Beauty Clouds

Beauty Clouds
Kemarahan Ody



Brakkkk.....


Ody meninggalka Rio yang tengah tertawa terbahak-bahak menertawakannya. Ody menutup pintu dengan sedikit membantingnya, sehingga menimbulkan bunyi pintu yang lumayan keras, dan itu berhasil membuat Rio telonjak kaget, dan berhenti tertawa seketika.


"Astaga kenapa jadi gantian dia yang marah." gerutu Rio masih kaget dengan keberanian Ody. "Sebelumnya mana berani Ody melakukan itu semua, untuk bicara sajah Ody sangat lembut dan menunduk malu, kenapa sekarang menjadi bar-bar seperti ini," batin Rio aneh.


"Kenapa?" tanya Aarav ketika melihat Ody menuruni tangga dengan muka ditekuk.


"Tau ah, lagi kesel," cicit Ody dengan jutex...


"Laki loe bikin kesel?" tanya Aarav lagi seolah tidak puas dengan jawaban Ody barusan.


"Tau ah, males ngebahasnya," sungut Ody tambah jutex.


"Ishhh... nggak laki, nggak bini bener-bener baperan." gerutu Aarav.


Jadi gaizzs... Aarav itu hampir tiap hari kena semprot Rio sama Ody, tetapi lebih seringan Rio sih, baperan nggak ada lawan. Jadi Aarav salah nggak salah bakal kena omel.


Rio turun kebawa dengan muka dinginya, Ody yang mengetahui Rio turun tambah manyun bibirnya...


Setelah sarapan mereka berangkat bersama ke rumah sakit, sepanjang perjalanan mereka diam, tanpa adanya obrolan.


Aarav beberapa kali mencoba mencairkan suasana menanyakan hal-hal receh tidak penting dengan Rio maupun Ody, tetapi lagi-lagi mereka diam nggak mau menanggapi ovehan Aarav.


"Lagi pada sariawan kali," batin Aarav akhirnya nyerah dan memilih ikut mengelem mulutnya. Mengikuti Ody dan Rio


"Ish....lagi marah bukanya dibujuk, minta maaf ke. Ini malah dicuekin." gerutu Ody dalam hati, mengutuk kelakuan Rio.


"Gimana ini, mau minta maaf, tapi takut nggak dimaafin." gumam Rio dalam hati. Sebenarnya Rio ingin meminta maaf, tapi karena gengsi dan prasangka buruk kalo Ody nggak bakal memaafkan jadi Rio masih diam membisu, berperang dengan fikiran masing-masing.


Akhirnya mereka sampai di palikiran rumah sakit. Ody bergegas hendak turun.


"Ody tunggu jangan turun dulu," Ucap Rio menahan Ody agar tidak turun dulu.


"Rav kamu keluar dulu. Ada yang mau aku bicarakan dengan Ody." ujar Rio, agar Aarav meninggalkan mereka berdua.


Aarav ikut ajah perintah Rio, dari pada kena semprot pikirnya. Ia menunggu diluar kendaraan.


Ody diam membisu, hatinya masih panas.


"Maaf," lirih Rio memulai obrolan.


Ody masih diam, enggan menimpali. Mungkin Ody lupa bahwa yang mengajaknya ngobrol ada Rio, suami kontraknya, yang beberapa bulan kebelakang dingin banget bak kulkas 4 pintu, bahkan Rio sering berkata dan bertingkah menyakiti hati Ody.


"Dy, ko diam ajah sih, tadi ajah aku udah maafin kamu, masa sekarang kamu nggak mau maafin aku." protes Rio, sembari menari Ody agar menghadap kebelakang. jadi Ody duduk di samping kemudi, dan Rio di kursi penumpang di belakang supir.


"Ahhhhh..." pekik Ody kaget, karena Rio tiba-tiba menariknya agar menghadap dirinya..


"Apa--apaan sih tuan, kaget," sungut Ody nggak terima.


"Abisan, baperan banget, bentar-bentar marah," balas Rio nggak terima juga, kalo Ody marah padanya.


"Dih ko aku yang Anda salahin, bukanya Anda yang sebentar-sebentar marah," cicit Ody nggak terima di tuduh oleh Rio baperan.


"Iya kan aku minta maaf ini, dimaafin nggak," dengus Rio. "Lagian aku tadi itu bercanda lagi Ody," imbuh Rio masih berusaha meluluhkan Ody.


Sebenarnya Ody pengin maafin Rio, tapi gengsi dong, kalo langsung dimaafin begitu ajah, jadi Ody diam untuk mengulur waktu, agar Rio mau usaha dulu, begitu kira-kira yang ada dipikiran Ody.


"Jadi nggak mau maafin ini, kalo nggak mau maafin aku cium nih," ancam Rio tersenyum devil.


Ody yang mendengarnya langsung membekap mulutnya kaget. "Iya-iya...saya maafin." ucap sepontan Ody, dengan kondisi mulut masih ditutup


Rio yang melihatnya tersenyum penuh kemenangan.


Ody pun langsung membuka pintu mobil dan belari menuju lantai paling atas, untuk memulai bergabung dengan team kebersihan.


Aarav yang melihatnya aneh, ada apa sebenarnya dengan mereka berdua.


"Takut gue cium," jawab Rio, sembari tertawa puas...


Aarav bengong makin nggak ngerti maksud jawaban Rio barusan...


****


Di rumah Zawa.


Emly selama satu minggu ini marah dengan Zawa, yang tidak mau bekerja sama dengan misinya. Emly melakukan mogok makan, dan tidak mau meminum vitamin dan susu untuk ibu hamil. Membuat ia kini Drop dan harus di infus kembali.


"Emly ayo dong kamu nggak boleh kekanakan gini, inget di dalam perut kamu ada calon anak kamu, dia butuh nutrisi." bujuk Zawa, seolah tak pernah bosen untuk menyadarkan Emly, meskipun hasilnya tetap nihil.


Emly tidak menjawab sepatah katapun setiap Zawa mengajaknya bicara.


Semenjak Emly mengutarakan niatnya agar Zawa mau membatu Emly masuk ke pertemanan Rio. Menyamar menjadi salah satu kekasih dari salah satu dari mereka. Namun, tanpa Emly duga Zawa menolak keinginan Emly. Sehingga membuat Emly marah dan mengancam pada Zawa, ia akan menggugurkan anak yang di kandungnya.


Caranya seperti sekarang Emly mogok makan dan meminum semua vitamim bahkan susu untuk janinya, tujuanya agar anak itu lemah dan keguguran.


"Ok....ok gue terima permintaan loe, tapi please jangan siksa anak ini," ucap Zawa akhirnya menyerah setelah memeriksa kondisi janin bisa sajah keguguran, karena keadaan Emly yang makin lemah.


Emly yang mendengar penuturan Zawa langsunn menyunggingkan senyum kemenanganya.


"Loe seriuz mau bantu gue," cicit Emly memastikan bahwa ia tidak salah dengan bahwa Zawa mau mengikuti misi Emly.


Zawa mengangguk lemah menandakan bahwa yang Emly dengar adalah kenyataan.


"Yes," pekik Emly bahagia.


"Tapi kamu harus janji, nggak boleh menyiksa anak kamu kaya gini lagi. Kamu harus jaga anak ini setidaknya sampai ia lahir. Setelah itu biar aku yang merawatnya." pinta Zawa dengan bersungguh-sungguh.


"Iya aku janji, aku akan melakukan apapun agar kamu juga mau berpura-pura menjadi pasangan salah satu dari teman Rio. Tugas kamu gampang ko, kamu cukup mencari informasi mengenai Rio. Setelah itu biar aku yang mengatur semua, apa yang akan aku lakukan agar Rio menerima akibatnya." jelas Emly dengan sangat bersemangat.


l


"Zawa hanya membalas dengan anggukan lemah," kini ia sudah berjanji bakal membantu Emly untuk mecari informasi mengenai Rio dengan berpura-pura menjadi ke kasih salah satu dari teman Rio. Zawa tau konsekuensinya apabila ketahuan, ia membantu Emly yang berusaha menyusup ke kelompok Rio untuk menggali informasi mengenai Rio. Bisa saya Zawa bernasib buruk seperti Emly atau malah lebih buruk lagi.


"Kini aku sudah memilih, bagaikan makan buah simalakama," gumam Zawa dalam hatinya.


Kini perasaan Zawa tak menentu. Bila tetap masuk bisa sajah rencananya gagal, dan tercium oleh Rio dan teman-temanya, sehingga Zawa akan mendapatkan hukuman. Bila ia mundur bisa-bisa Emly marah denganya, dan lebih parahnya lagi Emly benar-benar menggugurkan anaknya.


Entah mengapa Zawa iba dengan nasib anak Emly yang tidak dikehendaki, ia membayangkan kalo kehadiranya dulu juga sama seperti anak Emly, sehingga Zawa yang masih bayi dulu di buang oleh orang tuanya.


Beruntung nasib Zawa waktu bayi dulu bagus, dia di temukan oleh keluarga baik yang mau mengadopsinya, dan membagi kasih sayang yang tulus, sehingga tumbuh dengan baik dan menjadi dokter seperti sekarang.


Zawa sampai sekarang tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya, dan tinggal di mana mereka, karena memang sedikitnya informasi mengenai di temukanya Zawa waktu masih bayi.


Maka dari itu Zawa tidak mau nasibnya terulang oleh anak Emly, mengingat Emly yang sangat keras kepala dan nekad melakukan apapun asal keinginanya terpenuhi.


Emly tidak akan pernah berhenti sampai keinginanya benar-benar terwujud, contohnya seperti sekarang, bahkan Emly tidak main-main dia mengorbankan kesehatanya sendiri agar Zawa mau mengikuti keinginanya.


***Saat sudah terlalu berat untuk bertahan. Maka cobalah untuk melepaskan secara perlahan***


...****************...


# Terima kasih buat yang udah mampir, jang lupa dukunganya yah.🙏


Like✅


comen


Vote✅


tekan fav ❤✅


dan beri gift✅