
"Kalo kamu mau ke makam Angel, kamu istirahat dulu yah Dy, nanti kalo udah tidak terlalu panas kita ke makam anak kamu." Intan yang hari ini memang tidak ada jadwal untuk praktek ikut istirahat dengan Ody.
Mereka pun tidur dengan nyenyak, rasanya tidur di rumah sakit memang tidak nyaman, berbeda ketika tidur di rumah bawaanya nyenyak untuk tidur.
Pukul dua Ody dan Intan bersiap akan kepemakaman, sesampainya di pemakaman tempat Angel di makamkan, Ody dan Intan tidak langasung turun melainkan mereka mengamati Rio yang ternyata lebih dulu mengunjungi makam putrinya.
Terlihat Rio sangat sedih ia menangis di atas pusaran putrinya.
"Hay, sayang kamu lagi apa? Kamu kangen nggak sama Papah? Angel udah maafin Papah belum? Angel udah tidak marah kan?" Rio meracau seorang diri seolah ia tengah berbicara dengan putrinya.
"Angel Papah sangat kangen sama kamu. Papah pengin bobo bersama dengan kamu. Lalu bersama-sama main bersama, tapi... tapi kenapa kamu tinggalin Papah. Apa Papah nggak pantes yah bahagia bersama Angel?" Lagi, Rio kembali meracau tanpa henti semua sesak di dadanya ia tuangkan.
Cukup lama Rio merenung di makam Angel. "Sayang udah yuk! Kasian Angel, kalo kamu kaya gini terus Angel sedih diatas sana. Angel ingin liat Papah dan Bundanya bahagia, bukan justru pada bersedih." Mamih mencoba membujuk Rio agar mau pulang.
"Angel, Papah pulang dulu yah, Papah akan sering-sering main kesini. Papah akan bawakan Angel boneka yang banyak kaya sekarang. Baby Angel senengkan Papah bawakan boneka?" Rio memang datang ke makam Angel membawa bonek dan buket bunga yang cantik dengan kartu ucapan yang menyentuh.
Setelah berpamitan Rio akhirnya meninggalkan makan. Intan dan Ody memastikan bahwa Rio dan mamihnya memang sudah pergi dari makam. Kini gantian Ody yang mengunjungi makan Angel. Ody membawakan bunga dan baju yang sengaja Ody belikan untuk Angel. Namun belum sempat Ody memakaikanya Angel sudah lebih dulu dipanggil sang penguasa alam semesta.
"Assallamualaikum, anak Bunda. Maaf Bunda baru bisa datang." Butiran bening sudah membasahi pipi Ody. "Sayang kenapa kamu tega tinggalkan Bunda. Bunda kesepian, maafkan Bunda yah. Maaf kalo Bunda tidak bisa menjaga kamu. Andai saat itu Bunda diam sajah pasti kamu masih hidup kan sayang. Kamu masih menemani Bunda. Kamu masih di dalam perut Bunda. Tapi semuanya berubah, semuanya jadi begini. Bunda kehilangan kamu." Ody sudah tidak bisa membendung air matanya.
Ody melihat ada boneka di sana, boneka yang Rio bawa untuk menemani Angel. Ody juga melihat buket bunga yang terdapat tulisan Rio.
Dear : Angel, putri Papah.
Maaf atas semua yang sudah Papah lakuin pada kalian. Papah bahkan merasa gagal menjadi orang tua buat kamu dan suami buat Bunda kamu. Andai bisa di putar malam itu. Pasti Papah tidak akan marah seperti itu pada Bundamu. Papah akan lebih mendengarkan ucapan Bunda. Namun, semuanya terlambat. Papah mengancurkan semua, sampai kamu marah sama Papah dan menghukum Papah seperti ini. Angel maafkan Papah yah. Papah kangen banget sama Angel. Papah pengi peluk Angel lagi. Papah pengin bobo bareng Angel, sama kaya dulu kita bobo bertiga sama Bunda, Papah dan Baby Angel." Ody terisah tangisnya menjadi jadi manakala ia membaca tulisan Rio.
Intan mendekat kearah Ody dan mengusap punggungnya memberikan pundaknya untuk sandaran.
"Dok apa aku jahat Dok. Sampai sekarang tidak mau menemuai Rio?" tanya Ody dengan lirih. Memang pada kenyataannya Rio ingin menemui Ody secara langsung untuk meminta maaf dengan semua kejadian yang telah terjadi. Namun Ody menolak! Ody tidak mau menemui Rio. Yang hanya membuat tambah sakit hati, tetapi sekarang Ody bimbang apakah keputusanya benar, atau justru salah dan saling menyakiti. Terutama menyakiti Angel?
"Aku tidak bisa menilai jahat atau tidak. Hanya kalo aku bisa sarankan kalian baikan, karena aku sendiri kasian melihat Rio. Dia juga tertekan dan tidak ingin semua ini terjadi pada kamu dan Angel. Terutama sekarang Rio tidak mau membuka praktek, padahal dia adalah dokter, jasanya sangat dibutuhkan oleh pasien-pasienya. Namun traumanya dengan meninggalnya Angel terlebih ia saksikan di depan matanya, sangat berpengaruh dengan mentalnya. Mungkin Rio takut orang lain akan mengalami sama sepertinya, sehingga ia memilih tidak mau membuka praktinya lagi." Intan mengeluarkan pendapatnya.
Ody diam mencerna setiap ucapan Intan.
"Kalo kamu masih marah dengan Rio, coba kamu ingat ada seorang pasien membutuhkan pertolongan dari Rio, tetapi Rio tidak mau membantu dengan alasan trauma. Pasti akan terasa sangat menyedihkan bagi keluarganya apabila anak itu tidak tertolong. Coba kamu buka hatimu maafkan Rio dan coba bujuk lagi agar ia mau membuka praktik dan kembali menjadi tenaga medis. Barang kali kalo kamu yang memintanya Rio akan pertimbangkan," Intan kembali membujuk Ody. Namun kalo Ody masih berat juga Intan tidak akan memaksa.
"Berati aku jahat yah Dok, karena sudah membuat banyak pasien jadi terlantar," lirih Ody merasa bersalah.
"Tidak juga, pelan-pelan saja, jangan terlalu memaksa. Dari pada kamu memaafkan tetapi tidak ikhlas atau justru menyakitimu lebih baik kamu ikuti kata hatimu karena itu sudah pasti tidak akan membebanimu."
"Makasih Dok untuk semua nasihatnya, nanti aku akan coba pertimbangkan semua ucapan dokter. Jujur aku juga melihat Rio sedikit kasihan. Sepertinya ia juga sama seperti aku merasa sangat kehilangan Angel. Awalnya aku berfikir dia memang tidak mencintai aku dan Angel. Namun setelah melihat semua sesalnya aku kembali berfikir bahwa Rio pun sama kehilanganya dengan aku," lirih Ody.
Intan pun hanya mengangguk sebagai jawabanya. Setelah Ody berpamitan dengan putrinya kini ia kembali ke rumah Intan. Dalam pikiran Ody terngiang-ngiang terus ucapan Intan. Apa sudah waktunya ia memaafkan Rio, sebab kasian juga kalo tidak mau melanjutkan profesinya sebagai dokter. Ody mebayangkan banyak anak yang mengharapkan Rio kembali bekerja.
****
Di lain tempat Aarav pun masih terus kefikiran dengan kata-kata Arzen. Di mana Arzen berkata bahwa Emly selama ini hamil anaknya. Kalo memang Emly hamil, berati ada kemungkinan saat ini Emly sudah melahirkan atau bahkan tengah menanti kelahirannya.
Aarav pun mencoba mencari informasi Emly berada, pasalnya ia juga takut Emly melakukan perbuatan nekad. Arzen berkata bahwa Emly tidak menginginkan anak itu sehingga berulang kali ingin mengugurkanya dan Zawa yang melarang, sehingga Emly menggunakan anak itu untuk mengancam Zawa.
"Kalo gitu aku, harus.cari tahu kebenaranya. Aku juga harus cari keberadaan Emly dan anakku," batin Aarav, takut kalo anaknya bernasib buruk dibuang oleh Emly atau justru dibunuh sungguhan.
Ahhhh.... Aarav tidak bisa membayangkan nasib anaknya yang buruk...