
"Maksud Abang bagaimana? Arzen seperti nggak suka Ipek menikah dengan Abang gitu?" tanya Ipek sembari terkekeh, kini kantuknya kembali menghilang. Ketika mendengar pertanyaan dari Wahid.
"Bukan itu juga maksud Abang, tapi..." Wahid tidak melanjutkan kata-katanya karena sudah di potong sama Ipek.
"Tapi yang Ipek tangkap seperti itu kesimpulan pertanyaan Abang. Ipek hanya ingin meluruskan, bahwa Ipek dan Arzen itu murni berteman. Kalo soal Arzen yang sering menyendiri dan pendiam itu, karena dia memikirkan kekasihnya yang dipenjara tapi bukan kesalah dia. Jadi karena difitnah orang gitu. Ya jadi di sekarang murung terus lah. Mungkin karena berfikir dia tidak bisa berbuat apa-apa selain doa, jadi dia lebih pendiem. Abang tenang saja Arzen tidak mungkin macam-macam sama Ipek." Ipek yang tahu bahwa Wahid meragukan persahabatan mereka pun tidak mau menimbulkan fikiran yang buruk dengan suaminya, sehingga nanti berdampak dengan persahabatan Ipek dan Arzen yang jadi korban, sedangkan keluarga saja tidak ada yang masalah. Apabila Wahid membatasinya akan terasa kurang nyaman.
"Oh kasihan sekali, kasus apa ngomong-ngomong?" tanya Wahid mulai kepo dengan kisah Arzen yang memang ia terlihat sangat pediam. Apabila belum kenal memang terlihat seperti itu tetapi sebenarnya Arzen ceria.
"Pembunuhan berencana," jawab Ipek singkat.
"Waw... berat sekali, ancamanya tidak main-main itu." Wahid terlihat sangat terkejut dan itu sangat wajar apabila Arzen terlihat murung.
"Iya, maka dari itu dia seperti itu sekarang, berbeda dengan dulu yang rame dan sering bayol, sekarang ya kalo bukan dengan yang terlalu kenal dia kaya gitu. Mungkin dia tidak nyaman atau bagaimana Ipek juga tidak tau. Setiap ditanya jawabnya perasaan biasa saja gitu. Jadi dia kaya belum sadar bahwa dia tidak baik-baik saja.
"Iya Abang tau lah sedikit rasanya bagai mana, dan wajar Arzen juga seperti itu." Malam ini mereka gunakan untuk bercerita saling mengenalkan diri masing-masing.
Ipek merasa Wahid orang yang sangat baik dan tidak menuntuk apapun termasuk Ipek yang tidak bisa memasak. Padahal ia kalo sudah selesai mengajar suka ikut membantu Arzen di dapur umum, tetapi otaknya terlalu kecil untuk mempelajari resep-resep yang Arzen beri tahu. Setiap Ipek ikut mencoba mengolah makanan, berati makananya akan kacau balau rasanya. Di sini kepiawaian Arzen harus dibuktikan karena ia harus memperbaiki rasa yang ancur menjadi rasa yang diagungkan banyak santri.
Semenjak Arzen menjadi koki di dapur umum makanan yang biasanya hanya dimasak biasa saja, di tangan Arzen berubah menjadi masakan yang lezat dan berfariatif.
Wahid tidap sedikit pun menuntut Ipek agar bisa memasak, dan juga ia tidak memaksa Ipek untuk memenuhu haknya. Justru ia selalu menasihati Ipek agar apabila ia memberikan hak pada Wahid dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.
Malam seperti biasanya Ipek dan Wahid tidur saling memunggungi, tetapi tiba-tiba terdengar suara pangilan telepon dari ponsel Wahid.
Ipek melihat suaminya tampak sangat kaget menerima telpon itu, Ipek pun tidak tahu Wahid tengah berbicara dengan siapa, yang Ipek tahu bahwa sepertinya suaminya tengah ada masalah. Ipek duduk bersandar dan memperhatikan suaminya yang sudah setengah jam lalu berbicara di luar kamar tetapi masih bisa Ipek lihat dari balik jendela.
Wahid masuk dengan tampang yang masam.
"Kenapa Bang? Ada masalah? Sepertinya telpon tadi tidak memberikan kabar yang bagus?" tanya Ipek, mendahului bertanya dari pada menunggu Wahid menceritakannya apa yang tengah terjadi dengan suaminya.
"Kalo Ipek sih tidak masalah Bang, tapi nanti Ipek izin sesekali mengunjungi rumah Abi dan Umi boleh tidak? Soalnya kanget pengin main-main kerumah Abi, Abang nggak keberatan kan?" tanya Ipek, agar tidak di cap istri durhaka dia meminta izin terlebih dahulu.
"Boleh, nanti pokoknya kalo kerjaan Abang sudah selesai Abang akan langsung balik kesini lagi. Nanti juga Abang sering-sering vidio call biar Adek tidak kangen," kelakar Wahid, yang memang semenjak menikah dengan Ipek ia jadi sedikit tertular kegesrekan Ipek.
"Apaan sih Bang, kayaknya yang sering kangen Abang deh, kalo Ipek mah lurus-lurus saja. Oh iya Bang, ngomong-ngomong Abang di luar negri mau berapa lama?" Ipek setidaknya harus tahu Wahid akan berapa lama mengunjungi negri tersebut.
"Tidak pasti Dek, tapi Abang usahakan cepat menyelesaikan masalah, biar langsung bisa pulang ke Indonesia lagi." Wahid juga tidak tahu bakal sampai kapan masalahnya selesai, tetapi ia akan terus berusaha agar cepat dalam menyelesaikan semuanya.
"E... tapi nggak lama kan Bang, enggak sampai tiga atau lima bulan?" tanya Ipek dengan ragu, seolah berat melepas suaminya pergi.
Hahahaha... Wahid tertawa dengan renyah, "Ya enggak lah Dek, paling lam dua bulan kayaknya, Abang usahakan satu bulan selesai, satu bulan juga kayaknya itu sudah lama. Memang namanya bisnis pasti ada kendalanya, dulu juga penah nglamin hal semacam ini tapi nggak terlalu lama cuma dua atau tiga minggu sepertinya. Kali ini ya kurang lebih segitu lah waktu buat urus masalahnya."
"Ya udah Abang hati-hati dan jaga mata, jangan ganjen. Nanti habis urusan Abang kita bulan madu yah." Ipek seolah memberi pacuan agar suaminya cepat untuk mengurus semuanya.
"Ini serius? Kamu ngajak bulan madu?" tanya Wahid, kaget tentu lah. Berati usahanya tidak sia-sia Ipek sudah mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit.
"Kenapa? Enggak mau yah? Yah padahal Ipek pengin ajak umroh bareng loh, dan habis itu kita menikmati kebersamaan sebagai pengantin baru." Ipek sengaja meledek Wahid.
"Hust... siapa bilang nggak mau, justru mau banget. Kayaknya Abang harus buru-buru nyelesain masalah di kerjaan Abang deh, biar cepat-cepat diajak liburan sama Neng Ipek, kayaknya bakal dapat bonus ini." Wahid terlalu girang dan menggosok-gosokan telapak tanganya.
"Iya nanti dikasih bonus, makanya jangan lama-lama biar nanti dapat bonus. Pokoknya paling lama dua bulan. Lewat dari dua bulan bonus angus." Ipek masih ajah meledek suaminya.
Wahid terkejut dengan ancaman istrinya. Malam ini ia habiskan untuk bermanja-manjaan. Sebab besok pagi Ipek akan mengantar suaminya ke bandara sekalian ia akan pulang ke rumah Abi, untuk menginap di sana untuk beberapa hari. Untuk melepas kangen sama Umi, Abi dan yang lainya. Tentu ia kangen juga tidur di kamar kesayanganya.
Ia memang senjak menikah belum sempat mengajak Wahid ke rumah Abinya untuk menginap berasama. Namun Ipek janji apabila urusan Wahid sudah selesai ia akan mengajak Wahid menginap di kamar kesayanganya.