Beauty Clouds

Beauty Clouds
Perkara Nama Panggilan



Aarav keluar dari ruangan Chandra dengan hati yang sedikit lebih tenang, dan memang benar yang di katakan Chandra bahwa ia tidak boleh egois. Kebahagiaan Meyra lebih penting dari segalanya tidak ada yang membuat ia lebih bahagia selain melihat buah hatinya tersenyum ringan dan bahagia.


Dari pada dia bersikap egois dan merusak kebahagiaan Meyra. Namun Aarav akan menemui Emly, mungkin ia akan berbicara demi menanggung perbuatanya dulu. Manusia bisa berubah bukan, bisa saja Emly memang sudah berubah dan tidak lagi jahat seperti dulu. Bagaimana pun Aarav harus bicara ingin meminta penjelas dari dia. Dan mengetes apakah Emly tahu dengan kondisi anaknya atau malah dia juga tidak tahu di mana anaknya berada. Namun rasanya aneh juga kalo Emly tidak tahu di mana anaknya berada.


Ada aliran aneh ketika ia mengingat lagi kejadian yang hampir menginjak dua tahun silam. Dan karena kejadian itu kini ia dikaruniai putri yang cantik dan lucu.


Tanpa sadar, saking asiknya melamun Aarav kini malah sudah berada di depan kamar keluarga yang tengah berbahagia. Padahal tujuan awalnya kembali keruangan kerjanya, masih banyak pekerjaan yang ia harus kerjakan, tetapi kenapa justru ada di ruangan rawat khusus keluarga pemilik rumah sakit itu, padahal ruangan itu bersebrangan arah. Cerloteh Meyra membuat hatinya bahagian. Tawa lepas dari penghuni di dalam memberitahukan bahwa di dalam sana sang penghuni ruangan itu tengah berbahagia. Aarav yang merasakan sudah sangat kangen dengan putrinya pun mendorong pintu dan menarik bibirnya mengembangkan senyum senatural mungkin. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa sepertinya menjadi keputusan terbaik Ammar.


"Daddy... Daddy..." oceh Meyra, berjingkrak dalam duduknya dan berceloteh dengan mengucapkan nama panggilanya. Membuat hatinya yang semula dilanda kesedihan kini berganti dengan rasa bahagia yang meluap memenuhi seisi kebahagiaanya.


"Daddy, sini buluan! Mey punya dede bayi cowok. Kata papah nanti kakak Mey mau diajalin main bola sama dede Boy," oceh Mey, memamerkan adik bayinya yang tengah tidur di pangkuan bundanya. Jari-jari imut dari Meyra menambah betapa bersemangatnya ia untuk memamerkan adik bayinya.


Aarav mengikuti perintah dari buah hatinya, berjalan lebih cepat bahkan dibikin seolah berlari dengan gaya menghibur, dan itu berhasil membuat putrinya tertawa renyah. "Mana... mana Daddy mau liat adik bayi yang ganteng sama kaya daddy," oceh Aarav dibikin seheboh mungin sembari gayanya seolah iya tengah berlari.


"Hahaha... Dady lucu, kaya Mr Bean," ucap Meyra dia memang senang melihat MR Bean pelawak legen itu.


Aarav tersenyum bangga karena Meyra yang meyukai gayanya.


Laki-laki itu berhenti di samping Ody dan mengelus pipi adiknya Meyra yang sedang tertidur itu. "Selamat yah Dy, Yo dapat cowok. Kalo lihat gini suka pengin punya juga," beo Aarav sembari memperhatikan bibir bayi itu yang monyong-monyong seolah tengah menyedot ASI.


"Cari makanya, terus bikin deh," ucap Rio meledek temanya itu.


"Cariin Yo, gue kalo cari sendiri malah aneh enggak cocok terus," ujar Aarav memang pada kenyataanya ia apabila mencari calon mamah bagi anak-anaknya ujungnga selalu berakhir gagal. Dan terakhir Emly, dia berharap dengan membuat Emly hamil maka berati ia bisa memiliki gadis itu, tetapi lagi-lagi tidak Emly menolak menjadi pendamping hidupnya sehingga mau tidak mau Aarav harus mencari calon lain buat kebahagiaanya.


"Lah, yang lain ajah cari sendiri loe minta cariin. Cari sendiri lah biar pas dengan apa yang loe rasain kalo dicariin nanti enggak pas malah kasihan loenya," ucap Rio dengan lebih lembut, memang benar jodoh itu bukan sekedar menikah maka berjodoh. Kehidupan akan terasa lebih berat ketika sudah memasuki pernikahan. Ujian dan cobaanya akan terus datang dan mengetes kesetiaan mereka.


"Sulit," jawab Aarav dengan singkat dan nada bicara yang seolah tengah berputus asa.


"Sabar Rav, jodoh datangnya sudah diatur sama yang diatas.Mungkin sajah jodoh kamu sedang on the Way kesini," sela Ody, tidak mau melihat Aarav putus asa. Chandra dan Intan ajah masih pada jomblo terlebih Intan yang sudah disebut perawan tua. Hanya karena sudah berumur diatas kepala tiga tapi belum menikah. Memang kadang jodoh datangnya lebih lama dari yang lain, tapi kalau jodoh yang datang telat lebih awet bukanya lebih baik dari pada yang cepat tetapi hanya sebagai rumah persinggahan sementara. Dan kembali berpisah untuk mencari rumah yang sesungguhanya.


Meyra di samping Ody juga tengah asik mengusap-usap adik laki-lakinya. Sementara Aarav dari tadi berbicara dengan Rio dan Ody tetapi pandangan matanya selalu memperhatikan Meyra yang asik dengan tangan adik barunya. Anak itu benar-benar bahagia karena memiliki mainan baru. Mainan di mana ia bisa memiliki kesempatan untuk mengajaknya berceloteh. Tidak seperti boneka-bonekanya yang tidak mau berbicara meskipun Meyra sudah mengajaknya ngocek terus menerus.


"Loe mah, masa anak gue semuanya pnggil ke loe daddy. Mey panggil loe daddy, ini juga si boy loe minta panggil daddy. Enggk-enggak, loe mah panggilnya paman ajah," dengus Rio bukanya memberi tahu nama anaknya malah protes dengan panggilan asistenya itu. Ya, lagian wajah juga kan Rio protes dia yang bikin cape, lembur tiap malam di jabanin giliran udah jadi, dan keluar Aarav dengan semangatnya daftar menjadi daddynya. Emang asisten lak-nat....


"Udah sih, cuma panggilan doang. Lagian panggilan paman mah buat orang tua, gue cocoknya di panggil daddy," protes Aarav yang tetap mau dirinya di panggil daddy oleh anaknya Rio itu.


Rio pun menatap malas Aarav, apa kata orang nanti kalo anaknya panggil dia juga daddy nanti dikira memang anaknya memilikin dua papah. Itu tandanya Ody bisa di cap nakal.


"Ganti-ganti jangan dady-dadyan, enggak pantes pokoknya loe di panggil dady." Rio pun sama menolak kembali protes dari Aarav. Pokoknya anaknya yang boy tidak dia izinkan panggil Aarav dengan sebutan Dady.


"Enggak lucu Yo, kalo Mey ajah panggil dady tapi adiknya panggilnya lain." Aarav masih tidak terima juga ketika Rio menolak usulanya.


"Udah sih perkara panggilan ajah heboh," lerai Ody, suaminya sama Aarav memang benar-benar seperti anak kecil. Perkara panggilan ajah harus diributkan lagian mau paman, om, dady bukanya sama ajah yang terpenting kasih sayangnya.


"Iya papah sama dady kenapa sih, lebutan dede bayi yah? Jangan belisik dady, papah nanti adik bayi nangis loh," ucap Meyra justru menasihati orang dewasa yang memperbutkan nama panggilan. Sementara Aarav yang bertanya nama anak itu malah diabaikanya.


"Enggak lebutan sayang Daddy hanya pengin gedong Mey ajah." Aarav pun mengendong Meyra, di mana dia memang sudah di lepas selang infusnya karena kondisinya yang sudah pulih dan juga anak itu yang aktif jadi terganggu dengan keberadaan selang ditanganya.


Meyra pun mau di gendong dengan Dadynya dan mereka bahkan teribat bercanda bersama di atas sova. Mengabaikan Rio yang Aarav yakinin papah baru itu sedang mengumpat dirinya di dalam hatinya hanya karena panggilan si boy untuk dirinya.


...****************...


Teman-teman othor mau bawa rekomendasi novel yah keren nih, kalian wajib mampir yah..