Beauty Clouds

Beauty Clouds
Tantangan dari Zawa



"Katakan aku harus apa? Agar aku bisa di maafkan oleh kamu Zawa. Aku akan melakukan apapun itu asal kamu mau memaafkan aku. Aku mau menebus semua kesalahan itu Zawa?" Tangis Emly pecah, wajahnya di benamkan di telapak tangan yang masih terhubung selang infus. Sampai Mayra  yang tengah bermain di bawah bangun untuk melihat kondisi mamihnya


Gadis kecil itu yang melihat mamihnya menangis pun ikut merasakan kesedihanya.


"Daddy, Mamih kenapa? Kenapa Mamih menangis?" isak Meyra yang ikut sedih takut apabila mamihnya kenapa-kenapa. Aarav lupa tidak mengamankan buah hatinya. Lalu Aarav pun langsung menyambar Meyra dan membawanya keluar, dia tidak harus mendengarkan obrolan antar Emly dan juga Zawa.


"Mamih tidak apa-apa sayang, hanya sedang sedih karena sekarang tante Zawa akan punya baby," ucap Aarav. Yah dia tahu bahwa sekarang Zawa kondisinya sedang hamil Clovis dan Rio yang mengatakanya.


"Tapi kenapa sedih? Bukanya kalo punya Baby itu senang, kaya Mey dan Bunda serta Papah juga senang ketika punya Baby," cicit Meyra, yah, Aarav seharusnya sadar bahwa anaknya itu anak yang pintar dan tidak bisa menerima alasan yang tidak masuk akal sehingga seharusnya Aarav memilih alasan yang masuk akal untuk memberikan pengertian Zawa dan mamihnya.


Aarav dan diikuti Cus pun mengajak Meyra bermain di taman rumah sakit, dan soal Emly dan Zawa, Aarav sudah titipkan semuanya pada Arzen, dan dia percaya bahwa Arzen bisa melerainya, semuanya pasti baik-baik saja. Zawa pun tidak mungkin melakukan hal yang membuat Emly syok lagi. Kehamilanya yang sensitif memang membuat sifat Zawa sedikit keras dari biasanya yang lebih lemah lembut.


"Maafkan aku seharusnya aku tidak menangis, sehingga anak aku sendiri ketakutan," ucap Emly dengan menyeka sisa air matanya, dan mencoba membuka obrolan lagi dengan Zawa dan Arzen.


"Apa kamu saat ini meminta maaf pada kami semua itu tulus atau karena kamu tidak mau menerima hukuman dan ingin bebas dari hukuman itu?" tanya Zawa dengan jutek.


"Aku tulus meminta maaf dengan kalian semua, meskipun jujur ada rasa malu dan merasa tidak pantas mendapatkan maaf dari kalian, tetapi aku sadar semua manusia tidak lepas dari kesalahan dan aku menyadarinya dulu aku memang terlalu sombong dan merasa paling beruntung di dunia ini sehingga aku merasa tidak membutuhkan kalian. Namun untuk saat ini pilihan nomor dua juga benar aku tidak mau menerima hukuman apa lagi sampai terpenjara, sehinga aku harus meminta maaf pada kalian karena apabila aku terpenjara yang ada aku hanya jadi beban mereka, aku akan selalu merepotkan orang-orang yang ada di penjara karena kondisi fisikku yang lumpuh," lirih Emly, sembari menunduk, semua yang di katakanya benar, kondisinya tidak sama dengan yang lain bahkan untuk ke toilet saja dia membutuhkan bantuan orang lain.


Zawa tercubit hatinya manakala mendengar ucapan itu, tetapi dia harus tega dan bersikap tetap jutek, demi rencananya agar berhasil.


"Kalo gitu, jika kamu mau aku tetap memaafkan kamu, maka buktikan lah kalo kamu bisa sembuh dan berjalan lagi. Aku tidak mau kamu beralasan sulit dan tidak bisa. Setidaknya berusahalah untuk menebus kesalahanmu," ucap Zawa masih dengan nada yang jutek.


Emly terdiam mempertimbangkan tawaran maaf dari Zawa. Sebelumnya ia sudah pernah ikut terapi dan untuk bisa berjalan dia melakukan semua cara yang dokter sarankan tetapi rasa ngilu di pinggulnya membuat ia pasrah dan tetap memilih memakai korsi roda untuk aktifitasnya. Bahkan terakhir ia pingsan dan koma karena merasakan nyeri lagi di bagian yang sensitif itu. Rasanya Emly apabila akan berusaha lagi terasa berat dan itu sangat-sangat menyiksanya, tetapi Emly juga ingin membuktikan kalau dia meminta maaf pada Zawa itu tulus.


"Aku tunggu kamu saat udah bisa berjalan dan meminta maaf padaku," jawab Zawa, nada yang jutek dan serius serta tidak ada tawa sangat berbeda dengan Zawa yang dulu dia adalah gadis yang selalu ramah, lemah lembut dan juga murah senyum.


"Apa sebenarnya yang terjadi dengan Zawa?" batin Emly yang belum tahu bawa Zawa sedang berbadan dua, dan mungkin saja sifat juteknya itu adalah bawaan bayinya.


"Kalau gitu aku pamit kembali ke kamar yah Mly, soalnya Zawa masih lemas dan belum boleh lama-lama duduk," ucap Arzen, yang melihat kedua sahabat itu saling diam kembali. Iya memang Emly dan Zawa saling diam, hal itu karena baik Emly maupun Zawa bingung mau mengajak ngobrol apa lagi. Pembahasanya sudah dianggap selesai oleh Zawa. Tujuanya Zawa datang keruangan ini hanya untuk mengancam Emly agar tidak menyerah dan berserah dengan nasibnya.


Emly mengangkat wajahnya dan mengangguk. "Terima kasih Arzen, Zawa sudah menyempatkan waktunya untuk menjenguk aku. Padahal kamu juga lagi sakit, Wa. Semoga kamu cepat pulih yah," ucap Emly dengan suara yang lembut.


"Sama-sama kamu juga yah, cepat sembuh dan terus berjuang buktikan pada kami bahwa kamu memang layak untuk di maafkan," ucap Arzen mewakili Zawa yang kembali terdiam.


Setelah berpamitan pada Emly, Arzen pun mendorong kursi roda Zawa dan meninggalkan Emly sendirian di kamarnya, karena Aarav yang sedang mengajak anaknya keluar untuk berjalan-jalan.


"Sayang, apa yang kamu katakan tadi pada Emly tidak terlalu keras," lirih Arzen begitu keluar dari ruangan Emly.


"Kamu enggak usah kawatir sayang, Emly itu tidak selemah itu malahan dia itu sosok yang kuat. Kamu masih ingat tidak, saat dia koma, aku ancam juga kan dia, tidak lama setelah itu dia bangun, jadi dia itu tidak lemah. Malah aku yakin sekali kalo dia akan termotifasi dan bisa saja dia benar-benar akan bisa berjalan lagi dan kita bisa berkumpul bersama lalu jalan-jalan ke mall untuk menghabiskan uang suami," ucap Zawa dengan berkelakar, kini hatinya sudah sedikit lega karena Emly yang sudah sadar dan kini tinggal menunggu kalo Emly benar-benar akan sembuh.


Arzen pun ikut tertawa dengan tujuan Zawa ingin Emly sembuh


Sementara Emly di dalam ruanganya masih mengira bahwa Zawa memang benar-benar masih marah. Bahkan ia bingung gimana kalo dia tidak akan bisa berjalan apa itu tandanya bahwa Zawa tidak akan memaafkanya.


"Tuhan, bantu aku agar aku bisa buktikan, dan bisa menahan semua sakit ketika melakukan terapi agar aku bisa berjalan dengan normal lagi. Aku ingin maaf dari sahabatku Tuhan," gumam Emly berdoa dalam batinya, meskipun ia masih malu apabila berdoa dan meminta sesuatu dari Tuhan di mana dia adalah makhluk yang berlumur dosa, dan tengah berproses membersihkan dosa-dosa itu.