
"Tuan tolong Anda jangan begini. Anda hanya akan menambah dosa Anda. Sadarlah Tuan. Alloh itu maha pemaaf, sehingga tidak ada alasan untuk terus dijalan kemaksiatan." Ipek mencoba menasehati Clovis, dengan mendorong tubuhnnya menjauh darinya. Mengingat tubuh Clovis hampir mengukung dirinya, dan Ipek kesusahan untuk bergerak.
Namun, justru Clovis semakin mengukung tubuh Ipek.
"Dosa? Yang mana yang disebuta Dosa? Apa yang ini disebut Dosa (Clovis memegang leher Ipek) Ini disebut dosa ( Clovis dengan lancang meremas kedua aset milik Ipek. Dengan penuh nafsu) tunjukan mana yang disebut dosa?" tanya Clovis dengan tangan meremas aset berharga milik Ipek dan mulut terus merancau.
Plak...
Plak
Tangan Ipek menampar pipi Clovis dua kali.
Clovis yang kaget dengan perbuatan Ipek mematung, sembari memegangi kedua pipinya yang terasa panas karena tamparan Ipek. Tentu Clovis tidak menyangka bahwa Ipek berani menampar dirinya. Cukup lama Clovis mematung memegangi pipinya. Sementara hal itu akan dimanfaatkan Ipek, untuk kabur dari ruangan terkutuk ini. Namun, baru sajah Ipek melangkahkan kakinya beberapa langkah, Clovis dengan sigap mencengram sebelah tangan Ipek. Clovis mencengkram dengan sangat kencang pergelangan tangan Ipek sehingga Ipek meringis kesakita.
"Tuan, sakit," ringis Ipek. Namun Clovis seolah tidak mendengar rengekan Ipek, ia terus menekan pergelangan tangan Ipek sampai memerah dan kukunya menancap dikulit tangan Ipek. "Tuan aku mohon, ini sangat sakit. Lepaskan!! Aku mohon." Ipek berkata dengan pelan, karena mencoba menahan rasa sakitnya terutama perih, karena luka kuku yang menancap dikulit tanganya.
Sami yang awalnya diam mematung, bak patung pancoran. Ia kembali akan menolong Ipek. Namun, Clovis dengan sigap mengancamnya kembali dan kali ini mengusir Sami keluar ruangan. Tentu Sami tidak ada pilihan lain. Ia dengan lemas dan merasa bersalah, karena tidak bisa membantu temannya. Sami meninggalkan Ipek berdua dengan Iblis berbentuk manusia itu. Sami terus sajah berdoa untuk kebebasan Ipek.
"Kamu tau ini hukuman buat cewek kurang ajar sepertimu," ucap Clovis tanpa mengurangi sedikitpun cengramanya.
"Saya minta maaf, yang saya lakukan hanyalah pembelaan diri sajah. Andai Anda tidak melakukan perbuatan senonoh itu, tentu saya juga tidak akan menampar Anda," ujar Ipek mencoba menjelaskan kenapa ia bisa menampar Clovis.
"Dan ini, anggap sajah ini juga balasan dari gue, atas tamparan loe barusan." Clovis benar-benar sudah tidak ada hati nuraninya.
"Tuan, bukankah Anda dilahirkan dari seorang perempuan, tapi kenapa Anda tega menyakit perempuan. Apa Anda tidak takut andai suatu saat perbuatan Anda akan menyakiti ibu Anda. Seperti Anda menyakiti saya." Ipek tidak habis akal, ia tetap mencoba membujuk Clovis untuk melepaskan genggaman tangannya.
"Jangan samakan Momy gue dengan seorang perla'cur sepertimu. Loe nggak tau my Momy, jadi jaga ucapan loe," gertak Clovis.
"Kalo begitu Anda juga tidak tau apa-apa dengan saya, lalu kenapa Anda menilai rendah mengenai saya sedangkan sedikit pun Anda tidak tau dengan kehidupan saya," balas Ipek sudah tidak peduli hal apa lagi yang akan Clovis lakukan.
Clovis melepas genggaman tangan Ipek dengan kasar dan Clovis mendorong Ipek ke sova sampai terjatuh dan ia dengan tatapan lapar mendekat kearah Ipek. Clovis hendak menindih Ipek, mungkin sajah ia hendak menodai Ipek, tetapi dengan sigap Ipek menendang tepat di andalan senjata milik Clovis.
Erang Clovis menahan rasa sakit yang luar biasa, hal itu dimanfaatkan Ipek untuk kabur dari ruangan itu.
Namun, sebelum benar-benar keluar dari ruanga Clovis Ipek ingin berkata sesuatu pada Clois. "Dengar Tuan Clovis yang terhormat, sekalipun Anda serahkan seluruh harta Anda sebagai bayaran untuk meminta saya melayani Anda. Dengan yakin saya tolaka!! Saya tidak akan menyerahkan harga diri saya pada Anda." Camkan itu.
Ipek lalu keluar ruangan Clovis dengan tergesa, menuju pakiran dan langsung meninggalkan tempat terkutuk itu.
Sementara Clovis Meringis memegangi senjatanya yang terasa nyeri...
"Awas kamu Ipek. Aku ingin liat gimana reaksi kamu kalo kekasih Arzen mengetahui vidio ini." Clovis akan membalas dendam kali ini dengan melibatkan hubungan Arzen. Clovis bahkan sudah tidak memperdulikan persahabatanya pun akan jadi taruhanya, asalkan dendamnya terbalaskan.
Padahal dendam itu yang memupuk dirinya sendiri, sehingga tumbuh menjadi subur. Sementara Ipek hanyalah korban dari itu semua.
"Pek loe nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Sami dengan panik dan setidaknya kini sudah lega karena Ipek sudah berhasil kabur.
"Engga Sa, tapi loe jaga rahasia ini dari siapa pun yah Sa. Jangan ada yang tau kejadian barusan," pinta Ipek dengan bersungguh-sungguh. "Dan untuk Mamang juga jangan bilang apa-apa kalo Abi, Umi atau Abang tanya sesuatu atau tanya kemana saya pergi. Kalo mereka bertanya jawab sajah tidak tahu." Ipek mengingatkan supirnya.
"Baik Neng."
Sementara Sami mengangguk mengikuti kemauan Ipek bahwa ia tidak akan membocorkan semua yang ia lihat. Sami mengobati luka Ipek denhan P3K yang tersedia di kendaraan. Luka Ipek lumayan parah, terlihat jelas bekas kuku yang menanap menyebabkan luka sampai mengeluarkan darah. Terbayang gimana perihnya luka bekas kuku itu.
"Pek apa harus kedokter?" tanya Sami.
"Nggak usah Sa," balas Ipek dengan lirih, meletakan kepalanya bersandar kekursi dan mata yang terpejam. Ipek merasakan butiran hangat membasahi pipinya.
"Kira-kira apa rencana Clovis, untuk membalas dendamku? Apa mungkin Clovis benar-benar akan memanfaatkan Zawa sebagai boneka pembalasan terhadap aku," batin Ipek sudah tidak tenang lagi.
...****************...