid memperhatikanya, pun malu dan seterusnya ia buru-buru mengambil perlengkapan mandi dan setelan baju tidur tidak lupa kerudung ia bawa juga ke kamar mandi. Ipek buru-buru ke kamar mandi menghilangkan diri dari pandangan Wahid yang tidak berkedip.
Wahid yang melihat tingkah Ipek pun tertawa dengan geli. Ia tahu bahwa Ipek belum mencintainya dan belum terbiasa dengan dia sehingga pasti Ipek gugup dan lain sebagainya.
Wahid pun berjanji bahwa ia tidak akan buru-buru meminta haknya ia akan menunggu sampai Ipek benar-benar menerimanya sebagai suaminya, dan apabila ia mau menunaikan kewajibanya itu karena kesadaranya bukan karena paksaan. Wahid benar-benar mencintai Ipek sehingga ia tidak mau menyakiti hati dan fisik wanita yang amat ia cintai.
Sementara Ipek di kamar mandi justru tengah bingung pasalnya ternyata malam ini tamu bulananya datang, dan dia tidak mebawa roti Jepang ke dalam kamar mandi. Masa ia mau minta tolong suaminya. Berbicara saja baru beberapa kata, dan itu pun Wahid yang selalu memulai duluan percakapan diantara mereka.
Ipek pun terpaksa mengenakan pakaianya tanpa menggunakan roti dulu, ia akan meluar dan nanti berganti pakaian kembali setelah ia mengambil roti Jepang. Begitu membuka pintu kamar mandi Ipek buru-buru berjalan ke lemari pakaianya dan mengambil pakaian yang lain lengkap dengan dalaman dan roti Jepang.
Wahid pun heran dengan tingakah laku istri barunya, tetapi ia tidak bertanya. Dia hanya memperhatikanya.
Ipek setelah berganti pakaian untuk kedua kalinya keluar, tetapi langsung ke atas kasur pasalnya perutnya terasa sangat sakit punggung panas dan lagi rasa yang lainya.
"Ipek, Abang perhatikan kamu sedang tidak sehat, apa ada yang mengganggu kesehatanmu?" tanya Wahid dengan lembut tetapi ia tidak mendekat, pasalnya ia tahu bahwa Ipek masih canggung denganya.
"Tidak ada Bang, hanya sakit perut saja karena ternyata barusan Ipek kedatangan tamu bulanan jadi perut sedikit keram," ucap Ipek, tetapi ia tidak berani menatap wajah suaminya.
"Mau dibelikan obat atau apa gitu, biar meredakan sedikit sakitnya?" tanya Wahid dengan penuh pehatian.
"Terima kasih Bang, tapi tidak usah Ipek akan langsung istirahat saja, nanti juga sembuh kok." Ipek tidak mau merepotkan suami barunya lagian nanti juga pasti akan sembuh kok. Ia biasa mengalami ini semua sehingga tidak ingin membuat cemas suaminya.
"Baiklah kalo begitu, saya juga mau bersih-bersih dulu." Wahid tanpa menunggu jawaban dari Ipek juga langsung masuk ke kamar mandi. Berbeda dengan Ipek yang membawa seluruh pakaianya ke dalam kamar mandi bahkan sampai hijab. Wahid malah tidak membawa apapun.
Ipek pun bingung apa nanti ia akan melihat Wahid dengan hanya mengenakan handuk saja.
"Tidak... tidak." Ipek menggeleng-gelengkan kepalanya dan mencoba memejamkan matanya agar segera tertidur sebelum suami barunya keluar hanya berbalud handuk.