
Aarav terkejut begitu membuka mata dia melihat wajah Emly tepat di hadapanya masih menggunkan make up dan segala pernak-pernik ketika akad tadi dikenakanya. Aarav menggucek-ngucek kedua matanya dengan tanganya. Aarav bebar-benar lupa bahwa dia itu barusan sudah sah suami istri dengan Emly. "Apakah ini mimpi, kenapa ada Emly dihadapanku," gerutu Aarav dengan mengedarkan pandangan di mana kamar itu adalah kamar pengantin.
Emly dalam batinnya terkekeh dengan perbuatan Aarav itu, yah Emly tahu bahwa Aarav mengira dia sedang bermimpi dengan semua yang terjadi. "Ini bukan mimpi Mas, tapi ini kenyataan. Sekarang Mas Aarav sudah jadi istri Emly." Suara lembut Emly dan panggilan Mas segera menyadarkan Aarav bahwa dia memang tidak mimpi. Aarav yang masih hang over karena gerogi pun sekali lagi mencari kebenaranya dan benar memang ia tidak sedang bermimpi dia tadi benar benar melaksanakan ijab kabul di depan penghulu dan Erwin serta di sampingnya ada Emly.
"Jadi kita udah sah menjadi suami istri?" tanya Aarav dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan lagi.
Emly mengangguk dengan semangat dan penuh bahagia. Karena terlihat sekali Aarav yang saangat menyayanginya, sehingga ia yakin bahwa nanti Aarav tidak akan menyakitinya, dan tidak akan membuat hatinya sedih. Dia akan bisa menghargai Emly karena untuk mendapatkanya dia ituh pengorbanan yang tidak mudah.
Emly menyodorkan tanganya.
"Buat apa?" tanya Aarav dengan heran, Aarav yang tidak tahu apa maksud dari keinginan Emly menjulurkan tanganya
"Cium tangan Mas, tadi tidak sempat melakukanya karena Mas yang sudah lebih dulu pingsan," jawab Emly tanganya masih di julurkan di hadapan Aarav. Dan Aarav pun mengulurkan tanganya lalu Emly menyambutnya dan mencium punggungnya dengan takzim.
"Mau cium ini." Emly menunjuk keningnya sementara posisi Emly saat ini sedang duduk di pinggir ranjang dan Aarav di sampingnya. (Berhadapan)
"Mau," kekeh Aarav.
"Ayo lakukanlah, kan udah sah. Makanya jangan pingsan ketinggalan momen kan, kita enggak ada foto yang sedang pegang buku nikah buat pamer loh" kelakar Emly sembari menyodorkan keningnya, agar Aarav menciumnya.
Aarav dengan semangat mencium kening Emly dengan penghayatan dan seperti orang-orang setelah acara ijab kabul lalu difoto-foto. Cuma bedanya Aarav tidak ada foto-fotoan.
"Maaf yah sayang, aku malu-maluin banget yah," ujar Aarav dengan suara sangat merasa bersalah dan tidak enak karena sudah membuat acaranya jadi berantakan. Wajahnya pun sangat merah seperti kepiting rebus ketik mengingat kearah situ.
"Tidak apa-apa, tidak ada yang bikin malu. Aku ajah santai ajah kok. Setiap orang ada rasa geroginya masing-masing dan Mas pagi tadi memang sudah gerogi sehingga tidak apa-apa pingsan. Malah Emly jadi merasa tersanjung itu berati Mas memang saking sayangnya dengan Emly," ucap Emly sembari mengajak Aarav keluar kamar, sekarang di aula hotel yang terhubung dengan taman sedang diadakan acar resepsi, kan enggak lucu kalo pengantinya malah di kamar terus.
Aarav dan Emly pun kini keluar kamar menuju di mana tempat diadakanya resepsi. Laki-laki yang baru saja menyandang setatus suami itu wajahnya sudah nampak segar setelah mendapatkan vitamin dari istri barunya.
Semua tamu pun meyambut pengantin baru itu. Tidak ketinggalan semua sahabat memberikan dukungan buat panganan pengantin baru itu.
Satu persatu para tamu undangan memberikan selamat pada Aarav dan Emly, semua tidak ada yang membahas mengenai pristiwa pingsanya sang pengantin pria tadi sehingga Aarav tidak merasakan terlalu di ambil pusing.
Acara yang paling ditunggu pun akhirnya datang poto antar keluarga dan sahabatnya. Di mana di momen pernikahan Aarav ini tidak ada lagi sahabat yang tidak hadir, semua sahabatnya berkumpul di momen bahagia ini. Berbagai gaya mereka lakukan agar menghasilkan foto yang bagus dan akan di pajang di rumah masing-masing karena hanya di pernikahan Aarav semua sahabatnya berkumpul.
"Mey, ayok pulang! Biarkan Dady sama Mamih bikin adik seperti adik Boy," ujar Ody meminta putrinya jangan ganggu mamih dan papinnya yang akan menggarap ladang.
Meyra pun langsung mau ikut pulang dengan Ody dan Rio padahal sebelumnya dia sudah mau di bujuk oleh Emly untuk tidur denganya malam ini.
Namun para sahabatnya tidak mengizinkan, karena kasian Aarav pasti kepalanya sakit sekali kalo tidak tersalurkan. Aarav dan keempat sahabat prianya pun saling menunjukan jari jempol, tentu supaya istri barunya tidak tahu bahwa itu adalah ide suami barunya.
Yah, karena sudah tidak sabar membayangkan malam yang panas seperti dulu kala, Aarav pun berbisik agar Meyra di bujuk tidur dengan mereka, dari pada gagal ngadon gara-gara ada buah hatinya. Lebih baik diamankan dulu. Otaknya cerdas memang dadynya Meyra.
"Rav, nitip Emly yah. Papih sama Mamih mau pulang, banyak sodara yang masih pada nginap di rumah. Kalian nikmatin lah hari bahagia kalian sepuasnya," ujar Erwin dan Liana yang berpamitan akan meninggalkan anak dan menantunya menginap dihotel.
"Siap Pi! Pasti akan Aarav jaga anak kalian. Enggak usah cemas, selama dengan Aarav semua akan aman," balas Aarav menanggapi mertuanya dengan kelakaran, agar tidak tegang. Erwin dan Liana pun pulang dan kini Aarav dan Emly saling bergandengan tangan menuju kamar pengantin mereka. Yah mereka memutuskan akan menginap di hotel untuk membuat adonan adiknya Meyra.
"Sudah siap kan?"
Begitu pintu tertutup Aarav langsung membopong Emly dan membaringan dengan hati-hati di kasur yang empuk.
Wajah Emly memerah, kini perasaanya dengan Aarav justru sangat memujanya sehingga beradu wajah sedekat ini pipinya langsung memerah.
Emly mengangguk kuat dan senyum terkembang. Menandakan bahwa wanita yang sudah berada di dalam kukungan Aarav juga sudah siap mencetak mainan yang bisa tertawa dan nangis.
Berawal dari wajah dan kini pakaian mereka sudah berserakan menadakan kini dua anak manusia sudah tidak mengenakan apapun.
Setiap senti tubuh mulus Emly Aarav nikmati seolah ia rugi apabila tidak menja-mahnya.
Peluh bercucuran seolah memeberitahukan bahwa penyatuan mereka memang sangat panas. Setelah melakukan ritual membuat adonan buat adiknya Meyra, kini Emly dan Aarav tengah berpelukan dengan saling beehadapan.
"Aku tidak pernah membayangkan bahwa mimpiku akan menjadi kenyataan. Batin ku selalu berbisik, bahwa aku tidak akan bisa menggapaimu, aku hanya manusia kecil yang mengidolan seorang model profesional, namun impian itu sekarang menjadi nyata. Kamu yang selalu hadir di dalam mimpiku, kini bisa aku dekap untuk menemani mimpi indahku." Aarav menggerakan jari telunjuknya di wajah Emly, menyusuri setiap bentuk di wajah yang seolah Tuhan ciptakan dengan sempurna. Hidung, mata dan bibir semuanya sempurna bahkan body dan kulitnya benar tercipta sempurna, idaman para wanita.
"Aku juga terima kasih, kesetianmu dan keikhlasanmu mau menunggu selama ini. Sampai aku sekarang merasakan takut apabila kamu tidak ada dihidupku. Tetap sayangi aku dan ajari aku menjadi istri yang baik." Emly terisak dan mereka pun berpelukan kembali.
Begitu banyak yang terjadi dari perjalanan mereka hingga kini mereka sudah menemukan kebahagiaanya. Semuanya, persahabatanya dan juga percintaanya.
Mereka bisa membuktikan dari persahabatan dan percintaan pun bisa tetap berjalan dengan lancar.
"Selamat berbahagia buat Aarav dan Emly" pov othor
💗Yakinlah Allah selalu menitipkan kelebihan disetiap kekurangan dan menitipkan kekuatan di setiap kelemahan.💗💗💗
...****************...
Terima kasih buat pembaca setia yang sudah mengikuti karya pertama othor sampai saat ini. Yuk ikuti kisah yang lainya yah....
Semoga kalian sehat selalu tanpa terkecuali😻🙏
❤T-A-M-A-T❤
Tetap pencet love yah othor akan berikan bonus episode buat readers tercinta. Terima kasih banyak yang tak terhingga buat semuanya.🙏