
Rio yang melihat Ody menagis terseru, mendekat dan memeluk Ody dengan nyaman. Kini perasaan Ody sudah kembali tenang, karena pelukan Rio.
"Nanti saya kenalkan sama Ibu dan Ayah serta Hendra, adikku mau nggak?" tanya Ody sembari duduk di atas kasur usangnya, sesekali masih terdengar isakan lirih darinya.
"Boleh, kenapa nggak. Mereka keluarga kamu, jadi aku juga harus mengenalnya." jawab Rio disertai senyum yang menenangkan.
"Kalo gitu Dokter istirahat dulu, pasti cape setelah menempuh perjalanan jauh." ucap Ody ia akan berdiri, tetapi dicegah oleh Rio.
"Disini dulu sebentar, aku nggak bisa tidur kalo belum dipijit sama kamu." ucap Rio "Semalaman aku nggak tidur karena nggak ada kamu." jawab Rio jujur.
"Ody mengikuti permintaan Rio, kembali duduk dan melakukan ritual kebiasaannya memijat Rio.
"Berati semalam Anda tidak tidur sama sekali?" tanya Ody heran.
"Bukan semalam ajah, sampai sekarang pun belum bisa tidur." jawab Rio dengan memejamkan matanya menikmati setiap pijitan yang sangat nyaman bagi Rio.
"Maaf yah gara-gara aku pergi begitu sajah Anda jadi nggak bisa tidur." balas Ody dengan perasaan menyesal.
"Dy, bisa nggak kamu panggilnya jangan Dokter atau Anda, kayaknya kamu masih canggung banget buat panggil sayang atau pangilan yang lebih romantis biar enak didengernya." papar Rio, ingin Ody mengganti panggilanya.
Ody diam sejenak. "Panggil Mas ajah boleh?" tanya Ody dengan muka serius.
"Enggak masalah, yang penting jangan tuan ataupun Dokter, dan sapaan ganti ajah aku, kamu lebih enak didengarnya. Jangan pake Anda dan saya." jelas Rio dengan sabar.
"Baiklah kalo Mas maunya begitu." jawab Ody mulai membiasakan diri memanggil pangilan baru.
Rio tertawa dengan pangilan barunya, rasanya manis sekali.
"Lucu yah?" tanya Ody dengan muka memelas. Ketika melihat Rio tertawa.
"Engga, bahkan terasa manis pangilanya." jawab Rio sambil tersenyum bahagia.
"Jujur loh yah, awas kalo bohong." ancam Ody dengan bibir dimanyunkan.
"Dih, udah bisa merajuk. Awas itu bibir jangan dimoyong-monyongin nanti kegoda lagi akunya. Ini ajah udah mati-matian menahanya." ucap Rio sembari menoel bibir mungil Ody.
"Apaan sih Mas, ini masih suasana berduka jangan macem-macem." ancam Ody dengan serius.
"Makanya itu kamunya jangan mancing-mancing, kalo udah kepancing susah ngeredamnya." ledek Rio.
"Hizzz.... kena lagi." ujar Ody cemberut.
Ody keluar kamarnya setelah memastikan Rio sudah tertidur dengan nyaman.
"Kemana Rio?" tanya Arzen yang melihat Ody keluar kamarnya hanya seorang diri.
****
Setelah Rio terbangun, kini mereka tengah berada dimakam ayah dan ibu Ody, yang dimakamkan secara berdampingan.
"Assalamualaikum Yah, Bu, Ody dateng bareng sama Rio. Kenalin Yah, Bu, Rio ini suami Ody. Maafkan Ody udah nikah tanpa sepengetahuan Ayah, dan Ibu." bisik Ody diatas pusaran kedua orang tuanya. Air matanya lagi-lagi tidak bisa dibendung. Rio yang melihat istrinya menangis, mencoba menenangkan dengan mengusap punggung Ody.
"Assalamualaikum Ayah, Ibu, kenalkan saya Rio, suami Ody. Maaf kalo saya baru berkunjung ke sini. Maaf juga kalo selama ini saya sering membuat Ody sedih, bahkan menangis, tetapi saya berjanji mulai saat ini saya akan membahagiakan anak Ibu dan Ayah." janji Rio diatas pusaran kedua orang tua Ody. Disaksikan langsung oleh Ody yang merasa terharu karena perubahan Rio yang kini sudah mencoba membuka hatinya.
Setelah berdoa kini Ody dan Rio kembali kerumah, sesampai dirumah Ody akan menjelaskan setatusnya dengan Rio pada Hendra. Ody berharap agar Hendra memaklumi keputusan Ody yang menikah tanpa meminta izin dari ibunya dan juga dari adiknya.
"Ndra, Mba mau ngobrol kita kumpul di dalam yah." pinta Ody kepada adiknya. Hendra pun mengikuti Ody kedalam rumahnya.
Sementara Arzen kini telah pamit untuk pulang lebih dulu ke ibukota.
Di dalam rumah sudah ada Rio yang tengah menunggu.
"Ndra kenalin ini Mas Rio. Mas ini Hendra adik Ody." ucap Ody memperkebalkan keduanya.
Rio dan Hendra pun berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing.
Ody menarik napas ketika akan menjelaskan setatusnya dengan Hendra. Takut apabila Hendra marah dengan keputusanya.
"Ndra, maaf sebelumnya Mba mau jujur sesuatu denganmu, tetapi Mba minta tolong kamu agar kamu tidak marah ataupun kecewa sama Mba. Percaya lah Mba ngelakuinya karena terpaksa." ucap Ody sembari menunduk, hal itu menggetarkan hati Rio untuk menguatkanya.
"Biar aku yang jelaskan." bisik Rio, tetapi mendapatkan gelengan kepala dari Ody.
"Biar Ody ajah Mas yang jelaskan pada Hendra." balas Ody, sembari mnguatkan hatinya agar tidak menangis.
"Ada rahasia apa sih Mba?" tanya Hendra penasaran.
Lama Ody belum membalas pertanyaan Hendra yang sebenarnya ia sudah mempersiapkan jawabanya, tetapi seolah mulutnya kaku untuk menjawabnya.
"Ndra, Mba sudah menikah." ungkap Ody pada akhirnya ia memberanikan mengungkapkan kenyataanya.
"Hah... Mba Ody nggak main-mainkan? Sejak kapan Mba udah nikah apa laki-laki itu dia?" tanya Hendra dengan perasaan kecewa, dan juga raut wajah yang memerah.
...****************...
#Terimakasih buat yang udah mampir, dan jangan lupa tinggalkan jejak yah.❤
# Mampir juga kekarya Othor yang satunya yah "Jangan Hina Kekuranganku" ceritanya nggak kalah seru loh...❤