
Begitu sampai di rumah sakit, Ody bergegas turun dari mobil Rio, tidak lupa Ody juga mengucapkan terima kasih. Setelah mengucapka terima kasih, Ody langsung menuju loker dan berganti seragam.
"Loh, bukanya tadi kata asisten Aarav kerumah dokter Rio?" tanya Bu Dewi heran kenapa Ody ada di rumah sakit.
"Iya Bu, tapi berhubung dokter Rio udah sehat dan sekarang juga sudah masuk kerja, jadi saya juga mending kembali bekerja, kasian pasti yang lain pada repot, karna saya nggak ada." jawab Ody menjelaskan keadaan Rio.
" Ya udah kalo gitu, syukur deh soalnya dari tadi kerjaan numpuk," ujar Bu Dewi sambil menunjukan wajah pusingnya.
"Ya udah saya kerja dulu Bu," pamit Ody meninggalkan Bu Dewi di pantry seorang diri.
Ody mulai bekerja sesuai tugasnya.
"Horeh.... bantuan datang," ucap girang Ipek ketika melihat Ody menuju arahnya.
Ody tersenyum dengan lebar, melihat tingakah Ipek. "jadi berasa kaya pahlawan, disambut dengan suka cita," batin Ody.
"Yeh, Mba Ody udah balik, kerjaan nggak nupuk lagi deh. Dokter Rio udah baikan Mba?" tanya Ipek kepo.
"Cape banget yah?" tanya balik Ody sambil menyeka keringat didahi Ipek.
"Ya gitu deh, asal team kurang satu, pasti keteter kerjaan," jawab Ipek dengan lesu.
"Gimana Mba, dokter Rio udah baikan?" Ipek nampaknya sangat penasaran dengan kabar Rio.
"Udah ko, noh orangnya juga udah kerja," jawab Ody apa adanya.
"Tuh kan bener dugaan Ipek, dokter Rio itu kena karma. Abisan kelewatan sih kelakuanya sama Mba Ody, dipercepat kan datanganya Karma," ujar Ipek dengan berbisik agar tidak ada yang mendengan ucapanya.
"Huzz... nggak boleh gitu ah, takut ada yang denger," ujar Ody, agar Ipek menjaga perkataanya.
"Biarin, memang kenyataanya gitu, karma itu datang buat orang-orang yang Zholim kaya model, dokter Rio," tambah Ipek, nampaknya Ipek lebih dendam dari pada Ody.
"Udah yuk, lanjut kerja ajah, jangan ngegosip, Dosa!" ucap Ody sambil memulai pekerjaanya.
Ipek hanya manyun, mengikuti Ody kerja.
****
Sementara di lantai bawah, tepatnya di poli anak.
"Pagi sus," sapa Rio dengan lembut.
"Pagi Dok," Suster pendamping Rio nampak kaget. "Loh,.. dokter udah sehat," tanya Dira kaget karna beberapa hari ini, Rio dikabarkan sakit sehingga untuk paraktek pagi digantikan dengan dokter lain.
"Udah mendingan Sus," jawab Rio sambil duduk. "Pasien udah banyak Sus, kalo belum aku mau makan dulu deh, belum sarapan, laper." ucap Rio sambil mengusap perutnya bak anak yang tengah kelaparan.
"Ya udah, nggak apa-apa dokter sarapan dulu ajah," jawab Dira, ia pun mengambil peralatan makan untuk Rio.
Satu bungkus soto yang dari tadi terbayang terus dipikiranya, kini udah berpindah kedalam perutnya.
"Rasanya nikmat sekali." bati Rio setelah piring tandas.
Setelah sarapan, Rio lanjutkan dengan jadwal praktiknya, bertemu dengan para pasien kecilnya yang menggemaskan.
****
Di rumah Zawa,
Emly akhir-akhir ini ia mengalami ngidam yang cukup parah, setiap pagi Emly diserang rasa mual. Setiap makanan yang masuk kedalam perutnya selalu dimuntahkan lagi.
Zawa memutuskan memberi infus pada Emly, karena kondisinya yang lemah.
Badan Emly terlihat semakin kurus karna, beberapa hari ini nggak ada makanan yang masuk ketubuhnya.
"Mly apa enggak lebih baik, kamu kasih tau Aarav dengan kondisi kamu?" tanya Zawa yang simpati dengan kondisi Emly, kalo kondisinya lemah dan nggak ada makanan yang masuk kasian janinya ditakutkan kurang nutrisi.
"Jangan berani-berani, loe kasih tau kondisi gue, sama Aarav, gue nggak sudi liat dia," jawab Emly dengan Emosi meskipun kondisi sedang lemah.
"Denger dulu Mly, biasanya kalo ibu hamil, anaknya juga ada ikatan batin dengan ayahnya, siapa tau nanti kerika Aarav tau kondisi kamu, kalian bersama, kondisi kamu akan kembali sehat." jelas Zawa dengan nada lembut agar Emly tidak tersinggung.
" Nggak perlu Wa, loe nggak usah susah-susah mikirin kondisi gue, biarpun gue harus mengalamin penderitaan seperti ini, nggak masalah, dari pada Aarav tau bahwa dari perbuatanya kini gue hamil." sungut Emly, nggak ingin kalo Aarav mengetahui dirinya hamil.
"Gue nggak akan maksa loe, tapi coba loe fikirin deh, anak loe juga pasti butuh sosok ayah, jadi gue pikir Aarav harus tau juga." bujuk Zawa nggak mau menyerah menyadarkan Emly.
"Nggak perlu, anak gue nggak perlu ayah, toh nanti juga dia akan hidup seorang diri." jawab Emly ketus.
"Maksud kamu?" tanya Zawa nggak ngerti dengan maksud omongan Emly.
"Bukanya loe juga tau, kalo gue nggak sudi ngerawat anak ini. Gua akan taro anak ini di panti asuhan setelah lahir nanti." jawab Emly tanpa rasa berdosa.
"Astaga Emly! Kamu nggak usah taro anak kamu di panti asuhan, biar aku yang rawat, aku juga mau, dengan suka rela aku akan merawat anak ini," tawar Zawa, nggak rela apabila anak Emly dititipkan di panti.
"Terserah loe, kalo loe mau disusahkan dengan anak ini, dia hanya pembawa sial. Buktinya masih didalam perut ajah udah membuat gue susah," sungut Emly merasa bahwa anaknya hanya pembawa sial.
"Ya ampun Emly, sebagian besar ibu hamil mengalami masa ngidam, dan bawaanya beda-beda. Kamu jangan beranggapan bahwa anak ini permbawa sial, dia itu suci Mly," protes Zawa, ia sangat merasa kecewa kenapa Emly tidak juga memiliki rasa simpati sedikit pun dengan calon buah hatinya.
Emly hanya melirik malas menanggapi nasehat Zawa. ia tetap keras kepala menolak kehadiran buah hatinya.
Zawa sadar Emly jengah dengan nasehat-nasehatnya, tapi memang Emly harus dinasehati agar tidak berfikiran sempit.
Mbok Zuha yang mendengar perdebatan antar Zawa dan Emly hanya bisa diam menjadi penonton sajah. Mbok Zuha tau kalo ikut menasehati Emly, bisa jadi Emly makin membenci anak yang tengah dikandungnya.
"Ya udah kamu istirahat dulu ajah, nanti gue akan cek, kesini buat pastiin kondisi loe sudah membaik." ucap Zawa mengakhiri perdebatan diantara mereka.
Emly tidak menjawan apapun, suasana hatinya masih panas.
Zawa keluar kamar Emly, dalam pikiran Zawa, ia tetap pengin menyadarkan Emly bahwa semua keputusanya yang Emly ambil salah. Namun Zawa juga nggak bisa berbuat terlalu jauh.
Sifat ibu hamil memang lebih sensitif, makanya sebisa mungkin Zawa selalu berkata lembut, agar Emly tidak tersinggung.
Di dalam kamar, Emly mengecek telpon genggamnya, ia mengecek sejauh mana orang suruhanya memata-matai Rio. Emly nggak sabar ingin membalas semua perbutan Rio dan temanya.
"Tunggu sajah kamu Rio, akan aku pastikan hidup kamu juga hancur, sama seperti kehidupaku yang hancul karena perbuatan kalian." gumam Emly dalam hati.
***Jangan pernah mengeluh dengan kondisi kita saat ini, karena siapa tau kondisi kita saat ini adalah kondisi yang diinginkan oleh orang lain***
...****************...
#Terimakasih buat yang sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak yah, tekan
Like✅
komen✅
Beri Hadiah✅
vote✅
dan tekan favorite❤✅