
"Apah, jadi Mbak Ody sedang hamil?" tanya Hendra kaget. Lagi, kakanya menyimpan rahasia lain.
"Iya Mbakmu sedang hamil." jawab Rio, menggantika Ody untuk mewakilkan jawaban Ody.
Hendra terdiam, disaat iya belum sepenuhnya menerima kenyataan kakanya menikah, tetapi ia kini dipaksa lagi harus menerima kenyataan bahwa kakanya tengah hamil.
"Pasti kamu masih belum mau menerima kenyataan bahwa Mba sudah menikah dan kini tengah hamil." bisik Ody dengan wajah sendu.
"Bukan begitu Mba, hanya Hendra kaget sajah. Hendra akan coba untuk menerima kenyataan bahwa Mba sudah menikah dan kini sudah hamil." tutur Hendra dengan yakin, kini mau tidak mau ia harus mengakui kenyataan bahwa kakanya sudah bersuami dan ia akan memiliki keponakan.
"Alhamdulillah kalo gitu Mba jadi lebih tenang." ucap Ody, bersyukur karena adiknya tak lagi mempermasalahkan pernikahanya.
Hendra pun pamit keluar kamar. Kini di kamar tinggal Ody dan Rio.
"Sakit yah Mas?" tanya Ody sembari memegang luka bekas pukulan Hendra di wajahnya.
"Engga ko, ini hanya luka kecil." jawab Rio, Sembari mengembangkan senyum di wajah tampanya.
"Maafkan Hendra yah, karena adiku, Mas harus kena pukulan, dan aku tau itu pasti menyakitkan." ucap Ody, merasa bersalah.
"Jangan merasa bersalah seperti itu, kalo aku jadi Hendra aku juga akan melakukan hal yang sama. Itu tandanya Hendra menyayangi kakanya." tutur Rio, mencoba menenangkan Ody.
"Iya sih, Hendra memang sangat peduli dengan ku. Kalo begitu biar aku kompres yah luka Mas." ucap Ody, sembari ia hendak beranjak dari duduknya. Akan tetapi Rio sigap menahanya, "Nggak usah repot-repot, aku tidak butuh itu, yang aku butuh kamu disisihku, rasanya seharian disampingmu masih kurang, aku ingin terus kamu berada disampingku." bisik Rio diceruk leher istrinya. Sembari memeluk tubuh Ody dengan mesra.
Hal itu membuat bulu kuduk Ody merinding. "Mas udah yah geli, Mas mau dipijit lagi ajah?" tanya Ody sembari menggeser duduknya.
"Bukan dipijit tapi pengin dipeluk terus," ledek Rio dengan merentangkan kedua tanganya.
"Kalo itu nanti ajah deh Mas, sekarang Ody mau masak dulu. Nanti malah kelaparan lagih karena nggak ada makanan." Beo Ody.
"Masak yang lain ajah, kamu temenin disini." Ringek Rio bak anak kecil.
"His... disini nggak ada asisten rumah tangga Mas. Ody tinggal sebentar yah cuma masak ajah ko, sebentar nggak pake lama, janji deh abis masak nanti aku temenin Mas lagi." ujar Ody sembari mengajungkan telunjuk dan jari tengahnya membuat simbol perjanjian.
Rio pun dengan enggan akhirnya mengizinkan Ody untuk memasak, menyiapkan makan malam untuk mereka.
Tidak lama Ody memasak didapur, kini hidangan sederhana, tetapi sangat menggoda perut yang lapar sudah terhidang di meja makan.
Ody kembali kedalam kamarnya, ia lihat Rio yang tengah fokus dengan laptopnya,
"Lagi ngapain Mas?" tanya Ody dengan suara serak nan seksinya.
"Eh... ini sedang mengecek kerjaan biar nggak terlalu numpuk. Aku kerjakan sebagian sembari nunggu kamu yang sedang masak. Udah masaknya?" tanya Rio sembari bergeser duduknya agar Ody bisa duduk di sampingnya.
"Udah, Mas mau makan sekarang?" tanya Ody, sembari duduk di samping Rio.
"Nanti ajah deh bareng dengan yang lain." balas Rio sembari memeluk Ody. Kebiasaan barunya adalah selalu ingin memeluk Ody dengan mesra.
Ketika Rio sudah seperti itu, Ody hanya bisa pasrah menikmati setiap keusilan tangan Rio, karena tangan suami tidak akan bisa diam selalu bermain diatas gunung kembarnya dan menari diatas perut yang kini sudah sedikit membuncit.
"Tentu boleh, kenpa tidak kan Hendra adik kamu, berati adik aku juga." jawab Rio dengan senyum di wajahnya menandakan ia benar-banar tidak keberatan apabila Hendra akan tinggal denganya.
"E.... tapi Hendra gimana yah, kira-kira dia mau nggak kalo aku ajak tinggal bersama di Jakarta." balas Ody ragu.
"Biar soal itu nanti aku yang bilang sama Hendra mudah-mudahan dia tidak menolak." tutur Rio.
"Baik lah, aku ikut kata Mas ajah. Makasih yah Mas udah nurutin kemauan aku." ucap Ody dengan tulus.
"Jangan makasih doang, tapi jatah yah, nanti malam." balas Rio dengan menaik turunkan alisnya.
"Huh...." dengus Ody pasrah.
***
Kini mereka tengah menikmati makan malam dengan damai.
"Ndra kuliah kamu gimana?" tanya Ody ketika mereka sudah melesai makan malam.
"Maaf Mba, sebenarnya sudah tiga bulan kuliah Hendra cuti. Hendra memilih fokus merawat Ibu." ucap Hendra jujur.
Ody sempet kaget mendengar penuturan Hendra, tetapi Ody mencoba mengerti keputusan adiknya pasti sudah yang terbaik.
"Ndar, gimana kalo kamu sekarang ikut kami tinggal di Jakarta." ujar Rio mengalihkan topik obrolan.
"Hendra tinggal disini ajah Mas, Mba. Hendra nggak enak juga kalo harus numpang di rumah kalian." jawab Hendra dengan jujur.
"Justru kalo kamu tinggal disini sendirian, kami merasa sangat bersalah. Atau nggak, kalau kamu sungkan tinggal satu atap dengan kami, Mas ada apartemen kosong kamu bisa tempati. Nanti juga kamu bisa kuliah disana, biar semua urusan nanti Mas bantu." ucap Rio dengan seirus.
"Tapi apa nanti Hendra tidak merepotkan Mas dan Mba Ody?" tanya Hendra, ia sungkan dengan tawaran kakanya.
"Tentu tidak, justru kalo kamu menolak Mas merasa bersalah karena tidak bisa menjadi kaka yang baik buat kamu." ujar Rio, berharap agar Hendra mau dengan usulannya.
Hendra napak berfikir, baginya ini bukan keputusan sepele, ia harus mempertimbangkan secara matang agar ia tidak menyesal nantinya.
"Kalo memang itu keputusan Mas dan Mba, Hendra coba ikut tinggak dengan kalian." jawab Hendra akhirnya menerima keputusan Rio dan Ody.
Mereka pun memutuskan lusa akan balik ke ibukota. Terlebih Rio tidak bisa meninggalkan pekerjan terlalu lama.
Malam ini Hendra mulai mengsortir barang mana sajah yang akan dibawa.
"Bu, Yah, Hendra akan ikut Mba Ody ke Jakarta jadi untuk sementara Hendra tidak bisa merawat rumah ini." gumam Hendra menatap seisi rumah penuh kenangan bersama kedua orang tuanya. Kini ia akan memulai hidup baru di ibukota.
...****************...
# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Beauty cloads" ceritanya nggak kalah seru loh...❤