Beauty Clouds

Beauty Clouds
Ungkapan Kecewa Zawa



Ody mengembangkan senyumnya, wajar Zawa dan Arzen berkata seperti itu, karena memang sahabatnya itu belum sepenuhnya tahu apa yang sedang menimpa Emly, tetapi jika suda tahu dengan apa yang menimpa Emly, Ody pun yakin bahwa Arzen dan Zawa juga akan memaafkan Emly tanpa Emly yang meminta maaf duluan.


"Kayaknya lebih baik kita ngobrolnya jangan di sini karena kalo di sini kalian tidak akan tahu apa yang menimpa Emly," ujar Rio, meminta agar Arzen dan Zawa mengikuti dirinya.Sementara Ody tentu tidak ikut sebab si Boy tidak ada yang menjagainya. Sebenarnya Ody ingin ikut dan melihat apa yang akan terjadi diantara Zawa dan Emly. Tapi si boy lebih penting dari semua urusan yang lainya.


Zawa yang masih ragu pun akhirnya mau mengikuti apa yang Rio katakan. Jantungnya sedikit berdebar kembali. Tidak hanya itu dia juga otaknya di putar keras untuk berfikir dan menerka-nerka apa kiranya yang terjadi dengan Emly.


"Emly ada di dalam ruangan ini," ucap Rio memerintah agar Arzen dan Zawa masuk lebih dulu ke dalam ruangan VIP yang ada di hadapanya itu. Zawa dengan ragu pun membuka pintu ruangan . Hati sapa pun yang melihatnya akan teriris, begitu melihat pemandangan di sana. Di mana Meyra tidur di samping tubuh Emly yang terpasang banyak alat medis. Zawa menatap Arzen, seolah ia tengah bertanya dengan kondisi Emly. Bertepatan dengan itu Arzen pun tengah menatap Zawa juga, seolah-olah dia juga tidak menemukan jawaban dengan apa yang menimpa Emly itu.


"Emly saat ini sedang koma dan dia sebelum koma sempat menemui Tuan Hartono untuk di pertemukan dengan kalian semua untuk meminta maaf tetapi Tuan Hartono masih mengatur waktu yang tepat, saat semuanya belum terlaksana Emly sudah kembali koma," ujar Aarav yang seolah tahu bahwa Zawa dan Arzen tengah bingung dengan kondisi Emly.


Sementara Rio mengelus putrinya yang memilih untuk tidur bersama dengan mamih kandungnya, mungkin batin antara Emly dan Meyra kuat sehingga Meyra telihat sangat nyenyak tidurnya.


"Sa...sakit apa Emly?" tanya Zawa suaranya pelan dan seolah-olah dia tengah menahan marah atau mungkin tengah menahan tangisnya.


"Sarafnya ada yang rusak, tetapi tadi untuk kesekian kali dia diadakan check up ulang dari seluruh tubuhnya, dan hasilnya baru bisa diketahui besok," jawab Aarav, hanya menjabarkan inti dari sakit yang menimpa Emly.


"Apa yang bisa kami lakukan untuk sebuah kesembuhan untuk Emly, sedangkan dalam dunia medis saraf rusak termasuk sakit yang sangat sulit untuk mendapatkan hasil yang memuaskan,'" balas Zawa. Mungkin dia belum ikhlas memaafkan Emly sehingga Aarav pun tidak akan memaksanya.


"Kamu ngomong apa sih Aarav? Kamu ingin Emly meninggal secepatnya?" tanya Zawa matanya merah seolah dia benar-benar marah dengan apa yang Aarav katakan. Entah maksud Zawa tetapi kali ini yang Aarav dan Arzen lihat, Zawa benar-benar berbeda. Mungkin Zawa belum bisa memaafkan Emly, itu pikir Arzen da Aarav.


"Bukan begitu maksud aku, Zawa. Jujur kalo boleh di minta aku ingin Emly tetap hidup gimana pun kondisinya. Aku akan dengan senag hati merawat dia. Tidak akan aku biarkan dia merasakan penderitaan ini seorang diri. Aku akan tetap melindungi dia," jawab Aarav agar Zawa tidak salah duga.


"Kalau gitu kamu juga harus buat dia semangat, jangan malah buat dia keenakan. Dia yang salah sama aku, Ody dan Rio, maka dia harus minta maaf secara langsung. Jangan pengin enak ajah dia yang salah malah kita yang mendatangi dia dan memaafkan dia. Aku tidak mau. Aku tidak akan memaafkan kamu Emly sebelum kamu meminta maaf ke aku secara langsung. Kamu harus minta maaf ke aku. Kamu nggak tahu gimana ketakutanya aku waktu itu. Kamu enggak tau gimana menderitanya aku di dalam penjara. Kamu enggak akan pernah tau dan tidak merasakan makan hanya dengan sayur bening dan piring pelastik yang bahkan warnanya sudah pudar. Mandi di toilet yang pengap, bau dan kotor. Kamu enggak tau Emly, jadi kamu harus tunjukin ke aku dan minta maaf ke aku. Aku cuma ingin kamu bangun minta maaf lah dengan tulus agar aku juga ikhlas memaafkan kamu," isak Zawa, tangisnya pecah. Wanita itu marah sama Emly tetapi juga hatinya tidak mau bohong bahwa ia sangat iba melihat kondisi Emly. Zawa tidak bisa memberikan kata-kata yang manis sehingga dia bisa memberi ancaman pada Emly agar ia mau bangun dan meminta maaf langsung pada dirinya. 


"Arzen pun yang kasihan melihat Zawa hanya bisa mengelus. Laki-laki itu tidak mau menghakimi Emly, dan dia justru sudah memaafkan dengan semua yang Emly lakukan. Tetapi dia juga masih ada ke inginan bahwa Emly akan bangun dari tidur panjangnya dan meminta maaf secara langsung. 


"Sayang kamu yang sabar yah, tidak baik marah-marah seperti itu. Cukup kita doakan bahwa Emly akan sembuh dan dia akan minta maaf sama kamu," ucap Arzen mencoba menenangkan Zawa. Aarav pun tidak bisa berbuat apa-apa yang terpenting ia sudah mengupayakan semuanya agar Emly bisa hidup tenang dan fokus dengan kesembuhanya. Dan karena Zawa yang meluapkan kekecewaanya cukup kencang Meyra pun bangun dan melihat ke arah Zawa yang sedang menangis dengan tatapan bingung.


Tes... Lagi-lagi Emly mengeluarkan air matanya. Kaget! Semua yang ada di ruangan itu kaget dengan respon Emly. Zawa pun yang tahu bahwa Emly menangis mendengar ucapanya.


Zawa mendekat ke ranjang Emly. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat senang bahwa itu tandanya bahwa Emly mendengar ucapan ia barusan. Dan responnya cukup bagus. Sehingga Zawa akan memancing alam bawah sadar Emly agar terus merasa menyesal dan mungkin saja dengan cara Zawa itu Emly akan bangun dan sembuh. Terlihat kejam dan tega sih, tapi kingkat gereget orang-orang itu beda, dan mungkin cara ini yang bisa membangunkan Emly.


"Aku selalu percaya penuh pada kamu, karena kamu adalah teman sejak kita bersekolah. Bahkan aku menganggap bahwa hubungan kita itu sudah lebih dari  sahabat. Aku selalu menganggap kamu adalah sodara aku. Tetapi aku sekarang sangat kecewa dengan cara kamu yang kotor ini. Aku tidak menyangka sahabat dan sodara yang selalu aku nomor satukan, dengan tega memasukan aku ke dalam penjara. Mungkin orang lain akan iba melihat kamu dan memaafkan kamu, tetapi aku tidak Mly. Kamu sajah dengan tega menjaikan aku sebagai bantalan peluru kamu, maka hatiku pun tidak terketuk melihat kondisi kamu. Aku mau kamu bangun dan meminta maaf secara langsung ke padaku dan pada saat itu terjadi maka baru aku bisa memaafkan kesalah kamu," bisik Zawa nada bicaranya di bikin se sinis mungkin. Dia ingin memancing emosi Emly dan dari situ mungkin akan memacu untuk bangun.