Beauty Clouds

Beauty Clouds
Firasat



Tama yang melihat situasi makin kacau, terutama Zawa yang tampak tidak percaya dengan penjelasan Ipek dan Arzen. Tama mengambil alih menjelaskan Keaslian vidio itu.


"Maaf Mba, saya yang akan menjelaskan dengan rinci keaslian vidio itu, karena memang saya yang bertugas mengedit vidio itu. Dengan sangat telaten Tama menjelaskan bahwa vidio itu hanyalah editan dan semua yang hadir disana memberikan bukti, yang akurat tentang vidio itu.


"Ok, aku bisa percaya bahwa vidio itu editan, tapi tujuan kalian membuat vidio itu apa?" tanya Zawa yang kali ini sudah lumayan tenang.


Lalu Arzen yang mengambil alih menjawab pertanyaan berikutnya. Ia menjelaskan dengan detail, dari mulai Clovis yang marah karena Ipek menyukainya dan lain sebab yang menambah kemarahan Clovis. Sehingga Clovis membuat sayembara gila yang merugikan Ipek, dan akhirnya Ipek memutuskan meminta bantuan Arzen, dengan cara membikin vidio itu dengan dibantu Tama, sang pengedit.


Tidak hanya Arzen, Tama dan Ipek yang menjelaskan. Intan pun ikut menjelaskan dan juga menunjukan transaksi pembayaran buat semua kegiatan itu.


Zawa kini sudah mulai percaya bahwa vidio itu bukan vidio asli sehingga ia dan Arzen tidak jadi berpisah. Setelah memastikan hubungan Arzen dan Zawa masih harmonis dan tidak jadi berpisah, Tama pun pamit pulang lebih dulu, karena masih ada pekerjaan. Disusul dengan Ipek dan Intan.


"Dok aku sementara waktu pengin menenangkan fikiran di rumah dokter nggak apa-apa kan?" tanya Ipek berbasa basi. Padahal ia sudah tau jawabanya bahwa Intan tidak akan menolak keinginan Ipek.


"Pernah aku nolak kalian main kerumah?" tanya balik Intan, yang sudah mewakilkan jawaban Ipek.


Ipek menggeleng dengan lemah.


"Semoga setelah masalah ini kalian nggak terlibat masalah baru lagi yah. Semoga Clovis segera sadar bahwa ia hanya mementingkan egonya." Intan mengelus rambut panjang Ipek yang tergerai indah.


"Amin Dok."


Sementara Arzen setelah berbincang dengan Zawa, dan memastikan hubungannya tidak ada masalah, ia pamit pulang.


Zawa sebenarnya di dalam hatinya masih ada keraguan. Hari ini ia ada jadwal kontrol ke apartemen Emly. Zawa ingin menceritakan masalah yang menimpanya dengan Emly dan meminta pendapat dengan sahabatnya itu. Zawa bersiap diri, lalu bergegas mengunjungi Emly.


Sedangkan Arzen yang masih kesal dengan Clovis dan ia pun merencanakan pembalasan dengan sahabatnyan itu.


"Kamu yang mulai semua ini Clov, jadi jangan salahkan aku, apabila aku juga bisa membuat kamu celaka," gumam Arzen dengan kesal. Sebelumnya Arzen telah menghubungi preman bayaran dan berjanjian disuatu tempat. Kini Arzen tengah menunggu preman bayaran itu di depan bar milik sahabatnya itu. Sebelumnya tentu Arzen sudah mencari info Clovis tengah berada di mana.


Sedangkan Clovis sendiri di dalam ruanganya tengah berpesta merayakan keberhasilanya. Clovis terlalu percaya diri bahwa rencana kali ini akan berhasil lagi.


Clovis tidak berpesta dengan para wanita bayaranya, melainkan ia tengah menghangatkan tubuhnya dengan wine, dan membayangkan Ipek, yang terpuruk.


Arzen setelah bernegosiasi dengan para preman itu. Ia pun meminta para preman itu memberi pelajaran pada Clovis. Para preman itu menunggu di depan bar milik Clovis, tentu mereka akan memainkan aksinya di tempat yang memungkinkan setelah ia membuntuti Clovis nanti.


Detik berganti menit, menit berganti jam tepat pukul 4 pagi Clovis beranjak dari ruanganya sebelumnya ia tertidur didalam ruanganya karena memang kepalanya yang terasa berat. Clovis menyalakan mobilnya memacu menuju apartemenya. Tanpa Clovis sadari sebuah mobil dan sebuah motor mengikutinya. Tepat di jalanan gelap nan sepi pengemudi motor menyelip dan berhenti tiba-tiba dan menghadang mobil Clovis.


Clovis yang kaget pun mengerem mobilnya tiba-tiba. Kaca jendela mobil Clovis digedor oleh dua preman yang menegendarai motor.


Sementara preman lain yang di dalam mobil masih memantau dan akan beraksi ketika Clovis telah turun. Clovis yang memiliki ilmu bela diri dan juga memang sering terlibat perkelahian pun turun dan akan melawan dua preman tersebut. Tanpa Clovis tau bahwa dua preman tersebut hanyanlah pancingan sajah agar Clovia keluar dari mobilnya.


"Akhirnya target keluar juga," ucap pemimpin preman bayaran Arzen yang ditugaskan untuk memberikan plajaran untuk Clovis.


Clovis keluar dari mobilnya dengan segala persiapan apabila dua orang yang menggedor pintunya melakukan perlawanan.


Tanpa aba-aba salah seorang preman menyerang Clovis dan Clovis dengan sigap menangkis setiap serangan dari kedua preman itu. Ketika Clovis tengah fokus dengan kedua preman itu dari belakang muncul empat preman lain yang siap menyerang Clovis. Tentu sajah Clovis yang seorang diri kalah talak, dengan enam orang preman berbadan besar tersebut.


****


Di tempat lain Ipek tidak bisa terpejam matanya dan memutuskan pulang setelah sebelumnya meminta sopir keluarga menjemput dirinya yang awalnya ingin menginap di rumah Intan.


"Kamu yakin Pek mau pulang, ini bahkan masih sangat pagi?" tanya Intan dengan suara seraknya. Yah, Intan dibangunkan oleh Ipek karena ia akan pamit pulang.


"Iya Dok, dari tadi Ipek nggak bisa tidur perasaanya nggak tenang. Jadi Ipek pulang sajah biar istirahat di rumah," balas Ipek dengan lesu, karena ia yang belum tidur sama sekali dari semalam.


"Terus kamu pulang naik apa? Apa mau aku antar?" tanya Intan menghawatirkan Ipek.


"Engga usah Dok, sopir dari rumah udah jemput Ipek, sekarang sudah ada di depan rumah dokter." Ipek pun pamitan dan ber pelukan sebelum benar-benar pergi.


"Hati-hati yah, kalo sudah sampai rumah kabarin," pesan Intan sebelum Ipek benar-benar keluar dari kamarnya.


Ipek mengangguk serta menunjukan simbol Ok dari jarinya.


Sepanjang perjalanan Ipek tidak bisa memejamkan matanya.


"Neng, di depan ada tawuran," ucap sopir Ipek dan Ipek yang awalnya tengah melamun, menajamkan pandanganya kearah depan.


"Ya ampun Pak itu kayaknya dikroyok deh," ucap Ipek yang melihat satu orang tengah di hajar padahal sudah jelas terkulai lemas.


"Ia sepertinya begitu Neng."


"Bantuin Pak," ucap Ipek yang merasa iba dengan orang yang tengah dihajar oleh sekelompok preman tersebut.


"Gimana bantuinya Neng?"


Coba kita robos ajah Pak, mana tau preman itu takut karena kedatangan kita," ucap Ipek dengan asal.


Benar sajah ketika melihat sebuah mobil mendekat para preman itu mulai berhenti memukul korban dan akan melarikan diri. Namun, seorang preman yang membawa senjata tajam disaku jaketnya menusukan semuah piso keperut korban.


Sehingga korban saat itu juga tersungkur, dan mengeluarkan banyak darah dari perut sebelah kirinya.


Ipek dengan terburu langsung keluar dari mobil dan menghampiri korban yang meringis memegangi luka di perutnya.


Betapa kagetnya Ipek ketika jarak mereka semakin dekat, ternyata korban itu adalah seseorang yang sangat membencinya dan telah membuatnya terlibat dalam banyak masalah.


"Clovis."


Ipek mematung ia merasa kasihan dan ingin menolonya tetapi diingatanya masih tergambar semua perlakuan Clovis yang membuat Ipek sakit hati.