Beauty Clouds

Beauty Clouds
Keputusan Ody



Ody masih syok, tidak percaya dengan ucapan Mbok Zuha.


"Ibu, ini seriuz, Ibu tidak sedang bercanda kan?" lirih Ody, ia ingin langsung berjingkrak dan beryel-yel ria, tetapi kondisinya masih belum pulih betul.


"Iya Neng, kalo Mayra dirawat sama Ibu. Justru Ibu takut nasib Mayra akan terlantar. Sebab Ibu sudah tua, tenaganya sudah lemah. Belum perekonomian Ibu juga jauh dari cukup, yang ada Mayra akan menderita nanti. Ibu tidak mau hal itu terjadi. Kalo Neng Ody yang rawat cucu Ibu, setidaknya lebih terjamin dan tenagga Neng masih kuat, tidak seperti Ibu yang sudah lemah." Mbok Zuha mengatakan alasanya mengizinkan Baby Mayra di rawat oleh Ody.


Ody pun langsung menghambur, memeluk Mbok Zuha, mencium punggung tanganya berkali-kali. Sebagai ucapan syukur dan terima kasih. Air mata bahagia pun tidak bisa dibendung, keluar mengalir dari sudut matanya.


"Saya janji, akan menjaga cucu Ibu sebaik mungkin, tidak akan memebedakan darah daging saya atau bukan. Saya akan menjaganya dengan penuh kasih sayang. Ibu jangan khawatir. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Baby Mayra." Ody berjanji dengan tangan saling bertaut dengan Mbok Zuha.


Mbok Zuha pun sangat bersyukur setidaknya Mayra akan dirawat oleh orang yang sangat menyayanginya. "Kalo Mayra sudah mendapatkan orang tua angkat, Ibu mau izin pulang kampung yah Neng. Soalnya di kota ini juga Ibu nggak ada kerjaan dan tidak ada sanak keluarga lagi." Mbok Zuha menyampaikan niatanya untuk mudik ke kampung halamanya.


"Loh, kenapa tidak di sini saja, biar sekalian bisa melihat cucu Ibu. Nanti kalo kangen malah jauh buat nemuinya." Ody pun memberikan saran, tetapi Mbok Zuha sudah sangat yakin akan pulang kampung. Beliau tetap menolak untuk tetap tinggal di kota ini.


Mbok Zuha juga akan memberikan alamat kampungnya, mungkin suatu saat nanti apabila Ody ingin main atau belibur bisa berkunjung ke kampung Mbok Zuha. Sebab apabila Mbok Zuha yang berkunjung ke kota ini sudah tentu tidak mungkin, di samping umur yang sudah semakin tua, juga mungkin ongkosnya masuk ke dalam perhitungan Mbok Zuha.


Nanti kalo Mayra sudah sembuh Mbok Zuha akan langsung meninggalkan kota ini. Ody pun tidak bisa memaksa kalo memang keinginan Mbok Zuha seperti itu, tetapi Ody berjanji suatu saat pasti akan mengunjungi Mbok Zuha di kampungnya.


****


Intan yang mendengar pembicaraan mereka pun hanya mengikuti keputusan Ody.


"Ody kita perlu ngobrol sebentar." Intan menarik tangan Ody menuju ruanganya. Sebelumnya Intan pamit pada Mbok Zuha karena ada obrolan yang harus diselesaikan berdua. Ody terus menunduk ketika berjalan menuju ruangan Intan, takut ketemu dengan Rio maupun keluarganya.


Setelah sampai di ruangan Intan, Ody pun baru mau mengangkat wajahnya. Lalu Ody pun duduk di kursi depan Intan, dengan membuang nafas lega, karena ia tidak bertemu dengan orang-orang yang belum ia siap temui.


"Dy kamu yakin mau adopsi Mayra? Kamu tau kan syarat adopsi apa ajah?" Intan memulai obrolan dengan Ody.


"Yakin Dok, tapi untuk syarat adopsi emang apa Dok?" tanya Ody yang memang belum tahu syaratnya apa ajah.


"Syarat adopsi itu di wajibkan untuk pasangan suami istri, dan kamu seharusnya mulai saat ini memikirkan ucapan Om Hartono. Mulai memperbaiki hubungan kamu dan Rio. Pasalnya cepat atau lambat kamu juga seharusnya kembali menjalin hubungan kalian kan? Enggak mungkin begini terus. Tidak ada untungnya, Ody. Kasian juga anak kamu melihat Papah dan Bundanya berantem terus. Angel juga pasti pengin Papah dan Bundanya kembali harmonis." Intan dengan suara sangat lembut menasihati Ody, agar Ody tidak tersinggung, dan tidak merasa Intan terlalu ikut campur dengan masalah pribadinya.


Ody menunduk memikirkan setiap omongan Intan. Dia memang ingin memaafkan Rio, tetapi dia juga belum siap untuk ketemu dengan Rio.


"Aku tau kamu belum siap bertemu dengan Rio. Kalo kamu butuh aku menemani, aku bisa bantu. Bukan aku tidak memikirkan perasaan kamu, aku hanya ingin yang terbaik buat semuanya. Atau kalo kamu masih ragu dengan Rio kamu bisa mengajukan surat perjanjian, sama kaya waktu pertama kali kalian menikah juga ada surat perjanjian kan? Nah kamu bisa mengajukan kembali surat perjanjian yang mungkin kamu inginkan, agar kamu bisa lebih memiliki waktu untuk menyiapkan hatimu.


Setelah memikirkan akhirnya Ody pun mengikuti saran Intan. "Baik lah Dok, aku mau ketemu dengan Rio, tapi Dokter temanin saya yah, biar saya ada temanya." Ody meminta agar Intan menemaninya.


Intan pun terkekeh, "Baik lah aku akan temani kamu tapi bayaranya jangan lupa yah, dobel lagi," kekeh Intan.


"Apaan sih Dok, mana ada aku uang. Kere nih, kayaan juga Dokter. Kalo aku hidup ajah numpang sama Dokter," balas Ody sembari terkekeh, menertawakan nasibnya yang miris.


"Rav, bos loe ada di dalam kan?" tanya Intan pada Aarav yang tengah mengerjakan laporan di meja Azra.


"Ada, masuk ajah!" balas Aarav.


Tanpa mengetuk pintu Intan masuk ke ruangan Rio. Sementara Rio yang tengah mengecek laporan rumah sakit hanya menolek ke arah Intan, setelahnya kembali fokus dengan angka-angka di lembaran kertas.


"Gimana kabar loe, udah baikan?" tanya Intan basa basi.


"Seperti yang loe liat, fisik ok. Hanya jiwanya yang separuh pergi," jawab Rio dengan dingin.


"Apa yang membuat jiwamu pergi? Apa karena Ody? Atau Angel?" tanya ulang Intan sembari duduk di depan Rio.


"Keduanya." Rio menghentikan kegiatanya dan langsung bersandar di kursi dan melipat kedua tanganya ia jadikan bantalan di belakang kepalanya. Wajahnya menatap langit-langit diruanganya.


"Kalo tiba-tiba kamu dikasih kesempatan untuk memulai semuanya dari awal. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu bisa menjadi suami dan Papah yang bisa melindungi keluargamu." Intan ingin memastikan Rio, apakah bisa diandalkan, atau justru akan kembali mengecewakan Ody dan menghancurkan keluarganya lagi.


Rio menatap Intan dengan tajam. "Apa ini artinya Ody mau bertemu denganku, dan mau berbicara padaku?" tanya Rio, sangat berharap bahwa jawaban Intan adalah iya.


"Aku ingin memastikan kamu dulu. Kalo kamu tidak akan mengulang kesalahanmu. Kamu harus mengurangi emosimu Rio. Karena emosi kamu yang meledak-ledak kamu sudah mengancurkan hati istrimu. Dia bukan hancur hatinya, tetapi juga kepercayaan padamu ikut luluh bersama kesedihanya." Intan yang mewakili Ody untuk memberikan syok terapi pada Rio.


"Aku janji Tan, aku akan merubah sifat egois aku. Aku juga akan berusaha sabar. Tidak akan main marah-marah lagi. Aku akan mencoba percaya dengan omongan istriku dan akan memcoba menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Aku sudah kapok Tan, nyesel dengan semuanya. Aku sudah menerima teguran dari Tuhan." Rio nampak sangat menyesal dengan sifatnya yang pemarah.


"Memang seharusnya kamu menyesal, dan tidak mengulang semuanya lagi." Intan membalas dengan ucapan dingin.


Memang Intan dan Rio bersodara, tetapi ia tidak akan berpihak pada Rio. Intan lebih memihak pada yang benar. Kalo Rio salah Intan akan tetap menyalahkan, meskipun hubungan kekeluargaan sebagai taruhanya. Namun untungnya mereka sampe saat ini masih menjalin keluarga dengan sangat baik. Walaupun beberapa kali terjadi ketegangan karena Intan berada dipihak Ody.


"Kalo kamu sudah siap, kamu temui Ody di ruangang VIP no Dua." Lalu Intan pun keluar dari ruangan Rio, untuk menyusul Ody di kamar Mayra.


Sementara Rio di ruanganya masih mencerna ucapan Intan. "Apa ini tandanya Ody mau bertemu dengan aku?" bati Rio dengan rasa haru. "Ya Allah terima kasih, akhirnya Engkau menjawab doa-doaku. Memberikan hamba kesempatan kedua." Rio langsung bersujud sebagai tanda ucapan terima kasih pada Rabnya.


...****************...


Teman-teman Othor mau kasih rekomendasi novel yang keren nih, karya besti Othor namanya "Santi Suki" Sok langsung cari di laman pencarian novel, kalo sudah ketemu, tekan fav...baca yah dan jangan lupa tinggalkan jejak Like, komen dan Giftnya biar Othornya Happy...


Yuk langsung Cuz baca....