Beauty Clouds

Beauty Clouds
Salah Paham



"Clovis." Ipek melihat orang yang selama ini membuatnya susah tengah tergeletak ditengah aspal dengan darah mengalir dari perutnya, serta wajah yang tampak babak belum.


Ipek berbalik hendak meninggalkan Clovis, dan memilih menelepon polisi serta tenaga menis untuk menolong Clovis. Baru beberapa langkah Ipek kembali berhenti. Dia tidak tega melihat Clovis sekarat di depan matanya.


"Bukankah kata Abi, kalo orang jahat, jangan dibalas dengan kejahatan!!! Lalu apa bedanya aku dengan dia, kalo aku malah membalas semua kejahatan dia," gumam Ipek dengan lirih.


"Pak, tolong bantu korban masuk mobil Pak." Ipek berteriak meminta bantuan sopir.


Sang sopir pun langsung bergegas turun dan membantu Clovis naik ke mobil Clovis. Lalu Ipek mengambil alih kemudi.


"Bapak pulang sajah, dan bilang sama Umi dan Abi, Ipek nggak jadi pulang. Saya mau antar korban ke rumah sakit dulu, nanti kalo saya butuh apa-apa saya hubungi Bapak, tapi Bapak jangan bilang-bilang sama Umi atau Abi kalo saya nolongin korban yah." Ipek memberikan pesan sebelum ia benar-benar menginjak pedal gas dan memacu mobil melaju dijalanan ibukota dengan kencang. Rasanya terlalu jauh perjalanan ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit Ipek berteriak ke penjaga IGD agar segera melakukan pertolongan pertama pada Clovis. Ipek dengan gemetar membantu setiap yang bisa ia bantu, tanpa sadar bajunya pun terkena banyak darah Clovis terlebih baju yang Ipek pakai adalah kaus berwarna putih, tentu sajah darah terlihat jelas membekas dibajunya.


Ipek duduk di lantai dengan lemas ketika Clovis tengah mendapatkan pertolongan oleh dokter jaga dan perawat yang pagi ini bekerja di IGD.


"Anda sodaranya atau siapa korban?" tanya salah seorang perawat yang menghampiri Ipek.


"Ah... saya temanya Sus, barusan lewat nemuin korban tengah dikeroyok preman-preman jalanan," jawab Ipek dengan gemetar dan wajahnya pucat.


"Gini Mba, korban banyak kehilangan darah dan harus transfusi darah, apa ada golongan darah yang sama, beliau golongan darahnya AB?" jelas suster itu dengan ramah.


"Saya kebetulan AB Sus, ambil darah saya sajah." Ipek langsung menawarkan dirinya ketika mengetahui golangan darahnya sama denga Clovis. Di pikiranya gimana caranya Clovis sembuh, lalu Ipek berjanji akan pergi dari kehidupanya. Mungkin ini terakhir kalinya ia bertemu dengan Clovis. Ipek pun lalu mengikuti suster untuk mendonorkan darahnya.


Setelah melewati penanganan yang panjang kini Clovis sudah di perbolehkan pindah keruangan rawat inap. Namun, ia belum sadar. Ipek duduk di samping Clovis dengan sangat telaten ia menemani Clovis. Memastikan ia melewati masa tersulitnya.


Karena semalama Ipek tidak tidur, rasa ngantuk kini menguasai dirinya. Ipek tertidur disamping ranjang. Dengan badan duduk di kursi dan kepala menelungkuk samping ranjang Clovis. Matanya sudah tidak bisa diajak melek lagi.


Dengan pulas Ipek tertidur cukup lama. Sedangkan pukul sebelas Clovis terbangun. Obat biusnnya sudah mulai berkurang fungsinya, sehingga badanya terasa nyeri. Terutama perut sebelah kiri yang terkena tikaman piso oleh preman yang mengeroyoknya tadi pagi.


Ehmmm....


Lengkuhan panjang Clovis menahan perih diluka-lukanya. Ia menajamkan pandanganya melihat kesekeliling rungan. Serba putih dan bau obat yang menyengat.


"Dimana aku?" lirih Clovis. Masih berusaha menajamkan pandanganya yang masih remang-remang. "Aku udah mati? Atau masih hidup?" batin Clovis. Ia mengingat ingat kejadian tadi pagi yang membuatnya terkapar tidak berdaya di tengah jalan.


Namun, Clovis masih sedikit sadar ketika ia melihat bayangan wanita yang ia sangat benci dan selanjutnya ia pingsan.


"Ipek." Yah, Clovis pagi tadi melihat Ipek sempat menghampirinya. Apakah hanya halusinasi karena aku membeci wanita itu, atau aku benar-benar dibantu sama dia." Clovis masih mencoba mengingat ingat kejadian tadi pagi. Walaupun ia pingsan tapi dibawah sadarnya masih bisa mendengan seseorang yang mencemaskanya, dan berterik meminta bantuan tenaga medis.


Clovis terus menringis merasakan nyeri dibekas lukanya, ketika obat anti nyeri sudah tidak bekerja lagi.


"Siang Pak, kami periksa dulu yah," ucap suster yang akan memeriksa Clovis.


Clovis mengangguk dengan lemah.


"Semuanya bagus, darah Anda juga sudah mulai stabil dan kedepanya hanya tinggal menunggu lukanya kering, Anda sudah boleh pulang, tapi tetap harus kontrol yah Pak, luka diperut Anda lumayan dalam soalnya. Jadi butuh kontrol rutin." Dokter dengan telaten memberitahukan hasil dari pemeriksaanya.


"Oh iya Sus, ngomong-ngomong, kalo boleh tau siapa yang membawa saya kesini?" tanya Clovis yang belum sadar juga bahwa di samping ranjangnya ada yang tidur.


"Oh, itu Pak, Beliau yang membantu mengantar Bapak ke rumah sakit ini," ujar suster sembari menunjuk Ipek yang masih tertidur pulas di samping Clovis.


Clovis yang penasaran siapa yang membantunya sedikit mengangkat kepalanya agar bisa melihat orang yang suster tunjuk.


"Ipek."


"Beliau juga yang sudah mendonorkan darahnya buat Anda, beruntung sekali Anda memiliki teman sebaik beliau," imbuh suster sebelum meninggalkan Clovis dalam kekagetannya.


"Berati pagi tadi, bukan halusinasi ku. Benar Ipek yang telah membantu aku, tapi kenapa Ipek yang membantu aku kenapa bukan yang lain sajah. Apa dia benar-benar membantu aku, atau ada campur tangan dia dari kejadian ini?" batin Clovis semakin dibikin bingung dengan kehadiran Ipek yang membantunya.


"Tapi kalo dia terlibat dalam masalah ini, kenapa dia juga mau mendonorkan darahnya untuk aku? Entah lah aku akan mencari tahu dalang dibalik semua ini.


Clovis mencari ponselnya, tetapi ia tidak menemukanya. "Dimana ponselku? Ah... apa ada di dalam mobil?" batin Clovis.


Ipek mengeliatkan tubuhnya, dia mengerjapkan matanya. Ia kini sudah sadar.


"Ah aku kan kini di rumah sakit." Ipek langsung bangu , dan akan melihat kondisi Clovis, tetapi Clovis sudah sadar.


"Ah... Anda sudah sadar Tuan?" tanya Ipek dengan ramah.


"Kenapa kamu yang menolong aku? Apa kamu ada hubunganya dengan pengeroyokan yang dilakukan preman-preman itu?" tuduh Clovis.


"Maksud Tuan apa? Bahkan aku tidak tau mereka siapa, dan tidak menyangka juga bahwa laki-laki yang tengah menjadi bulan-bulanan mereka adalah Anda,Tuan Clovis." Suara Ipek bergetar, kenapa niat baiknya masih sajah disalah artikan oleh Clovis.


"Aku hanya menebak sajah, terlalu mustahil tiba-tiba loe datang, disaat gue dikroyok, dan hampir mati. Sedangkan orang yang menjadi musuh gue adalah loe," tuduh Clovis dengan nada datar.


Tanpa terasa mata Ipek semakin panas. Kini ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Ipek meninggalkan Clovis dan masuk ke kemar mandi. Ia tidak mau terlihat lemah dimata Clovis. Di dalam kamar mandi Ipek menumpahkan semua sesaknya karena perkataan Clovis.