
Ody yang mendengar cerita dari Intan pun heran. "Ya Allah, kenapa tega sekali Emly yah? Padahal dia wanita setidaknya memiliki belas kasih untuk menjaga anaknya." Ody ikut geram manakala Intan bercerita alasan Zawa mau membantu Emly.
"Nah itu dia Dy, aku yakin banget Zawa itu nggak salah. Secara aku pernah ketemu. Ya, asal kamu tau ajah Arzen itu cowok yang pemilih banget soal cewek dan saat dia jatuh cinta berati cewek itu sangat berarti dan Arzen melihat Zawa memang gadis yang baik. Nggak mungkin banget Arzen sampe datang sama aku minta bantuan dari aku buat bantu kasusu Zawa. Pasti Arzen udah tau semuanya. Dia Cowok yang netral tidak akan membela kalo hanya karena suka. Arzen kalo salah biarpun dia cinta tetap akan bilang salah. Begitupun sebaliknya kalo memang benar sekali pun itu musuhnya pasti akan membenarkanya, dan tidak segan-segan meminta maaf." Intan yang sudah menjadi teman lama dengan Arzen sangat tau sifat Arzen. Apalagi Arzen adalah teman yang paling akrab dengan Intan pasti Intan lebih tau banyak tentang Arzen.
"Jadi menurut Dokter aku harus bagai mana? Apa aku harus bicara dengan Papih dan Rio. Kalau memang Zawa tidak salah, kasihan dia kalo harus nanggung hukuman yang bukan kesalahan dia, Zawa harus bebas." Ody akan berusaha membantu Zawa agar bisa menghirup udara kebebasan.
"Lebih baik, kita temui dulu Zawa, aku juga pengin kamu menilai sendiri dengan cewek itu. Agar kamu bisa tau kira-kira omonganya benar atau tidak. Sebab semua bukti mengarah pada Zawa. Sedangkan filing kami semua Zawa tidak akan melakukan itu semu. Kita cuma mengandalkan filling dan ucapan Zawa sajah, andai ada bukti yang bisa meringankan tuntutan Zawa mungkin akan digunakan. Sayang semuanya tertutup, saksi dan bukti mengarah pada Zawa. Maka dari itu sulit membebaskan Zawa ya, karena bukti-bukti itu dan juga saksi. Kecuali Rio atau Om Hartono yang mencabut tuntutanya
"Ya udah Dok aku mau bertemu sama Zawa. Kapan kira-kira kita kesana?" tanya Ody antusias, ia pengin mengenal Zawa wanita yang Intan bilang baik, dan memiliki kepribadian baik. Ody kenal Intan, jadi di mana orang yang Intan bilang baik pasti ada nilai yang memang bisa liat dari hatinya.
"Kamu bisanya kapan? Kalo aku mah kapan saja kayaknya bisa, tinggal kamu yang cari waktunya secara kamu sekarang ada ekor yang masih butuh pengawasanmu." Intan menyerahkan semua keputusan pada Ody.
Ody pun melirik ke arah kerumunahan keluarga barunya yang masih dengan sabar menjaga Mayra, Ody pun mengembangkan senyumnya. "Kalo sekarang gimana Dok?" bisik Ody di dekat telinga Intan.
"Yang benar saja Ody, kamu saja baru pulang. Apa kamu tidak cape, tidak mau iatirahat dulu?" tanya Intan heran kenapa nih anak nggak ada capenya. Dari jaman ia kerja yang selalu semangat untuk berkerja meski kerja harus dua tempat dalam satu hari.
Ody menyengir kuda. " Hehehe... mumpung anak ada yang ngasuh Dok, kalo besok-besok belum tentu bisa kan udah pada sibuk dengan urusan masing-masing. Lagian acara pengajian malam kan Dok?" Yah tadi memang Papih sempat berkata akan diadakan syukuran kecil-kecilan nanti malam.
"Sepertinya begitu. Nanti kalo Mayra haus gimana? Apa kamu mau pompa ASI dulu?" tanya Intan.
"Baiknya pompa dulu Dok, takut nanti urusanya lama," balas Ody sembari meminta Mbok Karti menyiapkan alat pompa ASI yang memang sudah Ody siapkan dari jauh-jauh hari.
"Dy, alasan sama mereka apa?" tanya Intan dengan setengah berbisik sembari menunjuk keluarga Rio.
"Dokter ajah yang ngomong, Ody mah nggak tau mau cari alasan apa?" ucap Ody justru menyerahkan pada Intan.
"Dih, kamu mah kebiasaan giliran kaya gini ajah diserahin sama aku," degus Intan.
Ody nampak berpikir sejenak. "Kita cari alasan mau ambil barang penting di rumah Dokter saja gimana?"
"Boleh juga tuh alasanya." Intan pun akan memita izin pada Rio dan papih, dengan alasan yang Ody bilang.
Sementara Ody hendak menyiapkan setok ASIP untuk Mayra, kalo nanti lapar.
****
"Om, Tante, Intan mau izin ajak Ody pulang ke rumah dulu yah. Ada sesuatu yang harus diambil oleh Ody." Intan mencoba meminta izin sama mertua Ody agar diizinkan keluar dengan alasan yang mereka sepakati bersama.
"Ambil apa Tan?" tanya Papih agak curiga.
"Kurang tau Om, Ody bilang ada yang harus diambil ajah." Intan tidak mau menyebutkan, karena takut ketahuan mereka berbohong.
"Lah terus Ody'nya mana?" Ka Luna tidak mau ketinggalan bertanya pasalnya Ody malah menghilang.
"Lagi mompa ASI Lun, takut nanti Mayra kelaparan, tapi kita belum pulang." Intan dalam hati sudah ingin menjerit karena terlalu banyak pertanyaan, bak polisi yang introgasi seorang pencuri.
"Gue yang antar yah Tan?" Rio akhirnya mengeluarkan suaranya juga.
"Enggak usah, lagian mobil banyak gue bisa pinjam bentar. Loe jaga anak loe ajah, jangan pergi dua-duanya nanti malah May nyariin lagi." Intan jelas menolak usulan dari Rio. Gimana nggak nolak ketahuan dong nanti kalo Intan berbohong. Izin mau kerumahnya malah nyasar ke kantor polisi.
Tidak lama Ody keluar dengan merapihkan pakaian bagian depanya.
Rio yang melihatnya pun menelan salivanya, dia laki-laki normal melihat aset sang istri yang semakin membesar membuatnya bergairah. Terlebih sudah lama ia tidak mendapatkan jatah dari istrinya. "Ya Tuhan, kenapa cobaan begitu berat," batin Rio tidak sabar kapan mereka akan kembali lagi menikmati manisnya madu pernikahan.
"Udah Dy?" tanya Intan yang melihat Ody sudah kembali.
"Udah Dok, sudah disimpan di lemari pendingin," balas Ody sembari mendekat ke Mayra yang diletakan di atas sofa dengan dikelilingi oleh keluarga barunya.
"Sayang, Bunda tinggal dulu yah. Anak Bunda yang cantik nggak boleh rewel, baik-baik sama Oma dan Opa." Ody pamitan dengan Mayra dengan suara menirukan suara anak bayi. Ody mencium kedua pipi putrinya dan yang terakhir mencium perut bayi itu yang wangi minyak telon.
"Pap, Mam, Ka, Mas, Ody pamit dulu yah. Maaf titip Mayra dulu." Ody pun pamit pada semuanya.
"Iya hati-hati sayang." Mamih dan yang lainya mengucapkan hal yang hampir sama. Selanjutnya Intan dan Ody pergi menggunakan mobil Rio. Intan yang menyupirnya. Sedangkan Rio tidak berkedip menatap Ody yang ia nilai semakin cantik dan aset yang semakin membuatnya ingin segera mendapatkan maaf dari Ody.
"Sabar dulu, nanti juga luluh. Jangan gegabah nanti malah dia makin menjauh." Papih yang sama-sama laki-laki tentu tau perasaan Rio.
"Iya Pih, Rio akan sabar," Rio pun kembali bermain dengan putrinya. Dalam hatinya ia tetap berharap bahwa Ody segera memaafkan dirinya.
Andai Rio bisa membeli maaf dari Ody pasti ia akan dengan suka rela membayarnya agar cepat Ody memaafkanya. Namun Ody orang yang berbeda ia tidak mungkin mau menerima suap hanya untuk maaf. Jadi jalan satu-satunya Rio harus tetap meminta maaf dengan tulus dan membuktikanya kesungguhanya dengan sabar.
Sementar Intan dan Ody kini baru sampai di kantor polisi dan tengah menunggu Zawa yang akan ia temui.
Intan sangat kaget, ketika menatap Zawa yang sangat jauh berbeda dari Zawa yang terakhir ia temui. Badan Zawa sangat jauh berbeda, kali ini sangat kurus dan pipinya memar.
Pertama Zawa menatap Intan dan Ody ada sorot yang beda. Zawa seolah meminta bantuan agar ia segera dibebaskan.
Ody yang tidak pernah ketemu dengan Zawa pun menatap iba dengan kondisinya yang Ody tau pasti sangat buruk.
"Zawa apa yang terjadi kenapa kondisi kamu seperti ini?" Intan bertanya dengan suara bergetar, bagai mana tidak bergetar ternyata bukan hanya pipi Zawa yang memar tetapi juga tangannya banyak bekas biru-biru.
Zawa tidak menjawab, melainkan ia justru menunduk.
Ody dan Intan pun semakin dibuat heran, apa yang sebenarnya terjadi dengan Zawa.
...****************...
Hai teman-teman othor bawa rekomendasi novel yang sangat bagus karya besti othor namanya ka Weny. Kuy kalian wajib banget mampir, karena memang ceritanya bagus dan kece banget sih. Sebelum baca kalian tekan Fav, lalu like, komen dan bawa mawar atau kopi yah biar othor seneng...