Beauty Clouds

Beauty Clouds
Penyesalan Orang Tua Emly



Andai dulu papih dan Emly mau mendengarkan nasihat mamihnya, di mana mamih menasihati Emly agar datang dan mengakui semua kesalahanya, mungkin semuanya tidak akan serumit sekarang ini. Terlebih dulu papih Emly dan papih'nya Rio menjalani persahabatan yang kuat dan sangat baik, sehingga kemungkin besar masih bisa nego dan berbicara dengan kepala dingin sehingga Emly tidak mengalami nasib buruk, dan hartanya pun mungkin tidak akan habis dengan sia-sia. Di mana saat ini keluarga Emly mengalami pailit keuangan. Bisnis raksasa papih Emly merosot tajam karena papih yang tidak bisa mengatur waktunya dengan baik sehingga bisnisnya perlahan mengalami krisis. Di saat bisnis keluarga mulai menukik ke bawah kebutuhan Emly dan biaya untuk pengobatanya tidak bisa di setop, sehingga aset-aset mereka pun lambat laun berpindah tangan.


Dari kejadian setiap kejadian yang menimpa keluarga Emly ini. Sampailah Emly menyadari setiap kesalahanya dan memutuskan akan menyerahkan diri ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kejahatanya. Dan yang utama meminta maaf pada Rio, Ody dan tentunya pada Zawa juga.


"Sayang kamu sudah siap pulang ke Indonesia dan akan bertanggung jawab dengan kesalahanmu?" tanya mamih untuk meyakinkan putrinya bahwa apa yang diputuskanya satu minggu yang lalu bukalah isapan jempol semata.


Emly menganggukan kepalanya. " Siap Mih, bukanya mamih yang bilang, cepat atau lambat Emly akan mengalami ini semua akan menjalani hukuman juga dan sejauh apapun Emly bersembunyi dosa dan rasa bersalah akan tetap menghantui Emly dan itu sudah Emly rasakan Mih," Emly dengan pandangan kosong kedepan menjawab pertanyaan mamihnya.


Mamih dan papih pun memegang kedua tangan Emly memberikan kekuatan terhadap putrinya itu. Rasa sedih tidak bisa mereka sembunyikan biarpun baik Emly, mamih dan papih mencoba menutupi kesedihan itu tetapi tetap saja, wajah cemas dan sedih terlihat jelas di wajah mereka terlebih mamih bagai manapun hatinya sakit ketika harus membayangkan putrinya dengan kondisinya saat ini harus tidur dengan alas seadanya dan makan dengan menu seadanya juga.


Andai bisa digantikan hukuman itu ingin mamih menggantikan hukuman yang akan Emly jalani, tetapi itu semua sangat-sangat mustahil. Emly harus tetap menjalani hukumanya tanpa bisa mengelak lagi. Cukup sudah empat tahu dirinya bersembunyi dari kesalahanya, dan saat ini sudah tiba waktunya untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya itu.


Setelah saling berperang dengan fikiranya masing-masing kini ketiganya pun menaiki pesawat dengan kebisuannya karena masing-masing isi kepala mereka di penuhi dengan fikirannya yang runyam itu.


Setelah melewati dua jam perjalanan udara dan hampir satu jam disambung dengan perjalanan darat. Kini mereka pun sudah sampai di rumah mereka yang bahkan tempat tinggal mereka sangat berbeda jauh dengan tempat tinggal mereka yang dulu di mana dulu rumah mereka bak istana dan tumpukan materi yang seolah tidak akan pernah habis. Namun kali ini sangat berbeda.


"Maaf yah sayang rumah kita sekarang hanya seperti ini," ucap papih meminta maaf pada Emly dengan kondisinya saat ini, walaupun sebenarnya rumah merka saat ini pun masih tergolong mewah dibandingkan dengan yang lain. Namun bagi mereka yang biasa tinggal dengan fasilitas mewah dan uang tidak terhitung rumah dengan dua lantai itu sangat sederhana.


"Tidak apa-apa Pih, Mih, rumah ini juga sudah lebih dari cukup ko. Bukanya besok atau lusa Emly justru tidak akan tinggal di rumah ini, Emly akan berpindah ke tempat yang lebih parah dari ini," ucap Emly dengan mata yang kembali memerah. Rasanya air mata itu sudah ingin tumpah dan mewakilkan betapa beratnya perjuanganya untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya.


"Tapi Mih apa malam ini Emly boleh tidur bersama mamih dan papih?" tanya Emly dengan berhati-hati. Yah keinginanya ia ingin tidur bersama orang tuanya dan menghabiskan malam bersama orang tua yang selama ini tidak pernah meninggalkanya meskipun Emly dalam masalah yang sangat berat.


Mamih mengenggam tangan Emly, "Tentu sayang kita malam ini akan tidur bersama yah," jawab Mamih dengan mata yang merah dan mencoba agar air mata itu tidak jatuh.


Malam ini pun mereka akan habiskan untuk tidur bersama menikmati momen yang entah kapan akan terulang kembali.


Dua orang tua itu duduk di sofa di ruang keluarga. Ehemz... Mamih berdehem sebelum memulai obrolanya, untuk menghilangkan kegugupanya.


"Pih tadi papih dengar kan bahwa Emly meminta kita mencari anaknya. Apa papih tahu di mana anak Emly berada saat ini? Dan tahu bagai mana kondisi cucu kita?" tanya Mamih sekalian memancing bagai mana perasaan suaminya itu terhadap cucunya.


Papih tidak langsung menjawab apa yang jadi keinginan anaknya itu. "Jujur Mih, papih juga sebenarnya menyesal sekali dulu pernah meminta Mbok Zuha membuang cucu kita. Papih juga ingin tahu bagai mana kondisi cucu kita, Papih juga heran kenapa papih bisa kefikiran dulu untuk membuang anak tidak berdosa itu, apakah dia hidup susah atau bahagia papih tidak tahu, dan sekarang papih menyesal dan ingun tahu kondisi anak itu sekarang," ucap Papih dengan mata merah menahan tangisnya.


"Mungkin ini saatnya aku kasih tahu bahwa aku tahu di mana cucuku berada," batin Mamih. Yah, mamih akan mulai jujur dengan kondisi cucunya yang tumbuh dengan sangat baik.


"Apa kalo Mamih bilang bahwa mamih tahu di mana cucu kita berada, apa papih mau melihat cucu kita?" tanya mamih dengan mata tidak kalah merah dari suaminya itu.


"Mamih serius? Mamih tahu di mana cucu kita? Mamih tahu gimana kondisi cucu kita?" tanya papih dengan suara sudah bergetar, ini bukannya adalah kabar gembira tetapi entah mengapa mereka nampak sedih dengan kabar ini.


Mamih mengangguk dan itu tandanya semua pertanyan papih barusan mamih tahu.


"Kalo gitu kapan mamih akan ajak papih untuk melihat cucu kita?" tanya papih dengan antusias.


"Mamih terserah papih saja, kapan papih mau mamih akan antarkan papih menemui cucu kita. Tetapi untuk sementara kita tidak bisa menemui cucu kita secara langsung. Kita hanya bisa menemuinya dari kejauhan," ucap mamih menjelaskan kondisinya sebelum papih bertemu cucunya nanti.


"Tidak apa-apa Mih, yang terpenting papih bisa melihat cucu kita," jawab papih dengan sangat tidak sabar ingin melihat bagai mana kondisi cucunya itu.


Yah anak bayi itu tidak seharusnya dibenci, karena dia tidak penah ada dosa, dan tidak bersalah. Bahkan bayi itu tidak pernah memilih akan di lahirkan dari rahim siapa dan orang tua yang mana. Namun karena keegoisan orang-orang dewasa yang merasa paling benar anak bayi itu harus menanggung perlakuan yang kurang manusiawi dan pelakunya dari keluarganya si bayi, Miris bukan?