
Di rumah Rio..
Rio tengah uring-uringan karena Ody dan Arzen yang tak juga mengangkat telponya.
Semalaman Rio tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan Ody dan Arzen yang tidak ada kabarnya sama sekali.
Antara marah dan kecewa dengan Ody yang dia anggap bahwa Ody sengaja melakukanya.
"Awas kamu yah Ody dan Arzen, apabila aku tau keberadaanmu, akan aku beri pelajaran kalian." Batin Rio geram.
Kini Rio tengah mencoba menelepon Aarav, ia akan meminta Aarav untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antar Ody dan Arzen.
"Hallo...." sapa Aarav dari sebrang telpon dengan suara khas bangun tidurnya.
"Rav, loe ke rumah gue sekarang!" titah Rio dengan menahan kekesalannya.
"Hah, sekarang?" tanya Aarav kaget, baru juga bangun tidur tetapi sudah disuruh ke rumah bosnya.
"Iyalah sekarang, masa nunggu tahun depan." sungut Rio kesal dengan pertanyaan asistenya.
Aarav langsung bergegas ke kamar mandi begitu Rio mematika telponya. "Kenapa sih Rio tumben-tumbenan jam segini udah heboh ajah," gerutu Aarav. Lagi enak-enak tidur malah dibangunkan kesal lah Aarav.
***
Kini Aarav sudah berada dirumah Rio.
Aarav ketika baru masuk kerumah Rio, sudah disuguhkan dengan pemandangan Rio yang tengah duduk bersandar di sova sembari memijit kepalanya pelan.
Setelah melihat melihat kondisi Rio, Aarav pun menajamkan pengelihatanya dan mencari Ody tetapi Aarav tidak melihat Ody di rumah Rio.
"Apa Ody pergi lagi dari rumah Rio? Apa yang sebenarnya terjadi antara Ody dan Rio bukanya mereka sudah tinggal satu rumah," gumam Aarav dalam hatinya.
"Kenapa Loe panggil gue pagi-pagi begini, lalu Ody kemana?" tanya Aarav dengan penasaran.
"Justru itu gue panggil loe kesini buat cari Ody di mana? Dia pergi bersama Arzen." tutur Rio, masih dengan memijat kepalanya yang tampak semakin berdenyut nyeri.
"Hahhhh.... ko bisa Ody pergi bersama Arzen?" tanya Aarav kaget.
Rio pun terpaksa menceritakan kejadian-demi kejadian sampai akhirnya Ody memutuskan pergi berdua dengan Arzen. Tentu sajah masih ada bagian yang intim, yang Rio tidak menceritakanya pada Aarav. Namun, Rio berkata jujur pada Aarav bahwa kini ia sudah berusaha menerima Ody.
"Kalo gue yakin Ody pulang ke kampung halamanya, mungkin sajah terjadi sesuatu dengan keluarganya, sehingga Ody tidak bisa mengangkat telponya. Sementara Arzen mungkin sajah dia juga tidak memegang telponya." ucap Aarav menduga-duga, tetapi ia juga tidak mau berpikir yang buruk.
Rio berusaha menerima pemikiran Aarav, lalu aku harus gimana? Apa loe tau alamat kampung Ody?" tanya Rio, kini pemikiranya sudah sangat kalut.
"Kayaknya aku harus cari dari CV milik Ody, kalo tidak nanti aku bakal bertanya sama Pak Hasan." balas Aarav menenagkan Rio.
"Kamu buruan yah cari informasinya. Entah kenapa pikiranku terlalu mengawatirkan Ody." ujar Rio, kini pikiranya justru berbanding dengan barusan, ia justru sekarang sangat menghawatirkan Ody.
"Iya nanti kalo gue sudah ada info, gue langsung hubungin loe." papar Aarav, sebelum dia pergi lebih dulu ke rumah sakit untuk mencari tahu alamat Ody, pada pamanya dan mengecek dari CV Ody.
"Ok, untuk sementara waktu, tolong kamu hendel pekerjaan dulu yah Rav, dan masalah prakter gue nanti diganti oleh dokter lain." jelas Rio.
"Ok bisa diatur." jawab Aarav singkat.
Selanjutnya Aarav pergi kerumah sakit untuk mencari informasi mengenai Ody, dan Menghendel perintah Rio mengenai pekerjaanya.
****
Sementara itu di kampung Ody, Ody yang sudah sedikit tenang dan kini tengah beristirahat. Arzen membuka handphonenya, ia sangat kaget melihat begitu banyak telpon dari Rio. Bahkan ia sampai lupa dengan gawainya. Ketika baru sampai di rumah Ody sudah dihadapkan dengan keriwehan yang sangat luar biasa.
"Hallo," sapa Rio ketika baru terhubung dengan Rio.
"Tumben banget Rio langsung yamber angkat telpon, biasanya sajah kalo ditelpon paling susah ngangkatnya." batin Arzen dengan heran.
"Hallo kenapa Yo, loe telpon gue sampai banyak banget?" tanya Arzen dengan tanpa rasa bersalah.
"Loe lagi di mana? Terus Ody di mana? Kenapa gue telpon semua nggak ada yang angkat, apa ada sesuatu terjadi dengan kalian?" cecar Rio dengan cemas.
"Ody sedang tidur dia kelelahan." jawab Arzen sekedarnya, sebenarnya dia juga sangat lelah bayangkan sajah menyetir dari jakarta seorang diri non stop ditambah sampai rumah Ody langsung ikut memakamkan ibu Arum.
"Kelelahan kenapa? Apa yang udah loe lakuin sama Ody?" sungut Rio, dengan nada emosi.
"Apaan si Yo, bisa nggak loe itu kalo apa-apa jangan emosi terus. Ody itu ibunya baru meninggal. Kita disini baru selesai memakamkan ibunya Ody dan dia kelelahan sedari di jalan dari rumah loe sampai kampungnya udah menangis. Ditambah sampai sini dia juga harus dihadapkan dengan kenyataan yang membuatnya tambah terpukul. Loe sebagai suaminya seharusnya ada disaat dia terpuruk seperti ini. Bukan gue yang setatusnya sebagai temen loe." omel Arzen ia membeberkan semua yang terjadi dengan Ody.
Rio terdiam, dia merasa bersalah karena menahan Ody dan membiarkan dia begitu sajah dan justru Arzen yang berada disisi Ody ketika ia tengah bersedih. "Sekarang loe masih di rumah Ody kan? Kamu kirimkan alamatnya ke gue sekarang. Gue akan nyusul sekarang kesana." ucap Rio akhirnya dia memutuskan untuk menyusul Ody, dia mencemaskan kesehatan Ody dan calon buah hatinya.
"Ok nanti gue kirim," jawab Arzen.
Setelah menelefon Rio, kini Arzen juga tidur mengistirahatkan badanya yang sudah sangat lelah.
Sementara di rumah Rio, kini Rio memberi tahukan Aarav agar mengurus pekerjaanya sementara dan mengatur jadwal perakteknya.
Rio menyiapkan semua keperluanya dan meminta sopir untuk mengantarkanya, mengingat ia belum tidur sama sekali. Sepanjang perjalanan Rio masih belum bisa tertudur. Dia masih merasa bersalah terhadap Ody. Kemarahanya dengan Ody sudah menguai digantikan dengan penyesalan.
Terlebih Rio tau bahwa perjalanan ke kampung Ody sangat jauh dan pasti sangat melelahkan.
****
Arzen terbangun ketika mendapatkan telpon dari Zawa.
"Hallo, kenapa ayang?" sapa Arzen dengan suara serak khas bangun tidurnya, ketika mengangkat telpon dari kekasihnya.
"Kamu sedang apa? Ko tumben nggak ada kabar seharian ini, biasanya HP aku udah panas sama kamu, karena bolak balik menanyakan kabar terus." cicit Zawa dengan bersunyut-sungut bibirnya, yang membuat Arzen semakin gemas. Ia ingin langsung pulang dan mencium bibir mungil milik Zawa yang sangat memabukan.
"Iya nih, ayang lagi ada urusan mendadak jadi belum sempat mengabarin kamu, nanti aku usahakan pulang cepat yah, biar ayang nggak kesepian lagi." balas Arzen dengan senyum semanis mungkin.
"Minun kopi dulu Zen," kata Ody sembari menyuguhkan secangkir kopi dan segelas air putih.
"Oh, iya makasih Dy, gimana kondisi kamu udah baikan." tanya Arzen dengan perhatian. Arzen seolah lupa bahwa ia sedang bertelepon dengan Zawa kekasihnya, otomatis Zawa mendengar dengan jelas percakapan Ody dan Arzen.
"Udah mendingan Zen, makasih yah karena kamu sudah mau menolong aku." balas Ody.
"Iya sama-sama." balas Arzen.
"Ehemmm..... ehemmmm...." dehem Zawa, ia kesal karena diabaikan oleh Arzen yang malah asik ngobrol dengan teman wanitanya, dan berhasil mengagetkan Arzen.
# Buat teman- teman mampir juga yuk di karya teman aku. Karya ka Weny Hida, dijamin ceritanya seru dan pastinya bikin penasaran disetiap episodenya. Mampir yah dijamin bikin candu ceritanya, keren abis...🙏😍😍😍
*****************
#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤
# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤