Beauty Clouds

Beauty Clouds
Jebakan Balik



Di dalam mobil menuju pulang Ipek masih banyak diam, ia masih memikirkan siapa kemuangkinan yang memata-matainya.


"Mba, kira-kira Mba Ody ada musuh atau orang yang kira-kira bermasalah dengan Mba atau yang masuk untuk dicurigai gitu?" tanya Ipek pada Ody. Sebab Ipek sendiri juga belum yakin akan curiga dengan Clovis.


Tentu Ody diam sejenak ketika Ipek menanyakan hal itu. Ia mengira-ngira kira-kira ada atau tidak orang yang bermasalah dengannya.


"Sepertinya nggak ada Pek, kalo dulu mungkin sajah aku bisa curiga sama Rio, tapi kalo sekarang kayaknya nggak ada deh."


"Iya juga sih," balas Ipek, ia kembali termenung. Tanpa sadar kini mereka sudah sampai di rumah Ody. Setelah berpamitan dan meminta agar Ipek memberitahu kalo ada masalah apapun atau ada info mengenai orang yang memata-matainya. Kini Ody masuk ke dalam rumah dan Ipek melanjutkan pulang menuju rumahnya. Begitu sampai di rumah ia buru-buru mengambil HP yang ia pakai buat kerja dan menghubungi temanya sekaligus orang kepercayaannya yang saat ini masih bekerja di bar milik Clovis. Ia akan memastikan ada info apa dengan Clovis.


"Hallo Sa, loe udah ada info apa mengenai bos loe?" cecer Ipek, ketika Sami baru mengangkat teleponya.


"Ya ampun Pek, bisa kan bicara pelan-pelan udah kaya kesamber petir nih telinga," sungut Sami dari sebrang telpon sembari tanganya mengusap-usap telinganya yang panas.


"Ya udah maaf, buruan ada info apa? Soalnya barusan gue merasa ada orang yang ngikutin gue terus. Pasti gue langsung curiga sama mantan bos dong," Beo Ipek dengan sangat yakin bahwa ini ulahnya Clovis.


"Bisa jadi Pek, soalnya gue juga curiga sama bos. Dia kayaknya lagi ngerencanain sesuatu deh sama kamu. Makanya kamu kalo bisa hati-hati. Takutnya kecurigaan kita benar," pesan Sami pada Ipek.


"Gue minta malam ini, loe ngorek informasi yah Sa. Nanti kalo loe dapat info mengenai rencana Clovis, gue bakal kasih bonus buat loe," janji Ipek sama Sami.


"Ok nanti gue bakal kerjain perintah dari loe dengan sangat baik." Tentu Sami lebih memilih mengerjakan perintah dari Ipek, secara Ipek adalah bos yang loyal dan bahkan gajinya lebih besar dari Ipek dari pada menjadi pelayan di bar Clovis. Sehingga Sam sangat berpihak pada Ipek dari pada Clovis.


Ipek semenjak kejadian siang tadi jadi tidak berani keluar rumah. Ia memilih mengurung diri di dalam rumahnya. Namun, ia juga tidak mau gegabah bercerita pada keluarganya. Ia akan mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. Justru apabila ia bercerita kejadian semalam keluarganya akan panik dan tentu Ipek semakin susah untuk keluar rumah.


Menit berlalu berganti jam dan tepat di jam tiga dini hari, Ipek terbangun karena suara dering telpon dari Sami.


"Hallo ada apa Sa?" tanya Ipek dengan suara serak dan mata masih terpejam rasanya ngantuk sekali.


"Ipek loe masih tidur?" tanya Sami memastikan pada Ipek.


"Nggak gue udah bangun, cuma masih sedikit ngantuk sajah." Ipek menjawab sembari mengucek-ucek matanya agar tidak tertidur lagi.


"Beneran melek loh, nanti nggak denger lagi informasi yang gue bawa. Penting soalnya," balas Sami memastikan.


"Dugaan loe bener. Loe dalam bahaya," ucap Sami, dan berhasil membuat Ipek terlonjak kaget.


"Maksud loe, Clovis yang nyuruh orang buat mata-matai gue? Alasanya apa? Kenapa sih dia selalu nyari nyari gara-gara terus sama gue. Giliran gue membela diri dia nggak terima," runtuk Ipek kesal sendiri ketika menghadapi Clovis yang keras pendirianya, seketika pula rasa ngantuknya pergi entah kemana.


"Yang gue denger gitu, dia sepertinya bikin sayembara buat siapapun yang bisa membuktikan bisa meniduri loe dan melakukan ML, Clovis akan berikan hadiah fantastis." Sami mulai menjelaskan semua informasi yang ia dapatkan.


"Gila yah tuh orang, lama-lama otaknya gesrek," murka Ipek.


Tentu sajah Ipek, murka. Sama sajah dia dianggap sebuah boneka mainan sama Clovis. Ipek mencintai dengan tulus sama laki-laki itu, tetapi justru sang laki-laki tidak menghargainya. Bahkan ingin membuat hidupnya hancur. "Baiklah aku pengin liat segimana usaha dia untuk menghancurkan aku. Tentu aku akan bermaian dengan dia juga. Apakah memang hati dia sudah mati rasa, sehingga tidak bisa melihat mana wanita yang tulus mencintainya dan ingin membawanya pada jalan kebaikan," gumam Ipek.


Ipek menutup telefon dari Sami. Ia berjalan mondar mandir mencari ide. Kalo dia diamkan pasti Clovis akan tetap mencari cara untuk mengerjai Ipek, sedangkan kalo Ipek membalasnya dengan cara gimana? Ipek ingin menceritakan pada Ody, mengenai ancaman Clovis, tapi Ipek urungkan. Takutnya Ody kefikiran sedangkan dia kan lagi hamil.


Ah.... sial... sial... Ipek mengacak-acak rambutnya. Otaknya buntu untuk sekedar mencari ide.


"Apa aku kasih tau dokter Intan sajah yah, siapa tau dia punya solusinya," batin Ipek. Ipem melirik ke jam di dinding kamarnya, masih jam empat pagi, tentu Intan juga pasti masih terlelap dalam tidurnya.


Ipek mencoba mencari ide sendiri, apabila nanti sudah menemukannya akan mencoba merundingkan dengan Intan. Entah sudah berapa kali Ipek bolak balik bak setrikaan dikamarnya, mencoba mencari ide.


Ia berfikir siapa kira-kira yang bisa diajak kerja sama dengannya. Tentu Ipek akan memilih cowok yang tampan kalo bisa yang dekat dengan Clovis.


"Arzen, yah aku coba sajah minta bantuan dia, lagian Arzen dekat dengan Clovis, terlebih wajah Arzen lumayan tampan, walaupun tidak bule seperti Clovis tetapi Wajah Arzen tak kalah tampan kalo dibandingkan dengan Clovis," batin Ipek, ia mulai tersenyum, tentu rencana kali ini harus sempurna dan bisa menyadarkan Clovis.


Ipek akan membayar Arzen, agar mau berpura-pura tidur denganya dan tentu membuat ia kehilangan keprawananya.


"Semoga kali ini Arzen mau membantuku," gumam Ipek tulus dalam hati. Terlebih Arzen adalah laki-laki yang baik tentu ia tidak akan memanfaatkan kesempatan ini.


Kadang orang seperti Clovis memang butuh dikasi syok terapi.


Ipek tersenyum dengan licik, ketika membayangkan bisa mengerjai Clovis nanti.


...****************...