
Intan berjalan keruangan Rio.
"Rav bos loe ada di ruangannya?" tanya Intan ketika melihat Aarav yang barusan keluar dari ruangan Rio.
"Bos gue, apa sepupu loe?" tanya balik Aarav dengan muka tengilnya.
"Tau ah, bos sama asisten sama ajah ngeselinya." dengus Intan, lalu nyelonong masuk kedalam ruangan Rio.
Namun, Rio tidak ada diruanganya. "Kemana si Rio." bisik Intan dalam hati.
"Ra, bos loe nggak ada?" tanya Intan sama Azra yang kebetulan baru datang sehabis istirahat.
"Ada ko, coba di kamarnya biasa suka tidur di kamar pribadinya," ujar Azra, memberi tahukan kebiasaan Rio.
Intan pun kembali masuk keruangan Rio, dan membuka kamar pribadi Rio, yang memang disediakan untuk ia beristirahat.
"Dasar, istrinya lagi sakit dia malah enak molor." gumam Intan sembari menghampiri Rio.
"Rio.....Rio.... bangun," Intan menggoyangkan tubuh Rio sembari memanggil namanya agar Rio segera terbangun.
"Hemz...." gumam Rio, hanya respon dengan deheman, tetapi matanya masih terpejam.
"Rio bangun, kalo nggak bangun gue siram pake air yah." pekik Intan mengancam Rio, ia sudah tak sabar membangunkan sepupunya.
"Apa sih Tan," sungut Rio tak kalah kesal Intan mengganggu tidur siangnya.
"Bangu dulu, ada yang penting pengin gue omongin sama loe." cicit Intan.
Sambil malas dan lesu akhirnya Rio bangun dan duduk bersandar di pinggir ranjang.
"Masalah apa? Kalo masalah kerjaan kan ada Aarav yang bisa mewakili gue." tanya Rio dengan malas, matanya masih sangat lengket untuk bisa ia buka.
"Bukan masalah kerjaan, ini masalah sakit kepala loe." ujar Intan, kali ini dengan suara yang lebih mengecil.
Rio yang awalnya sangat malas membuka mata, begitu mendengan topik masalah yang akan Intan bahas, matanya langsung melotot dengan lebar.
"Seriuz loe tau penyebab sakit gue, berati yang pagi tadi Ody bilang benar." ucap Rio dengan kaget.
"Iya gue tau, penyebab sakit loe, makanya loe jangan merem mulu," omel Intan.
"Iya... iya.... nih udah bangun," ujar Rio, sembari melototkan matanya lebar-lebar. "Jadi apa kira-kira penyebab sakit kepala gue?" tanya Rio nggak sabar untuk mendapat jawaban dari Intan.
"Nih..." Intan meletakan hasil USG kehamilan Ody.
"Apa nih?" tanya Rio penasaran.
"Loe kan Dokter, masa baca hasil USG ajah nggak tau," cicit Intan kesal.
"Iya gue tau, ini hasil USG Kehamilan, tapi siapa yang hamil?" tanya Rio polos.
"Ih...... tuh kan, ya Ody lah, siapa lagi? emang ada cewek lain yang loe taburin bibit juga?" geram Intan, Rio masih nggak peka juga.
Rio diam sejenak, mencerna setiap perkataan Intan.
"Tunggu Ody hamil? Jadi gue......? Rio tidak melanjutkan kata-katanya, ia terlalu kaget dengan kabar yang Intan bawa.
"Iya loe ngidam. loe ngalamin kehamilan simpatik, atau disebut sindrom couvade. Makanya akhir-akhir ini loe sering sakit kepala tiba-tiba, dan akan sembuh ketika Ody yang memijitnya. Itu tandanya anak loe pengin di deket loe terus." crocos Intan membuat Rio makin diam
Rio lagi-lagi diam, ia memijit-mijit kepalanya, rasanya nggak percaya akibat ulahnya ia kini menghamili anak orang.
"Anaknya gimana?" tanya Rio dengan suara sangat pelan.
"Anak kalian sehat, bahkan sangat sehat. Beruntung biarpun Ody tidak menyadari bahwa ia tengah hamil dan tetap bekerja berat, tetapi anak kalian hebat, dia mengerti kondisi ibunya yang butuh banyak uang, sehingga tidak rewel dan membuat ody mabuk di awal trimester pertama. Justru kamu yang ngalamin ngidam, itu tandanya anak kamu pengin bersama kamu terus." jelas Intan pajang lebar.
Rio lagi-lagi diam, mulutnya seolah terkunci.
"Rio sebaiknya kamu temui Ody, ajak dia pulang kerumahmu. Kasian dia, setidaknya kalo kamu tidak menyayangi Ody sayangilah anak kalian, dia tidak berdosa, dia tidak meminta di lahirkan dari rahim siapa dan dengan cara apa iya di bikin. Setidaknya kalo kamu meminta Ody untuk pulang, Ody tidak terlalu setres. Gue kasian sama Ody karena gue tahu kisa hidup dia sampai saat ini." ucap Intan kali ini dengan suara sangat lembut dan menatap dalam Rio.
"Gue akan coba ngomong sama dia." lirih Rio akhirnya membuka suaranya. " Gue coba terima anak itu, tapi untuk menerima Ody rasanya susah, karena gue nggak mencintai dia." tambah Rio.
"Nggak masalah, setidaknya loe simpati sedikit dengan kondisi Ody, untuk menjaga agar ia tidak setres. Anak itu darah dagingmu, ada darahmu mengalir di tubuhnya. Kalo untuk menyayangi Ody aku juga tau cinta nggak bisa dipaksa, tetapi kalo sering dekat bisa sajah rasa sayang dan nyaman bisa tumbuh, asal kamu jangan mengunci hatimu. Biarkan nanti Ody yang ngetuk hatimu, sampai kamu dengan sendirinya yang meminta Ody untuk masuk." Imbuh Intan tetap berharap agar Rio memberi kesempatan pada Ody.
"Witing tresno jalaran soko kulino artinya cinta hadir karena terbiasa" imbuh Intan.
"Temui Ody yu, kasian dia langsung setres dan drop loh ketika mendengar kehamilanya." ucap Intan sembari memegang tangan Rio agar mau mengikutinya.
Dengan lemah Rio berdiri lalu ia kekamar mandi, dan mencuci mukanya agar sedikit fresh tidak lesu, seperti orang yang baru bangun tidur.
Rio dan Intan beriringan menuju lantai bawah, menuju ruangan praktek Intan.
***
Sedangkan Diruangan Intan, Ody yang baru bangun mencoba duduk di bantu oleh Ipek.
"Gimana keadaan Mba?" tanya Ipek.
"Mendingan Pek, meskipun masih terasa sedikit lemes sih," jawab Ody jujur.
Tidak lama Intan dan Rio datang masuk.
"Udah bangun Dy?" tanya Intan sembari menghampiri Ody dan duduk di samping Ody.
"Udah Dok," jawab Ody singkat, tangannya sudah mulai basah karena terlalu takut akan reaksi Rio.
"Gimana udah enakan?" tanya Intan lagi.
"Udah Dok, kata Mba Ody udah mendingan hanya masih sedikit lemes." jawab Ipek nampaknya Ipek yang mengambil alih menjawab pertanyaan Intan.
"Syukurlah, wajar sih lemes, darah kamu rendah kamu juga setres jadi sedik lemas. Nanti juga normal asal makan, yang bernutrisi dan minum vitamin serta obat penambah darahnya di minum, biar cepat pulih." jelas Intan.
Ody hanya mengangguk sembari memainkan jarinya.
Intan dan Ipek meninggalkan Ody dan Rio berdua sajah. Biar bisa menyelesaikan masalahnya, mengambil keputusan yang tepat untuk kedepnya.
"Mulai sekarang kamu nggak usah kerja di rumah sakit ini lagi." ucap Rio memulai obrolanya.
"Maksud tuan, saya dipecat?" tanya Ody sambil berkaca-kaca menatap Rio tajam.
"Itu harus aku lakukam untuk menutupi kehamilanmu dan setatusmu, lebih baik kamu nggak lagi kerja di rumah sakit ini." jawab Rio datar.
Ody terisak menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
"Entah cobaan apa lagi, yang Alloh berikan dengan ku. Rasanya terlalu sesak sampai aku tak bisa membendung air mata ini, mungkin hanya dengan menangis aku bisa sedikit menghilangkan rasa sesakku." batin Ody bergemuruh, ingin menjerit, tetapi tidak bisa.
...****************...
# Terimakasih buat yang udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤❤❤❤