
"Tapi ngomong-ngomong kamu itu orang kaya yah Pek, tapi ko dulu kamu mau buat kerja pembantu, OG, dan kerja di Bar Clovis. Aku pikir kamu dulu orang kurang beruntung loh. Taunya Sultanwati toh. Ngomong-ngomong usaha keluarga kamu selain Pesantren apa lagi Pek?" tanya Arzen semakin kepo.
Ipek hanya tersenyum manis ketika mendengar pertanyaan Arzen. "Kalo dibilang kaya, biasa ajah deh kayaknya. Nggak kaya-kaya banget lah. Lagian aku lebih suka bergaul dengan orang yang biasa ajah sih, lebih nyaman. Enggak pamer gitu mereka, ya beda ajah lah sama orang-orang yang berduit, di mana dikit-dikit pamer. Bahkan mereka sampe lupa bahwa yang punya uang hanya orang tuanya. Mereka rela banting tulang, tapi malah anak-anaknya sibuk mamerin kekayaan," ucap Ipek dengan santai.
"Salut deh sama kamu Pek. Kalo aku jadi kamu pasti nggak akan kefikiran begitu deh, aku lebih suka manfaatin uang itu buat kesenangan." Arzen menyesali dulu kehidupanya yang sering berfoya-foya.
"Udah yuk ah, ngomongin kekayaan mulu, malu sama yang lebih berduit dari kita." Ipek pun langsung mendorong kursi roda Arzen untuk menyiapkan semua kebutuhanya.
Arzen di bantu oleh Ipek menyiapkan semua barang yang akan ia bawa, tak lupa juga surat-surat berharganya. Setelah semua siap, dan Arzen menitipkan kunci rumah pada Mang Acep untuk merawatnya. Tidak hanya itu. Arzen pun setelah berunding sama Ipek mengizinkan kebunya di olah oleh Mang Acep dan tetangga yang lain agar tetap terawat dan bisa bermafaat untuk mereka.
Setelah memastikan semunya aman Ipek dan Arzen pun menaiki mobil yang sengaja Ipek meminta sopir keluarganya untuk jemput.
Perjalanan panjang akan mereka tempuh jarak antara ujung ke ujung pasti memakan waktu yang tidak sebentar.
Sepanjang perjalanan Ipek dan Arzen gunakan untuk bercerita. Arzen asik bercerita kehidupanya selam tiga tahun di kampung Ibunya dan satu tahun ibunya sakit. Untuk perjuangan kesembuhan sang Ibu yang pada akhirnya menyerah untuk berjuang. Kisah hidup yang diwarnai dengan banyak warna di kehidupannya.
Ipek pun sebelumnya sudah menceritakan pada keluarga Abahnya, bahwa ia akan mengajak Arzen untuk ikut tinggal di pesantren Abahnya, dan Abah pun nampaknya tidak keberatan. Ipek juga pasti menceritakan dengan kondisi Arzen. Abah pun lagi-lagi tidak keberatan. Sehingga Arzen maupun Ipek sangat salut dengan mereka.
Setelah menjalani perjalanan panjang akhirnya Ipek dan Arzen sampai di pondok Abah, yang mana di sana nampak sangat asri dan sepi dari keramaian sehingga sangat cocok untuk menuntut ilmu, karena tidak bising.
Arzen pun terharu manakala kedatanganya sudah di sambut oleh anggota keluarga Ipek. Arzen tidak menyangka bahwa ia diperlakukan dengan sopan. Bahkan banyak yang mau berebut untuk membantu mendorong kursi rodanya.
Arzen dan keluarga Ipek pun berkumpul di ruang keluarga. Ipek sendiri bahkan kaget ketika ada Abi dan Uminya ada diantara orang yang berkerumun menyambut kedatangan anggota baru di pesantren Abahnya.
"Umi, Abi, ko kalian bisa ada di sini? Kapan datang?" tanya Ipek sembari bergantian memeluk kedua orang tuanya dengan hangat.
"Datangnya kemarin cuma dari lima hari yang lalu Abah sudah ngingatan terus untuk kesini pas kalian sudah datang." Umi mewakili jawaban dari pertanyaan Ipek.
"Atuh boleh Neng, Abah mah seneng ajah kalo nak Arzen mau tinggal disini. Sok atuh Neng antar Si Aa ke kamarnya biar istirahat pasti cape perjalanan pan dari BanyuHarum kesini mah jauh." Abah pun dengan senang hati menerima Arzen.
Setelah berpamitan Ipek pun mengantarkan Arzen ke kamarnya di mana di sana kamar untuk Pria dan Wanita akan dipisah. Setelah memastikan bahwa Arzen masuk kamar yang di sana satu kamar ada tiga penguhuninya. Memang Arzen sengaja di tempatkan bersama dengan dua orang temanya. Hal itu agar yang lain bisa mebantu Arzen apabila mau berpindah dan turun dari korsi rodanya.
Ipek yang awalnya juga akan kembali kedalam kamarnya pun, dipanggil oleh Abah.
Ipek heran kenapa kedatangan Umi dan Abinya seolah bukan karena ingin menyambut Arzen, tapi memang karena ada hal lain.
"Kenapa Bah?" tanya Ipek dengam santai, padahal di dalam hatinya ia sudah berjanji bahwa ia akan siap dengan keputusan dari keluarganya.
"Sebenarnya Abi dan Umi datang kesini ingin membahas tentang perjodohan kamu dengan nak Wahid. Nak Wahid itu anak dari Pak Lurah dia sekarang tengah berada di Mesir, tapi bulan depan dia akan pulang ke Indonesia. Kemarin Abah bilang kalo kamu setuku dengan perjodohan ini. Kalo anak Umi setuju berati bulan depan Umi harus siap-siap untuk hajatan. Ipek gimana? Benar-benar setuju kan tidak ada paksaan?" tanya Umi dengan lembut mewakili semuanya. Sebab kalo Abi yang ngomong bisa-bisa udah melou duluan, di mana Abi paling sayang sama Ipek. Jadi beliau pasti akan sedikit keberan ketika melihat Ipek dipinamg dengan orang lain.
"Oh kalo soal itu Ipek serahkah sama kalian, Ipek percaya yang kalian berikan untuk Ipek adalah yang terbaik untuk Ipek. Enggak mungkin kalian akan menjerumuskan Ipek ke lubang penderitaan. Calon jodoh itu, selama menurit kalian baik. Ipek akan Ikuti." Ipek pun menjawab dengan sopan.
"Biklah kalo Ipek setuju besok akan diadak pertemuan keluarga, agar Ipek tidak penasaran dengan sosok calok suami Ipek nanti Abah akan melakukan Vidio Call dengan Nak Wahid." Mereka pun di landa kebahagiaan karena ternyata Ipek mau menikah juga dengan pilihan mereka, tentu mereka mau bahwa orang yang dijodohkan dengan Ipek adalah yang terbaik, dan tidak membuat penderitaan dengan anak, cucu mereka.
"Iya Kek, Ipek juga jujur penasaran dengan calon suami Ipek. Jadi nggak sabar nunggu hari esok. Kalo gitu Ipek kamar dulu yah Abah, Abi, Umi dan Ambu. Ipek perjalanan hampir lewat dari dua puluh jam karena macet jadi pengin buru-buru istirahat." Ipek pun berpamitan lebih dulu ke dalam kamarnya.
Keluarga pun sangat mengizinkan memang pada dasarnya mereka juga tahu pasti Ipek kelelahan juga.
Setelah sampai kamar Ipek memegang dadanya. "Maaf Clovis, mulai saat ini aku melepasmu dan akan berusaha melupakan kamu, karena aku sudah akan menikah. Semoga kamu menemukan jodoh terbaik untukmu," gumam Ipek. Ia sangat sadar sejauh ia berharap dengan seseorang yang tidak pasti, ujungnya akan kecewa, seperti yang pernah ia lewati. Walaupun berat Ipek berusaha melepasnya.
Kini ipek akan fokus dengan pilihan orang tuanya yang ia yakini adalah yang terbaik.