Beauty Clouds

Beauty Clouds
Digantung



Arzen juga tengah bersenandung gembira. kini Arzen tengah di jalan menuju rumah Rio rasanya ia tak sabar ingin memberitahukan Rio bahwa ia sudah tidak jomblo lagi.


Tidak butuh waktu lama kini Arzen sudah berada didepan rumah Rio. Setelah bercanda dengan pak Yono kini Arzen tengah menunggu di depan pintu, ia sudah memencet bel tetapi Mbok Karti tak juga membukakan pintunya.


Setelah beberapa kali Arzen memencet bel akhirnya Pintu dibuka juga.


"Tumben lama banget Mbok buka pintunya?" tanya Arzen basa-basi.


"Iya Pak, tadi Mbok udah tidur jadi nggak denger." jawab Mbok Karti dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Aduh maaf yah, jadi ganggu tidur Mbok deh." ucap Arzen merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa Pak Arzen, udah jadi kerjaan Mbok ko." balas Mbok Karti sembari senyum di wajahnya.


"Rio juga udah tidur Mbok?" tanya Arzen yang sudah melihat rumah Rio sepi. "Tumben-tumbenan nih rumah baru juga jam sembilan udah sepi." batin Arzen.


"Dokter Rio kayaknya kalo jam segini biasa belum tidur pak, mau Mbok pangilkan?" tanya Mbok Karti pada Arzen.


"Oh, nggak usah Mbok, biar aku ajah yang ke kamar Rio. Mbok lanjut tidur ajah nanti pintu biar aku yang kunci." jawab Arzen.


Memang kadang Arzen menginap rumah Rio, dan malam ini pun Arzen jadi kefikiran untuk nginap di rumah Rio. Tentu sajah Arzen belum tau bahwa Ody kini juga sudah tinggal satu atap dengan Rio bahkan satu kamar dengan Rio. Hanya Aarav yang tau bahwa Ody sudah tinggal dengan Rio kembali, tetapi juga Aarav belum tahu bahwa hubungan Ody dan Rio sudah membaik, bahkan tidur satu kamar dan berbagi ranjang panas.


Arzen menyelusuri satu demi satu anak tangga menuju kamar Rio. Tepat di kamar Rio Arzen berhenti karena mendengar ada suara wanita dari kamar Rio.


Arzen tidak melanjutkan mengetuk pintu kamar Rio, tetapi justru berdiri dan berniat menguping.


"Wanita mana yang Rio bawa ke kamarnya?" batin Arzen dalam hatinya.


***


Di dalam Kamar Rio...


Ody dan Rio tengah berdebat, karena Telpon dari Hendra berulang kali, tetapi Rio melarang untuk mengangkatnya, dengan alasan mereka tengah asik dengan permainan barunya.


"Dok, tolong izinkan saya mengangkat telpon dari adik saya, aku takut terjadi apa-apa dengan ibuku, karena beliau sekarang tengah sakit." ucap Ody sembari menunjukan muka seriusnya.


"Tanggung Ody, ayo lah tuntasin dulu baru kamu boleh angkat telponya." debat Rio nggak mau kalah.


Ody yang makin cemas dan entah sudah berapa kali Hendra menelepon, tetapi tidak Rio izinkan untuk mengangkatnya. Ody tiba merebut Handphone'nya dan langsung mengangkat telpon dari Hendra. Ody tidak memperdulikan lagi tampang Rio yang sudah kesal menahan kemarananya. Bayangka sajah sudah melakukan pemanasan yang memabukan dan kini sudah siap untuk bertempur, tetapi malah gangguan menggagalkan semuanya.


"Hallo kenapa Ndra?" tanya Ody dengan cemas ketika telpon baru tersambung.


"Hallo, Ody ini Mamang. Dy kamu pulang sekarang yah." balas Mamang, ia tidak mengabarkan secara langsung tentang meninggalnya ibu karena Mamang takut Ody cemas dan justru membahayakan dia diperjalanan. Biasanya orang panik pikiranya jadi kacau, itu yang menbuat Mamang memilih merahasikan meninggalnya ibu mereka.


"Mang, ini kenapa ko tiba-tiba Ody disuruh pulang. Lalu mana Hendra kenapa Mamang yang telpon Ody, pasti terjadi sesuatu dengan ibu kan?" tanya Ody dengan tangis yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Udah Ody pulang dulu ajah, nanti Mamang jelasin kalo Ody sudah di rumah." jawab Mamang, yang justru semakin membuat Ody penasaran.


Ody menggenggam Hpnya, dan termenung, diam dalam tangisnya.


"Dok, saya di minta pulang sekarang," ucap Ody menatap Rio yang masih terdiam dengan kemarahanya.


Tanpa menunggu jawaban dari Rio, Ody meninggalkan Rio dengan kemarahanya. Sebenarnya Ody ingin meminta bantuan Rio, tetapi melihat raut wajah Rio yang nampak kesal, maka Ody memutuskan untuk pergi dan mungkin nanti akan naik bis atau naik apapun asalkan malam ini juga ia sampai di kampung halaman. Perasaanya udah mengatakan bahwa terjadi sesuatu dengan ibunya, sehingga kemarahan Rio sudah tidak lagi Ody pikirkan.


Ody membuka pintu, tetapi betapa kagetnya Ody ketika melihat Arzen tengah mematung, memguping dibalik pintu kamar Rio.


"Loh kamu Arzen, lagi ngapain kamu disini?" tanya Ody dengan kepo.


"Lah, kamu ngapain di kamar Rio, bukanya kamu lagi kerja di bar Clovis?" tanya balik Arzen penuh penasaran.


"Au ah, ditanya malah balik nanya." balas Ody kesal.


Arzen mengintip Rio dari celah pintu, "Hahaha ...." Arzen tertawa terbahak-bahak melihat Rio yang bertelanjang dada duduk dengan selimut menutupi bagian bawahnya. Otomatis Arzen sangat tau apa yang terjadi diantara dua insan barusan. Telebih Ody keluar dengan raut muka kusut.


Arzen akan masuk kedalam kamar Rio, tetapi tiba-tiba Ody kembali dan menarik Arzen.


"Zen, batuin aku yah, aku lagi butuh tumpangan sekarang juga." mohon Ody dengan wajah memelas.


Arzen yang tidak tega melihat Ody akhirnya meng'iyakan permintaan Ody, tetapi sebelumnya Arzen kembali ke kamar Rio.


"Lo berhutang penjelasan tentang apa yang terjadi barusan," ujar Arzen dengan nada ancaman.


Rio pun mendengus kesal ia sudah, digantung pemainanya oleh Ody begitu sajah, sehingga ia mau tak mau harus bersolo karir, di dalam kamar mandi. Belum kesialan Rio satu lagi, Arzen mengetahui hubunganya dengan Ody, sehingga kini Rio harus mengatakan sejujurnya tentang hubunganya dengan Ody.


"Kita mau kemana?" tanya Arzen ketika Ody menariknya.


"Zen kamu bawa mobil atau motor kesininya?" tanya balik Ody.


"Mobil, kenapa?" tanya Arzen kepo.


"Kalo gitu, aku minta tolong kamu antarkan aku ke kampung halaman aku yah, barusan aku terima telpon dari sodaraku diminta untuk segera pulang. Aku takut terjadi sesuatu dengan ibuku." mohon Ody dengan isakan tangis.


"Ya udah ayo." ajak Arzen yang sudah tidak tega melihat kesedihan dan kecemasan Ody.


Kini Ody berada di dalam mobil Arzen hendak pulang kekampung halamanya, sedari tadi perasaan Ody sudah tidak karuan. Antara kecemasan memikirkan kondisi ibunya yang ia takutkan terjadi sesuatu dengan ibunya. Disisi lain Ody juga merasa bersalah dengan Rio, Ody ingin meminta maaf denga Rio tetapi juga masih ada rasa kesal di dadanya, karena Rio yang melarang Ody mengangkat telpon dari Hendra.


Buat teman-teman bantu othor buat share cerita ini keteman-teman atau saudra yah, ceritanya masih sepi nih...


...****************...


#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤


# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤