
"Kalo orang tua Anda tidak mungkin, gimana dengan istri Anda? Apa dia juga tidak pantas Anda curigai?" tanya Rio dengan nada menyindir dan tatapan kembali mengamati gerak-gerik Cindi.
Benar sajah Cindi semakin gelisah, ketika mendengar Rio menyebut namanya dalam obrolaan dengan Doni.
"Sial nih orang, sepertinya dia mencurigai aku, umpat Cindi di dalam hatinya. "Aku harus hati-hati dengan suami Ody ini, sepertinya dia bukan orang sembarangan." imbuh Cindi sembari diam-diam mengamati Rio.
"Ini maksudnya apa yah ko jadi nyalahin aku? Hati-hati Mas kalo bicara, salah ngomong timbulnya fitnah nanti. Lagian kamu ngomong apa sih Dy sama lakimu, sampe sok tau banget orangnya," runtuk Cindi dengan nada meninggi, seolah mencari pembelaan.
"Ok, kalo salah timbulnya fitnah. Lalu gimana kalo benar, ternyata Anda biang dari masalah ini berlarut-larut. Apa hukuman yang pantas buat Anda?" balas Rio, tentu Rio berbicara dengan nada sopan, tetapi sindiran dan tatapan mata yang siap melumpukan lawanya.
"Lagian aku juga nggak ngomong apa-apa sama suami aku. Kalo Mas Rio bilang begitu ya mungkin saja Mas Rio memang bisa liat kalo kamu curang orangnya." Ody juga ikut menimpali ocehan Cindi yang baginya mulutnya tak berfilter. Di samping Rio dengan sangat lembut mengusap-usap pundak Ody agar tidak terpancing emosi dengan omongan Cindi.
"Ya, udah gini ajah Bang, saya minta waktu lagi sampe surat tanah itu ketemu. Kalo surat itu telah ketemu saya pasti akan ganti semua uang-uang kamu Dy." Doni meminta keringanan dengan sangat sopan, berbeda dengan Cindi yang selalu berbicara dengan arogan.
"Jaminanya apa kalo Anda nggak kabur?" tanya Rio dengan tegas.
"Saya akan serahkan nomer ponsel saya dan juga alamat rumah saya, agar Anda tidak takut saya kabur," balas Doni.
"Hitam diatas putih dan ditanda tangani diatas matrai dan disaksikan oleh pengaca saya gimana?" Rio menawarkan tawaran lain, agar Doni tidak bisa mangkir lagi dari tanggung jawabnya.
"Kenapa takut banget Mas kalo uangnya bakal dibawa kabur. Lagian kami nggak bakal kabur juga pake segala bikin perjanjian," oceh Cindi dengan bersungut-sungut. Sembari menepuk-nepuk anaknya yang tengah tertidur di pangkuanya.
"Saya hanya waspada, karena saya tau Mas Rio memelihara ular berbisa di rumahnya," balas Rio dengan tersenyum sinis, dan melirik kearah Cindi yang sudah pasti akan salah tingkah.
"Ya udah saya ngikut ajah apa kata Bang Rio maunya gimana? Tapi yang jelas aku nggak akan lepas dari tanggung jawab Bang." Untung disini Doni lebih bisa diajah ngomong dengan kepala dingin, andai sifatnya seperti Cindi pasti gagal mediasi.
"Baik lah tunggu sebentar aku panggil pengacara keluarga sebentar." Rio berdiri dan pergi ketempat lain guna melakukan panggilan telepon menghubungi Bisma pengacara keluarga.
"Dy suamimu kayaknya kaya raya, kenapa kamu tetap minta uang itu sih," bisik Cindi dengan nada sinis.
"Ya karena itu hak aku Cin, dan aku mendapatkanya nggak gampang. Keringet dan lelahku bekerja menjadi buruh di negri orang selama lima tahun ada di uang itu semua. Jadi nggak ada alasan aku buat ngiklasin uang itu kesiapapun biapun aku sudah dapat suami yang kaya," jawab Ody dengan nada pembelaan.
"Cin, udah ah. Lagian memang benar ko itu semua uang Ody, ya dia berhak buat nagih uangnya dibaliki. Lagian itu kesalahan aku jadi kita harus terima." Doni melerai Cindi yang akan membalas ucapan Ody. Terlebih Doni sangat tau gimana sifat Cindi yang super cerewet.
Tak lama Rio kembali lagi, "Kenapa yank?" tanya Rio yang sebenarnya dari kejauhan tetap memantau Ody. Rio tau Cindi memanfaatkan kepeegianya untuk menekan Ody.
"Nggak apa-apa Mas." balas Ody tidak ingin Rio mengetahui apa yang ia obrolkan dengan mantan sahabatnya.
"Kalo gitu tunggu sebentar yah Mas Doni. Pengacara saya tengah dalam perjalanan datang ke sini," ucap Rio. Sembari menunggu pengacaranya datang Rio pun berbincang-bincang dengan Doni. Meskipun Rio masih agak kesal dengan Doni, karena matanya beberapa kali melirik ke Ody. padahal didepanya ada suaminya tetapi dia masih ada curi-curi pandang rasanya pengin ih, dicolok matanya.
"Siang Pak, Bu," sapa Bisma menyapa ramah dengan semuanya.
"Duduk Ma." Rio menarik kursi disampingnya agar Bisma duduk berdekatan dengannya.
Bisma membuka tas kerjanya dan menyodorkan selembar ketas yang berisi perjanjian pembayaran hutang. Rio membaca dengan seksama dan menyetujui surat perjanjian itu, kini Rio menyodorkan pada Doni untuk membacanya.
"Ini batas saya hanya tiga bulan Bang? Apa tidak bisa ditambah waktunya" tanya Doni, ia merasa keberatan dengan waktu yang singkat.
"Itu bagi saya sudah cepat Mas, sebenarnya Mas Doni hanya perlu kepekaan sedikit sajah, pasti Anda akan menemukan di mana surat tanah tersebut berada." Rio bicara seperti itu sebab ia yakin bahwa Cindi dibalik hilangnya surat tanah tersebut.
Setelah melalui perdebatan yang alot kini akhirnya Doni mau bertanggung jawab, dan mau menandatangani perjanjian hutang piutang itu. Akhirnya setelah menandatangani perjajian itu Doni dan Cindi beserta anaknya pamit lebih dulu pamit, sementara Ody dan Rio melanjutkan jalan-jalanya.
"Mas kayaknya minuman itu enak," ucap Ody, sembari menunjuk ke salah satu stand minuman yang jual aneka minuman segar.
"Kamu mau? Ya udah nanti Mas beli kamu disini ajah dulu yah biar Mas yang beli. Mau rasa apa?" tanya Rio memastikan agat tidak salah membeli, biasanya cewek memang selalu teliti dengan keinginanya salah beli bisa-bisa hilang moodnya.
"Cappucino Mas," balas Ody dengan antusias.
"Baiklah, kamu jangan kemana-mana," pesan Rio sebelum benar-benar meninggalkan Ody.
"Iya Mas, sanah-sanah keburu dedenya ngiler nih," usir Ody agar Rio buru-buru membelinya.
Tak memakan waktu lama Rio membawa dua bungkus minuman dengan rasa yang Ody pesan.Tentu Ody sangat senang dan langsung meminumnya. Rio mengambil gambar istrinya dengan memegang minuman itu.
"Mas ko difoto sih, pasti jelek yah? Gendut." ujar Ody merasa keberatan Rio mengambil gambarnya dengan diam-diam.
"Engga sayang, cantik ko. Kapan sih kamu kelihatan jelek." Rio memberikan hasil jepretanya yang justru terlihat sangat menawan.
"Ya udah biarin, tapi kalo hasilnya jelek hapus aku nggak suka," sungut Ody sembari memanyunkan bibirnya.
"Ia tuan putri."
Kini mereka pun kembali berkeliling-keliling mencara barang yang lainya. Menikmati hari kebersamaan mereka.
...****************...